
"Kau mau pergi?" tegur Keanu melihat Ellena yang terlah siap dan rapi. Wanita itu lantas menoleh dan mengangguk
"Pagi-pagi sekali, bibi Ivanka menghubungiku dan mengajak pergi bersama. Dia ingin supaya aku menemaninya berbelanja," jawabnya menjelaskan.
Keanu mendengus berat. Dia sudah menduganya. Memangnya untuk apa lagi wanita itu menghubungi Ellena jika bukan untuk mengajaknya berbelanja.
"Tapi apakah kau sudah baik-baik saja? Jika kau masih pusing tidak usah memaksakan diri untuk pergi."
Ellena mendekati Keanu kemudian menakup wajahnya dan mengunci manik ambernya. "Aku sudah tidak apa-apa. Tidak perlu mencemaskanku dengan begitu berlebihan," ujarnya tersenyum.
"Kalau begitu aku akan ikut pergi bersama kalian, kebetulan sekali aku free hari ini,"
Ellena menatap Keanu tidak percaya. "Free?" Ellena mengulang kalimat Keanu. Keanu mengangguk. "Aneh," Ellena menyambung
Keanu memicingkan matanya. "Apanya yang aneh?" dan tanpa Ellena menjelaskan pun, seharusnya Keanu sudah paham betul apa maksud dari ucapan wanita itu. Keanu adalah seorang workaholic, jadi sangat aneh melihat pria itu tidak pergi bekerja bukan di akhir pekan seperti ini.
"Ini bukan akhir pekan, apa kau yakin tidak akan pergi ke kantor hari ini?" tanya Ellena memastikan.
Keanu menarik ujung Ellena dan menjitak gemas kepala coklatnya. "Kenapa semakin hari kau semakin bawel saja, hm. Insiden semalam membuat tubuhku sakit semua, efek benturan ringan itu membuat kepalaku sedikit pusing. Makanya aku memutuskan untuk mengambil cuti. Apa sekarang kau puas?!"
Ellena manggut-manggut. "Aku paham, kalau begitu segera bersiap dan ganti pakianmu. Aku akan menunggumu di bawah." Ellena mencium singkat pipi Keanu dan pergi begitu saja.
Namun cengkraman dan tarikan pelan pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Ellena. Tubuhnya tertarik ke depan dan menghantam dada bidang Keanu yang tersembunyi di balik singlet hitamnya.
Dan selanjutnya yang Ellena rasakan adalah sebuah benda lunak dan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibirnya, yang di ikuti pagutan lembut nan hangat.
Ellena mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Keanu, wanita itu menutup matanya dan membalas ciuman suaminya.
Dan sementara itu....
Seseorang yang berdiri di depan pintu kamar mereka hanya mampu terpaku. Sebelah tangannya memegangi hidungnya yang terus mengeluarkan darah segar, mimisan. Berkali-kali orang itu sampai menelan salivanya melihat bagaimana panasnya pergulatan bibir mereka berdua.
Orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Henry, rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri yang datang di waktu yang tidak tepat. Niatnya untuk memberikan laporan penting pada Keanu, tapi dia malah di suguhi sesuatu yang mampu membuat sekujur tubuhnya panas dingin.
"Aisshh...Kenapa setiap hari aku harus melihat mereka yang sedang berciuman? Aku 'kan jadi kepengen juga."
Dan setiap melihat keromantisan mereka, rasanya Evan ingin memiliki pasangan juga, tapi sayangnya Tuhan masih belum mengijinkannya. Karena Evan tetap saja menjadi jones hingga detik ini.
Tak ingin merana lebih lama lagi, Evan pun memutuskan untuk pergi. Mungkin nanti saja setelah Keanu keluar dari kamarnya.
.
.
.
"APA? DANTE MENYERAHKAN DIRI KE POLISI?!"
Sementara itu.. Keterkejutan di rasakan oleh Marry setelah dia mendengar jika putra sulungnya menyerahkan diri ke polisi semalam. Marry menjatuhkan tubuhnya dengan lemas pada lantai kamarnya yang dingin dan keras.
Bukan karena mencemaskan Dante, tapi Marry cemas jika Dante akan menyeretnya dan membuka rahasia terbesarnya yang dia simpan selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Ibu, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita harus membebaskan kakak dari sana, aku takut jika kakak samai menyeret kita dan membuka rahasia itu. Ibu, cepat lakukan sesuatu!!"
"Tenanglah Penny Kim!!" bentak Marry marah, bahkan Marry tak memanggil Penny dengan Penny Xi, tapi Kim, yang merupakan nama marga dari ayah kandungnya. "Ibu sudah pusing, jangan di tambah pusing lagi!!"
