SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Swiss


__ADS_3

Kesedihan. Itulah yang terlintas dalam fikiran seseorang jika melihat sosok wanita di dalam kamar tersebut. Memang kelihatannya demikian.


Mengapa? Terlihat dari sinar coklat-nya yang redup dan berkaca-kaca, memandang kosong pada album foto miliknya. Dimana ia membuka satu persatu halaman album foto tersebut yang menyimpan begitu banyak kenangan.


"Keanu...." Dan satu nama itu cukup menjelaskan siapa lelaki dalam foto tersebut.


Ellena menyeka air matanya kemudian beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan ke arah cermin untuk merapikan penampilannya yang mungkin agak berantakan, terutama riasan pada wajah cantiknya yang sedikit memudar karena tersapu air matanya.


Hari ini dia harus bertemu dengan seorang kolega yang berasal dari Inggris. Sejak menghilangnya Keanu satu tahun yang lalu pasca kecelakaan pesawat yang dia alami. Xi Empire kini berada di bawa kepemimpinannya. Ellena mengambil alih posisi suaminya dan menjabat sebagai seorang CEO. Meskipun awalnya terasa sulit dan tidak mudah, namun perlahan dia mulai terbiasa dan Ellena bisa menjalani kehidupannya dengan normal.


Kehilangan Keanu memang membuat Ellena sangat hancur. Tapi dia tidak bisa terlalu lama larut dalam kesedihan dan duka. Dia juga harus memikirkan nasib ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan milik suaminya jika perusahaan itu tidak ada lagi yang memimpin.


"Kau sudah mau pergi?" tegur Penny saat melihat kedatangan Ellena.


"Hm," wanita itu mengangguk.


"Kalau begitu aku akan berangkat bersamamu. Kebetulan kita satu arah,"


"Tidak masalah,"


Entah sejak kapan hubungan di antara Ellena dan Penny membaik. Penny tidak pernah lagi mencari masalah dengan Ellena dan kini dia bekerja di sebuah boutique.


Banyak yang terjadi selama satu tahun ini. Dan Ellena mengalami banyak kepedihan,nbukan hanya karena kepergian Keanu, tapi juga karena kepergian kakek Xi dan Jang Marry.


Kakek Xi tutup usia karena memang sudah tua. Sedangkan Marry meninggal karena penyakit kronis yang sebenarnya telah dia idap sejak lama. Shifanya dan Leon telah resmi berkencan. Marcell dan Henry kini resmi menjadi mahasiswa, sementara Dante membantunya di kantor.


Ellena tidak menduga jika semua akan berbeda, termasuk hidupnya. Belum lama dia menikah tapi dia harus kehilangan suaminya. Bukankah itu adalah hal yang sangat menyedihkan. Sehancur apapun dirinya, tapi Ellena berusaha untuk tetap tegar dan kuat menghadapi semua cobaan yang Tuhan berikan padanya.


"Eonni," panggil Penny dan mengalihkan perhatian Ellena dari objek yang menjadi perhatiannya.


"Hm,"


"Kau merindukan, Key oppa? Jika kalian sudah di takdirkan bersama, dan seandainya dia masih hidup. Pasti dia akan kembali padamu."


Ellena tersenyum tipis. "Ya, semoga saja."


Dalam hatinya Ellena tidak henti-hentinya berdoa dan berharap. Dia memiliki keyakinan bila Keanu masih hidup dan suatu saat nanti suaminya itu akan kembali ke dalam pelukannya. Itulah yang selalu Ellena yakini selama ini.


-


"Senang bekerja sama dengan Anda, Nyonya Xi." Pria itu menjabat tangan Ellena seraya tersenyum lebar. Dia sungguh sangat puas telah bekerja sama dengan perusahaan yang di pimpin oleh wanita bertubuh mungil tersebut.


Meskipun Ellena seorang wanita. Namun dia memiliki kemampuan yang setara dengan suaminya. Memang, awalnya dia sangat kesulitan, tapi berkat bantuan Leon dan Evan kini Ellena bisa menguasai bidang yang sama sekali tak dia pahami.

__ADS_1


"Evan, segera persiapkan keberangkatanku ke Swiss. Aku tidak bisa menundanya lagi, aku harus memastikannya sendiri mengenai proyek baru kita. Dan siang ini juga aku akan berangkat."


Evan membungkuk. "Baik, Nona."


-


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan. Akhirnya Ellena tiba di Bandar Udara Internasional Jenewa, Swiss.


Waktu yang Ellena tempuh tidaklah sebentar. Waktu yang harus dia tempuh adalah 10 jam lebih satu menit. Dan duduk selama itu di dalam pesawat membuat pantatnya terasa panas dan kakinya pegal.


Ellena menarik kopernya dan berjalan meninggalkan bandara. Dan selama berada di Swiss. Ellena memutuskan untuk menginap di Warwick Geneva. Hotel yang menghadap stasiun kereta utama, Warwick Geneva berjarak 300 meter dari danau Jenewa dan 6 menit dari Bandara Internasional Jenewa. Dia tidak perlu menggunakan taxi dan hanya cukup berjalan kaki.


Deg... Deg...Deg...


Ellena menghentikan langkahnya saat merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Wanita itu lantas menoleh dan menatap punggung sosok pria yang beberapa saat lalu tidak sengaja berpapasan dengannya. Ellena memiringkan kepalanya dan menggeleng.


