SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Embrio


__ADS_3

"Ini untukku?"


Rio mengangkat wajahnya dan menatap tak percaya pada sosok wanita yang berdiri di hadapannya. Sedangkan yang di tatap hanya memutar jengah matanya. Penny meraih tangan Rio lalu menyerahkan kotak makanan yang ia bawa padanya.


"Kau kebanyakan tanya, lalu untuk siapa jika bukan untukmu?! Terserah mau kau makan atau tidak, aku pergi dulu!!"


"Penny, tunggu." Seru Rio menahan tangan Penny. "Bagaimana kalau kau temani aku makan siang? Kau...Tidak keberatan bukan?" Rio menatap Penny ragu-ragu.


Perempuan itu tampak berpikir dan kemudian mengangguk. Rio tersenyum kemudian menggeser duduknya dan mempersilahkan Penny untuk duduk di sampingnya.


Dan selanjutnya makan siang mereka lewati dengan tenang. Baik Penny maupun Rio tak ada yang bersuara.


-


"Key, sampai kapan kau akan sibuk dengan kertas-kertas menyebalkan itu?" keluh Ellena yang mulai bosan karena Keanu lebih fokus pada pekerjaannya dan terkesan mengabaikan dirinya.


"Ini tinggal sedikit lagi, Sayang," ucap datar sang pria yang masih fokus pada tumpukan kertas-kertas di depannya.


Ellena menggembungkan pipinya dan menatap sebal sang suami. Sudah lebih dari tiga puluh menit tapi Keanu tetap tak menghiraukan dirinya. Sebuah ide muncul di kepala Ellena. Wanita itu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Keanu.


Wanita itu merebut pulpen dari tangan Keanu dan duduk di pangkuan sang suami. "Ell, apa yang kau lakukan? Turunlah, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum jam makan sing." Pinta Keanu menuntut.


Ellena menggeleng. "Aku tidak mau!!" Jawabnya menegaskan. Dan Keanu hanya bisa mendesah pasrah.


Ellena menenggelamkan kepalanya di bahu sang suami lalu menghirup aroma maskulin yang khas. Sedangkan sang pria memejamkan mata sembari mengusap kepala wanitanya. Sekalipun kesal. Ia tidak bisa mengabaikan Ellena jika sudah seperti ini.


"Kenapa kau semakin manja saja, hm?" dan akhirnya perhatian Keanu kini tertuju pada Ellena.


Ellena menggeleng. Wanita itu mengunci mata kanan suaminya. "Aku juga tidak tau. Tapi aku selalu ingin berada di dekatmu. Aku merindukan Steven Xiao. Bisakah malam ini kau mempertemukanku dengannya?" Ellena menatap Keanu penuh harap.


"Kenapa tiba-tiba?"


Lalu pandangan Ellena bergulir pada perut ratanya. Dan menuju tangan Keanu untuk mengusap perutnya.


"Aku merasakan sesuatu di dalam sini. Akhir-akhir ini emosiku sering berubah-ubah dan tidak menentu. Terkadang aku merasa sangat sedih, dan terkadang aku merasa bahagia dan lain sebagainya. Apa mungkin aku hamil?"


Tangan sang wanita mulai memainkan kemeja yang di kenakan sang suami. Pria bermarga Xi ini pun agak tersentak dengan sikap Ellena. namun ia tahan dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh sang istri.


"Kita bisa memastikannya nanti. Sebaiknya sekarang kau turun dulu dan kita makan siang bersama." Ellena tersenyum dan kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah,"


-


"Jadi kita memiliki dendam pada orang yang sama? Baiklah, aku setuju untuk bekerjasama denganmu untuk menghancurkan Ellena!!"


Marcell dan Henry buru-buru menghentikan langkahnya setelah tanpa sengaja telinga tajam mereka mendengar pembicaraan dua wanita yang sangat mereka kenali. Siapa lagi mereka jika bukan Adel dan Dellia.


Marcell dan Henry saling bertukar pandang, dan keduanya sama-sama mengangguk. Dan entah rencana apa yang mereka berdua miliki kali ini.


Henry menghampiri pemilik cafe dan terlihat berbincang dengannya, pria itu terlihat menganggukkan kepala. Sedangkan Marcell ikut bersama seorang karyawati cafe tersebut. Dan selang beberapa saat Marcell kembali dengan membawa sebuah seragam pelayan tapi khusus untuk wanita.


Bukan Henry dan Marcell namanya jika tidak memiliki banyak akal untuk membuat orang lain frustasi karena kejahilan dan kenakalan mereka. Bukan hanya Adel saja, tapi Dellia juga turut menjadi korban mereka karena sudah berani bersekongkol dengan Adel untuk mencelakai Ellena dan mereka tentu tidak akan membiarkannya.


Henry menyamar jadi nenek-nenek, sedangkan Marcell menjadi pelayan yang mengenaskan karena memiliki hidup yang sangat menyedihkan. Dan keduanya pun mulai memulai aksinya.


"Nona, ini pesanan kalian."


Dellia dan Adel saling bertukar pandang dan sama-sama menyernyitkan kening. "Memesan? Kapan? Kami tidak memesan apapun lagi,"


"Tidak mungkin, di sini tertulis untuk meja nomor 9. Dan meja kalian ini adalah meja nomor 9."


