
"KYYYAAA!! SOSIS BERURAT!!"
Penny menjerit dan menutup mukanya dengan telapak tangannya. Bukan hanya Penny saja yang terkejut tapi Rio juga. Muka Rio langsung memerah menahan malu. Ini pertama kali dalam hidupnya Rio mengalami hal memalukan seperti ini.
Buru-buru Rio berlari ke kamar mandi sebelum ada yang masuk dan melihatnya dalam keadaan bulat seperti ini.
Dan benar saja. Beberapa saat kemudian, satu persatu mendatangi kamar tamu yang di tempati oleh Rio dan mendapati Penny di sana sedang menutup muka dengan telapak tangannya.
"Bibi, kenapa kau berteriak dan apa yang sedang kau lakukan di sini? Lalu di mana Paman Rio?" tanya Henry bertubi-tubi.
Alih-alih menjawab. Buru-buru Penny meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamarnya. Dia sudah kehilangan muka setelah melihat barang penting milik Rio. Dan rasanya Penny ingin mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia harus pergi ke kamar itu segala.
Berkali-kali Penny memukul kepalanya dan bergumam tidak jelas. "Dasar bodoh, kau benar-benar bodoh, Penny Xi. Bagaimana kau bisa mempermalukan dirimu sendiri." Ujar Penny. Dan sepertinya dia tidak akan sanggup lagi untuk bertatapan muka dengan Rio setelah insiden tadi.
Dan sementara itu....
Saat ini Rio sedang di sidang oleh trio racun. Mereka bertiga benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan Rio tidak memiliki pilihan lain selain menceritakan yang sebenarnya pada mereka bertiga. Dan tentu saja hal tersebut membuat ketiganya terkejut bukan main. Bahkan Dante sampai memekik kencang.
"APA?! JADI PENNY BERTERIAK KARENA MELIHATMU BULAT?!" Rio mengangguk lesu.
"Kami terlibat perdebatan kecil. Dia mengira aku adalah penyusup. Aku mencoba memberi penjelasan tapi dia tidak mau mendengarnya. Dia menyentak tanganku dan tanpa sengaja menarik handuk di pinggulku dan... Boom, handuk itu jatuh. Untung saja burungku tidak sampai terbang." Ujarnya menjelaskan.
"Ya Tuhan, kau beruntung sekali. Aku saja yang kakaknya belum pernah di lihat olehnya. Ngomong-ngomong Sosis beruratmu kecil atau besar? Sampai-sampai dia berteriak sehisteris itu? Ahh, pasti besar dan panjang." Ucap Dante dengan mata berbinar-binar.
"Aku juga penasaran." Sahut Marcell.
"Bagaimana kalau kita lihat saja?" Usul Henry yang sontak membuat kedua mata Rio membelalak saking kagetnya.
Dante dan Marcell saling bertukar pandang. Keduanya sama-sama mengurai senyum misterius dan membuat bulu kuduk Rio langsung berdiri. Rio memiliki firasat buruk melihat seringai mereka yang tampak mengerikan itu.
"Tunggu apa lagi, ayo pegangi Paman Rio." Seru Marcell memberi aba-aba. Dan sontak kedua matanya membelalak melihat Dante dan Henry memegangi diri.
__ADS_1
Rio menggeleng dan berteriak. "TIDAK, JANGAN!!!"
-
"TIDAK, JANGAN!!!"
"Omo!!"
Ellena yang sedang berias di kamarnya terlonjak kaget setelah mendengar teriakan keras dari kamar tamu. Dan hal serupa juga di alami oleh Keanu. Keanu menghampiri Ellena dan bertanya padanya.
"Apa yang terjadi? Sepertinya itu suara Rio?"
Ellena mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tau. Mungkin dia terlibat masalah dengan Dante, dan duo edan. Sudahlah biarkan saja, Oya aku sudah menyiapkan pakaian yang akan kau pakai ke kantor hari ini." Ellena tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Membuat Keanu itu tersenyum juga.
"Terimakasih, Sayang." Keanu mencubit pipi Ellena kemudian memakai pakaian yang disiapkan olehnya.
Hari ini Keanu akan kembali bekerja dan mengambil alih posisi CEO yang selama ini di isi sementara oleh Ellena. Dan ada beberapa hal yang harus Keanu selesaikan dengan segera, yakni mencari pelaku lain di balik kematian ibunya.
Karena Ramon bukanlah satu-satunya pelaku, dan mungkin saja dalang utamanya adalah orang lain. Lalu siapakah orang itu? Itulah tugas Keanu, dia harus memecahkan teka-teki itu.
