
Baca juga ya Novel Author yang ini AKIBAT CINTA SATU MALAMππLike koment juga ya ,ππππ€π€π€
-
"AYAH, BANGUN!!"
Marshanda mengguncang tubuh Ramon yang sedang tak sadarkan diri sambil terus memintanya untuk bangun. Ramon pingsan setelah melihat lukisannya yang sangat mahal di rusak oleh Henry.
Dan karena hal tersebut, dia mengalami kerugian hingga mencapai 500 juta won (6,3 milyar rupiah). Apalagi itu adalah lukisan Limited Edition dan satu-satunya di dunia. Belum lagi Ramon yang mendapatkannya dengan penuh perjuangan dan bersusah payah.
"Ini semua karena kalian berdua, kau terutama..." Marshanda menunjuk Henry. "Aku pasti akan menguliti dan mencincang tubuh kalian berdua jika hal buruk sampai menimpa ayahku!!"
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di benak Marcell. "Aku punya ide!!" Marcell berseru dan membuat Henry serta Marshanda menoleh padanya. Tampak Henry memicingkan matanya. Entah kenapa dia memiliki firasat buruk ketika melihat smrik Marcell.
Henry menyipitkan matanya melihat gerakan bibir Marcell yang sedang mengatakan sesuatu, kedua matanya membelalak, sedangkan Marcell mengerlingkan mata pada Henry.
"Apa yang kalian rencanakan?" Marshanda menatap kedua pemuda itu dengan penuh curiga.
Henry menggeleng. "Tidak ada kok, Bibi. Kami tidak merencanakan apa-apa, kami hanya ingin membantu membangunkan kakek saja. Masa iya, kami yang tampan dan imut ini malah merencanakan sesuatu yang tidak baik? Jangan fitnah deh,"
"Kalian tidak bisa di percaya!! Lagipula gara-gara siapa juga ayah jadi seperti ini!!" Marshanda menatap sinis pada Henry yang berdiri di sampingnya. "Aku benar-benar akan mencincang tubuh kalian berdua jika hal buruk sampai menimpa dirinya. Ingat itu!!"
"Bibi, kau terlalu galak!! Pantas saja tidak ada yang mau padamu!!! Kami tau itu karena kami, untuk itu kami ingin bertanggung jawab dan membuatnya sadar."
Selang beberapa saat Marcell datang bersama mahluk dua alam yang tempo hari mengambil kesuciaan bibir Henry. Ya, dia adalah Jenny, si waria yang paling cetar membahana di abad ini.
"Ehhh, Oppa tampan. Kita ketemu lagi, tidak usah takut begitu. Jenny tidak akan menerkammu lagi kok. Oppa tampan terlalu muda, dan Jenny tidak suka daun muda." Ujarnya sambil mencolek dagu Henry saking gemasnya.
"Ck, jangan pegang-pegang!!" kata Henry sinis. .
Mahluk dua alam itu terkekeh. Kemudian dia menoleh dan matanya langsung berbinar-binar melihat sosok pria yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"Nah, bandot tua seperti ini baru Jenny suka. Oh, apakah dia yang perlu Jenny bangunkan?" Marcell mengangguk.
Sontak saja Marshanda mengangkat wajahnya."Tunggu, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?! Dan mahluk jadi-jadian itu untuk apa kalian bawa kemari?" tanya Marshanda menuntut sebuah penjelasan.
"Untuk apa lagi? Tentu saja untuk menyadarkan papamu yang tampan dan aduhai ini, gadis cantik." Jawab Jenny menyahuti.
Marshanda membelalakkan matanya. "Jangan coba-coba atau ku habisi kau?!!"
"Bibi, sebaiknya kau jangan menghalangi. Kau ingin kakek sadar atau tidak? Jenny, aku akan memegangi wanita ini. Kau lakukan saja dan buat dia sadar kembali,"
"Oke, siap Boss tampan. Ahhh, akhirnya Jenny dapat yang menyegarkan juga."
"TIDAK!!!"
Marshanda berteriak histeris melihat Jenny memberikan napas buatan pada ayahnya sambil terus memagut bibirnya. Tidak cukup di situ saja. Waria bernama Jenny itu juga memainkan sosisnya. Dan apa yang Jenny lakukan berhasil membuat Ramon kembali tersadar. Kedua matanya membelalak sempurna melihat sosok mengerikan yang ada di hadapannya.
