SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Sampai Jumpa Di Keabadian


__ADS_3

Berkali-kali gagal, berkali-kali di tolak. Tapi hal itu tak lantas membuat Adel menyerah apalagi mengaku kalah. Wanita itu masih menghalalkan segala cara untuk bisa menyingkirkan Ellena dari sisi Keanu, tapi sayangnya tak ada satupun usahanya yang berhasil dan berjalan mulus.


Melihat Ellena dan Penny keluar dari toko perlengkapan bayi tak lantas di sia-siakan begitu saja oleh Adel. Adel menyeringai tajam, wanita itu menghidupkan kembali mesin mobilnya dan mulai tancap gas.


Mata Adel menyipit dan seringai kembali tercetak di wajahnya. "Selamat tinggal, Ellena Su," ucap Adel dan kembali menambah kecepatan pada mobilnya. Adel tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki kali ini. Dia akan menyingkirkan Ellena dengan tangannya sendiri.


Namun di luar perkiraan Adel. Ellena mengurungkan niatnya untuk menyebrang dan malah berbalik dan berjalan di trotoar. Adel memukul setir mobilnya dan mengeram marah. Dia kesal setengah mati.


Tiiiinnnn....


Dan suara klakson mobil segera menyadarkan Adel. Kedua matanya membelalak melihat sebuah truk besar bermuatan penuh melaju kencang ke arahnya. Dan parahnya lagi Adel sudah tidak memiliki waktu untuk menghindarinya. Hingga kecelakaan itu pun tak bisa terhindarkan lagi.


BRAKK...


Kedua mobil itu saling berbenturan. Dan saking kerasnya tabrakan itu sampai membuat mobil Adel terguling beberapa kali. Dan di saat yang sama sebuah kereta melintas di sisi jalan yang kebetulan adalah rel perlintasan kereta. Mobil Adel terseret hingga puluhan meter, mobil itu ringsek parah dan sudah dapat di pastikan jika Adel meninggal di tempat.


Dan kecelakaan tragis itu langsung menggemparkan semua orang yang ada di sana. Orang-orang berhamburan setelah mobil Adel tersisih di tepi rel kereta dalam keadaan rusak parah. Mobil itu tak lagi berbentuk dan mirip besi yang dilempengkan.


Darah segar keluar dari mobil tersebut bercampur cairan putih yang berasal dari otaknya. Orang-orang miris melihat tubuh seorang wanita yang meninggal secara mengenaskan di dalam mobil tersebut. Kepalanya gepeng dan bagian tubuhnya terpotong seperti kaki dan tangan salah satunya.


"Eonni, bukankah itu tadi adalah mobil penyihir itu?" Penny menatap Ellena yang tampak syok setengah mati.


Ellena menggeleng. "Aku tidak tau, tapi aku rasa begitu. Dan sepertinya mobil itu tadi juga berusaha menabrakku." Jawab Ellena menuturkan.


"Huwaa...!! Itu namanya karma di bayar kontan, Eonni. Sudahlah, biarkan saja. Bukan urusan kita juga. Biar polisi saja yang mengurusnya, ayo kita pulang." Ucap Penny yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena.


Dan keduanya menghentikan taxi dan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Ellena merasa lapar dan ingin memakan ramen pedas buatan Penny.


-


"OPPAA....!!"


Suara Penny langsung menggema setibanya mereka tiba di rumah. Gadis itu berteriak dan berusaha mencari Keanu. Sedangkan Ellena mengekor di belakangnya. Ellena tidak tau apa yang akan di lakukan oleh gadis itu.


Terlihat sosok Keanu menuruni tangga dan menghampiri Penny yang sepertinya memang mencarinya. "Ada apa kau berteriak-teriak, kau pikir ini hutan??"


"Aisshh..!! Nanti saja protesnya. Karena ada hal yang lebih penting yang harus kau ketahui. Kau tau, ketika aku dan Ellena eonni keluar dari pusat perbelanjaan seseorang berusaha menabraknya dan membuatnya celaka."


"Apa?!"


"Aisshh...!! Jangan terkejut dulu. Karena ada hal yang lebih heboh yang harus kau ketahui. Kau tau siapa yang hampir menabrak Ellena eonni tadi?" Keanu menggeleng. "Orang itu adalah Adel, dan kau tau apa yang terjadi?" Lagi-lagi Keanu menggeleng.


