
Keanu melangkahkan kakinya dengan tenang masuk melewati pintu utama, para pegawai yang sedang hilir mudik segera menundukkan kepalanya, mengucapkan salamnya pada sang-CEO muda nan tampan tersebut, meskipun dapat diketahui secara pasti kalau salamnya tak akan pernah direspon. Tapi mereka tidak peduli.
Keanu memang terkenal sangat dingin dan berperangai keras, sekali ia memberi perintah, tak ada pilihan lain selain menurutinya. Dan untuk orang-orang yang tidak sesuai dengan Kriteria para pegawainya, tak akan segan ia pecat.
Selain itu, CEO tampan yang menjadi incaran banyak wanita itu memiliki mulut yang sangat tajam, ia tak akan setengah-setengah memarahi orang yang melanggar peraturan atau bila kinerjanya yang kurang sesuai dimatanya, entah itu laki-laki atau perempuan. Bahkan Ellena sudah pernah menjadi sasaran kemarahan Keanu karena kinerjanya yang bisa di bilang sangat lamban. Wajarlah, karena Ellena memang tidak berpengalaman sama sekali
Sekeras dan semenyeramkan apapun seorang Di Keanu. Namun hal itu tidak mengurangi pesonanya sedikit pun, lelaki jenius nan tampan itu di gilai oleh hampir semua pegawai perempuannya, apalagi sejak mereka tau jika Keanu bukanlah pria lumpuh dan cacat.
Belum lagi ia merupakan pewaris tunggal dari semua kekayaan keluarga Xi, sebuah keluarga yang sangat terpandang di Seoul, dan di usianya yang masih sangat muda, ia sudah berhasil membawa perusahannya menjadi salah satu perusahaan terbesar di tiga benua.
Sudah pasti ia sangat digilai dan dikejar-kejar oleh para perempuan yang haus akan wajah rupawan, belum lagi ia memiliki harta kekayaan yang cukup sulit untuk di deskripsikan, mengingat betapa kayanya seorang Xi Keanu.
Pegawai perempuan mulai dari yang masih lajang, hingga yang sudah berumur tak terpengaruh oleh sikap dingin dan keras sang CEO, mereka selalu berlomba-lomba untuk mendapat perhatian bosnya itu, melihat ia sepertinya belum memiliki pasangan atau perempuan yang dekat dengannya sejauh ini, bahkan ada yang mengira mungkin saja sang CEO muda ban kaya raya itu tak tertarik dengan perempuan, tapi tentu saja hal itu ditepis jauh-jauh.
Tak hanya dimata para pegawai perempuan saja, dimata pegawai laki-laki Keanu juga seorang yang sangat mumpuni, seorang pemimpin yang disegani, tak hanya karena sikapnya yang tegas, tetapi karena kinerjanya yang tak bisa remehkan lagi. Bahkan empat jempol dengan jempol kaki saja tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa hebat dia dalam memajukan dan memimpin perusahaannya.
Cklek...
Keanu mengangkat kepalanya dan menatap tak berminat pada sosok wanita yang memasuki ruang kerjanya. Lalu fokusnya kembali pada tumpukan dokumen di depannya.
"Ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Keanu dingin.
"Keanu, ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu,"
"Aku rasa tidak ada hal penting yang perlu kita bicarakan lagi. Untuk itu keluarlah, aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan ocehanmu."
"Sebentar saja, dan berikan aku satu kali kesempatan. Setidaknya biarkan aku mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa aku pergi hari itu!!"
Keanu meletakkan pulpennya dengan kasar kemudian mengangkat wajahnya dan menatap tajam pada Adel.
"Cukup, Adel Lim!! Berhentilah mengungkit masa lalu dan terimalah kenyataan jika sekarang kita sudah berakhir. Satu lagi, apapun alasanmu pergi hari itu. Itu tidak akan merubah apapun, apalagi hubunganku dengan Ellena dan perasaanku padanya. Jadi sebaiknya kau pergi, dan aku sarankan sebaiknya kau menyerah karena aku tidak akan kembali padamu. Sampai kapanpun dan demi apapun!!"