"Tidak bisakah kalian berdua diam dan biarkan aku tidur dengan tenang?! Apa kalian tidak tau jika semalam aku tidak bisa tidur karena rasa sakit pada punggungku bekas cambukan kemarin!!" seru Adella menengahi perdebatan ibu dan anak tersebut. Wanita itu berbaring di atas ranjang Marry dengan posisi tengkurap.
"Diamlah!!" bentak keduanya dengan kompak.
Adel mendecih dan kemudian memalingkan wajahnya. Rasa sakit, panas dan perih pada punggungnya membuatnya tersiksa setengah mati. Bagaimana tidak. Dia harus tengkurap semalaman tanpa bisa bergerak atau bangkit dari posisinya. Bukan hanya punggungnya, tapi kaki dan lengannya.
Kedua tangan Adel terkepal kuat. Dalam hatinya dia bersumpah akan membalas ribuan kali lipat dari yang dia alami saat ini. Dan dia tidak akan pernah melepaskan Ellena sampai bisa mengirimnya ke alam baka. Adel memiliki dendam kesumat pada Ellena, karena dia... ia begitu tersiksa.
"Nanti saja kita pikirkan dan mencari jalan keluarnya, sebaiknya sekarang bantu Ibu mengoleskan salep ini,"
Penny berdecak sebal. "Ck, Merepotkan saja."
-
"Ellena..."
Ivanka berseru kencang melihat kedatangan Ellena dan Keanu. Wanita yang memiliki kecantikan yang tak lekang oleh waktu itu langsung memeluk Ellena dengan penuh kehangatan.
"Akhirnya kau datang juga. Ayo, Bibi sudah menunggumu dari tadi. Keanu, sebaiknya kau tidak usah ikut dan tunggu saja di cafe. Oke, istrimu akan baik-baik saja bersama Bibi." Ivanka mengerlingkan matanya pada Keanu, dan pria itu hanya mendengus berat.
Sepertinya tidak ada gunanya dia ikut, toh mereka hanya pergi berdua saja. Keanu pun memutuskan untuk menunggu mereka berdua di cafe yang ada di lantai dua. Sedangkan Ellena dan nyonya Ivanka pergi ke lantai tiga.
.
.
"Elle, coba yang ini, ini dan ini..." Ivanka menyerahkan beberapa helai dress dan blus pada Ellena. Padahal sudah banyak dress, rok dan blus yang Ellena coba.
Ellena bingung, sebenarnya untuk apa Ivanka mengajaknya berbelanja jika wanita itu tidak membeli apa-apa, hanya memilihkan banyak pakaian untuknya.
"Bibi, sudah cukup. Ini terlalu banyak, dan bagaimana aku bisa memakai semua ini." Ujar Ellena setengah frustasi.
"Tidak, tidak, tidak.. Sebaiknya kau jangan banyak protes lagi. Bawa semua ini ke ruang pas dan cobalah, oke." Ivanka mendorong Ellena menuju ruang pas.
Dan Ivanka berinisiatif untuk menunggu Ellena di dalam ruang pas, karena Ivanka yakin bila Ellena pasti tidak akan mencoba semuanya. Dan Ellena tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkan wanita itu untuk ikut dan menunggunya.
Ellena sedikit kesulitan menurunkan resleting pada dressnya. "Kemarilah, biar Bibi membantumu." Ucap Ivanka kemudian menghampiri Ellena.
Ivanka menarik turun resleting pada dress yang Ellena kenakan. Gerakan tangannya terhenti saat mata coklatnya melihat sebuah tanda lahir pada bahu kanan wanita muda itu itu.
Ivanka menyentuh tanda lahir itu dengan tangan gemetar, bahkan entah sejak kapan kedua matanya mengeluarkan cairan-cairan bening yang saat ini membasahi wajah cantiknya.
Ivanka sangat mengenali tanda lahir itu. Itu adalah tanda lahir yang di miliki oleh Aster Jung, putrinya yang hilang dua puluh tahun yang lalu.
Sementara itu... Ellena yang kebingungan segera menoleh, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Ivanka telah berlinang air mata. Ellena menjadi panik. "Bibi, ada apa? Kenapa, Bibi menangis?" tanya Ellena setengah panik. Tanpa mengatakan apa-apa, Ivanka langsung menarik Ellena ke dalam pelukannya.
"Ya Tuhan, mungkinkan Ellena adalah putriku yang hilang?"
__ADS_1
Ivanka melepaskan pelukannya dan menggeleng. "Tidak apa-apa, Sayang. Bibi hanya teringat pada putri Bibi yang hilang. Jika dia masih hidup, pasti saat ini sudah sebesar dirimu." Ucapnya tersenyum.