"HUAAA!! SETAN ALAS!!" Ramon menendang Jenny sampai terjengkang dan segera melarikan diri.
Dan Jenny yang tidak ingin kehilangan mangsanya pun segera mengejarnya. "Tampan! Jangan lari, kembalilah temani Jenny bermain...!!" seru Jenny dan terus mengejar Ramon.
"AYAH!!" seru Marshanda dan bergegas mengejar mereka berdua.
Dan sementara itu.. Henry dan Marcell langsung bertos ria. Mereka merasa sangat puas melihat Ramon tersiksa karena di kejar-kejar oleh mahluk dua alam.
Merasa tak ada urusan lagi, keduanya memutuskan untuk pergi dari sana. Tentu saja tidak dengan tangan kosong. Mereka menggondol uang Ramon sebesar 10 juta Won.
-
__ADS_1
Sejak Keanu turun dari mobilnya. Semua mata tertuju padanya, bahkan hampir semua mata wanita yang menatapnya penuh damba. Seorang pria berwajah dingin nan minim ekspresi dan mahal senyum. Tak ada senyum ramah apalagi senyum manis, yang ada hanya wajah dingin penuh kemisteriusan.
Tapi anehnya banyak populasi wanita yang ada di negeri ini begitu mendambakannya dan mengharapkan cintanya. Tak sedikit dari mereka rela membuka lebar-lebar kakinya jika Keanu memang mau, bahkan mereka tidak peduli meskipun Keanu adalah pria lumpuh dan cacat. Pesonanya memang kuat dan tidak bisa terbantahkan .
Mendambakan Keanu sama saja dengan punuk merindukan bulan. Karena Keanu terlalu jauh untuk di gapai dan terlalu sulit untuk di raih.
"Siapa dia? Kenapa dia tampan sekali? Apakah dia rekan kerja Boss?"
"Aku tidak tau, mungkin saja benar."
"Astaga, aku sampai meleleh melihat ketampanannya. Rasanya aku mau pingsan."
"Bahkan aku rela melepaskan Virgin ku untuk pria setampan itu. Boss tidak bisa, rekan bisnisnya pun jadi."
"Tapi jaga mata kalian, lihatlah.. Mata kalian hampir meloncat keluar."
"Masa bodoh, dan bagaimana kita bisa melewatkan mahluk Tuhan seindah itu."
"Sudah-sudah, jangan mengosip saja, kembali bekerja. Boss bisa marah besar jika kalian malas-malasan seperti itu."
Keanu mendengus dan memutar matanya sedikit jengah mendengar bisikan-bisikan para karyawannya yang menurutnya sangatlah menggelikan itu. Mereka bersikap seolah-olah belum pernah melihat pria tampan sebelumnya.
Sementara itu. Evan langsung menghampiri mereka dan mengatakan jika yang datang itu bukanlah orang lain melainkan Boss mereka. Dan tentu saja mereka terkejut bukan main, karena setau mereka Boss-nya itu lumpuh dan berwajah cacat. Tapi yang datang hari ini adalah pria normal tanpa kecacatan sedikit pun, jadi wajar jika mereka tidak mengenalinya.
.
.
Keanu mengangkat wajahnya dan menatap datar sosok pria yang berjalan menghampirinya . Tatapannya sangat tidak bersahabat.
"Ada keperluan apa kau datang menemuiku?" tanya Keanu tanpa basa-basi. Fokusnya tertuju pada lembaran dokumen yang mampu manghasilkan banyak uang.
Keanu melemparkan dokumen yang sedang ia periksa ke atas meja. Fokusnya kini tertuju pada tuan Su. "Aku akan memikirkannya jika anak dan istrimu mau datang menemuiku kemudian berlutut dan memohon padaku. Bahkan jika perlu mereka harus mencium kakiku. Maka aku akan mempertimbangkannya lagi. Dan jika kau sudah tidak memiliki urusan lagi di sini, silahkan pergi. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Tapi, Tuan Xi,"
"Pengawal, bawa pria ini keluar dari ruanganku!!"
