SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Seperti Di Neraka


__ADS_3

Awan berarak dengan perlahan, seakan-akan ada roda otomatis yang membawanya melewati udara yang berembus pelan, beratapkan langit kelam yang luas tanpa batasan dengan jutaan manik-manik langit dan sang penguasa malam yang telah bertahta di atas sana.


Angin malam berhembus lirih, kehangatannya membawakan nyanyian penuh kebahagiaan di tengah musim kumpulan bunga berkembang. Sesekali, akan ada warna pink terang tersebar lepas yang menghampar luas bak sebuah primadani di atas rerumputan hijauh, mengingatkan dunia bahwa sekotor dan senista apapun kehidupan, akan selalu ada keindahan tak ternilai yang tersimpan di balik warna kelam.


Dua bola mata coklat dan amber bereaksi pada gerakan dan warna tertentu yang dapat di tangkap oleh netranya, tangan yang terbuka diangkat untuk menangkap sesuatu yang melayang dari atas sana.


Pemilik mata dan tangan itu menatap sekilas pada benda yang tergenggam jari-jarinya, sehelai mahkota berwarna merah muda dengan segarnya warna simbol musim semi. Yang datang di sambut angin lalu berakhir di telapak tangannya, membiarkan sang mahkota merah muda untuk kembali melanjutkan perjalanannya.


"Sampai kapan kau akan berdiri di sini? Kita masuk, udara di sini sangat dingin. Aku tidak ingin jika kau sampai jatuh sakit hanya karena kedinginan," Nasehat seorang pria pada sosok wanita keras kepala yang berdiri di sampingnya.


Wanita itu mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Sebentar lagi, tanggung.. Lagipula udara di sini tidaklah sedingin itu. Aku masih ingin memandang langit dan bintang-bintang itu, dan jika kau merasa lelah dan mengantuk. Sebaiknya kau masuk saja. Aku akan tetap di sini dulu." Ucapnya menuturkan.


Pria itu mendesah kasar. "Dasar keras kepala, kenapa sulit sekali bicara denganmu, Nyonya Xi. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi, masuk sekarang atau kau menang ingin aku menyerangmu sekali lagi?" pria itu mencoba sambil memberikan sedikit ancaman.


"Tidak lagi-lagi, apa kau ingin membuatku bejalan ngesot besok pagi?" Ellena menjawab cepat. Wanita itu menekuk wajahnya. "Baiklah, aku akan masuk sekarang." Lanjutnya dan melewati Keanu begitu saja.


Ellena terus menghentakkan kakinya. Wajah cantiknya di tekuk. Dia benar-benar kesal pada suami tampannya itu. "Dasar pria menyebalkan, jelas-jelas aku masih ingin melihat bintang, tapi malah memaksaku untuk masuk ke dalam. Lagipula aku masih belum mengantuk,"


Dan Keanu yang mendengarnya hanya mendengus, dia merasa geli sendiri dengan sikap istri cantiknya itu. Tapi Keanu tidak ingin terlalu ambil pusing. Nanti juga biasa lagi.


Keanu beranjak dari taman dan melanglang masuk ke dalam. Dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Apalagi besok dia harus pergi ke kantor untuk bekerja. Keanu ingin tidur lebih awal malam ini.


-


Ketika mentari sudah muncul dari balik persembunyiannya, dan burung burung telah bernyanyi menyambut sinar mentari yang menyilaukan. Seorang wanita terlihat berkutat di dapur dan sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Meskipun banyak pelayan di mansion mewah itu, namun dia ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Menyiapkan sarapan dan membuat kopi untuk suaminya. Dan hal itu yang selalu dia lakukan setiap paginya, kecuali ketika dia benar-benar lelah.


Sejak pagi, bahkan sebelum mentari muncul, wanita itu sudah bangun dari tidurnya. Dan berkutat dengan berbagai jenis sayuran, daging dan buah-buahan di dapur.


Dan sementara itu. Di rumah yang sama tapi di lokasi berbeda. Seorang pria terlihat merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku sambil sesekali ia menguap. Nyawanya masih belum terkumpul sempurna meskipun matanya sudah benar-benar terbuka.


Lalu pandangannya bergulir pada ruang kosong di samping kirinya. Tempat itu terasa dingin seperti sudah cukup lama di tinggalkan. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu sudah menunjuk angka 06.30.


Ting....


Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pria itu kemudian beranjak dan bangkit dari posisi berbaringnya. Satu email masuk ke dalam ponselnya. Membacanya sebentar kemudian meletakkannya kembali di atas meja.


Pria itu 'Keanu', turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Keanu turun untuk sarapan. Di sana sudah ada Ellena dan duo ajaib yang sedang berebut makanan. Mereka berdebat dan saling melemparkan kata-kata konyol yang menggelikan.

__ADS_1


Dan tentu hal itu bukan yang pertama kalinya bagi mereka. Karena hampir setiap hari ada saja sesuatu yang mereka ributkan.


"Tidak boleh!! Kau makan yang lain saja, ayam goreng ini buatku karena aku yang melihatnya lebih dulu!!" kata Marcell menegaskan.


"Tidak bisa!! Pokoknya ayam goreng itu milikku!! Kau itu adik, seharusnya mengalah sama kakak!!" Henry tak mau kalah.


"Dasar gila. Di mana-mana harusnya kakak yang mengalah pada adik!! Bukan adik yang mengalah pada kakak!!. Jadi ayam goreng ini milikku!!"


Henry menggeleng. "Tidak-tidak, itu milikku!!" katanya menegaskan.


