
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang baru saja netes. Judulnya AKIBAT CINTA SATU MALAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗
-
Ellena berjalan di sekitar kawasan Gangnam sambil menjinjing sebuah keranjang yang penuh dengan bunga mawar yang di bungkus satu-satu. Rencananya hari ini wanita cantik itu akan pergi ke suatu tempat untuk mengunjungi para anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus yang ditelantarkan dengan sengaja oleh orang tuanya.
Sudah hampir satu bulan Ellena tidak pernah pergi mengunjungi mereka, lebih tepatnya sebelum pernikahannya dan Keanu di langsungkan.
Wanita itu berjalan dengan wajah yang terlihat sumringah, bagaimana tidak? Hari ini dia akan bertemu dengan anak-anak yang selama ini menjadi kesayangannya, anak-anak yang mengajarkannya tentang apa artinya hidup.
Ya, mereka adalah para malaikat yang sesungguhnya, karena mereka memiliki kelebihan yang tidak di miliki anak-anak lain, mereka istimewa.
"Nona, Anda datang lagi?" sambut seorang wanita ketika melihat kedatangan Ellena. Wanita itu tersenyum lebar.
"Apa kabar, Bibi. Lama tidak bertemu," sapa Ellena ramah.
"Nona kemana saja selama satu bulan ini? Saya pikir, Nona sedang pergi ke luar negeri,"
Ellena menggeleng. "Aku ada di kota ini. Hanya saja aku tidak memiliki waktu untuk berkunjung, toko selalu ramai di tambah lagi sekarang aku telah menikah. Jadi kesibukanku bertambah," tuturnya.
"Nona sudah menikah?" Ellena mengangguk. "Saya ikut bahagia untuk, Nona. Mari silahkan masuk. Anak-anak pasti akan sangat senang melihat kedatangan Nona,"
Ellena tersenyum. "Ya, semoga saja."
Ponsel milik Ellena tiba-tiba berdering dan ada panggilan masuk dari Keanu. Ellena menghentikan langkahnya untuk menerima panggilan tersebut.
"Kau di mana? Aku mencarimu di toko bunga tidak ada. Toko tutup, sepertinya temanmu itu juga sedang pergi."
"Aku memang tidak sedang di sana, sekarang aku sedang berada di kawasan Gangnam. Aku pergi mengunjungi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Apa kau free? Bagaimana kalau kau menyusul ku kemari? Aku akan ShareLoc lokasinya. Bagaimana?"
"Hn, kedengarannya tidak buruk. Kau ingin aku membawakan apa untuk mereka?"
"Tidak perlu membawakan apa-apa. Yang penting kau datang saja. Bukan sebagai Steven Xiao, tapi sebagai dirimu sendiri. Karena yang menikah denganku adalah Xi Keanu, bukan Steven Xiao."
Keanu terdiam di seberang sana. Tanpa Ellena ketahui, jika pria itu sedang tersenyum lebar saat ini. Keanu merasakan hatinya menghangat mendengar ucapan Ellena.
"Baiklah, tunggu aku di sana."
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Ellena memutuskan sambungan telponnya dan melanjutkan langkahnya. Sedangkan wanita pemilik panti sosial ini, sudah masuk sejak beberapa saat yang lalu.
Senyum hangat tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Membuat Ellena yang sudah cantik semakin terlihat cantik. Tidak salah jika saat kuliah dulu dia menjadi primadona di kampusnya, banyak laki-laki yang mengejar dirinya hingga membuat Dellia merasa iri dan semakin membencinya.
.
.
Kedatangan Ellena di sana di sambut baik oleh seluruh penghuni panti sosial tempat anak-anak berkebutuhan khusus itu bernaung. Senyum di wajah mereka mengembang mana kala Ellena membagikan setangkai bunga mawar dan coklat yang dia bawa.
"Ka-ka-k, apakah ma-si-h ada bunga un-tuk-ku?" seorang anak laki-laki yang sedang duduk di atas kursi rodanya menarik jari Ellena dan menatapnya dengan tatapan bertanya.
Ellena tersenyum, kemudian dia berlutut dan mensejajarkan posisinya dengan anak tersebut. "Tentu saja ada, Mike. Dan ini untukmu," ucap Ellena sambil mengacak rambut hitam bocah itu. Bocah itu tersenyum lebar.