"Baik, Tuan,"
Selang beberapa saat setelah kepergian tuan Su. Pintu ruangan Keanu kembali di buka dari luar. Dan sosok Ellena yang datang membawakan makan siang untuknya terlihat memasuki ruangan.
Sebuah pelukan dan ciuman menyabut kedatangan Ellena di ruangan itu. "Aku berpapasan dengan ayah angkat di luar, untuk apa dia datang menemuimu?" tanyanya penasaran.
"Hn, dia datang untuk memohon padaku supaya aku tidak membatalkan kerjasama dengan Su Corp."
"Dan kau menyetejuinya?"
Keanu menggeleng. "Tentu saja tidak. Kecuali jika Sarah dan Dellia mau memohon dan berlutut padaku. Mungkin aku masih bisa memikirkannya. Kau datang sendiri? Dan apakah itu makan siang untukku?" Ellena mengangguk.
Ellena menarik lengan Keanu dan mengajaknya untuk duduk di sofa. Ellena mengeluarkan semua makanan yang ia bawa dan menatanya di atas meja. Dan hampir semua makanan itu adalah lah makanan kesukaan Keanu, Ellena sengaja meminta pelayan memasak semua makanan kesukaan suaminya.
"Sup rumput laut, tumben kau membuatnya? Memangnya hari ini ulang tahun siapa sampai-sampai kau membuatnya?" heran Keanu sambil menatap Ellena penasaran.
Ellena mendesah berat. "Apa kau lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunmu? Untuk itu aku meminta pelayan menyiapkan sup rumput laut karena aku ingin merayakan secara kecil-kecilan denganmu," ujar Ellena.
Kata-kata Ellena membuat Keanu terdiam. Dia tidak menduga bila Ellena akan mengetahui jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, Keanu tidak pernah membahas mengenai ulang tahunnya apalagi sampai memberi tau Ellena.
"Dari mana kau mengetahuinya? Maksudku, dari mana kau mengetahui jika hari ini adalah hari ulang tahunku?" mata amber-nya mengunci sepasang manik coklat milik Ellena.
Ellena menangkup wajah Keanu dengan kedua tangannya. Sepasang binernya yang jernih mengunci manik berwarna amber milik suaminya. Bibir ranum tipisnya menyungging senyum lembut penuh kehangatan, hingga membuat Keanu jatuh ke dalam pesonanya.
__ADS_1
"Tidak penting dari mana aku mengetahuinya. Mulai sekarang, kita akan merayakan ulang tahunmu bersama-sama setiap tahunnya. Dan aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu," tutur Ellena masih dengan senyum yang sama.
Tanpa komando, Keanu menarik tengkuk Ellena dan mencium bibirnya. Bibirnya melum** lembut bibir Ellena, atas dan bawah bergantian. Kedua matanya terpejam, tangan yang lain memeluk pinggang Ellena dan menariknya lebih dekat, hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.
Ellena mencengkram lengan kekar Keanu yang tersembunyi di balik kemeja lengan panjangnya. Sedangkan tangan kanannya mengalung pada leher Keanu dan sedikit meremas tengkuknya.
Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Posisi mereka tidak lagi duduk berhadapan, Ellena berbaring di sofa dengan Keanu yang menindihnya. Setelah puas pada bibirnya, ciuman Keanu kemudian turun menuju leher jenjangnya. Mengecupinya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Dan sementara itu... Evan yang berencana menemui Keanu langsung mengurungkan niatnya saat melihat apa yang tengah di lakukan oleh dua orang di dalam sana. Buru-buru Evan menutup pintu ruangan itu supaya tidak ada orang lain yang melihatnya.
"Van, apa Keanu ada di dalam?" Evan terlonjak kaget karena teguran Leon.
"Ayam.. ayam... ayam...!! Yakk!! Boss Wu, kenapa kau malah mengejutkanku?! Bagaimana kalau aku sampai terkena serangan jantung dadakan karena dirimu?!!" amuk Evan pada Leon.
Evan mengusap dadanya dengan gerakan naik-turun. Alih-alih meminta maaf pada Evan, Leon malah terkekeh geli. Dia merasa geli sendiri dengan reaksi Evan yang menurutnya sedikit berlebihan itu.
