SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Cemburu


__ADS_3

"Keanu," panggil seseorang dari arah depan.


Sontak Keanu mengangkat wajahnya dan Ellena menoleh pada asal suara. Kedua mata Ellena dan pria itu sama-sama membelalak terkejut.


"Ellena//Alden!!!" keduanya memekik kaget. Keanu yang penasaran menatap mereka bergantian. Jelas ketidaksukaan terpancar jelas dari sorot matanya yang tajam.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Keanu memastikan. Dan keduanya mengangguk membenarkan. "Bagaimana bisa? Apa dia mantan kekasihmu?" Keanu menatap Ellena penuh selidik.


Ellena terkekeh geli melihat ekspresi wajah Keanu yang terlihat menggemaskan itu. Sepertinya suami tampannya itu sedang cemburu padanya. Mengerjainya sedikit sepertinya tidaklah buruk pikir Ellena. Ellena tiba-tiba bangkit dari duduknya kemuduan memeluk lengan Alden dengan mesra.


"Ya, dia adalah mantan kekasihku ketika kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah, tapi manusia menyebalkan ini tiba-tiba saja pergi ke Eropa dan meninggalkanku begitu saja." Tutur Ellena menjelaskan.


Ellena mengerlingkan mata pada Alden yang sedang berkeringat dingin, pria itu meringis takut melihat tatapan Keanu yang seolah-olah ingin menerkam dirinya.


Dan melihat hal tersebut membuat tangan Keanu terkepal kuat. Dia kesal dan marah melihat Ellena memeluk pria lain di depan matanya. Mungkinkah kau cemburu, Xi Keanu?


Keanu menarik lengan Ellena dan menjauhkannya dari Alden. "Iya, tapi tidak usah pegang-pegang juga." Ucap Keanu dengan sinis. Alih-alih ketakutan, Ellena malah tertawa terbahak-bahak, dan hal tersebut membuat Keanu kebingungan.


"Dasar bodoh!! Apa kau percaya jika Alden adalah mantan kekasihku? Seumur hidupku, aku hanya satu kali berkencan dengan pria, dan orang itu adalah Simon. Alden adalah mantan kekasih Shifanya, apa sekarang kau puas?!"


"Jadi kau membohongiku?"


Ellena mengangkat bahunya. "Aku hanya ingin tau bagaimana reaksimu, dan itu sangat luar biasa. Apa kau cemburu melihatku dekat dan memeluk pria lain?" tanya Ellena memastikan.


"Menurutmu? Bahkan rasanya aku ingin menghabisi Alden, jika dia benar-benar mantan kekasihmu, supaya tidak ada cinta lama bersemi kembali." Tutur Keanu panjang lebar.


"Hahahha! Dasar kau ini,"


Sedangkan Alden bingung sendiri dengan hubungan antara Keanu dan Ellena. Dan sepanjang dia mengenal Keanu. ini pertama kalinya dia melihat sahabatnya itu begitu protektif pada wanita.


"Tunggu, kenapa aku merasa ada yang salah padamu, Key? Wajahmu? Mata kirimu dan kakimu? Kau...? Oh, astaga.. Jadi selama ini kau hanya pura-pura saja?!!" Alden menatap Keanu tak percaya.


"Dan kau...!!" Ellena menunjuk Alden. "Bagaimana kau bisa langsung mengenali jika dia adalah Keanu, sedangkan yang kau tau selama ini dia lumpuh dan cacat?" Ellena menatap Alden penuh selidik.


"Suara dan sorot matanya. Dan terus terang saja, padahal aku tadi hanya iseng-iseng saja memanggilnya, karena aku sendiri tidak yakin, tapi ternyata dia benar-benar Keanu." ujar Alden memberi penjelasan.


Keanu melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Ada rapat setengah jam lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang." Ucap Keanu yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena.

__ADS_1


Sebelum pergi. Ellena menyampaikan sesuatu pada Alden terlebih dulu. "Berusahalah lebih keras lagi, karena sepertinya kau mendapatkan saingan yang sangat berat. Shifanya sedang dekat dengan seseorang dan sepertinya mereka saling memiliki ketertarikan." Ellena menepuk bahu Alden dan pergi begitu saja.


Ellena tau jika kedatangan Alden kali ini adalah untuk memperbaiki hubungannya dengan Shifanya yang berantakan. Tapi sepertinya hal itu akan sia-sia saja karena Shifanya sedang dekat dengan orang lain.


"Aku pasti akan mendapatkanmu lagi, Shifanya Kim!!"


-


Dante tidak tau jika hidupnya akan berakhir menyedihkan seperti ini. Bagaimana tidak, dia di kejar-kejar oleh beberapa pria dan salah satunya adalah Evan.


Evan terus saja merecoki hidupnya selama dua hari terakhir ini. Mengiriminya bunga, makanan dan barang-barang menggelikan lainnya seperti boneka dan pakaian dalam berwarna pink. Bukannya merasa prihatin dengan nasibnya, Marcell dan Henry malah terus mengompor-ompori Evan.


Hari ini contohnya. Dante mendapatkan kiriman makanan dan bunga dari Evan serta seorang pria asing yang dia ketahui bernama Aron.


"Nunna-ya, ada kiriman bunga dan makanan lagi untukmu. Kau ingin meletakkan bunga ini di mana?" tanya Marcell menahan tawa.