"Te-ri-ma-kas-sih."
"Sama-sama, Sayang."
Dorr....
Suara tembakkan yang berasal dari halaman mengejutkan Ellena dan semua orang yang ada di ruangan itu. Wanita pemilik panti menghampiri Ellena. Dia memberitahu siapa mereka dan apa tujuannya. Ellena yang merasa geram memutuskan untuk keluar dan menghadapi mereka. Ellena tidak akan membiarkan orang-orang itu merampas panti sosial ini dengan alasan apapun.
__ADS_1
Wanita itu sudah mencoba mencegahnya, tapi Ellena tidak mau mendengarnya. Ia tetap bersikeras untuk menemui mereka dan membuat perhitungan dengan orang-orang itu.
"Apa-apaan ini?!" Ellena menghampiri beberapa pria berpakaian preman yang datang membuat keributan. "Ini adalah tempat tinggal anak-anak berkebutuhan khusu, tidak seharusnya kalian memaksa merampas tempat ini dari mereka!!" bentak Ellena yang mulai kehabisan kesabarannya.
"Kau tidak perlu memberitahuku, Nona."
"Lalu kenapa kalian masih bersikeras membuat mereka angkat kaki dari tempat ini?" tanya Ellena berapi-api.
Meskipun yang dia hadapi bukan hanya satu atau dua pria saja, dan mereka semua bersenjata. Tapi tak ada sedikit pun ketakutan yang terlihat dari tatapan matanya yang penuh intimidasi.
"Boss kami ingin membangun mall di tempat ini. Kami sudah memberi mereka peringatan berkali-kali, kami juga sudah berusaha berbicara baik-baik dengan pemilik tempat ini. Tapi dia tetap menolak untuk menjualnya dan bersikeras mempertahankan tempat ini!!"
"Lalu kenapa kalian masih tetap memaksa jika pemiliknya saja tidak mau menjualnya, dan menyerahkan tempat ini pada kalian?"
"Boss besar sudah mengeluarkan banyak uang untuk rencana pembangunan mall di tempat ini. Dan dia ingin semua bangunan di sini, segera di ratakan menjadi tanah. Jadi, jika kalian penghuni tempat ini masih ingin bernafas. Segera angkat kaki dari sini."
Ellena paham, tanpa harus di ulang sampai dua kali, ucapan pria itu adalah sebuah peringatan meski ucapannya terdengar tanpa bentakkan. Ia hanya tidak percaya mereka bisa berbicara soal keselamatan manusia dengan sangat tenang seperti membicarakan transaksi jual beli.
Ellena tertawa mengejek mendengar apa yang pria itu katakan, dan hal itu membuat pria yang terlibat perdebatan sengit dengannya menatapnya dengan kilatan tajam penuh amarah.
"Wanita sialan!! Berhenti menguji kesabaran kami. Angkat kaki dari sini atau aku akan meledakkan kepalamu!!" seru salah satu dari pria-pria itu.
"Kau benar-benar melucu. Jika kau punya mata, kau bisa lihat di sini hanya ada anak-anak berkebutuhan khusus tak berdaya. Apa kau sudah tidak memiliki hati nurani lagi sebagai seorang manusia?!!"
"Kau!!!"
"Apa? Kau ingin menamparku? Lakukan saja, kau pikir aku takut?Aku tidak akan tinggal diam, apalagi membiarkan kalian mendapatkan tempat ini dan membuat mereka menderita karena keegoisan dan kebiadaban kalian semua!!"
"Berhenti menguji kesabaranku, wanita sialan!! Sebaiknya sergilah pergi bersama mereka jika tidak ingin kepalamu dan semua orang di sini ku ledakkan detik ini," ujar seorang pria yang berhadapan langsung dengan Ellena.
Plak!
Wajah pria itu memerah karena begitu kuatnya tamparan tangan Ellena yang wajahnya tak kalah merah dengannya. Bedanya si wanita memerah karena menahan emosinya yang meluap-luap.
