
"Mama....!!"
Seorang bocah perempuan berteriak histeris dan berlari menghampiri sang ibu yang sedang duduk di hamparan rumput hijau sambil menikmati senja. Matahari perlahan terbenam di ufuk barat dan perlahan menghilang.
Wanita cantik bertubuh mungil itu lantas menoleh dan mendapati putri kecilnya berlari menghampirinya sambil tertawa terbahak-bahak, juga menjerit histeris.
"Kkkyyyyyaaa....!!! Mama selamatkan aku, Hans dan Jordan ingin menggelitiki ku." Ujarnya dan langsung berhambur ke dalam pelukan sang Ibu.
"Ahhh," keduanya jatuh tersungkur di atas rerumputan dengan si bocah berada tepat di atas tubuh ibunya. "Hahahaha...." Dan kemudian mereka tertawa bersama.
"Kalian tidak adil. Bagaimana kalian hanya berpelukan berdua saja tanpa kami." Salah seorang dari kedua bocah laki-laki itu lalu menghampiri mereka berdua. Kedua bocah laki-laki itu pun ikut berhambur ke dalam pelukan sang ibu.
"Omo!!! Mama, apa yang kau lakukan? Kkkyyyyyaaa, berhentilah menggelitik ku." Histeris si bocah.
"Kyyyyaaa...!! Mama, aku hampir ngompol," jerit si bungsu sambil memegangi roknya yang perlahan basah.
"Hahaha....!! Bukankah ini sangat menyenangkan?"
"Hahahaha... Hahahaha.... Mama geli, hentikan!!"
"Apakah Papa melewatkan sesuatu?" sontak ketiganya menoleh dan mengangkat wajahnya. Ketiga bocah itu tersenyum dan langsung berteriak histeris.
"Papa...!" pria yang di panggil Papa itu pun langsung membuka lebar-lebar kedua tangannya dan membawa ketiga anak kembarnya ke dalam pelukannya. Ciuman langsung ia dapatkan dari ketiganya.
"Apa kalian bersenang-senang bersama, Mama?"
"Um, sangat."Jawab ketiganya dengan kompak.
"Hei, Princess, Prince. Sebaiknya kalian bertiga main bersama Paman tampan saja. Ayo, kita bermain dan kita terbang." Seru Henry yang datang bersama Marcell dan Dante.
"Ayooo...!" dan ketiganya menjawab dengan kompak.
Di saat semua orang telah menemukan pasangan. Maka tidak dengan mereka bertiga. Mereka bertiga masih betah sendiri dan menjalani hidup mereka dengan bebas. Mereka tidak suka terikat pada apapun. Itulah kenapa mereka tidak berusaha mencari dan menemukan pasangan.
Sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat sosok terhebatnya yang selalu ia banggakan di dalam hidupnya berjalan menghampirinya sambil menggenggam sebuket bunga yang kemudian ia berikan padanya yang tengah tersenyum manis.
"Happy birthday, Xi Ellena." Ucap Keanu dan segera mencium bibir Ellena.
__ADS_1
Keanu tidak pernah menduga jika keajaiban itu akan datang dalam hidupnya. Jantung Ellena kembali berdetak setelah lima belas menit di nyatakan meninggal oleh dokter. Dan berterima kasihlah pada tangisan si kembar yang akhirnya membawanya kembali.
Kini usia putra-putri mereka sudah enam tahun. Mereka tumbuh menjadi bocah yang sangat cantik dan menggemaskan. Si sulung(Hans) mewarisi sifat ayahnya, dingin dan terkadang bermulut tajam. Bahkan tak jarang dia membuat si bungsu menangis.
Putra mereka yang nomor dua(Jordan) begitu jahil dan tak jarang bertingkah menggelikan. Dia adalah anak yang ceria dan cerdas. Sedangkan si bungsu(Vivian) mewarisi sifat ibunya. Ceria, tapi cengeng dan penakut.
"Aku pikir kau masih berada di luar kota sampai beberapa hari ke depan lagi." Ucap Ellena setelah Keanu mengakhiri ciumannya.
"Awalnya memang begitu rencananya. Tapi aku sadar, jika aku tidak bisa meninggalkan kalian terlalu lama." Jawabnya dan membuat senyum di bibir Ellena semakin merekah.
Ellena menyandarkan kepalanya di bahu leher suaminya. Jari-jarinya menggenggam lembut jari-jari besar Keanu.
"Aku tidak berpikir jika bisa kembali menggenggam tanganmu seperti ini, aku pikir hari itu benar-benar menjadi akhirku. Tapi ternyata dugaanku salah, ternyata Tuhan lebih menyayangi si kecil dan tak ingin membiarkan mereka tumbuh tanpa kasih sayang ibunya, itulah kenapa akhirnya Tuhan mengembalikan aku pada kalian berempat."
