
Tangan kanan Ellena terus mengusap lembut perutnya yang terlihat rata. Akhir-akhir ini dia merasa ada beberapa perubahan yang terjadi. Ia menjadi lebih sensitif, lebih gampang marah, dan masih banyak lagi keanehan yang terus saja dia alami.
Sudah sejak lama Ellena mulai curiga dengan kondisinya saat ini. Tapi dia tidak begitu yakin, apalagi baru tiga hari dia mengalami keterlambatan datang bulan. Dan hal itu membuktikan jika terlalu awal untuk memperkirakan jika dirinya sedang mengandung.
Ellena kembali membelai perut ratanya dengan lembut. Ia mengarahkan pandangan pada perutnya dengan sayang. Walaupun dia tidak begitu yakin, namun tidak dapat dipungkiri kalau ia begitu yakin ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Cklekk...
Ellena mengangkat wajahnya setelah mendengar decitan suara pintu di buka. Terlihat Keanu yang baru saja pulang bekerja memasuki ruangan itu kemudian menghampiri dirinya. Aroma tembakau yang begitu pekat dapat ia rasakan di dalam hidung dan mulutnya ketika pria itu mencium singkat bibirnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Keanu yang hanya di balas gelengan oleh Ellena. Ellena mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam mata kanan suaminya. "Ada apa?" lagi-lagi wanita itu hanya menggeleng.
Ellena bangkit dari duduk ya dan berjalan ke kamar mandi. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Kau terlihat lelah, sebaiknya segera mandi dan akan aku siapkan makan malam untukmu." Ujarnya dan berlalu.
Tidak sampai lima menit Ellena sudah kembali dan mendapati Keanu dengan duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Kemeja lengan panjang dan vestnya sudah dia tanggalkan menyisahkan t-shirt putih polos tanpa lengan.
"Sebaiknya tinggalkan dulu pekerjaanmu dan segera mandi. Airnya sudah siap."
"Sebentar, Sayang. Ada beberapa Email masuk dan aku harus memeriksanya dengan segera." Jawab Keanu tanpa menatap lawan bicaranya.
"Baiklah, terserah kau saja."
Wanita itu berjalan menuju lemari pendingin mini yang berada di sudut ruangan kemudian mengeluarkan sebetol botol susu dari dalam lemari pendingin itu.
Wanita itu meraih gelas kosong yang ada di depannya, dan berniat mengisi gelas itu dengan susu dingin yang baru saja dia keluarkan dari dalam kulkas. Tak ada yang salah dengan tubuhnya sebelumnya, namun ketika ia mulai menuang susu itu ke dalam gelas yang ia bawa, pandangannya menghitam seketika.
Prakk...
Dan membuat gelas dalam genggamannya terlepas dan jatuh begitu saja.
"Ellena."
Dan hanya suara Keanu yang sanggup Ellena tangkap sebelum ia kehilangan kesadarannya. Keanu segera segera beranjak dari posisi duduknya ketika melihat Ellena ambruk sesaat setelah mendengar suara gelas yang pecah. Pria itu meraih tubuh istrinya tanpa memperhatikan pecahan gelas yang tercecer di sekitar sana-sini.
__ADS_1
"Ellena," seru Keanu sambil meraih sebelah wajah Ellena dan menepuk pelan pipinya. "Kau bisa mendengarku?!"
Namun tidak ada respon. Tanpa berpikir panjang, Keanu pun segera memindahkan tubuh Ellena dan membaringkannya di atas ranjang dan Keanu duduk di sampingnya.
Keanu menggenggam tangan Ellena dan menatapnya penuh kecemasan. Dan ketika kesadarannya telah kembali, hal pertama yang tertangkap oleh mata coklatnya adalah wajah tampan suaminya yang di selimuti kecemasan.
"Key," panggilnya lirih.
"Ell. Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Keanu dengan raut wajah yang sama. "Sebaiknya kita ke rumah sakit saja. Aku akan mengantarkanmu ke sana,"
Ellena menggeleng. "Tidak perlu, Key. Aku tidak apa-apa."
"Jangan keras kepala!! Kau perlu ke rumah sakit, Ellena."
