Suamiku Artis Terkenal

Suamiku Artis Terkenal
Rumah nenek


__ADS_3

07.00


Zee terbangun dengan alarm di ponselnya yang terus berdering. Mau tidak mau Zee bangun langsung membersihkan badan, berpakaian dan bersiap siap dengan make up natural.


Dress selutut dengan kerah sabrina membuat pas di badan apalagi dengan rambut yang sedikit di catok keriting gantung bagian bawah membuat Zee bertambah lebih cantik.


Zee keluar dari kamar menuju lantai bawah melihat siapa saja yang sudah terbangun. Di anak tangga terakhir Zee hanya melihat ibunya yang sedang memasak sarapan di dapur dengan segera zee hampiri.


"Mereka belum bangun Bu!?". Tanya Zee sambil membantu sang ibu membuat sarapan.


"Kayanya belum, kamu bangunin aja sana biar ibu yang buat sarapan ini juga sebentar lagi selesai".


"Zee keatas dulu kalau begitu, oh ya bapak kemana??".


"Pergi ke sawah". Ujar ibu Zee membuat Zee melihat ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 9 lebih.


Zee naik ke lantai atas kembali untuk membangunkan Yeonjin dan Evan. Saat membuka pintu, Zee melihat kedua pemuda itu masih terbungkus selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka.


"Ais udah siang belum bangun juga, pasti semalam main game sampai larut". Gerutu Zee langsung membangunkan mereka dengan cara membuka sedikit selimut dan menepuk nepuk tubuh mereka secara pelan.


Gadis itu tidak berani untuk membuka semua selimut nya karena takut mereka tidak menggunakan pakaian atas.


"Oi bangun,,". Teriak Zee terus membangunkan mereka tapi tidak ada pergerakan sama sekali sampai gadis itu merasa kesal.


Dengan capat Zee mematikan AC dan pergi ke dalam kamarnya dengan mencelupkan tangannya ke air. Air di rumah Zee memang sangat dingin karena langsung mengalir dari pegunungan. Hal itu membuat mereka jarang sekali mandi padahal di kamar mandi Zee ada air hangat dari shower.


Zee meletakan kedua tangan nya di pipi Yeonjin dan Evan membuat kedua pemuda itu terperanjat kaget. Mereka langsung terbangun dengan posisi terduduk saking kagetnya merasakan dingin di pipi mereka.


Bugh


Karena gerakan yang tiba tiba membuat Zee terjatuh dari tempat tidur terduduk di lantai dengan pantat yang sakit akibat benturan keras di lantai.


"Awww,, sakit". Rengek Zee sedikit memiringkan tubuhnya mengusap pantatnya yang kesakitan.


Hal itu membuat kedua pemuda yang baru mengumpulkan nyawa menatap ke arah Zee yang terduduk di lantai.


"Sayang kamu kenapa??".


"Kenapa eonni duduk disitu??".


Kedua pertanyaan itu membuat Zee kesal. Dia menatap mereka dengan tatapan tajam lalu pergi begitu saja. Tapi sebelum menutup pintu Zee menatap ke belakang lagi.


"Cepet bangun kalau lama aku tinggal". Ucap Zee kesal meninggalkan mereka yang masih dalam keadaan muka bantal.


Brak


Pintu kamar dengan keras Zee tutup dengan cara dibanting, membuat kedua pemuda itu terperanjat kaget dan saling pandang dengan sedetik kemudian mengangkat bahunya acuh. Mereka tidak sadar dengan apa yang telah terjadi dengan Zee pagi ini.


Zee turun ke lantai bawah dengan mengelus pantatnya yang sakit dan mulut yang terus menggerutu. Sang ibu pun melihat itu menjadi keheranan apalagi tadi dia mendengar suara pintu ditutup dengan keras.

__ADS_1


"Zee ada apa??". Tanya sang ibu yang sedang menata makanan di atas meja.


"Pantat Zee sakit, mereka bangun tiba tiba membuat Zee jatuh dari tempat tidur". Jawab Zee dengan cemberut.


"Emangnya apa yang kamu lakukan??".


"Zee hanya menempelkan tangan Zee ke pipi mereka. Tapi jadinya gini deh pantat Zee sakit Bu". Ucap Zee diakhiri dengan rengekan seperti anak kecil.


"Itu karena kamu jahil sih, makanya jangan jahil. Dapat karmanya langsung kan". Ucap ibu zee dengan tertawa kecil.


"Aish ibu kok ke tawa sih, pantat zee sakit tahu".


"Udah sekarang kamu makan. Apa mereka udah bangun??".


"Lagi mandi". Ucap Zee dengan cemberut mengambil nasi terlebih dahulu. Dia berniat untuk makan duluan tanpa menunggu kedua pemuda yang sedang bersiap siap.


Setelah selesai makan mereka berangkat dengan menggunakan mobil. Awalnya Zee ingin mengemudi sendiri tapi tidak diizinkan oleh Yeonjin. Dia takut terjadi apa apa karena Zee belum terbiasa mengemudi di jalanan seperti ini.