"Tapi, Bibi baik-baik saja bukan?" Ivanka mengangguk meyakinkan.
"Oya, sepertinya kita sudah terlalu lama di sini. Bisa-bisa bocah itu uring-uringan tidak jelas karena kita meninggalkannya terlalu lama. Kau tau sendiri bukan, bagaimana tempramennya suamimu itu."
"Bibi benar, ya sudah ayo kita pergi sekarang."
"Berikan semuanya pada Bibi, Bibi akan meminta kasir untuk membungkus semuanya. Dan... Jangan protes, anggap saja jika hari ini Bibi sedang gila," Ivanka berjalan mendahului Ellena.
Ellena menghela napas geli. Dia berpikir, jika memiliki Ibu seperti nyonya Ivanka pasti akan sangat menyenangkan. Ellena menggeleng, menepis semua pemikiran tak masuk akal itu dari kepalanya. Dia harus bergegas sebelum Keanu uring-uringan tidak jelas karena di tinggalkan terlalu lama.
-
Kebosanan mulai menggerogoti perasaannya. Sudah hampir tiga jam ia menunggu Ellena dan nyonya Ivanka di cafe. Tapi belum juga ada tanda-tanda jika kedua wanita itu akan datang.
"Ck, dasar wanita. Bagaimana bisa mereka menghabiskan waktu sampai berjam-jam hanya untuk berbelanja? Benar-benar merepotkan." Keanu terus saja menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal setengah mati.
Dan menunggu adalah hal yang paling Keanu benci dalam hidupnya. Dia paling benci menunggu, dan sekarang dia malah di buat menunggu. Rasanya Keanu ingin mengutuk nyonya Ivanka yang seenak jidat membawa Ellena pergi bersamanya.
"Keanu..."
Seperti mendapatkan angin segar. Raut wajah Keanu tidak semasam sebelumnya saat melihat kedatangan Ellena dan nyonya Ivanka. Kedua matanya memicing melihat Ellena yang berjalan sedikit terpincang-pincang.
Kemudian Keanu bangkit dari duduknya dan menghampiri Ellena kemudian membantunya untuk duduk. "Ada apa dengan kakimu?" tanyanya datar.
"Sepertinya lecet,"
Keanu mendengus berat. Ellena tersentak kaget saat tiba-tiba saja Keanu berlutut di depannya. Di sadari atau tidak, kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata yang menatap mereka berdua dengan berbagai ekspresi, dan hal itu membuat Ellena merasa tidak nyaman.
"Keanu, apa yang kau lakukan? Lihatlah, sekarang kita menjadi pusat perhatian," ucap Ellena setengah berbisik.
Keanu mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik coklat milik Ellena."Kau terlalu banyak bicara, Nyonya. Sebaiknya kau diam saja, biarkan aku melihat seberapa parah luka pada kakimu." Ujar Keanu dan kemudian mengakhiri kontak matanya.
"Iya, tapi tetap saja ini sangat memalukan." Ellena menutup mukanya dengan telapak tangannya.
Sedangkan nyonya Ivanka terus terkekeh melihat interaksi mereka berdua yang terlihat begitu menggelikan.
Dia sungguh tidak menyangka bila Keanu yang sedingin kutub Utara akan luluh dan bersikap hangat pada wanita. Dan ia harus segera memberikan penghargaan pada Ellena, karena berhasil meluluhkan hati Keanu yang lama membeku.
"Kalian berdua benar-benar pasangan yang sangat ideal. Sayang,Bibi duluan ya. Masih ada hal penting yang harus Bibi lakukan. Oya, semua barang-barang yang kita beli tadi akan langsung di kirim sore ini. Dan jika kau merasa apa yang Bibi belikan terlalu banyak, kau bisa membaginya dengan temanmu. Oke, Bibi pergi dulu. Bye..."
Ellena melambaikan tangannya pada Ivanka sambil tersenyum. Sedangkan Keanu masih tetap fokus pada kakinya. "Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Keanu penasaran.
"Itu karena aku terlalu lama berjalan. Bibi Ivanka membawaku keliling Mall selama berjam-jam, jadi wajar kalau kakiku bengkak." Tuturnya memberi penjelasan.
"Wanita itu benar-benar ya. Ya sudah, sebaiknya kita pulang sekarang. Kakimu perlu di kompres supaya tidak mengalami peradangan." Ucap Keanu yang kemudian bangkit dari posisinya.
Keanu mengulurkan tangannya pada Ellena, dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan cafe tersebut.
-
__ADS_1
Bersambung.