"Tidak bisa, pesanan yang sudah di pesan tidak bisa di kembalikan. Saya bisa di pecat kalau sampai kalian menolak makanannya. Kalau aku sampai di pecat lalu bagaimana nasib anak-anakku. Aku janda tujuh kali dan aku memiliki 5 anak dari bapak yang berbeda. Suamiku meninggal karena tenggelam di Sungai Han gara-gara cari ikan untuk makan anak-anak kami."


"Hiks, tolong kasihani aku, Nona. Kalau aku sampai di pecat. Lalu bagaimana dengan anak-anakku? Apa kalian tidak merasa kasian pada janda kurang belaian sepertiku?!"


"Anakku yang masih bayi harus minum susu, setiap hari aku harus memeras susu kambing tetangga yang sedang beranak supaya anakku bisa mendapatkan banyak nutrisi. Maklum aku tinggal di pinggiran kota kumuh. Hidup sama kambing dan ayam. Untuk itulah kasihani aku, Huaaa....!!" dan tangis Marcell pun pecah hingga menjadi pusat perhatian.


Tiba-tiba seorang nenek menghampiri mereka dan langsung menegur Dellia serta Adel. Sedangkan tangis Marcell semakin pecah, agar lebih meyakinkan, diam-diam dia meneteskan obat mata di matanya.


"A-Apa yang kalian lakukan pada cucuku?Kenapa kalian membuatnya menangis?!" nenek itu memukul kepala Adel dan Dellia dengan tongkatnya. "Jangan ah, ah saja. Cepat jawab."


"NENEK!!"


Dellia dan Adel terlonjak kaget saat tiba-tiba Marcell berteriak 'Nenek' wanita jadi-jadian itu langsung berhambur ke dalam pelukan Henry sambil menangis sesenggukan.


"Nenek, aku terancam kehilangan pekerjaan karena mereka. Boss bisa memecatku jika mereka menolak makanan yang sudah di pesan. Dan... dan... Aku... Huaaaa..."


"Cup cup cup, jangan menangis lagi ya. Nenek akan mengurus masalah ini untukmu." Henry mengusap punggung Marcell dengan gerakan naik turun.

__ADS_1


Lalu pandangannya bergulir pada dua wanita di hadapannya. "Kalian jika tidak punya uang sebaiknya jangan makan di cafe. Masa iya penampilan oke tapi ternyata kere?! Malu dong sama lipstick merah dan pakaian mahal kalian!! Bayar sekarang atau aku akan melaporkan masalah ini pada polisi?!" ancam Henry bersungguh-sungguh.


"Dasar nenek gila?! Aku akan membayarnya, mana bon pembayarannya?!" tanya Adel meminta.


"Ini,"


"Apa ini?!" kedua mata Adel membelalak melihat berapa jumlah nominal yang harus dia bayar. Padahal makanan itu sangat sedikit dan tidak terlihat menggugah selera sama sekali. Adel melemparkan bon itu ke atas meja. "Aku tidak sudi membayarnya!! Jelas-jelas ini adalah pemerasan!! Di mana manager cafe ini, aku akan membuat perhitungan dengannya supaya kau di pecat!!"


Suasana pun menjadi semakin keruh ketika Adel tiba-tiba berdiri dan hendak mencari manager cafe. Semua mata kini tertuju padanya. Begitu banyak orang yang simpatik pada sosok pelayan wanita berkepang dua tersebut.


Dugg...


Byurrr...


Tapi sial justru menimpa dirinya. Adel tersandung kakinya sendiri. Dia menabrak Marcell dan membuat makanan yang dia pegang jatuh dan tumpah tepat di atas kepalanya. Posisinya jatuh bersimpuh di lantai. Matanya langsung membelalak melihat sosok yang ada di hadapannya.


"Kau!! Oh, jadi ini hanya akal-akalan kalian saja?! HENRY XI, MARCELL XI, AKU PASTI AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGAN KALIAN!!"


"Belatung nangka ngamuk. KABOORRR...!!"


-


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Keanu memastikan.


Keanu menatap dokter dihadapannya dengan tidak sabaran. Dia ingin segera mengetahui apakah Ellena benar-benar hamil atau tidak. Saat ini Ellena dan Keanu sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan apakah dia benar-benar hamil atau tidak.


Dokter itu tersenyum lebar. "Selamat, Tuan. Istri Anda positive hamil. Dan usia kandungannya baru memasuki Minggu pertama. Saya harap kalian bisa menjaganya dengan baik. Karena fase itu adalah fase yang sangat sulit bagi seorang ibu hamil, apalagi di tiga bulan pertama." Jelas Dokter berkacamata itu.


Ingin meledak rasanya dada Keanu setelah mendengar apa yang dokter sampaikan padanya. Rasanya sulit sekali ia untuk percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Raut wajah pria itu yang selalu dingin menunjukkan kegembiraan sekarang.


Keanu menghampiri Ellena dan langsung memeluknya dengan erat. Ellena sudah menyusut air matanya sedari tadi. Seperti Keanu, Ellena pun merasa sangat bahagia.


"Terimakasih Sayang," ucapnya pelan sambil mengeratkan pelukannya.


Ellena pun menyunggingkan senyuman hangatnya di tengah isakannya. Ia sendiri juga tidak menyangka akan kado yang begitu luar biasa yang diberikan oleh Tuhan untuk keluarga kecilnya ini.


Berjuta-juta rasa syukur tidak akan cukup untuk membalas anugerah ini. Tapi, ia berjanji akan menjaga kepercayaan Tuhan padanya dengan menjaga janin di rahimnya. Dimana janin tersebut masih berupa embrio.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2