
Sesuai Permintaan Pembaca yang kemarin Chat Author secara langsung. Author kasih bonus Part untuk novel ini juga 🤗🤗 Jangan lupa tinggalkan like komennya ya. Stop atau lanjut lagi Novelnya?
-
Waktu bergulir dengan cepat. Tidak terasa usia si kembar tiga kini sudah menginjak 10 tahun. Hans, Jordan dan Vivian tumbuh menjadi anak yang tampan dan juga cantik.
Hans, sebagai sulung dalam keluarga 'Xi', dia mewarisi sifat sang ayah 'Keanu' dingin dan bermulut tajam. Jordan, mewarisi sifat ketiga pamannya, yang jahilnya tidak ketulungan, sedangkan si bungsu Vivian, mewarisi sifat sang Ibu yang manja, cengeng namun tegas.
Membantu Ellena menyiapkan sarapan di dapur sudah menjadi kebiasaan yang Vivian lakukan setiap paginya. Gadis kecil itu begitu senang dan bersemangat, meskipun usianya masih 10 tahun, tapi Vivian sudah pandai memasak.
Dia selalu memperhatikan dan mendengarkan apa yang sang ibu ajarkan padanya. Vivian juga sangat ahli dalam membedakan berbagai jenis bumbu dan rempah, dia juga sudah bisa membuat beberapa jenis kue kering dan bolu.
"Ma, memangnya apa yang ingin Mama masak hari ini? Bagaimana kalau makanan Perancis saja? Sudah lama kita tidak membuat makanan Perancis."
"Jangan Perancis, lebih baik Makanan Asia saja. Bagaimana kalau makanan China saja." Usul Jordan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudha ada di dapur bersama Vivian, Ellena dan dua pelayan yang membantu mereka.
"Idih, siapa yang bertanya padamu? Aku bertanya pada Mama, kenapa malah kau yang menjawabnya?"
"Karena aku mempunyai mulut dan telinga, hahaha." Jawab Jordan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Jawaban macam apa itu? Sangat tidak masuk akal!! Pergi sana, keberadaan mu di sini sama sekali tidak dibutuhkan!!"
"Mama, lihat Vivian, dia menindas ku lagi!!" Ade Jordan setengah merengek.
"Kalau tidak ingin ditindas, makanya berhenti mengacau!!" Sahut sebuah suara dari arah belakang. Sontak bocah laki-laki itu menoleh dan mendapati Hans yang sedang bersandar pada pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Yakk!! Kenapa kau ikut-ikutan juga?! Huaa.. Kenapa kalian berdua sangat kejam dan jahat padaku?! Papa, lihatlah mereka berdua, mereka selalu menindas ku!!" Jordan menghampiri Keanu yang sedang menuruni tangga dan mengadukan kedua saudara kembarnya pada sang ayah.
Keanu menatap Ellena yang terlihat mengangkat bahunya, seharusnya Keanu tidak merasa heran lagi, karena pemandangan semacam ini selalu terjadi dan hampir setiap hari.
Bukan hanya tingkah Henry, Marcell dan Dante yang terkadang membuat Keanu pusing, tapi tingkah dan kelakuan ketiga anak kembarnya pun tak kalah membuatnya pusing. Mereka selalu saja ribut, dan hal itu terjadi hampir setiap hari.
"Ada apa lagi ini?" Tanya Keanu.
__ADS_1
"Pa, lihatlah, mereka menindas ku lagi. Vivian dan Hans bekerja sama untuk memojokkan ku, padahal aku kan hanya memberi usulan soal makanan apa yang harus di masak pagi ini. Tapi Vivian malah~"
"Salah sendiri, siapa suruh kau menyambar saja seperti burung Beo, padahal aku sedang bicara dengan Mama!!" Jawab Vivian tak mau kalah.
"Sudah cukup kalian berdua!! Berhenti bertengkar, kalian bukan anak kecil lagi. Jordan, menjauh dari dapur dan jangan mengganggu Mama serta adikmu menyiapkan sarapan,"
"Baik, Pa." Jawab Jordan pasrah.
Vivian terlihat menjulurkan lidah padanya sambil menari-nari dan menatap Jordan dengan penuh kemenangan. Sedangkan Jordan memberikan kepalan jarinya, mencoba memberikan peringatan.