Yang Ellena tahu saat ini ia tengah marah, sangat-sangat marah. Dia marah akan penghinaan pria di depannya, yang dengan semena-mena berkata seolah nyawanya tidak lebih dari nyawa seekor ayam yang bisa kapan saja dipotong.
"Aku, kami, semuanya adalah manusia yang juga berhak untuk hidup! Dan kau!! Tidak berhak untuk menentukan apakah kami akan mati atau hidup, karena kau bukanlah Tuhan!!"
"Nona, hentikan!! Saya mohon, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Masih ada kolong jembatan, kami bisa tinggal di sana,"
"TIDAK!!" Ellena menyela cepat. "Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil tempat ini, meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya!!" Ellena bersikeras.
"Oh, jika itu memang yang kau inginkan. Baiklah, dengan senang hati aku akan mengabulkannya!!" pria itu mengangkat senjatanya dan menempelkan pada kening Ellena.
Wanita itu tetap terlihat tenang, tak ada raut ketakutan ataupun panik sedikit pun. Meskipun dia tau jika nyawanya sedang berada di dalam bahaya. Berbeda dengan wanita pemilik panti yang terus memohon, meminta supaya Ellena menyerah saja. Karena dia tau, tidak ada gunanya melawan mereka semua yang berkuasa.
"Nona. Saya mohon!!"
"Ucapkan selamat tinggal pada-"
Doorrr...!!!
Tubuh pria itu ambruk sebelum berhasil melepaskan tembakkannya pada Ellena. Sontak saja Ellena mengalihkan tatapannya. Dia melihat keberadaan Keanu dan Evan di depan pagar. Di tangan suaminya menggenggam sebuah pistol.
"Keanu!!" seru Ellena dan segera berlari menghampiri suaminya. "Kau datang tepat waktu. Bantu aku mengusir mereka. Mereka adalah para biadab yang tidak memiliki hati Nurani, mereka memaksa untuk meratakan tempat ini menjadi tanah, padahal panti sosial ini adalah tempat para anak berkebutuhan khusus bernaung." Tutur Ellena.
"Kau masuklah ke dalam dan tenangkan mereka. Aku akan menyelesaikan masalah ini." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena.
Keanu menatap satu- persatu dari sepuluh pria yang berdiri menjulang beberapa meter di depannya. Mereka langsung menunduk ketakutan melihat tatapan tajam penuh intimidasi yang Keanu tunjukkan.
Salah satu dari kesepuluh pria itu menghampiri Keanu sambil menundukkan kepala. "Tuan Xi."
"Aku tidak akan segan-segan meledakkan kepala kalian semua, jika kalian tidak mau berhenti dan menyerah. Jika Boss kalian tidak terima dan ingin marah, suruh dia menemuiku secara pribadi. Pergilah, sebelum aku hilang kesabaran,"
__ADS_1
Semua membungkuk pada Keanu dan pergi dari sana. "Selesaikan masalah ini dengan segara. Dan aku tidak ingin hal semacam ini sampai terulang lagi,"
"Baik, Tuan!!"
.
.
"Keanu," seru Ellena melihat kedatangan suaminya. "Bagaimana? Apakah mereka sudah pergi?" Keanu mengangguk.
"Apa mereka melukaimu?" tanya Keanu memastikan. Ellena menggeleng, meyakinkan pada suaminya jika dia baik-baik saja. "Kalian tidak perlu cemas. Mereka tidak akan berani datang lagi."
"Terimakasih banyak, Tuan Xi. Tanpa bantuan dan pertolongan Anda berdua, entah bagaimana nasib anak-anak di panti ini,"
"Aku akan membeli panti ini. Dengan begitu, tidak akan ada yang berani mengusik apalagi memaksa untuk menggusur tempat ini. Dan aku sudah menyediakan tempat baru untuk kalian tinggal sampai panti ini selesai di renovasi. Asistenku yang akan mengurus semua yang di butuhkan."
"Sekali lagi terimakasih, Tuan Xi. Anda benar-benar malaikat penolong kami."
"Hn, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan," jawabnya datar.
Dan sementara itu.. Ellena sampai tidak kuasa menahan rasa harunya. Sekali lagi, dia menemukan sisi lain dari seorang Xi Keanu.
