SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Berita Duka


__ADS_3


Jangan lupa baca juga novel author yang TRAGEDI CINTA SATU MALAM like komentnya di tunggu.


-


"Keanu, tunggu!!"


Seru Ellena dan menghentikan langkah suaminya. Ellena menarik lengan Keanu dan posisi mereka kini saling berhadapan. Ellena menatap sepasang mutiara berwarna amber milik suaminya.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan.


Keanu menarik lengan Ellena dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku sudah membunuh pembunuh itu, tapi kenapa rasanya masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku tidak merasa senang sama sekali." Ucap Keanu sambil menutup rapat-rapat kedua matanya.


Ellena mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Keanu. "Mungkin kau merasa begitu karena orang yang membunuh ibumu adalah kakak kandungnya sendiri. Setidaknya kau sudah memenuhi sumpahmu, dan jangan pikirkan apapun lagi. Semua akan baik-baik saja." Ellena mengusap punggung Keanu dengan gerakan naik turun, mencoba untuk memenangkan suaminya itu.


Di rasa Keanu mulai tenang. Ellena melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis. "Jangan memasang wajah menyebalkan seperti itu. Kau membuatku merinding, dan apa kau tau jika aku tadi hampir saja mati karena dirimu. Kau membuatku terkejut bukan main. Itu tadi benar-benar sangat mengerikan." Ujarnya panjang lebar.


"Maaf," hanya satu kalimat yang keluar dari bibir Keanu. "Temani aku di kamar. Aku butuh menenangkan diriku. Aku aku ingin kau berada di sisiku." Ucapnya sambil mengunci manik mata wanitanya. Ellena tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah, aku akan menemanimu."


Dan sementara itu.....


Penny dan Marry yang masih terbayang-bayang melihat bagaimana kejamnya Keanu saat menghabisi Ramon merasakan sekujur tubuhnya lemas. Mereka membayangkan jika merekalah yang berada di posisi Ramon. Dan baru membayangkannya saja sudah membuat mereka berkeringat dingin.


"Ibu, bagaimana ini? Apa dia akan menghabisi kita juga jika kita terus-terusan mencari masalah dengan dia ataupun, Ellena? Aku tidak tidak ingin mati mengenaskan juga seperti Paman Ramon."


"Ibu juga tidak tau. Sepertinya kita harus berhenti, Pen. Ibu tidak ingin mati muda dan masih ingin hidup lebih lama lagi. Penny, mari kita hentikan. Mulai sekarang kita harus bersikap baik pada Ellena meskipun itu sangat menyebalkan. Setidaknya kita harus mengamankan posisi kita di rumah ini dan juga... Nyawa kita,"


Penny mengangguk. "Ibu benar, dan aku setuju dengan Ibu." Jawabnya.


Marcell, Henry dan Dante yang melihat mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala. Ketiga pemuda itu kemudian beranjak dan pergi ke kamar masing-masing. Tiba-tiba mereka mengantuk dan ingin cepat tidur.


.


.


Ketika malam semakin larut dan kebanyakan orang sudah memasuki alam mimpinya, Ellena justru masih terjaga di atas termpat tidurnya. Rasa tidak nyaman tiba-tiba menggerogoti perasaannya dan membuatnya berpikir hingga selarut ini.


Wanita itu kemudian menggulirkan pandangannya pada sosok tampan yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Lalu ia beranjak dan berjalan menuju balkon.


Hembusan angin dingin yang berhembus langsung menyambutnya ketika Ellena menginjakkan kakinya di balkon kamarnya. Udara malam ini memang lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Ellena merapatkan gaun tidurnya yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Kemudian wanita itu menenggelamkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat. Bersender ke depan pada pagar pembatas di balkon kamarnya. Mencoba menikmati terangnya bulan dan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.


Wanita itu begitu beruntung karena langit begitu cerah sehingga ia dapat menikmati keindahan alam tersebut. Tersenyum sendiri, melamun.


Udara semakin dingin. Bahkan gaun tidurnya yang berlengan panjang pun tidak dapat melindungi kulitnya dari dinginnya angin malam ini.


Samar-samar Ellena mendengar derap langkah dari balik punggungnya. Sontak ia menoleh dan mendapati Keanu berjalan menghampirinya. Sudut bibir Ellena tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Rasa hangat seketika menjalari ke seluruh bagian tubuhnya ketika sepasang tangan kekar Keanu memeluknya dengan erat.


"Kenapa kau bangun?" tanya Ellena sambil menggenggam tangan Keanu yang memeluknya.


"Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak saat aku tidak bisa menemukanmu di sisiku." Jawabnya kemudian mengecup leher Ellena beberapa kali.


"Lihatlah bintang di sana, bukankah sangat indah?" Ellena menunjuk salah satu bintang yang yang menghiasi langit malam. "Aku suka bintang Rigel, Rigel sangat indah. Apa kau setuju denganku?" Ellena mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik amber milik Keanu.


"Hm," pria itu mengangguk.


"Mari melihat bintang sampai pagi, aku tidak bisa tidur. Bisakah kau menemaniku dan tetap di sink?" Ellena menatap Keanu penuh harap. Pria itu mengecup singkat bibir Ellena dan mengangguk.


"Tentu, aku akan tetap di sini bersamamu." Keanu mengeratkan pelukannya.


-


"Keluar negeri?!" Ellena berseru ketika Keanu mengatakan jika dirinya akan pergi keluar negeri selama beberapa hari untuk perjalan bisnis.


