
"HUAAA!!! AKU TIDAK MAU DI SINI LAGI!!!"
Jordan menjatuhkan tubuhnya pada rerumputan dan berteriak histeris. Bocah laki-laki itu benar-benar tidak menyukai tempat dimana ia berada saat ini. Sungguh sangat berbanding balik dengan Hans dan Vivian. Mereka berdua terlihat santai dan tak mengeluh sama sekali.
Vivian yang tidak tahan dengan sikap dan perilaku saudaranya itu segera menghampiri Jordan sambil membawa sebuah ember yang biasa digunakan untuk memeras susu.
"Berhenti mengeluh dan cpat bekerja. Kita masih harus memeras susu, Kasian Nenek Ma jika harus melakukannya sendiri. Dia sudah tua!!!"
"Aku tidak mau!!! Aku mau pulang, huaaa.. Mama, Papa jemput aku pulang!!!" Teriak Jordan histeris.
"Ck, berhentilah mengeluh seperti bocah. Lagipula tempat ini tak terlalu buruk. Dan sebagai saudara tertua aku sudah mengambil keputusan. Yang tidak bekerja maka malam ini tak dapat jatah makan dan tidur di atas jerami. Vivian, sudah biarkan saja dia. Ayo kita kembali bekerja."
"Oke, Hans!!!"
Sontak saja kedua mata Jordan membelalak. Tak dapat jatah makan malam, lalu tidur di atas tumpukan jerami? Bocah laki-laki itu menggeleng kuat. Dia bisa mati kelaparan dan mati kedinginan. Sepertinya tak ada pilihan lain selain membantu pekerjaan di tempat ini.
"Yakk!! Aku ikut!!!"
Sementara itu. Bibi Ma hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka bertiga. Mereka begitu mengemaskan. Dan sejak kedatangan mereka ia tak lagi merasa kesepian diusianya yang telah senja.
-
Ellena menutup sambungan telfonnya lalu menghampiri Keanu yang sedang sibuk dengan laptopnya. Wanita itu duduk disebelah suaminya, ia penasaran dengan apa yang sedang Keanu kerjakan.
"Telfon dari siapa tadi?" Tanya Keanu setelah Vivian duduk disampingnya.
"Bukan telfon yang penting. Teman lamaku menghubungiku dan mengajak berkumpul akhir pekan ini. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Aku terlalu malas, mereka sudah tidak lagi sama."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Apa kau rela jika istrimu yang cantik ini sampai di goda oleh pria lain. Kebanyakan yang datang adalah pria ketimbang wanitanya. Karena teman satu angkatan ku dulu lebih banyak prianya dari pada wanitanya. Dan setengah diantaranya menyukaiku." Tutur Ellena.
"Kalau begitu lebih baik kau tidak usah datang. Aku sungguh tidak rela kau digoda dan diganggu oleh pria lain." Ujar Keanu.
Ellena terkekeh. Dia sudah menduganya jika Keanu akan memberikan jawaban itu. Lagipula suami mana yang rela jika istrinya diganggu oleh pria lain. Dan Ellena sendiri memang tak ingin pergi ke sana dan bertemu mereka.
"Aku lapar, Oppa bagaimana kalau malam ini kita makan di luar saja. Kebetulan sudah lama kita tidak makan di luar, aku akan menghubungi Rio Oppa dan Penny."
"Sepertinya bukan ide yang buruk. Kalau begitu aku siap-siap dulu." Keanu menutup laptopnya kemudian dia bangkit dari duduknya. Kebetulan sekali dia memang ingin makan di luar.
-
"Eonni!!!"
Penny dan Ellena langsung berpelukan saat mereka bertemu di restoran tempat mereka berempat akan makan malam. Rio dan Penny tiba lebih awal dibandingkan mereka berdua.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu terlalu lama." Ucap Keanu penuh sesal.
"Tumben sekali, tidak biasanya kau ingin mentraktir kami. Apa pagi ini kau salah minum obat?" Tidak heran bila Keanu berkomentar demikian, karena Rio adalah tipe pria yang sangat pelit dan suka perhitungan jika sudah berkaitan dengan uang.
