
Dante sedang memagut dirinya di depan cermin. Pagi ini, Dia terlihat lebih rapi dari pagi-pagi sebelumnya. Bahkan dia memakai wewangian dan pakaian yang terbaik yang ia miliki.
Henry dan Marcell saling bertukar pandang, mereka berdua merasa ada yang aneh pada diri dan di pagi ini. Tidak biasanya pria itu begitu bersemangat, apalagi bangun lebih awal.
Apakah kepalanya baru terbentur sesuatu? Apa karena dia telah salah minum obat? Mereka berdua rasa bukan karena keduanya, tapi karena hal lain, dan mereka harus mencari tahunya.
"Nanana... Hari ini ku bahagia. Nanana.. Kusambut hari ini dengan ceria. Nanana... Ku bahagia, pagi ini sungguh luar biasa."
Marcel dan Henry merasa ngeri sendiri dengan sikap aneh Dante, pria itu sedang bernyanyi sambil sesekali menyisir rambutnya ke belakang.
"Oh, Rara.. Oh..Oh..Oh Rara, kau adalah gadis yang paling cantik. Rara.. Oh.. Rara... Izinkan aku lebih dekat denganmu, jika bisa jadikan aku sebagai Kekasihmu."
Terjawab sudah, alasan kenapa Dante bersikap aneh pagi ini, semua itu karena ia sedang jatuh cinta. Ternyata dan dia jatuh cinta pada kepada cucu nenek Ma yang baru saja kembali dari luar negeri.
Kini mereka tahu dan mereka percaya, cinta bisa membuat orang waras menjadi gila, dan orang gila menjadi waras. Tidak jauh-jauh, Dante adalah contoh nyata korban dari yang namanya jatuh cinta.
Tak ingin ketularan penyakit aneh Dante, henry dan Marcel pun bergegas meninggalkan kamar itu. Baik mereka berolahraga pagi, kemudian mandi dan sarapan sebelum pergi berkebun.
.
Dante yang baru saja keluar dari kamarnya, tanpa sengaja melihat Rara dan Vivian sedang membantu nenek Ma menyiapkan sarapan di dapur.
Setelah memastikan penampilannya ada yang kurang atau tidak, Dante pun segera menghampiri mereka bertiga. Dia berpura-pura mencari Nenek Ma, padahal niat awalnya untuk caper pada Rara.
"Nenek Ma, apakah melihat peralatan Kebunku? Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi kenapa tidak menemukannya." ucap Dante.
Vivian memicingkan matanya saat melihat penampilan pamannya itu. "Paman, sebenarnya kau ingin pergi ke kebun atau pergi berkencan, kenapa penampilan rapi sekali, bahkan Kau sangat wangi. Seperti pria penghibur di pinggir jalan saja." ujar Vivian.
"Gadis kecilku yang cantik dan manis, apa kau tidak tahu jika ini yang namanya fashion. Apa kau suka melihat paman mu yang tampan ini, terlihat menyedihkan dengan pakaian yang lusuh dan kotor?! Meskipun bekerja di kebun, fashion tetap yang paling utama bukankah begitu nona Rara?" Pandangan Dante lalu bergulir pada Rara.
Vivian yang melihat modus Dante dia hanya bisa mendengus."Dasar mata keranjang, enggak bisa melihat yang penting sedikit langsung naksir. Kak Rara, vivian kasih saran ya. Sebaiknya kau jauhi Paman Dante, dia ini seorang maniak dan menyebalkan!!" sontak kedua mata Dante membulat mendengar apa yang Vivian katakan.
__ADS_1
"Yakk!! Kenapa kau malah menjelekkan Paman, dan mengatakan yang tidak-tidak tentang Paman. Seharusnya kau mendukung taman, apa kau suka melihat tanah menjadi bujang lapuk?!" Dante mempoutkan bibirnya.
"Itu bukan urusanku tapi urusan, Paman. Sudah ah, aku mau mencari Jordan dan Hans dulu." larangan meninggalkan dapur dan pergi begitu saja.
"Laurent Xi, kau sangat menyebalkan!!!"
"Masa bodoh!!"
"Nona Rara, sampai jumpa lagi nanti. Aku pergi dulu ya, bye bye."