Akhirnya Yeonjin yang akan mengemudi dan Evan duduk di samping. Sang ibu yang akan menunjukan jalan karena Zee sendiri sedikit lupa apalagi banyak perubahan di desa itu sudah banyak.


Hampir 5 tahun Zee berada di negara orang dan hanya pulang beberapa hari dalam 1 tahun. Itu pun tidak pasti.


30 menit perjalanan akhirnya mereka berhenti di ujung jalan yang terlihat buntu. Mereka belum sampai tapi harus jalan kaki untuk sampai ke rumah kakek dan nenek Zee yang rumahnya jauh dari jalan raya.


Sedikit tanjakan dan turunan membuat Zee yang memakai sandal wedges harus digandeng oleh Yeonjin apalagi jalanan itu sedikit licin.


Disetiap perjalanan banyak orang yang menatap membuat mereka sedikit berbincang. Saat sampai di rumah kakek nenek Zee mereka malah sibuk bermain burung yang kakeknya pelihara. Bukannya langsung masuk.


"Eonni itu apa??". Tunjuk Evan ke arah jeruk Bali yang cukup besar.


"Itu jeruk Bali, tapi kayaknya masih mentah".


"Evan pengen".


"Masih mentah Evan". Ucap Zee sedikit sabar dengan Evan yang selalu seperti itu jika keinginannya tidak dituruti.


"Eh zeefanya kan?? Pulang kapan??". Tanya seseorang yang lewat depan rumah.


"Kemarin bi". Sambil tersenyum.


"Ah itu pasti pacarnya ya Zee?? Ganteng banget. Yang mana??". Ucap orang itu menunjuk kepada Yeonjin dan evan.


"Iya bi yang ini, dia adiknya". Ucap Zee menunjuk Yeonjin lalu mereka menyapa dengan gerakan tangan dan badan yang sedikit di bungkuk kan. "Mampir dulu bi kedalam??". Ajak Zee.


"Nanti aja Zee, saya ada urusan".


Sepeninggalan orang itu, mereka bertiga masuk ke dalam rumah untuk mengobrol dengan nenek Zee. Hanya Zee dan ibunya saja. Mereka hanya menyahut dengan Zee yang menterjemahkan kata-kata sang nenek.


Tidak hanya pergi ke ruang sang nenek, mereka juga pergi ke ruang kerabatnya yang lain untuk berkunjung.

__ADS_1


Saat di rumah adik ayah Zee satu satunya. Evan sangat ceria karena ada banyak makanan disana.


Adik ayahnya Zee memang membuka kedai yang menjual berbagai makanan yang disukai kalangan remaja.


Dari pertama masuk, Evan langsung berbelok menuju bibinya Zee yang sedang meracik bakso.


"By Evan mana??". Tanya Zee yang sekarang sudah ada di ruang tamu.


"Tuh". Yeonjin menunjuk Evan yang masih ada di luar rumah.


"Astaghfirullah Evan, tu anak ya kalau lihat makanan gak pernah berubah". Gerutu Zee keluar.


Plak


"Ngapain di sini??". Tanya Zee.


"Eonni, pengen". Ucap Evan dengan tersenyum lebar.


"Masuk dulu". Ajak Zee.


"Pengen". Ucap Evan menggunakan bahasa Indonesia.


Zee hanya geleng geleng kepala dengan kelakuan pemuda yang satu ini.


"Biarin aja Zee, nanti bibi buatkan. Mau apa??". Ucap bibi Zee yang sedang meracik bakso.


"Bakso yang besar itu". Tunjuk Evan.


"Yang besar bi".


"Kalian tunggu di dalam aja nanti bibi antar".


"Bikin 2 yang besar dan satu yang sedang bi, kalau udah panggil aja. Biar Zee yang ambil". Ucap Zee menarik Evan untuk masuk.


Tapi bukan Evan namanya jika tangannya tidak kemana mana kalau ada makanan. "Eonni ini satu". Ucap Evan menunjukan cemilan yang dia ambil.


Di dalam rumah, mereka mengobrol sambil bercanda bersama. Hanya Evan yang diam. Dia tidak mengerti apa yang sedang mereka bahas.


Jadi pemuda itu hanya bermain posnel tanpa mengganggu pembicaraan orang lain.


Setelah pesanan datang, mereka makan bersama dengan khidmat. Zee dan Yeonjin makan atau mangkuk berdua karena bakso yang Zee pesan sangat besar.


Kalau dimakan sendiri, Zee tidak akan sanggup berbeda dengan Evan. Dia bisa menghabiskan satu mangkok sendirian.


Sedangkan Yeonjin, pemuda itu memang tidak bisa makan sembarangan. Dia selalu menjaga kondisi tubuhnya agar tetap bugar dan sehat.


Ini sudah terbiasa saat dirinya menjalin kontrak dengan agensi yang memiliki banyak persyaratan.


Dan untuk Evan. Walaupun banyak makan, tubuhnya akan tetap ideal tanpa ada perubahan sama sekali.

__ADS_1


To be continued, , , ,


__ADS_2