Ellena mengulurkan tangannya, Keanu tersenyum kemudian menerima uluran istri tercintanya itu. Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar, Ellena dan Keanu turun untuk sarapan.
Dan sepertinya kali ini hanya mereka berdua saja. Karena tak satu pun menghuni rumah ada yang menampakkan batang hidungnya. Termasuk Rio.
Baik Ellena maupun Keanu tidak tau apa yang sedang terjadi di kamar tamu yang di tempati oleh Rio. Mereka begitu ribut, suara gelak tawa dan teriakan frustasi saling bersahut-sahutan. Dan Ellena hanya bisa berdoa semoga Rio tidak sampai gila menghadapi kegilaan mereka bertiga.
-
Suasana kantor yang semula hening seketika menjadi gaduh karena kedatangan Keanu yang selama ini menghilang dan di yakini telah meninggal. Pria itu datang ke kantor dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.
Evan yang memang belum tau jika tuan mudanya itu masih hidup, tak begitu terkejut dan terharu. Bahkan pemuda itu terlihat menitihkan air mata melihat kedatangan Keanu.
__ADS_1
Evan menghampiri Keanu dan langsung memeluknya. Wajar jika Evan sangat senang mengetahui jika Keanu masih hidup. Mengingat jika ia sudah bersama Keanu sejak 10 tahun yang lalu.
"Tuan Muda, apakah ini benar-benar Anda?" Evan menatap Keanu tak percaya.
"Ya, ini aku. Aku kembali, Evan Nam." Keanu tersenyum tipis.
"Kemana saja, Tuan Muda selama ini? Jika masih hidup, lalu kenapa Tuan Muda tidak pernah pulang? Kami pikir Tuan Muda telah tiada. Dan Nona, dia begitu frustasi dan menderita karena kepergian Anda." Tutur Evan panjang lebar.
Keanu menepuk bahu Evan. "Panjang ceritanya, singkatnya aku mengalami amnesia, dan baru ingat kembali beberapa hari yang lalu. Itu tidaklah penting lagi, yang terpenting sekarang aku sudah kembali. Segera siapkan berkasnya, kita akan mengadakan rapat tiga puluh menit lagi." Ucap Keanu yang kemudian di balas anggukan oleh Evan.
"Baik, Tuan Muda."
.
.
Jam dinding sudah menunjuk angka 11.30 siang. Rapat baru saja berakhir sekitar sepuluh menit yang lalu. Keanu sudah kembali ke ruangannya begitu pula dengan Ellena. Ellena tersenyum lebar begitu pula dengan Keanu.
Keanu mengulurkan tangannya dan kemudian mendudukkan Ellena di pangkuannya. Kedua tangan wanita itu mengalung pada lengan kekar suaminya, sedangkan tangan Keanu memeluk pinggang Ellena dengan erat.
Keanu memiringkan kepalanya begitu pula dengan Ellena. Dan detik berikutnya bibir mereka bertemu dan saling memagut. Dan kali ini Ellena yang memulainya.
Ellena ******* kecil bibir atas suaminya dan membuat Keanu merasakan rasa strawberry yang tidak terlalu menyengat yang menempel pada bibir istrinya. Keanu sebagai yang lebih tua, biasa membimbing istrinya untuk menciumnya lebih dulu bahkan setelah beberapa kali mereka melakukannya, Keanu menekan tengkuk Ellena dengan jari-jari besarnya dan memperdalam ciuman mereka.
Seperti sihir, bibir Ellena memberikan candu tersendiri bagi Keanu. Hingga membuat Keanu selalu menginginkannya lagi dan lagi, dan Ellena selalu menerimanya dengan hati terbuka.
"Basah..." satu kata ketika Keanu menyesap bibir itu. Keanu merasakan hatinya menghangat.
Ia menatap wanita yang tengah memejamkan matanya itu dengan sudut bibir terangkat ke atas. Keanu meremas pinggul Ellena dan semakin memperdalam ciumannya. Ciuman yang berawal penuh kelembutan berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.
Dan lagi-lagi, Evan mengalami kesialan yang sama seperti yang dia alami sebelumnya. Awalnya Evan hendak menemui Keanu untuk membahas beberapa hal penting. Namun hal itu harus dia urungkan ketika melihat dua orang di dalam sana tengah berciuman panas. Dan untuk yang kesekian kalinya juga hidung Evan mengalami mimisan, sungguh kesialan yang tak menyenangkan ya Evan....
__ADS_1
-
Bersambung.