SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Hancurnya Hati Ellena


__ADS_3

Budayakan untuk selalu meninggalkan like dan koment 🙏🙏🙏🙏 Karena satu dukungan dari pembaca sangatlah berarti untuk author.


-


Kematian. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dihindari. Sebuah pemandangan yang tak ingin disaksikan oleh siapapun−apalagi merasakannnya, tapi mau tidak mau, siap tidak siap, setiap orang pasti akan menyaksikannya, dan bahkan mengalaminya.


Tidak ada yang tahu kapan kematian akan datang menjemput. Mungkin besok, mungkin hari ini, atau mungkin sebentar lagi. Semua itu masih menjadi misteri, dan penuh dengan teka-teki.


Kematian. Sebuah takdir mutlak yang tak bisa diubah oleh siapapun, dan sampai kapanpun. Tak bisa dipercepat apalagi ditunda. Semua makhluk yang bernapas pasti akan mati.


Tak peduli siapa, kapan dan dimana dia berada. Jika Tuhan telah menentukan hidup seseorang akan berakhir pada saat itu, maka sudah dapat di pastikan hidup orang itu akan berakhir. Karena sesungguhnya takdir manusia itu telah di tentukan bahkan sebelum dia terlahir ke dunia ini.


-


"IBU!!!"


Deru nafas itu sangat berantakan, atensi pemiliknya tidak fokus. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, membiarkan air mata mengalir di sudut kelopak matanya. Yang kemudian mengalir turun dan membasahi wajah cantiknya.


Kelopak mata itu kemudian terbuka dan memperlihatkan sepasang mutiara coklat yang indah, matanya lurus ke atas untuk melihat langit-langit kamar berdinding putih dengan aroma yang begitu khas. Wanita itu mencoba untuk beranjak dari posisi berbaringnya, salah satu tangannya ia gunakan untuk bertumpu.


Ia mengerang pelan, saat sakit kepala yang luar biasa tiba-tiba menyerangnya. Manik matanya melirik, memandang sekelilingnya. Bau obat samar-samar menyengat hidungnya, sangat khas dan pekat.


"Di mana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" gumamnya pada dirinya sendiri. "Tunggu dulu, ibu? Di-Dimana ibuku? Ibu... ibu... IBU!!!"


Dan teriakan itu mengejutkan sosok pria yang sejak semalam tertidur di sofa. Pria itu yang pastinya adalah Keanu menghampiri Ellena lalu memeluknya.


"Keanu, kenapa aku ada di sini? Lalu di mana ibuku? Katakan padaku, ibuku di mana? Aku baru saja menemukannya. Aku ingin bertemu dengannya, bawa dia padaku, bawa ibu padaku."


"Tenanglah, Elle. Tenanglah, Sayang." Bisik Keanu sambil mengusap punggung Ellena dengan gerakkan naik turun. "Nanti kita akan menemuinya, tapi kau harus tenang dulu, kau harus tenang,"


Ellena mengangkat wajahnya. Menatap langsung ke dalam manik amber milik Keanu yang juga menatap padanya. "Apakah ibuku sudah pergi? Apakah ibuku sudah meninggal? Keanu, katakan!! Katakan jika ibuku masih hidup, katakan jika ibu masih hidup!!" pinta Ellena dengan mata kembali berkaca-kaca.


"Kau harus kuat," Keanu mendorong Ellena untuk kembali bersandar pada dadanya. "Kau harus bisa merelakannya pergi. Ibumu, bibi Ivanka, dia memang sudah tiada!!!"


Ellena mendorong tubuh Keanu dan membuat pelukannya terlepas. Ellena menggeleng. "Tidak mungkin, kau pasti bohong, ibu tidak mungkin pergi, ibu tidak mungkin meninggalkanku. Ibu, dia.. dia..." Ellena tidak melanjutkan kalimatnya ketika bibir Keanu lebih dulu membekap bibirnya. Tanpa melum** tanpa memagut. Hanya sekedar menempel saja, tujuan Keanu adalah membuat Ellena diam, dan berhasil.