"Buang saja semuanya, aku tidak butuh bunga dan makanan-makanan itu!!" ucapnya menegaskan.


"Jangan begitu, bagaimana kalau ada yang menyebutmu cantik-cantik tapi kok galak," sahut Henry menimpali


"Nunna-ya, berhentilah mengeluh. Apa kau tidak sadar jika kau itu sangat cantik. Lihatlah kepang duamu yang bagus itu, bibirmu yang merah dan pipimu yang merona, kulitmu yang putih dan mulus. Kau sangat sempurna, dan nikmati saja kepopularanmu saat ini." Tutur Henry panjang lebar.


Penny yang mendengar dan melihat hal itu langsung ingin muntah. Dia tidak tau apa yang terjadi pada Dante, sampai-sampai kakaknya itu memilih bergabung dengan duo racun yang sangat-sangat menyesatkan itu.


Langkah kaki Penny terhenti ketika manik matanya melihat kedatangan seorang pria yang akhir-akhir ini selalu membuat jantungnya berpacu cepat. Penny membenahi penampilannya dan kemudian menghampiri pria tersebut.


"Aron Oppa, kau datang!! Wahh, bunga dan boneka itu sangat cantik. Apakah itu untukku?" Penny menatap Aron malu-malu. Alih-alih menjawab pertanyaan Penny, Aron malah melewatinya begitu saja. Dia tersenyum melihat keberadaan Dante di ruang keluarga.


"Dantia, aku datang untukmu!!" serunya dan membuat Penny langsung cengo seketika.


Bagaimana tidak, Aron mengabaikan dan menolak dirinya yang jelas-jelas adalah Kanita tulen demi mendekati Dante yang nyata-nyata adalah wanita jadi-jadian. Dan hal tersebut tentu saja membuat Penny kesal setengah mati.


"Aarrkkhhh...!! Sial, sial, sial!! Kenapa tidak ada satupun pria yang menyukai diriku? Dan semua pria yang aku sukai pasti menyukai wanita lain. Dan parahnya lagi l, orang yang di sukai oleh pria yang aku sukai adalah wanita jadi-jadian seperti itu!!! AARRRKKHHH!! Menyebalkan!!" teriak Penny frustasi.


"Sepertinya ada yang sudah tidak waras di sini." Ucap seseorang dari arah belakang. Sontak saja Penny menoleh dan mendapati Ellena menghampirinya dengan senyum meremehkan. "Oh, pantesan gila. Panas ternyata!!"


"YAKK!!"

__ADS_1


Penny menyentak tangan Ellena dari keningnya dan memekik keras. "Jadi maksudmu aku gila?!" Penny menatap Ellena marah. Wanita itu mengangkat bahunya dan pergi begitu saja."Hm, pikirkan saja sendiri." Ucap Ellena di tengah langkahnya. Wanita itu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Penny mengepalkan tangannya. Dengan emosi yang berapi-api. Penny menyambar belati buah yang ada di atas meja lalu membawanya pada Ellena. Penny mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan....!!u


"MATI SAJA KAU WANITA SIALAN!!!"


Grepp...


Ellena berhasil menahan pisau itu dengan tangannya dan membuat telapaknya terluka, dan mengeluarkan banyak darah. Dan teriakkan Penny yang nyaring langsung di dengar oleh semua orang termasuk Marry yang sedang mandi. Marry menyambar handuknya lalu berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Kedua mata Marry terbelalak melihat Dante, Henry dan Marcell tengah menyeret Penny menuruni tangga dengan sangat kasar. Dan hal tersebut membuat Marry tidak terima.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADANYA!!!!" teriak Marry. Marry mendorong Marcell dan Henry kemudian menarik Penny ke dalam pelukannya. "Dan kau!!! Kau ini kakak macam apa? Kenapa kau memperlakukan adikmu sendiri dengan buruk!!" bentak Marry penuh emosi.


"Lihat saja kelakuan putrimu ini. Apa yang sudah dia lakukan pada, Ellena Nunna. Nyaris saja dia membunuhnya!!"


"Oh!! Jadi kau sekarang lebih membela wanita itu di bandingkan adikmu sendiri?"


"Ya!!"


"Kurang ajar!!"


Plakk...!!


Wajah Dante menoleh ke samping setelah sebuah tamparan keras mendarat mulus di wajahnya. "Kau sangat keterlaluan!!" teriak Marry dan membawa pergi Penny dari hadapan mereka semua.


"KALIAN YANG KETERLALUAN!!" teriak Dante tak mau kalah. Kemudian Dante menghampiri Ellena yang sedang di obati oleh Henry. "Nunna, kau tidak apa-apa bukan?" tanyanya memastikan. "Lukanya terlihat dalam dan parah. Sebaiknya kita ke rumah sakit saja, ya?"


Ellena menggeleng. "Tidak perlu, hanya luka kecil ini. Sebaiknya jangan ada yang memberitahu Keanu, aku tidak ingin masalah ini malah berbuntut panjang." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Dante, Marcell dan Henry.


"Kalian keluar dulu saja. Aku mau mandi dulu " Ellena bangkit dari hadapan ketiga pemuda itu dan pergi begitu saja.


Dan sementara itu, Aron pingsan dilantai satu setelah melihat darah yang keluar dari luka di tangan Ellena. Itu karena Aron sangat phobia pada darah.


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2