"Adel mati secara mengenaskan setelah mobilnya tertabrak mobil dan kereta api. Keadaannya sangat mengenaskan, dan sebentar.. Aku memiliki videonya. Aku mendapatkan ini dari media sosialku. Ini ketika mayatnya di angkat dari dalam mobil." Keanu langsung menutup matanya karena tidak sanggup melihatnya. Kondisi Adel terlewat mengenaskan.


Keanu beranjak dari hadapan Penny dan berjalan menghampiri Ellena. "Tapi kau tidak apa-apa bukan?" tanyanya memastikan. Ellena menggeleng, meyakinkan pada Keanu jika dirinya baik-baik saja. "Aku lega," Keanu menarik Ellena ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.


Dan Keanu tidak mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa Ellena.


"HUAAA....!!"


"Omo!!"


Ellena dan Penny terlonjak kaget karena suara histeris di susul tangisan keras yang berasal dari kamar si kembar. Penasaran apa yang terjadi, buru-buru ketiganya pergi melihatnya. Dan setibanya di sana mereka langsung di suguhi oleh pemandangan yang cukup menggelikan. Di mana Marcell dan Henry yang sedang menangis dan berteriak histeris, sedangkan Dante tersedu-sedu di sudut ruangan.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" tanya Keanu penasaran.


"Hiks...!! Paman, kami lagi berduka. Kami bertiga sedang bersedih. Kami kehilangan mainan kami yang paling menyenangkan. Hiks, Adel mati dan kami tidak memiliki mainan lagi." Ujar Henry panjang lebar.


"Jadi kalian histeris dan menangis seperti orang gila hanya karena Adel mati?" Penny menatap ketiganya tak percaya.


"Huhuhu....! Bibi, kau tega sekali bilang begitu. Padahal selama ini dia yang menjadi pohon uang untuk kami. Tapi dia sudah mati dan kami kehilangan mainan serta ATM berjalan." Papar Marcell menambahkan.


"Hiks, kalau dia sudah mati lalu siapa lagi yang bisa aku intip ketiga sedang mandi?! Huhuhu, ini terlalu tidak adil."

__ADS_1


Rasanya Ellena dan Penny memasukkan mereka bertiga ke dalam karung lalu membuangnya ke laut. Sudah membuat orang jantungan dan menciptakan keributan, mereka berdua pikir ketiganya menangis karena apa. Ternyata karena Adel meninggal. Mengabaikan mereka yang masih menangis seperti bayi. Ketiganya berjalan beriringan meninggalkan kamar si kembar.


Penny pergi ke kamarnya, begitu pula dengan Keanu dan Ellena. Saat ini pasangan suami-istri itu tengah duduk berhadapan di kasur super nyaman milik mereka. Keanu tersenyum. Jari-jarinya mengusap wajah Ellena dengan sayang.


"Akhirnya aku bisa merasa tenang sekarang. Aku tidak lagi merasa khawatir kau akan di sakiti dan di celakai oleh orang lain. Karena orang-orang yang selalu berniat buruk padamu akhirnya mendapatkan karmanya.


Ellena tersenyum dan mengangguk. "Kau benar, Oppa. Dan sekarang aku bisa merasa lega karena akhirnya bisa menjaganya dengan baik. Dan semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita." Tutur Ellena.


Keanu tersenyum. Di raihnya bahu Ellena dan membawa wanita itu ke dalam pelukkanya. Keanu tidak menyangka jika hari-hari tenang seperti ini akan tiba juga setelah semua masalah yang terjadi. Dan Keanu berharap ketenangan seperti ini bisa berlangsung selamanya. Tidak ada lagi masalah, karena ia hanya ingin hidup dengan bersama Ellena dan anak-anaknya.


-


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan. Tidak terasa usia kandungan Ellena kini sudah memasuki bulan ke sembilan. Hanya tinggal menunggu detik menitnya, tiba saatnya Ellena akan melahirkan.


Ellena berjalan mondar-mandir sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal sambil sesekali mengusap perutnya yang membuncit.


Perut Ellena terlihat lebih besar dari wanita hamil pada umumnya. Wajar saja mengingat jika di dalam perutnya bukan hanya satu atau dua bayi, tapi tiga. Dua laki-laki dan satu bayi perempuan.


"Sayang, jika kau lelah duduklah. Kau jangan sampai kelelahan,"


"Tidak apa-apa, Oppa. Aku- Ahhhh...Perutku,"


"Ellena, ada apa?!"


"O-Oppa, pe-perutku sakit!!" jerit Ellena dengan peluh yang sudah membanjiri keningnya.