"Keanu..." Adel menatap Keanu dengan mata berkaca-kaca. "Apa benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi untukku? Katakan jika kau memang sudah tidak mencintaiku lagi, katakan jika cintamu untukku sudah pudar."
"Apa masih belum jelas juga? Bagaimana lagi aku harus menjelaskan dan mengatakannya padamu kalau aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu. Dan apa yang pernah aku rasakan padamu dulu merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku... menyesal pernah mencintaimu!!"
Plakkk...!!
__ADS_1
Adel menampar pipi Keanu dengan keras dan membuat plaster yang menutup luka di tulang pipinya terlepas. Kuku Adel yang panjang dan tajam tidak sengaja menggores luka di pipi Keanu yang mulai mengering, hingga luka mengeluarkan darah lagi.
"Kau!!! Benar-benar keterlaluan, Xi Keanu!!Kenapa kau tega sekali melakukan hal ini padaku? Apa kurangnya aku di bandingkan wanita jalang itu? Jika dia bisa kenapa aku tidak? Aku tidak terima, aku tidak terima kau lebih memilih jalang itu dari pada-"
PLAKK...!!
Wajah Adel menoleh ke samping karena tamparan keras pada kanannya. Kedua mata Adel membelalak. "Keanu, kau!!!" seru Adel sambil memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Keanu. "Ahhh," wanita itu meringis dan matanya menyipit karena cengkraman Keanu pada rahangnya.
"Aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu jika kau berani bicara yang tidak pantas lagi tentang, Ellena." Tubuh Adel tersungkur di lantai setelah satu tamparan kembali mendarat pada pipinya. "Keluar kau sekarang, KELUAR!!"
Adel menatap Keanu dengan marah. Wanita itu menyambar gunting yang ada di atas meja Keanu lalu menusukkan pada bahu kanan Keanu.
"Adel, kau!!" Keanu mencengkram bahunya yang baru saja di tusuk oleh Adel.
"Seharusnya kau mati saja, Xi Keanu. Dengan begitu tidak akan ada yang memilikimu. Baik aku ataupun wanita jalangmu itu. Aku, akan membunuhmu!!"
Grepp...!!
Plakk...!
Gunting itu berhasil di rebut oleh Ellena yang datang tepat waktu, dan sebuah tamparan keras langsung mendarat mulus pada pipi kanan Adel, itu adalah tamparan kedua yang Adel terima hari ini. Pertama Keanu, dan sekarang Ellena.
Seperti orang yang sedang kalap. Ellena mengunting rambut panjang Adel secara acak dan membotakkannya. Rambut itu terpotong secara acak dan tidak lagi berbentuk.
"Wanita sialan, apa yang kau lakukan?! Hentikan dan jangan memotong rambutku lagi. Yakk!! Apa kau tuli? Aku bilang hentikan!!"
Seakan tuli, Ellena tak mendengar teriakan dan makian Adel yang memintanya untuk berhenti. Ellena terus mengunting rambut Adel dengan emosi yang meluap-luap.
"Bagus aku cuma memotong rambutmu, jika aku mau aku pasti memotong kepalamu juga. Dan perempuan sepertimu tidak layak memiliki rambut yang indah!!" Ellena mendorong Adel hingga wanita itu terhuyung. Adel menatap Ellena dengan marah dan penuh emosi. "Apa lihat-lihat, ingin aku colok matamu?"
"Kau... Brengsek!!" Adel menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Dia menggunakan blazernya untuk menutupi kepalanya yang tidak lagi berbentuk.
Keanu melepaskan jas dan kemejanya menyisahkan tanktop putihnya yang juga berlumur darah yang berasal dari bahu kanannya. Melihat banyaknya darah yang keluar dari bahu suaminya membuat Ellena menjadi sangat panik, terlebih-lebih dia takut darah.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Keanu, bagaimana ini, bagaimana ini?! Darahnya banyak sekali, aku haru bagaimana?"
