
Hari ini adalah akhir pekan, dan Ellena berencana untuk mengunjungi sang ayah karena dia sangat merindukannya. Tapi sayangnya Keanu tidak bisa ikut karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Jika biasanya Ellena selalu diantarkan oleh supir, maka tidak kali ini. Ellena mengemudi sendiri. Tak lupa dia membawa beberapa makanan kesukaan ayahnya yang sengaja dia masak khusus untuknya.
"Nunna, bagaimana kalau kita bertiga ikut pergi bersamamu?" ucap Dante namun segera di tolak oleh Ellena.
"Tidak, tidak, tidak, aku akan pergi sendiri saja. Karena lebih baik jika tukang pembuat onar seperti kalian tidak ikut!!"
Ellena beranjak dari hadapan ketiga pemuda itu dan pergi begitu saja. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya. Satu Minggu tidak bertemu dengannya membuat Ellena sangat merindukannya.
-
Sebuah mobil mewah terlihat berhenti di halama utama sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Seorang wanita bertubuh mungil dan berparas ayu terlihat keluar dari mobil tersebut dan berjalan memasuki Mansion.
Dua pria yang berjaga di depan pintu langsung membungkuk menyambut kedatangan wanita itu.
"Apakah, ayah ada di rumah?" tanya wanita muda itu yang pastinya adalah Ellena.
"Tuan besar sedang pergi ke luar kota dan baru kembali malam hari. Dan sebelum pergi, tuan besar berpesan jika Nona datang, beliau meminta supaya kami melayani Anda dengan baik." Ujar salah satu dari kedua pria itu.
"Astaga, ayahku memang sangat perhatian. Dan kalian tidak perlu melayaniku apalagi memperlakukanku seperti seorang putri, baiklah aku masuk dulu." Ellena menepuk pundak kedua pria itu dan pergi begitu saja.
Ellena pergi ke ruang pribadi ayahnya. Di sana banyak sekali foto-foto beliau dan nyonya Ivanka. Air mata Ellena tak henti-hentinya menetes melihat foto wanita yang telah melahirkan dirinya dan begitu dia rindukan.
Ellena mengambil foto tersebut lalu mengusap kaca bening yang menjadi penghalang foto itu. Kemudian Ellena meletakkan di depan dada dan memeluknya dengan erat. Ellena menangis sejadi-jadinya sambil memeluk foto Ibunya. Dia sungguh tidak menyangka bila Ivanka akan meninggalkannya secepat itu.
__ADS_1
Saat mulai merasa tenang. Ellena meletakkan foto itu dan kemudian melihat-lihat apa saja yang ada di dalam ruang pribadi ayahnya.
Dan saat Ellena tidak sengaja menyentuh sebuah lukisan yang tergantung di dinding, tiba-tiba saja tembok yang ada di samping kanan lukisan itu berputar. Ada sebuah ruang rahasia di balik tembok itu. Penasaran dengan apa yang ada di dalam ruangan itu. Ellena memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Tempat apa ini sebenarnya?" gumam Ellena setengah berbisik.
Ellena masuk semakin dalam dan menemukan sesuatu yang langsung menarik semua atensinya. Di mana foto-foto ayahnya dan ibu Keanu tersimpan di sana. Tidak hanya satu dua foto saja, tapi ada puluhan. Selain foto, Ellena juga menemukan sebuah diary yang terlihat sedikit usang.
Dengan sedikit ragu, Ellena mengambil diary tersebut dan mulai membukanya. Ellena membuka dan membaca setiap halaman demi halaman yang ada di buku tersebut. Setiap rangkaian kata yang tertulis di dalam diary tersebut membuat hati Ellena terasa seperti di remas-remas.
Air mata Ellena jatuh perlahan dan membasahi wajah cantiknya. Bukan karena terharu ataupun terenyuh membaca isi dalam diary tersebut. Namun sebuah fakta mengejutkan sekaligus menyakitkan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping detik itu juga.
"Tidak mungkin!! Pasti yang tertulis di buku diary ini palsu, ini tidak benar, pasti tidak benar. Karena tidak mungkin jika sebenarnya-" Ellena menggeleng dan tanpa sadar dia menjatuhkan diary tersebut begitu saja.
Ellena meninggalkan ruangan itu sambil berlinang air mata. Dan apa yang terjadi pada Ellena tentu saja membuat bingung beberapa pelayan dan juga pria yang berjaga di depan pintu masuk. Ellena masuk ke dalam mobilnya dan mobil itu segera melesat pergi meninggalkan kediaman keluarga Jung.
CKITT...
Ellena segera membanting setirnya ke kanan ketika mobilnya hampir saja bertabrakan dengan mobil lain. Pikirannya benar-benar kalut hingga membuat Ellena tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ellena menyeka air matanya dan kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya. Wanita itu segera tancap gas dan pergi ke kantor Keanu. Entah kenapa Ellena ingin sekali bertemu dengan Keanu dan memeluknya dengan erat.
-
"Keanu....!!"
__ADS_1
Keanu yang baru saja keluar dari ruang rapat langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak saja Keanu berbalik dan tubuhnya langsung di tubruk oleh Ellena.
Wanita itu memeluknya dengan sangat erat. Keanu mencoba melepaskan pelukan Ellena tapi pelukan itu semakin erat. "Sebentar saja. Biarkan tetap seperti ini." Pinta Ellena parau seperti menahan tangis.
"Ell, ada apa?" bingung Keanu. Dan Ellena hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya."Kalau tidak ada apa-apa lalu kenapa kau menangis?"
"Tiba-tiba aku merasa sedih dan sakit. Dan aku ingin memelukmu seperti ini dalam waktu yang sangat lama."
"Kenapa kau berkata seolah-olah kebersamaan kita hanya sementara saja? Jangan mengatakan kalimat yang membuatku takut, Ellena Xi. Kau bisa memelukku seperti ini sampai kita menua nanti, sampai kita tidak bisa berjalan lagi."
Ellena menutup matanya dan air matanya kembali menetes. "Itu juga yang aku harapkan, Key. Tapi mungkinkah hal itu akan terjadi? Aku merasa ragu." Ujar Ellena membatin.
Wanita itu melonggarkan pelukannya dan menatap Keanu yang juga menatap padanya. Keanu mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Ellena. Bukannya membalas ciuman Keanu, Ellena malah mendorong tubuh suaminya hingga ciuman itu terlepas.
"Tiba-tiba aku merasa lapar. Bagaimana kalau kita keluar untuk makan siang?" Ellena mencoba bersikap sebiasa mungkin karena tidak ingin jika Keanu sampai berpikir yang tidak-tidak.
Keanu mengangguk. "Baiklah, aku ambil kunci mobilku dulu." Keanu mengacak rambut Ellena dan pergi begitu saja.
Ellena menatap punggung Keanu yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Wanita itu menengadahkan wajahnya guna menghalau cairan bening yang kembali menggenang di pelupuk makanya.
"Xi Keanu, aku tidak peduli serumit apapun hubungan diantara kita. Aku akan tetap mencintaimu selamanya. Bukan hanya hari ini ataupun esok. Tapi hingga ujung usiaku. Dan selama jantungku masih berdetak, dan darah dalam tubuhku masih mengalir. Selama itulah aku akan tetap mencintaimu, walaupun sebenarnya aku adalah....?!" Ellena meremas dadanya kuat, dia benar-benar tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Terlalu sakit untuk mengucapkan kalimat itu. Kalimat sederhana namun bisa mencabik-cabik dan menghancurkan hati serta perasaan Ellena.
-
__ADS_1
Bersambung.