"Beberapa harinya itu berapa lama? Kasih kepastian yang jelas padaku? Apa kau akan lama di sana? Apa tidak bisa di wakilkan saja pada, Evan atau yang lainnya?!" Keanu menggeleng. "Kenapa?! Kenapa harus kau sendiri yang pergi?!" tanya Ellena dengan raut wajah sedih.


Keanu menakup wajah Ellena. "Maafkan aku, Sayang. Tapi aku harus pergi. Aku berjanji padamu, tidak akan lama dan akan segera kembali secepatnya."


"Tapi kenapa tiba-tiba," Ellena menurunkan tangan Keanu dari wajahnya lalu beranjak dari hadapan pria itu.


"Terus terang saja, Key. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Sejak kemarin perasaanku tidak enak. Bagaimana jika hal buruk sampai menimpamu? Bagaimana jika kau tidak akan kembali lagi? Jangankan itu benar-benar terjadi, membayangkannya saja sudah membuatku ketakutan." Tutur Ellena panjang lebar.


Keanu memeluk Ellena dengan erat. "Semua akan baik-baik saja, percayalah. Apapun yang terjadi, aku pasti akan kembali. Di manapun aku berada, kau pasti akan menemukanku. Karena kau adalah awal dan akhirku."


"Keanu," Ellena menghambur ke dalam pelukan Keanu dan memeluk suaminya itu dengan sangat erat. Entah kenapa Ellena merasa begitu takut untuk melepaskan suaminya untuk pergi.


"Pesawatnya berangkat dua jam lagi, aku harus segera bersiap-siap. Dan setelah aku kembali dari Eropa. Aku akan membawamu bulan madu ke Paris. Bukankah kau ingin melihat menara Eiffel?"


"Aku tidak ingin lagi, aku hanya ingin kau tetap di sini. Itu saja."


Keanu mendesah berat. Pria itu maju satu langkah kemudian membawa Ellena ke dalam pelukannya. "Jangan membuatku merasa takut, Ell. Jika kau bersikap seperti ini bagaimana aku bisa berangkat dengan tenang. Suamimu pergi untuk perjalanan bisnis, bukan untuk berperang." Tutur Keanu sambil mengusap kepala Ellena dengan gerakan naik turun.


Ellena mengangkat kepalanya dari dekapan Keanu. "Berjanjilah kau akan kembali dalam keadaan selamat dan utuh." Keanu tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Itu pasti."


-


Ellena menggoyang-goyangkan kakinya yang terjuntai bebas di beranda mansion mewah itu. Sesekali angin yang berhembus memaksanya untuk merapatkan kedua lengan diantara kedua lengannya; mengusap lengan tipis pada dress yang membalut tubuhnya.


Cuaca malam ini begitu dingin tapi ia masih enggan untuk masuk. Ellena masih ingin menikmati bintang-bintang yang bertaburan menghiasi langit malam.


Langkah kaki terdengar dari balik punggungnya, wanita itu menoleh namun tidak menemukan siapa pun di sana. Wanita itu mengangkat bahunya dan bersikap acuh.


Ellena memejamkan matanya sebentar, menelaah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia terlalu bosan karena Keanu sedang tidak ada di rumah. Dia pergi ke luar kota dan tidak tau kapan akan kembali. Padahal ini sudah hari ketiga suaminya itu pergi, dan Ellena begitu kesepian tanpa pria itu.


Ellena sangat merindukan Keanu. Dia merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang menghilang sejak keberangkatan Keanu hari itu.


"Nona," panggil Evan yang seketika mengalihkan perhatian Ellena dari langit malam.


Sontak saja wanita itu menoleh dan menatap Evan dengan raut penasaran. Pasalnya pria itu memasang ekspresi yang sulit sekali Ellena jelaskan dengan kata-kata.


"Ada apa, Van? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Ellena pada pria itu. Evan mengangguk. "Apa ini tentang Keanu?" lagi-lagi Evan mengangguk. "Ada apa? Apakah dia mengatakan padamu kapan dia akan pulang?" tanya Ellena begitu antusias.


Raut wajah Evan semakin sendu mendengar pertanyaan Ellena. Dia semakin tidak kuat untuk menyampaikan kabar duka itu pada Ellena. Bagaimana perasaan wanita di depannya ini jika dia sampai tau jika pesawat yang Keanu tumpangi mengalami kecelakaan dan hingga saat ini nasib suaminya itu masih belum di ketahui. Apakah Keanu masih hidup atau sudah tiada.


"Evan, kenapa diam saja? Dan apa-apaan mimik mukamu itu?"


"Nona, saya harap kau kuat mendengar berita ini."


Jantung Ellena tiba-tiba berdegup kencang. Entah kenapa firasatnya tiba-tiba saja menjadi buruk. Ellena merasa jika hal buruk tengah menimpa suaminya.


"Evan, cepat katakan ada apa? Jangan membuatku terus bertanya-tanya. Keanu, dia baik-baik saja buka?" Ellena menatap Evan dengan mata memanas. Kedua matanya mulai tampak berkaca-kaca.


Evan menundukkan wajahnya. "Pesawat yang tuan muda tumpangi mengalami kecelakaan, dan nasib tuan muda sampai saat ini juga belum di ketahui. Apakah dia masih hidup atau sudah meninggal!!" jawab Evan yang langsung membuat kedua mata Ellena membelalak sempurna.


"A-Apa?! Keanu,"


Brug....!!!


Ellena merasakan kedua matanya langsung berkunang-kunang. Tubuh wanita itu langsung ambruk dan Ellena jatuh tak sadarkan diri. Dan hal tersebut membuat Evan terkejut bukan main. Evan menghampiri Ellena dan berseru keras


"NONA!!!"


-


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2