Ellena dan Keanu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua buah hati mereka yang memang tidak pernah akur, bahkan sejak mereka berusia satu tahun. Jordan dan Vivian seperti menjadi musuh bebuyutan.
.
Setelah berkutat di dapur selama satu setengah jam. Beberapa hidangan tersaji dan tersusun di atas meja. Bukan hanya makanan Perancis yang mereka masak, tapi makanan Asia juga. Ellena tidak kau jika kedua buah hatinya sampai bertengkar lagi di meja makan.
"Huaa..kelihatannya sangat lezat." Ucap Marcell dan hendak mencicipi makanan yang tampak mengirimkan itu, sebelum sebuah sendok melayang tepat pada tangan kanannya
Marcell memanyunkan bibirnya. "Bibi, kau sangat jahat."
"Makanya, jangan sembarangan mencomot makanan sebelum Paman Keanu datang. Iya kan, Bibi. Ah, nikmat." Henry mengambil satu suap lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
"Kau sama saja, malah lebih parah!!" Sahut Ellena. Keduanya sama-sama terkena Omelan ibu tiga anak tersebut.
Lagi-lagi Keanu hanya bisa menghela napas melihat perdebatan mereka berdua. Bukan hanya si kembar tiga yang terkadang membuatnya darah tinggi, tapi mereka juga.
"Mama, aku lapar." Seru Jordan yang kini sudah duduk di kursi miliknya. Di ikuti Vivian dan Hans.
Satu persatu menempati kursi masing-masing. Hanya Dante yang tidak terlihat ada di antara mereka. Saat ini Dante sedang berada di luar negeri. Dia menjalankan bisnis Keanu yang ada di sana.
Suasana di meja makan begitu hening dan tenang. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka semua, bahkan si bawel Jordan, si berisik Marcell dan Henry pun tampak tenang.
Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang memecah dalam hening nya pagi.
__ADS_1
.
"Oppa." Panggil Ellena sembari menghampiri Keanu yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. "Apa yang sedang kau kerjakan?"
"Tidak ada, hanya membaca beberapa laporan saja." Jawabnya.
Kemudian Ellena mengambil tempat disamping Keanu. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Melihat senyum Ellena membuat Keanu ikut tersenyum juga.
Rasanya Keanu masih tidak percaya jika keajaiban itu datang dalam hidupnya. Bagaimana tidak, Ellena yang sudah dinyatakan meninggal oleh Dokter, tiba-tiba jantungnya berdetak lagi setelah mendengar suara tangis bayinya. Dan sejak hari itu, Keanu percaya jika Miracle itu ada.
Keanu mematikan laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Jari-jari besarnya membelai helaian panjang Ellena yang terurai lalu mengecup singkat bibirnya.
"Terimakasih karena sudah bertahan dan kembali untuk kami. Aku tidak tau bagaimana aku hidup dan membesarkan anak-anak kita jika kau benar-benar tiada." Ucap Keanu.
"Itu karena Tuhan teramat menyayangi mereka bertiga, sehingga mengembalikan ku pada kalian bertempat."
"Jika saja hari itu kau benar-benar pergi. Pasti aku tidak mungkin bisa memaafkan mu seumur hidupku!!"
Ellena terkekeh. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Keanu lalu mengecup singkat bibirnya. "Benarkah? Tapi kenapa aku tidak yakin ya? Bukankah Oppa sangat mencintaiku?"
"Tidak usah membahas apa yang membuatku mengingat kejadian itu."
Ellena mendengus. "Kenapa malah memintaku untuk tidak membahasnya, bukankah Oppa sendiri yang pertama memulainya?!" Ujarnya.
Wanita itu menatap suaminya tak percaya. Bagaimana bisa Keanu menyalahkannya sedangkan dia sendiri yang memulai dan membahas masa lalu.
"Baiklah aku minta maaf, turunlah dulu, aku harus mengerjakan pekerjaanku." Pinta Keanu.
Ellena mengangguk. Wanita itu turun dari pangkuan Keanu kemudian berpindah dan duduk di sampingnya. Dia ingin menemani suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
-
Bersambung.
__ADS_1