"Key, sepertinya Ellena mengalami kontraksi. Dia akan segera melahirkan. Sebaiknya kita bergegas sekarang. Aku akan menyiapkan mobilnya." Ucap Rio yang kemudian di balas anggukan oleh Keanu.


"Oppa, ada apa?" Penny menghentikan langkah suaminya dan menatap Rio penasaran.


Ya, Penny dan Rio menikah sekitar dua bulan yang lalu. Setelah menyatakan cintanya dan Penny menerimanya. Rio memutuskan untuk langsung menikahinya. Dan saat ini wanita itu tengah hamil tiga Minggu.


"Ellena, hampir melahirkan. Sebaiknya kau ikut pergi ke rumah sakit sekarang."


"Baiklah, hati-hati."


"Kau juga, Oppa."


-


Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit Seoul Medical Center. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja Ellena mengalami pendarahan hebat setelah kontraksi parah yang dia alami.


Darah yang keluar sangat banyak, dia mengalami pendarahan hebat. Keanu yang ada disebelahnya terus saja memegangi kedua tangan Ellena yang terasa semakin dingin dengan erat.


Entah telah berapa kali Keanu memanggil-manggil nama istrinya. Namun tidak sedikit pun ada respon yang diberikan oleh Ellena selain rintih kesakitan yang terus keluar dari bibir tipisnya yang mulai memucat.


"Ellena, aku mohon bertahanlah. Kau pasti kuat, kau harus bertahan Sayang, demi aku dan anak kita."


"Uhhh,"


"Jebal," mohon Keanu sambil menggenggam tangan Ellena dengan erat.


Air matanya sudah tumpah membasahi wajah tampannya. Bukan hanya Keanu yang merasa cemas, namun juga Rio. Dia takut hal buruk sampai menimpa Ellena melihat bagaimana banyaknya darah yang dia keluarkan.


Mereka tiba di rumah sakit dan dengan sigap dokter beserta beberapa perawat langsung membawa Ellena ke ruang bersalin. Keanu menunggu dengan harap-harap cemas di luar ruang persalinan. Ia ingin sekali masuk ke ruangan itu untuk terus menggenggam tangan Ellena, tapi perawat melarangnya.


Cklekk..


Keanu mengangkat wajahnya mendengar suara decitan pintu di buka. Seorang dokter keluar dari kamar bersalin. Keanu pun langsung bangkit dari duduknya.


"Dokter, bagaimana keadaan mereka. Istri dan anak saya baik-baik saja bukan?!" tanya Keanu memastikan.


"Tuan, saya harus mengatakan hal ini pada Anda. Saat ini keadaan istri Anda sedang kritis dan dia kehilangan banyak darah. Kami tidak bisa menyelamatkan keempatnya. Dari awal saya sudah memberitahu istri Anda jika kehamilannya sangatlah beresiko. Tapi dia tetap bersikeras untuk mempertahankan janin di dalam perutnya. Waktu kita tidak banyak, Tuan. Segera tentukan." Pinta dokter itu dan membuat Keanu jatuh lemas.

__ADS_1


Sementara itu. Di dalam ruang bersalin. Dengan suara lemahnya Ellena memohon pada perawat supaya menyelamatkan ketiga bayi kembarnya. Dia ingin supaya anaknya tetap hidup.


"Suster, aku mohon. Selamatkan anakku. Aku ingin supaya kalian menyelamatkan mereka." Mohon Ellena dengan berlinang air mata.


"Nyonya," lirih salah seorang suster.


"Mereka belum pernah melihat bagaimana megahnya dunia ini. Sebagai seorang Ibu, aku ingin anak-anakku tetap hidup. Aku mohon, selamatkan mereka. Aku rela menukar nyawaku asalkan mereka tetap hidup dan tumbuh besar. Aku mohon,"


Beberapa perawat di dalam ruangan persalinan tak kuasa menahan air matanya. Dan apa yang mereka saksikan ini adalah bukti seberapa besar cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Ibu tidak hanya memberikan kasih sayang yang tak terbatas untuk anak-anaknya. Tapi juga nafas kehidupan. Seorang ibu rela kehilangan nyawanya asalkan anak-anaknya tetap hidup.


"Aku mohon,"


Dokter yang bertanggung jawab menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Baiklah, Nyonya. Jika itu adalah permintaan Anda. Kami.. Akan menyelamatkan mereka."


-


Oe Oe Oee!


Suara tangisan bayi terdengar sampai ke telinga beberapa orang yang berada di depan ruangan bersalin. Semua berdiri dan menatap pintu bercat putih yang masih tertutup rapat itu.