Meskipun selama ini dia di kenal sebagai manusia tak berhati karena sikap kejamnya itu, tapi setidaknya masih ada kebaikan di dalam hatinya.
Keanu memang sulit di tebak. Terkadang dia bersikap begitu bringas, bak seekor singa yang siap untuk menerkam mangsanya. Terkadang dia bersikap lembut dan penuh perhatian yang membuatnya terlihat seperti orang lain.
Di satu sisi dia begitu gelap, jauh dan tak terjangkau. Tapi di sisi lain, dia begitu rapih bak fusuma di kuil-kuil tua. Ellena memang tidak mengenal Keanu dengan baik, tapi dia akan mencoba untuk mengenal seperti apa suaminya itu dan memahami sifatnya.
"Ayo pulang." Ellena tersenyum dan kemudian mengangguk. Ellena membantu mendorong kursi roda Keanu, dan keduanya bersama-sama meninggalkan panti.
.
.
Keanu memicingkan matanya melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman mansion mewahnya. Dari luar dia bisa mendengar suara tawa wanita yang tidak begitu asing di telinganya.
Sama-sama penasaran siapa yang datang. Ellena segera mendorong kursi roda Keanu untuk masuk ke dalam. Setibanya di dalam, mereka melihat Penny dan Marry tengah berbincang dengan seorang wanita asing, dan mereka terlihat begitu akrab.
"Kak, Adel. Itu kakak pertama sudah datang." Seru Penny saat melihat kedatangan Keanu dan Ellena.
Sontak saja wanita yang di panggil Adel itu menoleh. Wanita itu bangkit dari duduknya dan menatap Keanu dengan mata berkaca-kaca, menatapnya dengan berbagai ekspresi yang sulit di jelaekan. Adel menyeka air matanya dan berlari menghampiri Keanu lalu menubruk tubuhnya.
"Keanu, aku merindukanmu." Ucap Adel sambil memeluk Keanu dengan erat. Tapi tak ada respon dari Keanu, yang di peluk hanya diam dan tak bereaksi.
Dan sementara itu. Penny dan Marry terlihat menyeringai pada Ellena. Ellena tau jika mereka berdua mencoba untuk memprovokasi dirinya, dan Ellena tidak akan terpancing.
Ellena beranjak dari belakang Keanu dan langsung menarik Adel. "Nona, bersikaplah yang sopan. Di mana rasa malumu dan harga dirimu sebagai seorang wanita? Keanu sudah menikah lagi, dan sebagai istrinya aku tidak mengijinkanmu untuk mendekatinya. Dan bisakah kau minggir, Keanu harus beristirahat." Ellena mendorong kursi roda Keanu dan membawanya meninggalkan ruang tamu.
"Aaahhh," terdengar rintih kesakitan dari sela-sela bibir Adel ketika Ellena melindas kakinya dengan kursi roda Keanu dengan sengaja. "Yakk!! Wanita sialan, apa yang kau lakukan?" teriak Adel marah.
Ellena menghentikan langkahnya dan melirik wanita itu dari ekor matanya. "Bukankah aku tadi sudah memintamu untuk minggir, tapi kau tidak mau mendengarnya. Jadi bukan salahku, 'kan." Ujar Ellena dan kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Ellena langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Keanu menghentikan aktingnya dengan beranjak dari kursi rodanya. Pria itu menatap Ellena yang berkali-kali menghela napas dengan mata memicing. Sebuah seringai tersungging di sudut bibirnya.
"Sepertinya ada yang cemburu, eh?" goda Keanu kemudian mengecup singkat bibir Ellena. "Kau tenang saja, aku tidak akan tergoda oleh wanita seperti dia."
Ellena menepis tangan Keanu dan melepaskannya dengan paksa. "Memangnya siapa wanita itu? Kenapa dia berani sekali memelukmu?" tanya Ellena sedikit berapi-api.
Dia kesal setengah mati melihat Keanu di peluk semesta itu oleh wanita lain di depan matanya. Lalu, apakah yang Ellena rasakan itu adalah cemburu? Ya, sepertinya begitu, meskipun dia masih belum yakin dengan perasaannya sendiri.
"Dia Adel Lim, mantan istriku!!!"
-
__ADS_1
Bersambung.