"Habisnya kau melamun saja, memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Leon penasaran.
"Mau tau saja, dan sebaiknya kau jangan masuk jika tidak ingin menyesal," ucap Evan memperingatkan.
"Memangnya ada apa di dalam? Kau membuatku sangat penasaran saja, minggirlah dan jangan halangi jalannya." Pinta Leon menuntut.
Leon membuka pintu di depannya, kedua matanya langsung membelalak setelah melihat aktivitas yang ada di dalam sana. Bulu kuduknya berdiri seketika, setelah mendengar suara-suara mengerikan yang membuat otaknya traveling kemana-mana.
Buru-buru Leon menutup kembali pintu itu sambil memegangi hidungnya yang terus mengucurkan darah segar. "Dasar pasangan mesum, apa tidak ada tempat lain untuk melakukannya selain di kantor? Aisshh, gara-gara mereka celanaku jadi sesak." Tanpa menghiraukan Evan, Leon bergegas pergi ke toilet. Dia membutuhkan pelepasan sekarang.
"Bandel sih, di bilangin tidak percaya. Sekarang kau tanggung sendiri akibatnya!!"
-
"APA? JADI KEANU TIDAK LUMPUH APALAGI CACAT?!!"
Adella memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar apa yang Penny dan Marry sampaikan.
Rasanya dia tidak percaya jika mantan suaminya itu adalah pria yang normal, karena selama mereka bersama, tak sekalipun Keanu menunjukkan tanda-tanda jika dia adalah pria yang normal.
Sepanjang hari Keanu hanya duduk di atas kursi rodanya, tak tidak bisa bergerak tanpa bantuan darinya. Dan sekarang Marry dan Penny mengatakan padanya jika Keanu bukanlah pria lumpuh.
"Aku sangat syok, bahkan aku masih sulit mempercayainya jika dia adalah pria yang normal. Dan aku sempat merekamnya ketika dia berdiri dari kursi rodanya," Marry menunjukkan sebuah video pada Adel.
Lagi-lagi kedua mata Adel membelalak setelah melihat video tersebut. Bukan karena dia melihat Keanu yang bisa berdiri dan berjalan layaknya orang normal. Namun wajah asli di balik topeng yang selalu dia gunakan selama ini.
"JADI, BRANDALAN ITU SEBENARNYA ADALAH KEANU?" Adel kembali memekik. Dia mengenali wajah itu, dan dia masih mengingatnya dengan jelas. Wajah yang sama seperti wajah brandalan yang pernah dia maki bertahun-tahun yang lalu.
"Lalu apa rencanamu setelah mengetahui kebenaran ini? Apa kau akan diam saja dan membiarkan wanita itu berbahagia dengan Keanu? Apa kau tidak ingin merebut posisimu yang telah di rebut olehnya dan menjadi Nyonya Besar kembali di rumah ini?" Marry mencoba memprovokasi Adel.
"Dan jika aku jadi kau, tentu saja aku tidak akan diam saja. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Lagipula wanita tanpa asal usul yang jelas seperti dia sangat tidak layak untuk menjadi Nyonya Besar di rumah ini dan bersanding dengan, Keanu!!" kini giliran Penny yang membuka suaranya. Wanita itu menyeringai tajam melihat perubahan wajah Adella.
Adel menyeringai dingin. "Kalian tenang saja dan tidak perlu khawatir, aku sudah memiliki rencana untuk menyingkirkan jalang itu dari sisi Keanu dan melenyapkan dia dari dunia ini untuk selama-lamanya. Kalian tunggu saja bagaimana aku akan menghancurkannya!!"
"Benarkah? Dan aku sangat menatikannya!!" sahut seseorang dari arah pintu.
Sontak saja mereka bertiga menoleh dengan serempak. Kedua mata Marry dan Penny membelalak saking kagetnya saat mereka melihat siapa yang datang
"ELLENA SU!!"
-
Bersambung.
Budayakan untuk selalu meninggalkan like dan koment setelah membaca. Biar Authornya tambah semangat ngetik novelnya, karena tanpa dukungan riders semua, cerita ini bukan apa-apa ππππππππ
__ADS_1