
Ellena menatap langit yang mulai terlihat gelap. Tampaknya mendung. Awan hitam mulai menyelimuti bumi bagai cendawan raksasa.
Wanita itu sekali lagi melihat ke arah langit dan mendengus berat. Saat ini Ellena sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama dengan Penny. Mereka baru saja selesai berbelanja bulanan.
Benar saja. Beberapa menit kemudian, hujan turun dengan derasnya. Dengan cepat membentuk kubangan-kubangan kecil di jalan, dan bercipratan ke mana-mana. Ellena menatap pemandangan di depannya dengan sebal. Dan inilah yang paling tidak dia sukai dari Hujan.
Kelihatannya hujan itu tak akan berhenti begitu saja. Baik Ellena maupun Penny tak membawa payung hari ini. Tapi cuaca tadi begitu cerah. Mereka bahkan sudah memikirkan saat santai yang menyenangkan setelah selesai berbelanja.
Namun, ketika mereka akan pulang, awan mendung begitu cepat datang, dan hujan deras langsung mengguyur kota dan melumpuhkan semua aktifitas warga! Lalu, bagaimana sekarang mereka berdua bisa pulang.
"Eonni, sepertinya hujannya akan lama." Ucap Penny setengah prustasi.
Ellena mendengus berat. "Ya, aku rasa juga begitu."
Perhatian keduanya teralihkan oleh kemunculan dua orang wanita yang seketika menghancurkan mood Penny dan Ellena. Siapa lagi jika bukan Adel dan Dellia. Penny yang sedang malas ribut mengajak Ellena berpindah tempat tapi langkah keduanya di hentikan oleh Adel dan Dellia.
Penny mendengus kasar. "Apa sih yang sebenarnya kalian inginkan? Pergilah, aku sedang malas berdebat dengan kalian."
"Memangnya siapa yang ingin mencari masalah?! Kau pikir kita berdua juga mau berdebat dengan bocah ingusan sepertimu! Lagipula masalah kami bukan denganmu, tapi dengan dia...!" Adel menunjuk Ellena tepat di depan mukanya.
Ellena menyentak tangan Adel dari depan wajahnya dan menatapnya tajam. "Aku benar-benar heran dengan kalian berdua. Apa kalian tidak memiliki kerjaan lain selain mencari masalah denganku? Dan aku peringatkan pada kalian berdua, berhentilah mencari masalah denganku jika kalian tidak ingin berakhir mengenaskan. Penny, ayo kita pergi dari sini." Ellena meraih tangan Penny dan membawanya pergi dari sana.
"AKU PASTI AKAN MENDAPATKAN KEANU KEMBALI!!"
Tapp...!!
Ellena menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Wanita itu menyeringai sinis "Kau ingin bersaing denganku? Sebaiknya jangan bermimpi." ucap Ellena dan melanjutkan langkahnya.
"Aaahh..!" kepala Ellena tertarik kebelakang karena tarikan Adel pada rambutnya. Tak kehabisan akal, Ellena menarik lengan Adel dan membantingnya kelantai. Membuat wanita itu meringis dan mengadu kesakitan. "Inilah akibatnya jika kau menyerang lawan dari belakang." tanpa menghiraukan Adel yang tampak begitu kesakitan. Ellena meninggalkannya begitu saja.
"ELLENA SU, AKU MEMBENCIMU!"
Adel langsung di bantu berdiri oleh Dellia. Semua orang yang ada di sana saling berbisik dan tersenyum meremehkan ke arah Adel. Dan hal itu membuat Adel semakin kesal dan marah. Sambil menahan rasa sakit di tubuhnya, Adel segera meninggalkan pusat perbelanjaan dan menerjang hujan.
__ADS_1
"Eonni, tunggu aku!!!"
-
Disebuah ruangan yang sangat besar terlihat seorang pria berambut hitam tengah berkutat dengan laptopnya, sesekali pria tersebut meminum kopi yang tersedia di atas mejanya dan ditemani cahaya matahari berwarna orange yang masuk dari kaca dibelakang punggung pria tersebut pertanda bahwa sudah sore menjelang malam, tapi pria tersebut masih betah diruang kerjanya sedangkan karyawannya sebagian sudah pulang.
