
Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang baru saja netes. Judulnya AKIBAT CINTA SATU MALAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Ellena menghentikan langkahnya ketika Penny dan Marry menghadangnya di depan pintu utama. Wanita itu mendengus berat. "Apa lagi kali ini?" Ellena menatap malas sepasang ibu dan anak tersebut.
Plakkk...
Tanpa banyak basa basi Marry langsung menampar keras pipi Ellena, hingga muncul ruam merah bekas tamparannya. "Kau...!! Kenapa kau tidak mati saja, Ellena Su? Kami benar-benar muak melihatmu padamu!! Sejak kedatanganmu di rumah ini, rasanya rumah ini seperti neraka!! Kau membuat segalanya menjadi sulit. Untuk itu... enyalah KAU DARI SINI!!" teriak Penny penuh emosi.
"Kalian pikir kalian siapa bisa mengusirku dan menendangku keluar dari rumah ini? Ini adalah rumah suamiku, dan aku berhak untuk tinggal di sini!! Dan jangan lupakan posisi kalian di rumah ini, jika bukan karena kebaikan dari suamiku, mungkin sudah sejak lama kalian menjadi gelandangan di jalanan!!"
"ELLENA SU!!" teriaknya marah.
Penny mengangkat tangan kanannya yang menggenggam pisau dan menyabetkan pada wajah Ellena. Beruntung Ellena bisa menghindarinya. Dengan cepat Ellena merebut pisau itu dari tangan Penny dan menodongkan pada wanita itu.
"Berhenti menguji kesabaranku, Penny Xi!! Jangan memaksaku untuk berbuat kasar padamu!!" bentak Ellena penuh emosi. Tiba-tiba Ellena menyeringai membuat Penny sedikit merinding. "Atau kau memang ingin melihat sisi psycho-ku." Lanjut Ellena menambahkan.
Ellena menekankan ujung belati itu pada pipi Penny, membuat wanita itu meringis karena rasa perih yang ditimbulkan. Darah segar langsung menetes turun dari luka terbukanya.
"ELLENA SU, APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU!!" teriak Marry melihat kegilaan Ellena.
Langkah Marry terhenti saat ujung belati itu mengarah pada dadanya. "Jangan coba-coba mendekat jika kau tidak ingin mati!!" ucap Ellena memperingatkan.
"Dasar wanita gila!! Aku akan mengadukan perbuatanmu ini pada, Keanu. Dan dia pasti akan langsung menendangmu keluar dari rumah ini, jika dia tau jika wanita yang dia nikahi adalah seorang psycho!!"
"Percaya diri sekali kau!!" sahut seseorang dari arah belakang.
Sontak ketiganya menoleh. Terlihat Keanu menghampiri mereka bertiga dengan Evan yang mendorong kursi rodanya.
"Keanu, bagus kau datang tepat waktu. Lihatlah, apa yang istrimu itu lakukan pada, Penny. Dia sakit jiwa dan sangat berbahaya. Kau harus segera menceraikannya dan menendang wanita ini keluar, sebelum jatuh korban lagi. Dan... Omo!! Apa yang terjadi pada pelipismu? Apa itu adalah perbuatan wanita ini? Ibu sudah menduganya, dia memang sangat berbahaya, kalau begitu, Ibu akan membalaskannya untukmu!!" tutur Marry panjang lebar.
Marry menghampiri Ellena yang tampak diam. Wanita itu tidak beranjak satu inci pun dari tempatnya berdiri. Ellena menggeleng ketika melihat Keanu hendak mengambil tindakan. Ellena ingin tau apa yang akan dilakukan oleh wanita itu.
"Hahahha!! Lihatlah, Ellena Su!!! Bahkan suamimu tidak berusaha untuk menghentikan ku. Sepertinya mata batinnya sudah terbuka untuk melihat siapa kau sebenarnya," Marry tertawa tergelak.
Dia merasa berada di atas angin karena Marry berpikir jika Keanu sudah tidak peduli lagi pada Ellena, dan dia lebih mendengarkan dirinya.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Sebaiknya kau angkat kaki dari rumah ini, sebelum aku sendiri menyeretmu dan melemparmu keluar dari sini." Marry berujar dengan penuh keangkuhan.
Ellena mendesah berat. "Apa sudah mengocehnya? Telingaku sakit mendengar ocehanmu yang tidak berguna itu!!"
"Dasar wanita angkuh!! Berhentilah bersikap sombong dan tak tau diri, Ellena Su. Sebaiknya kau berhenti sekarang, karena sampai kapanpun kau tidak akan menang melawan diri-"
Byurrr...!!!
Marry tidak melanjutkan ucapannya dan sekujur tubuhnya basah kuyup setelah diguyur air oleh seseorang dari lantai dua. Sontak saja Marry mendongakkan kepalanya dan mendapati Marcell serta Henry berdiri di balkon kamarnya sambil memegang sebuah ember besar.
"KALIAN!!!"