"Aku hanya perlu beristirahat,lagi pula aku tidak apa-apa. Jangan bersikap berlebihan,sungguh aku tidak apa-apa. Mungkin karena aku agak kelelahan sedikit."
Raut wajah Keanu menunjukkan ketidakpercayaan. Dia yakin jika Ellena tidak baik-baik saja. Tapi bukan hal yang mudah untuk membujuk seorang Ellena.
Ellen mendengus kasar. "Aku tak apa, Key." Sekali lagi Ellena mencoba meyakinkan Keanu jika dirinya baik-baik saja. Tapi sepertinya Keanu tidak mempercayainya.
Helaan napas kesal keluar dari mulut Keanu. Menghadapi sikap keras kepala Ellena memang lebih sulit dari mengurus bayi. Keanu pun kembali mendudukkan tubuhnya di samping Ellena. "Sekarang apa yang kau mau?" tanya Keanu datar.
"Aku ingin tidur." Jawab singkat Ellena. "Tapi aku tidak mau sendiri. Kau harus menemaniku di sini."
Keanu hanya menatap Ellena tanpa menanggapi perkataan wanitanya. Dari dulu ia sadar bahwa Ellena memang wanita yang sangat keras kepala.
Ellena merenggut melihat Keanu yang tak bereaksi sama sekali. Wanita itu segera menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut tebal. Lagi-lagi emosinya berubah dalam sekejap mata.
"Kalau tidak mau ya sudah, dasar menyebalkan!!"
-
"Hoek...Hoek..."
__ADS_1
Sedari pagi Ellena terus saja muntah-muntah. Semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya pasti dia muntahkan lagi.
Dan ini sudah yang ke tiga kalinya dalam setengah hari ini. Penny yang kebetulan adalah satu-satunya orang yang ada di rumah menjadi cemas dan panik setengah mati.
"Eonni, minum dulu." Pintanya sambil memberikan segelas air pada Ellena."Sebenarnya ada apa denganmu?Kenapa kau terus saja muntah. Apa kau sedang sakit atau mungkin perutmu yang tidak nyaman?"
Ellena menggeleng. "Aku juga tidak yakin. Tapi aku merasa ada yang salah dengan tubuhku akhir-akhir ini. Aku selalu mual ketika mencium sesuatu yang harum ataupun menyengat. Bahkan aku tidak bisa masuk dapur karena tidak tahan dengan aroma bawang. Dan hal ini membuatku tersiksa setengah mati." Ujarnya panjang lebar.
Penny tampak berpikir keras dan mencoba mencerna apa yang Ellena katakan. Kedua matanya lantas membelalak ketika dia menyadari sesuatu.
"Omo!! Eonni, apa mungkin kau sedang hamil?!"
"Hamil?" Ellena mengulang ucapan Penny. Penny mengangguk. "Tapi aku masih ragu, atau mungkin aku periksakan saja ke dokter atau membeli alat tes saja?"
"Aku rasa alat tes dulu baru ke rumah sakit untuk memastikannya."
Ellena mengangguk. "Baiklah, akan aku lakukan nanti. Dan sekarang sebaiknya temani aku mengantarkan siang untuk Keanu, kau tidak sedang sibuk bukan?" Penny menggeleng.
"Kalau begitu aku akan siap-siap dulu." Ellena mengangguk.
-
Ellena menghentikan langkahnya saat iris coklatnya tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan yang cukup membuatnya penasaran. Yakni kebersamaan Dellia dan Adel. Mereka berdua sedang berada di sebuah cafe dan terlihat akrab.
Penny yang merasa penasaran ikut berhenti juga lalu mengikuti arah pandang Ellena. Dahinya menyernyit bingung melihat hal yang sama seperti yang di lihat oleh Ellena.
"Bukankah itu si belatung nangkah dan ulet bulu? Aku tidak tau jika mereka sedekat itu."
Ellena menoleh dan mengangkat bahunya acuh. "Aku juga tidak tau, sudahlah biarkan saja. Toh bukan urusan kita juga. Ayo, sudah hampir jam makan malam." Ucap Ellena yang kemudian di balas anggukan oleh Penny. Keduanya berjalan beriringan menuju perusahaan milik Rey yang hanya berjarak sepuluh meter lagi.
-
Bersambung.-
__ADS_1