"Milikku," Marcell mengambil semua ayam goreng itu dan menyembunyikan di belakang punggungnya.


Dan Ellena hanya bisa memijit pelipisnya. Dia terlalu malas memisahkan mereka yang selalu saja berulah itu. Mengabaikan mereka berdua, Ellena segera mengajak Keanu untuk sarapan bersama. Sama seperti Ellena. Keanu pun tidak ingin terlalu memikirkannya.


"Omo!! Apa itu?!" seru Henry tiba-tiba sambil menunjuk ke arah langit-langit rumah.


Sontak saja Marcell menoleh. "Mana?" pemuda itu mengikuti arah tunjuk Henry. Dan kelengahan Marcell, Henry manfaatkan sebaik-baiknya. Dia menyambar piring yang berisi ayam goreng itu dan membawanya pergi dari sana.


"Yakk!! Henry Xi, mau kau bawa kemana ayam gorengku? Kembalikan!!!"


"Ambil saja sendiri kalau memang bisa,"


.


.


Setelah menyelesaikan sarapannya. Ellena bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap, karena mulai hari ini ia harus bekerja sebagai sekretaris Keanu hingga satu Minggu ke depan.


Ellena urung menjadi asisten pribadi Keanu dan dia menjadi sekretaris sementara, karena sekretaris Keanu sedang cuti karena sakit.


Ellena menghampiri Keanu yang sedang menunggunya di ruang keluarga, pria itu menutup korannya kemudian bangkit dari duduknya. "Sudah siap?" Ellena mengangguk. Dan keduanya pun berjalan beriringan menuju halaman.


Sebelah tangan Keanu memeluk pinggang ramping Ellena. Dan di depan sudah ada Evan yang menunggu kedatangan mereka berdua. Evan mengulirkan pandangannya pada Ellena dan mencoba memberikan semangat padanya.


-


"Dokumen ini salah, lihat banyak kata yang salah! Kau ini bodoh atau idiot? Pakai mata makanya saat bekerja! Jangan pakai jidat!"


Ellena terus menekuk wajahnya, Keanu memarahinya habis-habisan lagi. Dan itu sudah yang ketiga kalinya dalam setengah hari ini. Dan hal itu membuat Ellena frustasi setengah mati.


Wanita itu menggerak-gerakkan bibirnya seolah mengikuti celotehan panjang suami yang merapat sebagai atasannya tersebut—entah pidato, ceramah, atau apa. Yang pasti ia sudah sangat pusing mendengar suara baritone itu mengoceh secepat kilat saat mengomelinya, bagai seorang ibu yang memarahi anak perawannya karena pulang terlalu larut malam.

__ADS_1


Rasanya Ellena ingin merutuki kebodohannya dengan mengajak Keanu melakukan sebuah taruhan bodoh kemarin malam. Seharusnya Ellena tau seberapa besar kekuatan suaminya ketika mereka sedang bergulat panas di atas ranjang.


Dan jika dirinya tidak mengajukan taruhan bodoh itu, pasti saat ini Ellena tidak akan terjebak di dalam situasi yang sesulit ini. Dan benar apa kata para karyawannya dan juga Evan, jika Keanu sangat menyeramkan ketika berada di kantor. Dan Ellena sudah membuktikannya.


Haha,


Sedih sekali rasanya karena di marahi habis-habisan seperti ini oleh Keanu, apalagi kata-katanya yang terlewat tajam itu. Ellena mendengus, dan merinding ngilu. Masih mending jika cerewet itu perempuan, ini lelaki. Dan rasanya sangat aneh.


Xi Keanu duduk di kursi kebanggannya karena terlalu lelah. Bukan hanya tubuh saja. Tapi dia juga lelah hati, lelah pikiran, juga lelah menggerakkan bibirnya dan mengeluarkan semua kekesalannya pada sang Sekretaris dadakannya yang luar biasa cantik itu


"Apa kau sudah paham?!"


Satu helaan nafas terdengar, Ellena mendongak dengan mata terpejam. "Ya, Tuan Presidir." Dan apa itu? Bahkan Ellena harus memanggilnya Presdir,bukankah itu sangat menyebalkan. Parahnya lagi Ellena masih memiliki enam hari lagi. Ahhh, rasanya dunia akan kiamat baginya.


"Jangan diulangi."


"Siap."


"Jangan membantah ucapanku."


"Tidak akan."


"Jangan meledek kata-kataku lagi."


"Ya."


"Dan jangan menggerutu lagi setelah keluar dari ruanganku."


"Tentu saj—"


Raut wajah Keanu menggelap, membuat Ellena gelagapan. Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bagaimana suami tampannya itu tau jika dirinya menggerutu setelah keluar dari ruangannya ini?


Xi Keanu memang luar biasa, sangat fenomenal. Jangan bilang jika Keanu adalah turunan iblis yang jelas-jelas tidak memiliki hati ketika bekerja. Dan rasanya Ellena ingin menghilang saja dari dunia ini. Ia belum genap satu hari, lalu apa kabarnya Evan dan semua karyawan yang bekerja padanya? Yang setiap hari harus berhadapan dengan sikap tempramen atasannya yang sangat buruk itu.


"Cepat keluar dari sini, dan cetak ulang dokumen tadi atau kau akan lembur malam ini!!"


Kata-kata sakral yang jika sudah Xi Keanu ucapkan maka mau tak mau Ellena harus cepat bertindak. Sudah bekerja sebagai sekretaris pengganti, tidak di gaji pula, dan masih harus kerja ekstra setiap detiknya. Meskipun hanya satu Minggu saja, tapi satu Minggu itu bagi Ellena terasa seperti di neraka.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2