__ADS_1
"Nenek!! Kau terlalu berisik. Apa kau tidak tau jika kami sedang bobok manis sekarang, dan karena mulutmu yang cerewet itu, bobok manis kami jadi terganggu!!" teriak Marcell tanpa rasa berdosa sedikit pun.
"Ibu!! Kenapa tubuhmu berbau busuk," Penny mundur dan menjauh dari Marry sambil menutup hidung dan mulutnya.
Marry mencium aroma tubuhnya sendiri dan ingin muntah. Lalu pandangannya kembali pada dua pemuda yang tampak tenang di atas saja. "Bocah, sebenarnya air apa itu?" tanya Marry penasaran.
"Air closed, kami baru saja mengurasnya. Sayang tau kalau di buang percuma. Nenek, kan bau bangkai, jadi harus di mandi air bangkai juga," tutur Henry dengan santainya.
Sontak saja kedua matanya membelalak saking kagetnya. "APA?AIR CLOSED?" pekik Marry tak percaya, Marcell dan Henry mengangguk, membenarkan. "ARRRKKHHH!!! DASAR BOCAH SETAN, KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN!!"
"Nenek, berhentilah berteriak-teriak. Ini bukan hutan!! Dan apa kau tidak sadar jika keriputmu semakin banyak dan terlihat jelas!!"
"KALIAN BERDUA GILA!!"
"Ibu,cukup!! Sebaiknya kau segera mandi. Aku benar-benar ingin muntah mencium aroma tubuhmu yang busuk itu." Penny kemudian beranjak dari sana dan pergi begitu saja.
Ellena terkekeh geli. Dia sangat puas dengan pertunjukkan yang Marcell dan Henry ciptakan. Wanita itu kemudian mendongak dan mengacungkan jempol pada kedua pemuda yang sedang mengeringkan mata padanya.
Lalu pandangan Ellena bergulir pada Keanu dan Evan. "Biar aku yang mendorong kursi rodanya." Ucap Ellena yang kemudian di balas anggukan oleh Evan. Ellena mendekatkan wajahnya pada telinga Keanu dan berbisik pelan. "Aku merindukan, Steven."
Keanu memicingkan matanya. "Kenapa?"
"Kenapa apanya? Kalau tidak mau ya sudah, tidak usah banyak bertanya. Evan, dorong kursi rodanya. Aku masuk dulu," Ellena meningagalkan Keanu begitu saja. Niatnya untuk mendorong kursi roda suaminya pun dia urungkan.
Keanu mendengus geli. Pria itu menarik lengan Ellena dan membuatnya jatuh di atas pangkuannya. "Yakk!! Apa yang kau lakukan?" kaget Ellena. Jarak wajahnya dan wajah Keanu hanya beberapa inci saja, dan saking dekatnya sampai-sampai Ellena dapat merasakan hembusan nafas Keanu yang hangat menerpa wajahnya. Wanita itu merona. "Turunkan aku, lihatlah... semua orang memperhatikan kita." Ujar Ellena.
"Aku tidak peduli. Jangan banyak bergerak dan patuh, maka aku akan mengabulkanmu untuk bertemu dengan Steven Xiao."
Evan menjerit dalam hati. Dia menjadi semakin ini segera menikah supaya bisa bermesraan juga seperti Keanu dan Ellena.
Sementara itu....
Penny tampak tidak suka melihat kedekatan dan kemesraan yang di umbar oleh pasangan itu. Keinginannya untuk mendepak Ellena keluar dari rumah itu pun semakin besar. Dan Penny harus menyusun rencana yang matang supaya semua bisa berjalan seperti yang dia harapkan.
"Kakak, ada apa denganmu?" Penny memekik melihat Dante pulang dengan keadaan yang sangat berantakan. Dia bermandikan keringat dan wajahnya menunjukkan raut kesakitan. Yang lebih mengherankan lagi, cara jalannya yang aneh. "Jangan bilang jika kau habis di perko** oleh puluhan wanita!!" tebak Penny asal.
"Bukan bodoh!! Ini adalah perbuatan wanita sialan itu. Dia menendang burungku sampai telurnya hampir pecah. Di mana ibu? Cepat minta dia untuk mencarikan dokter untukku, rasanya aku hampir mati!!"
"Kakak istirahat saja, aku akan segera mencarikan dokter untukmu. Dan soal wanita itu, kita akan mengurusnya nanti!!"
.
.
.
"Ya Tuhan!!!"
Ellena langsung bangkit dari duduknya ketika melihat Keanu keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang berbeda. Tidak ada lagi setelah jas formal yang mencerminkan diri Keanu sebagai seorang CEO. Dan jika boleh jujur, Ellena lebih suka dengan penampilan Keanu yang serampangan. Dia terlihat Err.. lebih Cool dan Sexy.
Keanu menghampiri Ellena dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Sebelah tangan Keanu melingkari pinggang ramping Ellena, sedangkan tangan satu lagi membelai wajah cantiknya yang kini memerah.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau sudah puas sekarang?" Keanu menyeringai melihat wajah merona istrinya.