TOK TOK TOK
Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya. "Masuk." Seru pria tersebut tanpa menoleh kearah pintu, seorang wanita terlihat memasuki ruangan sambil memeluk beberapa map.
"Maaf, Tuan. Di luar ada seorang pria yang bernama Diaz ingin bertemu dengan Anda." Ucap Wanita tersebut.
"Suruh dia masuk." Jawab pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Simon.
"Baik Tuan." Wanita itu lalu balik badan dan berjalan keluar ruangan Sinon dan menutup pintu secara perlahan.
CKLEK
Pintu kembali terbuka dan sosok yang dimaksud wanita itu terlihat memasuki ruangan dan menghampiri Simon yang tampak acuh dan tak peduli akan kedatangannya.
"Aku sudah mendengar semuanya, apakah itu benar? Apakah Ellena benar-benar tidak pernah menghinatimu?"
"Dari mana kau tau?!"
"Mantan pembantu rumah tangga yang dulu bekerja di sana. Dia di pecat dan sekarang bekerja di rumahku. Bukankah orang itu yang memberikan rekaman itu padamu?!"
"Kau benar."
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Merebutnya, atau justru merelakannya?"
"Aku masih memikirkannya,"
"Saran kecil dariku kawan, relakan dia dan jangan mengharapkannya lagi. Dia sudah bahagia bersama suaminya, dan sudah tidak ada lagi bagimu kesempatan untuk kembali."
__ADS_1
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa menurutmu aku tidak pantas memilikinya lagi? Tidak ada kata terlambat, Hyung. Aku memang bersalah padanya. Tapi sekarang aku menyesal."
Diaz bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Simon. "Penyesalan selalu datang di akhir bukan? Sekarang semuanya sudah terlambat Simon, Ellena tidak mungkin kembali padamu dan suaminya juga tidak akan melepaskannya. Sudah tidak ada jalan lagi untukmu kembali. Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan ini!" Diaz bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
-
Hujan masih mengguyur kota Seoul. Suasana di luar terlihat sangat suram. Membuat suasana malam yang kelam kian terasa mencekam.
Petir menyambar saling bersahutan, membuat ngeri setiap mata yang memandang. Tak terkecuali sosok perempuan yang saat ini sedang meringkuk ketakutan di bawah selimut tebalnya.
Wanita yang tengah berbadan dua itu selalu menjerit setiap kali terdengar suara petir yang menggelegar di luar sana. Ia ketakutan, sangat-sangat ketakutan.
JLEDERR...
"Aahh..." Kembali ia menjerit histeris, di susul isakan yang terdengar layaknya suara tangisan bocah Lima tahun yang tidak di belikan permen oleh Ibunya.
"Ellena,"
Seperti mendapatkan oasis di Padang pasir. Wanita itu 'Ellena', menyibakkan selimutnya dan melompat turun dari tempat tidurnya. Memeluk sosok pria yang baru saja memasuki kamar itu dengan erat.
"Oppa, kau dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang? Hiks, aku sangat ketakutan. Petirnya sangat-sangat mengerikan."
Keanu mendengus berat. "Maaf, ada rapat mendadak. Tapi sekarang akan baik-baik saja. Aku di sini." Ucap Keanu sambil mengusap punggung Ellena naik-turun.
Ellena melepaskan pelukannya dan menatap Keanu yang juga menatap padanya. Pria itu tersenyum tipis. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi Ellena. "Jangan menangis lagi, aku tidak akan membiarkanmu ketakutan lagi." Keanu kembali memeluk Ellena. Lebih erat dan lebih hangat.
Keanu kemudian mengangkat tubuh Ellena dan membaringkannya di atas tempat tidur. Wanita itu menarik dasi yang masih menggantung di leher suaminya lalu mengecup singkat bibirnya.
"Aku sekarang sudah merasa lebih tenang."
Keanu menepuk kepala coklat Ellena sambil tersenyum lebar. "Ya sudah, aku mandi dulu." Keanu beranjak dari hadapan Ellena dan pergi begitu saja.
Meskipun di luar petir kembali menggila. Namun Ellena tidak lagi merasa takut. Ada Keanu yang berhasil menghilangkan rasa takutnya. Kini ia lebih tenang. Keanu adalah obat paling mujarab untuk mengubah perasaan Ellena. Sungguh hebat kau Xi Keanu.
__ADS_1
-
Bersambung.