"Huft, Dasar pria aneh!!"
-
Ellena menghampiri suaminya sambil membawa secangkir kopi yang baru saja dia seduh. Kepulan asap yang membumbung dari Cangkir itu, menandakan jika kopi tersebut masih sangat panas.
Melihat kedatangan Ellena, kemudian Keanu mematikan laptopnya. Iya baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Wanita itu menggeleng. "Aku sedang malas pergi ke manapun, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Keanu mengangguk. "Bagaimana jika akhir pekan ini kita kunjungi anak-anak?" usul Ellena.
"Aku rasa bukan ide yang buruk." jawab Keanu menimpali.
Sebenarnya Ellena sudah sangat merindukan si kembar, terutama si kecil Vivian. Biasanya gadis kecilnya itu selalu bermanja padanya, itulah yang membuat Ellena begitu rindu padanya.
Ellena juga merindukan tingkah nakal jordan dan juga sikap dingin Hans. Intinya Elena sangat merindukan ketika buah hatinya. Bukan hanya Ellena, karena Keanu pun juga merasakan hal yang sama.
Memangnya orang tua mana yang tidak rindu ketika berjauhan dengan putra-putrinya, jika mereka saling berjauhan.
"Apa yang kau lamunkan? Kenapa tiba-tiba diam?" tegur Keanu melihat kediaman Ellena.
Ellina menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya memikirkan mereka. Aku sangat rindu kenakalan Jordan, sikap manja Vivian, dan juga sikap dingin Hans. Mereka bertiga membuatku Rindu Setengah Mati."
__ADS_1
"Bagaimana jika kita menjemput mereka pulang saja. Bukankah sudah terlalu lama kita menitipkan mereka di sana?"
"Ya, memang itu juga yang aku pikirkan." Ucap Ellena yang ternyata satu hati dengan Keanu.
Hari ini adalah akhir pekan, jari tidak heran jika melihat Keanu masih di rumah padahal ini sudah memasuki jam kerja.
Akhir pekan bukan berarti Keanu bisa bermalas-malasan saja. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dan ia periksa, itulah kenapa pagi-pagi sekali Keanu sudah berkutat dengan laptopnya.
"Sebenarnya Apa yang sedang kau kerjakan, Oppa? Ini akhir pekan tapi kenapa kau masih saja sibuk kerja, seharusnya akhir pekan kau gunakan untuk beristirahat. Bukan malah bekerja," nasehat Ellena.
"Hanya memeriksa beberapa berkas dan email yang baru saja masuk. Memangnya kenapa, apakah semalam masih belum cukup Sayang?" Keanu menyeringai.
Sontak kedua mata Ellena membelalak. "Apa yang kau katakan? Dasar mesum," rona merah muncul di kedua pipi Ellena. Ingatannya kembali membawanya pada kejadian tadi malam, dimana Keanu yang begitu memanjakan dirinya.
Keanu terkekeh geli melihat wajah memerah istrinya. Dimatanya Ellena begitu menggemaskan. "Lihatlah wajahmu memerah, Ell. Jika kau masih kurang puas, kita bisa melanjutkannya lagi pagi ini." Ucap Keanu dengan seringnya yang sama.
"Jangan macam-macam, apa kau ingin membuat ku semakin susah berjalan?!" Ellena menekuk wajahnya, ucapan Keanu benar-benar membuatnya kembali merasakan panas dingin pada sekujur tubuhnya.
Lagi-lagi Keanu hanya terkekeh. "Kenapa kau serius sekali? Padahal aku hanya bercanda, tapi jika kau menginginkannya lagi, aku tidak akan menolaknya."
"OPPA!!!"
"Hahaha!!! Aku hanya bercanda, Ellena!!"
"Huaaa, itu tidak lucu. Kau sangat menyebalkan!!!"
Ellena meninggalkan Keanu sendiri di kamar mereka. Bagaimana bisa suaminya itu begitu menyebalkan, sedangkan Keanu hanya bisa terkekeh geli melihat ekspresi dan sikap istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
Mengganggu dan menggoda Ellena memang sangat menyenangkan bagi Keanu. Apalagi ketika sudah melihat wajahnya yang memerah.
-
__ADS_1
Bersambung.