"Kau tau, penampilanmu yang seperti ini bisa membuat wanita di luar sana menjerit histeris." Tuturnya.
"Benarkah? Tapi aku tidak peduli, karena aku hanya peduli pada dirimu. Dan apapun akan ku lakukan selama itu bisa membuatmu senang," kemudian Keanu meraih dagu Ellena dengan ibu jari dan telunjuk kirinya. Kedua matanya mengunci mata coklat wanita itu, Keanu tersenyum...
Keanu mendekatkan wajahnya, dan kemudiab mencium bibir Ellena. Ciuman yang sangat lembut. Tidak ada pagutan ataupun permainan lidah yang menuntut.
Ellena tidak menolak ciuman itu, dan dengan senang hati Ellena membalas ciuman itu. Ellena mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Keanu. Kedua matanya tertutup rapat, berbeda dengan Keanu yang membiarkan matanya tetap terbuka.
Keanu menatap setiap inci wajah Ellena. Ellena memiliki bentuk dan warna mata yang sangat indah dengan juntaian bulu lentik yang terlihat seperti sebuah maha karya, yang mampu membius siapa pun yang melihatnya. Hidung mancung, bibir tipis yang menggoda. Pipi merona, dan jangan lupakan rambut panjangnya yang berwarna coklat terang. Ellena memang sangat cantik, dan Keanu tidak bisa mengingkari hal itu
Keanu semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Ellena. Kedua matanya yang semula terbuka kini tertutup. Tangan Keanu yang memeluk pinggangnya, menarik Ellena semakin dekat hingga tak ada jarak lagi diantara mereka, selain helaian kain yang melekat di tubuh masing-masing.
Keanu memiringkan kepalanya untuk mencium sisi lain bibir Ellena. Setelahnya, dia mencium leher Ellena dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana, lalu mengecup dahi Ellena, dan kembali mencium bibir Ellena
Keanu tersenyum lembut. Kedua pasang mata itu saling menatap dan menyelami keindahan mata masing-masing. "Terimakasih sudah mengabulkan keinginan kecilku, aku sangat senang." Ucap Ellena sambil menakup wajah Keanu.
"Apapun itu, selama aku mampu, aku akan mengabulkannya untukmu. Dan bisakah aku kembali menjadi pria lumpuh kesayangnmu? Akan sangat berbahaya jika ada yang melihatnya." Tutur Keanu yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena.
Ellena tak mempermasalahkannya, karena kondisi saat ini tidak memungkinkan.
.
.
Ellena menatap berbagai hidangan yang tersusun rapi di atas meja dengan tatapan penuh tanya. Pasalnya, hari ini para pelayan memasak lebih banyak dari biasanya.
Ya, meskipun Ellena tau jika sekarang jumlah anggota keluarga di kediaman keluarga Xi bertambah tiga orang, tapi porsi makanan yang ada lebih dari cukup untuk 10 orang
"Bibi, kenapa banyak sekali menu makanan malam ini?Apakah rumah ini akan kedatangan tamu?" tanya Ellena pada salah seorang pelayan yang sedang menyusun makanan-makanan tersebut di atas meja.
"Benar, Nyonya. Malam ini keluarga Nyonya Ivanka akan datang untuk makan malam. Tuan Besar yang mengundangnya,"
"Kakek Xi?" pelayan itu mengangguk. Dan sekarang Ellena paham. Wanita itu beranjak dari dapur dan tanpa sengaja berpapasan dengan Penny. Ellena mendesah berat."Minggir," wanita itu menyenggol bahu Penny dan melewatinya begitu saja.
"ELLENA SU, KAU BENAR-BENAR MANUSIA PALING NENYEBALKAN!!! LEBIH BAIK KAU MATI SAJA!!!"
"Dari pada menyuruh orang lain mati. Bagaimana kalau, Bibi sendiri saja yang mati,"
"OMO!! YAKK!! BOCAH, TIDAK BISAKAH KALIAN TIDAK MUNCUL TIBA-TIBA SEPERTI SETAN!! MINGGIR..." Penny mendorong Marcell dan Henry dan kemudian melewati mereka begitu saja. "ARRKKHH...!! KENAPA SEMUA ORANG BEGITU MENYEBALKAN!!"
"Dasar wanita sinting. Teriak-teriak terus seperti manusia hutan." Ujar Marcell.
Marcell dan Henry sangat puas melihat Penny yang terus marah-marah seperti itu. Entah dendam kesumat apa yang mereka berdua miliki pada ibu dan anak itu, sampai-sampai mereka selalu melakukan sesuatu yang membuat mereka frustasi.
Marcell dan Henry menghampiri seorang pelayan yang sedang membuat teh dan kopi untuk para tamu dan juga penghuni rumah."Bibi, tolong buatkan susu untuk kami berdua ya. Coklat dan Vanilla." Pinta Marcell yang kemudian di balas anggukan oleh pelayan itu.
"Baik, Tuan Muda."
-
__ADS_1
Bersambung.