Dan ketika Ellena mulai tenang. Keanu melepaskan tautan bibirnya dan menatap Ellena dengan sendu.

__ADS_1


Keanu memahami betul apa yang Ellena rasakan saat ini, memangnya putri mana yang tidak hancur ketika akhirnya mengetahui siapa ibu kandungnya yang selama ini dia cari, tapi ketika dia bertemu wanita itu telah terbujur di dalam sebuah peti mati.


Ellena berhambur ke dalam pelukan Keanu dan menangis sejadi-jadinya. Dan meluapkan semua kesedihannya. Tangisnya semakin pecah, Ellena menangis dan meraung dengan keras.


Dia ingin melepaskan semua rasa sedih dan rasa sakit yang tidak lagi bisa lagi ia tahan setelah kepergian ibunya. Wanita itu meninggalkan dirinya begitu saja, bahkan sebelum Ellena tau kebenarannya. Dan Ellena baru mengetahui fakta itu setelah kematian nyonya Ivanka.


Ellena merasa seperti sedang tersesat, tanpa arah, tanpa tujuan, dia hanya terus berjalan tanpa tujuan yang pasti.


Tuan Jung menghampiri putrinya sambil menyeka air matanya. "Ayah tau ini sangat berat untuk kita semua, Nak. Terlebih lagi untukmu. Tapi kita harus merelakannya, kita harus mengikhlaskan kepergiannya. Jangan di tangis lagi dan biarkan ibumu tenang di sana, masih ada Ayah... Kau masih memiliki Ayah, Nak. Dan mulai sekarang Ayah akan menjadi Ayah dan juga ibu untukmu. Jangan bersedih lagi putriku, Ayah ada bersamamu." Tutur tuan Jung dan berusaha untuk tegar.


"Ayah!!" tubuh tuan Jung terhuyung kebelakang karena pelukan Ellena yang sangat tiba-tiba.


Dalam pelukan ayahnya tangis Ellena semakin pecah, ia benar-benar tidak mampu, dia tidak bisa merelakan kepergian ibunya. "Meskipun saat ini dia sudah tidak ada di sisi kita lagi, tapi Ibumu akan tetap hidup di sini, di dalam hati kita, selamanya." Tuan Jung mencoba untuk terlihat tegar di hadapan Ellena. Dia tidak ingin membuat perasaan Ellena yang sudah hancur menjadi semakin hancur.


"Keanu, tolong jaga Ellena. Ayah harus pergi sekarang, masih banyak hal yang harus aku urus," ucap tuan Jung yang kemudian di balas anggukan oleh Keanu.


Selepas kepergian tuan Jung. Hanya tersisa Keanu dan Ellena. Keanu menatap istrinya itu dengan iba. Rasanya sangat sakit melihat keadaan Ellena saat ini. Wajahnya sembab, dan matanya memancarkan kehampaan, sungguh tak seperti Ellena yang dia kenal selama ini.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Keanu yang kemudian di balas gelengan oleh Ellena. "Tapi kau belum makan apapun dari semalam,"Keanu mencoba membujuk.


"Tentu saja,"


-


Entah mengapa pagi ini langit terlihat murung, tak seperti hari-hari lainnya saat matahari berseri menyambut datangnya pagi. Wanita yang melihat pemandangan itu dari dalam kamarnya hanya diam dengan tatapan kosongnya. Bahkan, alampun dapat merasakan kepedihan hatinya saat ini.


Satu bulan telah berlalu, namun duka masih menyelimuti hati Ellena. Rasanya begitu sulit baginya untuk bisa menerima apalagi merelakan kepergian ibunya.


Cklekk...


Decitan suara di buka dari luar langsung menarik semua atensinya. Seorang pria yang sekujur tubuhnya penuh keringat terlihat memasuki kamar sambil mengulum senyum lebar. Pria itu menghampiri Ellena dan langsung memeluknya.