Rio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana harus menimpali ucapan Keanu. Sejujurnya dia merasa malu karena hampir setiap kali mereka pergi makan di luar, pasti Keanu yang mengeluarkan uang. Lama-lama dia perasaan juga.
Apalagi Penny sering memarahinya karena sifat pelitnya tersebut. "Sekali-kali tidak apa-apa kan jika aku yang mentraktir kalian. Lagipula setiap ada kesempatan selalu kalian yang mengeluarkan uang untuk kami. Dan sekarang giliran kami." Tuturnya.
"Baguslah kalau akhirnya kalian sadar juga." Kata Keanu menimpali.
Perbincangan mereka diinterupsi oleh seorang pelayan yang datang untuk mencatat pesanan mereka. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki, Keanu memesan makanan dengan harga termahal. Sekali-kali kakaknya ini memang harus diberi pelajaran.
Dan sementara itu... Rio hanya bisa meringis ngilu melihat makanan apa yang Keanu pesan. Berbeda dengan Penny yang bersikap biasa saja, Ellena pun memesan menu yang sama dengan suaminya.
__ADS_1
Dalam hati, Rio menjerit histeris. "Ya Tuhan, bagaimana nasib dompetku setelah ini?!" Rio memikirkan bagaimana nasib dompetnya, dompetnya bisa menipis setelah membayar semua pesanan, pesanan ini.
.
Setelah makan malam. Mereka tak langsung pulang. Penny dan Ellena ingin jalan-jalan menikmati malam. Dan kedua suami mereka mengiyakannya. Mereka berjalan menikmati bazar. Ini adalah akhir pekan, tidak heran bila ada bazar di tengah kota.
Ellena dan Penny berhenti di sebuah kedai aksesoris. Banyak sekali aksesoris yang menyilaukan mata mereka seperti giwang, kalung, cincin, gelang dan hiasan rambut.
"Bibi, tolong semua ini di bungkus ya." Ellena menyerahkan beberapa aksesoris pilihannya pada si Bibi pemilik kedai untuk dibungkus. Kali ini dia beli dengan uangnya sendiri. Ellena menolak ketika Keanu menawarkan untuk membayarkannya.
Berbeda dengan Ellena. Penny justru meminta uang pada Rio meskipun dia punya uang sendiri. Dan Rio hanya bisa pasrah saat isi dompetnya di kuras oleh sang istri. Karena bisa terjadi perang dunia ke 2 jika dia tak memberikannya.
"Eonni, lihatlah hiasan rambut ini, sepertinya ini sangat cocok dan pas untuk si cantik Vivian. Baiklah, aku akan mengambil dan membeli ini untuknya."
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot. Tapi Vivian pasti akan sangat menyukainya ketika tau mendapatkan hadiah darimu."
"Kekeke, aku harap juga begitu."
"Kalian berdua, bagaimana kalau istirahat sebentar? Aku lelah dan kakiku rasanya pegal sekali." Rengek Rio sambil memegangi kakinya yang terasa pegal.
Ellena dan Penny saling bertukar pandang kemudian mengangguk. "Baiklah."
Mereka memutuskan untuk duduk disebuah kedai makanan. Keanu dan Rio langsung memesan Soju setibanya di sana. Sementara para wanita memesan minuman dingin, meskipun ini malam hari, tapi meminum minuman dingin tentu tidak ada salahnya.
"Sepertinya bazar malam ini lebih ramai dari Minggu sebelumnya. Bahkan penjualnya juga lebih banyak dan beraneka ragam dagangan yang di jajakan. Berlama-lama di sini aku juga betah." Tutur Ellena.
"Eonni, setelah anak-anak kembali. Tidak ada salahnya mengajak mereka kesini lagi, di sini sungguh sangat seru, pasti anak-anak akan menyukainya."
"Sepertinya bukan ide yang buruk. Baiklah, setelah mereka kembali aku akan mengajaknya ke sini."
__ADS_1
-
Bersambung.