Wanita itu mengangkat bahunya dan melanjutkan langkahnya. Dia harus segera tiba di Hotel. Ellena terlalu lelah dan ingin segera beristirahat.


-


Ini adalah hari kedua Ellena berada di Swiss. Dan dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan menikmati keindahan salah satu negara yang berada di benua Eropa tersebut. Dan tujuannya adalah Danau Jenewa.


Tak hanya terkenal sebagai salah satu danau dengan pemandangan paling Indah, destinasi wisata Swiss satu ini juga termasuk salah satu danau terbesar di Benua Eropa. Mengunjungi tempat wisata populer di Swiss satu ini, ia ingin berjalan-jalan santai di taman-taman indah yang berada di tepian danau.


.


.




Ellena benar-benar terpukau dengan keindahan Danau Jenewa. Ternyata Leon tidak membohonginya. Selain indah, Danau itu juga begitu romantis, pasti akan sangat menyenangkan jika mengunjungi Danau tersebut bersama dengan pasangan.


Pemandangannya memang sangat luar biasa dan begitu sejuk terasa di mata. Ellena menutup rapat-rapat kedua matanya dan menghirup udara yang terasa begitu segar dan alami. Ellena merasa begitu damai dan lepas, dia tidak ingat kapan terakhir kali merasakan perasaan seperti ini.


Sementara itu....


Dalam jarak lima meter. Seorang pria terlihat memperhatikan Ellena dari kejauhan. Dia menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdetak kencang melihat senyum di wajah wanita itu.


Entah kenapa dia merasa begitu familiar dengan senyum indah yang di miliki sang dara. Ia seperti pernah melihatnya tapi tidak tau kapan dan di mana. Pria itu mencoba mengingatnya tapi tidak bisa, dia tidak ingat apapun.


"Hei, Haru. Apa yang sedang kau lihat?" tegur seorang pria berkebangsaan Korea yang kemudian memang sudah lama menetap di Swiss pada pria yang ia panggilnya 'Haru' tersebut. Haru sendiri berarti Hari.

__ADS_1


Pria itu menoleh kemudian menggeleng. "Eo, tidak ada." Jawabnya singkat.


"Kau ingin tetap di sini atau ikut pergi bersama kami?"


"Kalian duluan saja, aku masih ingin di sini." Jawabnya.


"Baiklah. Kami pergi dulu." Salah satu dari kedua pria itu menepuk bahu Haru dan pergi begitu saja. Meninggalkan Haru yang masih bertahan dalam posisinya.


Kemudian Haru kembali memperhatikan wanita yang sejak awal telah menarik seluruh atensinya tersebut. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Haru tak bisa meloloskan pandangannya dari sang dara.


Wajah cantiknya, senyum indahnya, tubuh mungilnya terasa familiar dan tak asing baginya. Haru benar-benar merasa seperti pernah bertemu dengan wanita itu tapi dia tidak ingat kapan dan di mana.


"Siapa wanita itu, kenapa rasanya begitu familiar dan tidak asing. Tapi kenapa aku tidak bisa mengenalinya jika aku memang pernah bertemu dengannya." Gumam Hari penuh kebingungan.


Dan saat Keanu mencoba untuk mengingat sesuatu, tiba-tiba bayangan seorang wanita yang tengah tersenyum manis dan melintas di kepalanya dan membuat kepalanya ingin pecah.


"Lihatlah itu, Key. Burung camar itu, sepertinya mereka terbang melintasi langit dan pulang ke sarangnya. Bukankah sangat indah dan menakjubkan. Mereka berkelompok dan terlihat begitu akur."


"Keanu, aku yakin kau tidak tuli!! HENTIKAN SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN MENYAKITI DIRIKU SENDIRI!! Aku mohon berhenti, jangan menjadi iblis hanya demi diriku. Aku mohon berhenti, Keanu berhenti!!"


"Aku mohon, jangan lakukan hal itu lagi, jangan menjadi iblis hanya karena diriku. Aku tau kau marah karena dia melukaiku, tapi aku benar-benar tidak ingin jika kau menjadi Iblis hanya karena diriku, Key. Jadi aku mohon berhenti,"


"Itu karena aku mencintaimu."


"Key, katakan sekali lagi. Katakan jika kau mencintaiku." Pinta Ellena tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Aku mencintaimu,"


Haru, atau mungkin Keanu? Yang jelas pria itu membuka kembali matanya yang sebelumnya terpejam. Air mata menetes dari pelupuknya yang kemudian jatuh dan membasahi wajah tampannya. Di tatapnya wanita itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan dan berseru pelan.


"Ellena,"


Kedua mata Haru, bukan... Tapi Keanu membelalak saat melihat wanita itu terpeleset dan tubuhnya roboh ke depan karena tangannya tak sampai pada bunga yang hendak di petiknya.


Tanpa berpikir panjang ia pun segera menghampiri wanita tersebut dan melingkarkan sebelah tangannya pada perutnya lalu menariknya mundur. Jantung Ellena berdebar kencang ketika punggungnya berbenturan dengan dada bidang pria penolongnya..


Dengan perasaan ragu dan tak yakin. Ellena berbalik dan...


"Keanu?" gumamnya setengah tak percaya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2