"Aisshhh...Dasar jorok, seharunya kau mandi dulu baru memelukku," keluh Ellena sambil mendorong tubuh Keanu menjauh. "Kau bau," Ellena menutup hidungnya dengan jari sambil mencondongkan tubuhnya kebelakang.


"Aku pikir kau menyukainya. Asal kau tau saja, aroma ini adalah aroma Surga."


"Mana ada aroma Surga sebau itu? Sudah mandi sana, kau boleh memelukku lagi," Ellena mendorong tubuh Keanu dan memaksanya untuk masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Persiapkan dirimu, setelah aku mandi, aku ingin mengajakmu olah raga pagi. Itung-itung untuk pelemasan otot-otot tubuh yang kaku. Lagipula sudah satu bulan lebih aku tidak menelanku bulat-bulat," ujar Keanu yang sontak membuat mata Ellena membelalak saking kagetnya.


"Apa!!" wanita itu memekik. "Aku rasa tidak bisa, mungkin nanti malam saja, kebetulan aku harus memetik bunga mawar sekarang. Cepatlah mandi dan setelah ini kita bisa sarapan bersama." Tuturnya.


Ellena buru-buru meninggalkan kamarnya. Dia tidak ingin bila Keanu sampai memakannya pagi-pagi begini. Dan satu-satunya cara terbaik untuk menghindarinya adalah dengan melarikan diri. Tapi dia merasa bingung, pintunya tidak bisa di buka dan sepertinya terkunci.


Ellena mendengus dan mengeram marah. "Xi Keanu, kenapa kau begitu menyebalkan!!!" teriaknya kesal.


Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. Ellena tau, jika apa yang Keanu lakukan hanya untuk menghibur dirinya. Selama satu bulan terakhir Keanu selalu ada di sampingnya, menemaninya dan tak beranjak satu detik pun dari sisinya.


Bahkan dia rela meninggalkan semua pekerjaannya hanya demi bisa mendampingi dirinya. Selama ini Keanu-lah yang selalu ada dan menguatkan hatinya pasca kepergian nyonya Ivanka.


.


.


Cklekk...


Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Ellena. Wanita itu tak berkedip sedikit pun melihat Keanu keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan telanja** dada. Hanya ada sebuah handuk yang membelit pinggulnya. Seketika muncul rona merah di pipinya.


Buru-buru Ellena membuang muka ke arah lain. Kemana saja asal jangan wajah Keanu. Dan Ellena berpura-pura menyibukkan dirinya dengan menata bunga-bunga yang ada di dalam vas demi membuang rasa gugupnya.


Setelah berpakaian lengkap, Keanu menghampiri Ellena dan memeluknya dari belakang. Bibirnya bergerak menuju telinga Ellena dan berbisik lirih di sana. Membuat kedua mata Ellena membelalak saking kagetnya. Sontak Ellena menoleh dan hendak melayangkan protesnya, namun bibirnya lebih dulu di bungkam oleh bibir Keanu.


Kedua tangan Keanu membingkai wajah Ellena dan memagut lembut bibirnya. Melum** atas dan bawah bergantian.


Sebelah tangan Keanu menuntun tangan Ellena untuk mengalung pada lehernya. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut. Posisi mereka tidak lagi duduk, melainkan berbaring.


Jari-jari besar Keanu bergerak untuk menggenggam jari-jari lentik Ellena yang berada tepat di samping kepalanya. Dan bibir mereka bergulat panas.


Perlahan Ellenae mengangat kakinya dan melingkarkan pada pinggul Keanu. Meskipun awalnya Ellena berusaha untuk menolaknya, namun pada akhirnya dia menyerah.


Dia menyerah dan menerima ciuman itu dengan sangat baik. Dan yang terjadi selanjutnya bukan hanya bibir dan jari-jari mereka saja yang menyatu, tapi juga tubuh dan raga mereka.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2