Tak lama beberapa suster keluar dari dalam ruangan itu sambil menggendong bayi yang masih merah yang kemudian mereka berikan pada tiga orang di sana.


Mengabaikan buah hatinya yang berada dalam gendongan Penny, Rio dan Dante. Keanu berlari ke dalam ruangan bersalin.


Kakinya langsung lemas saat melihat tubuh seorang wanita yang terkulai lemah di atas ranjang tempat ia melakukan persalinan.


"Ellena," seru Keanu. "Kau baik-baik saja? Sayang, mereka lahir dengan selamat. Mereka sehat dan sangat mengemaskan," ujar Keanu dengan berlinang air mata.


Ellena meraih tangan suaminya dan menggenggamnya dengan erat. Mata coklatnya mengunci manik amber milik suaminya dan menatapnya dalam.


"Oppa...!! Berjanjilah, ….berjanjilah padaku untuk menjaga anak kita," Ellena tiba-tiba berucap disela-sela menahan sakitnya, segera Keanu menatap padanya dengan wajah penuh dengan kehawatiran, dia sama sekali tidak berbicara. dia sadar bahwa Ellena belum selesai berbicara.


"…..Beri mereka nama Hans, Jordan dan Vivian , aku sangat menyukainya….. aku telah menyiapkan nama itu dari jauh-jauh hari." Ellena tersenyum lembut.


Keanu menggeleng. "Tidak, kau sendiri yang harus memberikan nama itu pada mereka,"


Ellena kembali meneteskan air matanya. "Tidak bisa, waktuku sudah tidak banyak lagi, Oppa. Aku.. sudah tidak kuat bertahan lebih lama lagi. Tolong jaga mereka dan sayangi mereka dengan sepenuh hati. Apapun yang terjadi padaku ini, bukanlah salah mereka."


"Jangan pernah menyalahkan apalagi membenci mereka atas apa yang menimpaku. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang ibu." Tutur Ellena dengan suara lemahnya.


"Jebal, jangan mengatakan apa-apa lagi. Aku mohon, jangan mengatakan kalimat yang membuatku takut."


"Aku akan selalu melihat kalian dari atas sana. Hiduplah dengan baik meskipun aku sudah tidak ada. Oppa, aku mencintaimu."


Keanu mengangkat wajahnya dan menatap langit-langit rumah sakit. 'Kenapa begitu cepat kebahagiaan ini berakhir?' hati Keanu menjerit bertanya. Entah pada siapa, mungkin pada tuhan yang menciptakan rangkaian takdir pada dirinya yang menyedihkan seperti ini.


Ellena mengambil nafas panjang dan menghembuskanya untuk terakhir kalinya, tersenyum dan memejamkan mata yang tidak pernah dia bukanya lagi.


Dan saat itu tubuh Keanu jatuh lemas, bahkan mulutnya yang terbuka ingin berkata pada Ellena tapi tidak sempat untuk berucap. Keanu membenamkan wajahnya dalam tangan Ellena dan mengangis dalam diam di tangan wanita itu yang mulai mendingin itu.


'Aku berjanji Sayang, aku akan merawat anak kita dan mencintai mereka dengan sepenuh hati, dan mereka akan menjadi anak yang membanggakan kita berdua.'


Sebuah janji telah terucap dalam hatinya. Keanu pasti akan memegang teguh janjinya itu. Ia tidak akan mengecewakan Ellena.


Dan Keanu tau, jika di dalam sebuah pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tapi ia tidak menduga jika perpisahan itu akan datang secepat ini. Perpisahan yang membuat hati Keanu hancur berkeping-keping.


Dan yang harus dia lakukan adalah merelakannya. Merelakan cintanya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Meskipun hatinya tidak. Karena sampai kapanpun Keanu tidak akan pernah merelakannya. Dia tidak akan merelakan Ellena pergi.


"Selamat tinggal, cinta sejatiku. Sampai bertemu lagi di keabadian. Tunggu aku, jika saatnya tiba, aku akan pergi dan menemanimu di sana. Aku mencintaimu, Xi Ellena."


-


THE END.

__ADS_1


Akhirnya ending juga novel ini. Maaf riders kalau endingnya nyesek dan mengandung banyak bawang. Karena dari awal Author ingin novel ini berakhir sad ending. Semoga gak pada demo author ya 😘😘 Sampai jumpa di novel Author yang lainnya.


__ADS_2