"Tidak perlu panik, aku akan melakukannya sendiri. Lagipula lukanya tidak terlalu dalam juga." Keanu mengambil cairan antiseptik yang kemudian dia tuangkan pada lukanya, pria itu sedikit meringis, kemudian menutup luka itu dengan kain kasa yang lumayan tebal. "Bantu aku menempelkan plasternya." Pinta Keanu yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena.
__ADS_1
"Itu tadi sangat mengerikan. Kepalaku rasanya pusing dan mataku berkunang-kunang melihat darah yang begitu banyak keluar dari lukamu. Tapi syukurlah lukanya hanya luka ringan saja."
"Kau datang membawakan ku makan siang?" tanya Keanu sambil memasang satu persatu kancing pada kemeja putihnya. Wanita itu mengangguk. "Hanya tinggal beberapa dokumen lagi, bisakah kau menunggu sebentar? Setelah ini kita makan siang sama-sama."
"Tentu, aku akan menunggumu di sofa saja. Kau selesaikan saja pekerjaanmu." Keanu mengusap pipi Ellena dan mengangguk.
"Baiklah,"
-
Masa muda...
Adalah masa yang paling berharga dan menyenangkan. Masa dimana kita dapat mengetahui apa arti cinta sebenarnya dan merasakan rasakan apa itu cinta. Tetapi dibalik itu semua, tak luput dari yang namanya hal menyedihkan semacam patah hati. Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya cinta dan patah hati.
Cinta adalah sesuatu yang harus di pahami dalam kata arti yang sebenarnya. Jika tidak memahami apa itu arti cinta yang sebenarnya, maka akan sulit untuk merasakan cinta yang sesungguhnya. Dan apakah makna dari arti cinta yang sebenarnya? Sesuatu luar biasa yang selalu terngiang di pikiran kita. Membuat hati menjadi gelisah, jantung berdebar tak karuan ketika melihat atau berdekatan dengan orang yang kita cintai.
Dan jika kita telah merasakannya, maka pertanyaan inilah yang akan sering terngiang di benak kita 'apakah ini yang namanya cinta?'
Masa muda m adalah masa yang sangat sulit untuk di hadapi. Masa itu juga yang tengah di hadapi oleh pria tampan berambut coklat dan bermata hitam yang menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan besar di Korea Selatan. Siapa lagi orang itu jika bukan Leon.
Ia sepertinya memiliki sedikit masalah soal percintaan. Bagaimana tidak, di saat dia jatuh cinta, tapi gadis yang dia cintai malah sudah memiliki kekasih, meskipun dia sendiri tidak yakin jika mereka benar-benar berpacaran. Parahnya lagi pria itu adalah sahabatnya sendiri.
Pukk...
Tepukan ringan pada bahunya sedikit mengejutkan Leon. Leon mengangkat wajahnya dan mendapati Alden berdiri di belakangnya.
"Kau melamun? Apa yang sedang kau lamunkan?"
Leon menyentak tangan Alden dari bahunya dan menatapnya tidak suka. "Tidak ada, sedang apa kau di sini?" tanya Leon kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar di samping kanannya.
"Hei, ada apa denganmu kawan? Kau terlihat berbeda dan lebih dingin padaku. Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Alden penasaran.
"Tidak ada apa-apa, mungkin hanya perasaanmu saja. Aku ada rapat sepuluh menit lagi. Sebaiknya aku pergi sekarang." Leon menepuk bahu Alden dan pergi begitu saja. Meninggalkan Alden yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Entah hanya perasaannya saja, atau memang benar adanya. Jika kini Leon menjadi dingin padanya. "Leon Wu, sebenarnya ada apa denganmu?" gumam Alden berbisik.
-
__ADS_1
Bersambung.