Keanu melepaskan genggaman tangan Ellena kemudian merubah posisinya. Mereka berdua duduk saling berhadapan. "Untuk itulah terimakasih saja tidak akan cukup untuk membalas kebaikan Tuhan padaku. Aku pikir aku benar-benar akan kehilanganmu, tapi ternyata Tuhan mengembalikan dirimu pada kami. Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah kembali padaku," ucap Keanu dan kemudian membawa Ellena ke dalam pelukannya.
Ellena tersenyum lebar. Wanita itu mengangkat kedua tangannya, dan dengan senang hati dia membalas pelukan suaminya. Dan kini keluarga mereka menjadi keluarga kecil yang utuh dan bahagia.
Keanu bersumpah, dia tidak akan pernah melepaskan Ellena lagi meskipun itu hanya satu detik saja. Bahkan itu di dalam mimpi atau hanya sekedar angan-angannya saja. Ellena adalah hidupnya, belahan jiwanya dan separuh dari nafasnya. Jika Ellena sampai tiada, Keanu pun akan merasa mati.
"Aku merindukan, ayah. Bagaimana jika natal tahun ini kita pergi ke Jerman dan merayakan natal bersamanya? Aku yakin ayah sangat kesepian tanpa kita."
-
"RIO!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK KITA?! KENAPA MEREKA SAMPAI MENANGIS LAGI?!
Teriakan keras bak suara toa masjid itu menggema dan memenuhi setiap sudut ruangan. Seorang wanita yang tengah sibuk menyiapkan makan malam di dapur berteriak dan menggemparkan seisi rumah.
"Bukan aku, Sayang. Tapi mereka menangis karena berebut mainan."
"Awas jika itu perbuatanmu. Aku akan memotong sosis berurat mu dan aku akan merebusnya di dalam sup ini."
"MWO?! PENNY LU, KENAPA KAU BEGITU MENGERIKAN!!"
-
"Makan malam siap."
__ADS_1
"Huaa...!! Kelihatannya sangat lezat, Oppa. Apa yang sedang kau masak ini?"
"Coba saja tebak. Yang jelas ini adalah makanan kesukaanmu, Sayang."
"Sup iga sapi?!"
"Betul sekali,"
Meskipun belum di beri momongan di pernikahan mereka yang sudah memasuki tahun ke lima. Tapi Shifanya dan Leon tetap saja menjadi pasangan yang harmonis. Mereka selalu bersikap mesra di mana pun mereka berada. Hingga tak jarang kemesraan yang selalu mereka tunjukkan itu malah membuat orang lain iri.
Malam ini contohnya. Jika biasanya istrilah yang menyiapkan makan malam untuk suaminya. Tapi itu tidak dengan pasangan ini. Leon meminta Shifanya tak melakukan apapun dan hanya memintanya menunggu. Mereka selalu harmonis dan tak pernah bertengkar yang membuat hubungan mereka merenggang. Saling terbuka dan pengertian.
"Apa lagi yang tunggu? MARI KITA MAKAN!!"
-
Grepp...!!
Ellena terlonjak kaget saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Tanpa melihat pun tentu saja Ellena tau siapa yang tengah memeluknya ini. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya.
Lenguhan panjang keluar dari sela-sela bibirnya ketika Keanu mengecupi lehernya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Kemudian Ellena melepaskan pelukan Keanu dan posisi mereka saling berhadapan.
Ellena mengalungkan kedua tangannya pada leher Keanu. Sadar posisi mereka yang sangat tak seimbang. Keanu mengangkat tubuh Ellena dan mendudukkannya di atas pagar pembatas balkon. Ellena tersenyum. Di tariknya kerah kemeja Keanu dan selanjutnya bibir mereka saling bertemu.
Kedua mata Ellena tertutup rapat saat merasakan sapuan lembut di permukaan bibirnya yang di susul pagutan-pagutan lembut namun menuntut.
Sebelah tangan Ellena mengalung pada leher Keanu sedangkan tangan satu lagi menggerayangi lengan terbuka suaminya dan merasakan teksturnya. Otot lengan itu begitu kokoh dan kuat.
Mereka berciuman dibawah terpaan sinar bulan.
Keanu menggerak-gerakan kepalanya untuk mencari posisi yang nyaman, bibirnya masih setia mencium bibir Ellena dengan penuh kelembutan namun menuntut, tangan kanannya menekan kepala Ellena untuk memperdalam ciuman mereka.
Dan ciuman mereka terhenti ketika Keanu merasakan pukulan pada dada bidangnya. Keanu tersenyum lembut.
"Aku mencintaimu, Xi Ellena. Sangat-sangat mencintaimu," bisik Keanu dan kembali mencium bibir Ellena, tapi ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya.
"Aku juga." Keanu tersenyum. Kemudian mereka saling memeluk dan berbagi kehangatan di tengah malam yang dingin ini. Hati Keanu tidak lagi terasa kosong, karena semua telah kembali ke tempatnya.
__ADS_1
-
The End: