
"PENNY!!!"
Penny dan Marry yang sedang duduk santai di ruang keluarga terlonjak kaget karena teriakan keras yang berasal dari lantai dua. Keduanya menoleh dan mendapati Keanu berdiri di tangga paling atas dengan tatapan membunuh.
Deggg...
"Keanu!!"
Penny tersentak dan tubuhnya menegang. Aura menyeramkan terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam dan penuh intimidasi. Raut wajahnya jelas menunjukkan jika dia sangat ingin menghabisi seseorang.
Penny semakin menegang melihat Keanu berjalan menuruni tangga. Tak ingin terjadi hal buruk pada putrinya. Marry segera membawanya pergi dari sana dan berlari menuju kamarnya.
Jlebb...
Namun langkah mereka terhenti saat sebuah pisau komando melesat tepat dan menancap pada tembok di samping kanan Penny. Penny menoleh dengan kaku pada pisau tersebut. Mungkin kepalanya sudah berlubang jika pisau itu sampai menancap di kepalanya. Lalu pandangannya bergulir pada Keanu yang tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
Tubuh Penny terhuyung kebelakang, melihat Keanu yang semakin mendekat. Marry mencoba menghalangi dan melindungi Penny, tapi tubuhnya malah tersungkur di lantai karena dorongan Keanu.
"Sebaiknya kau tidak ikut campur jika kau ingin tetap hidup!!" peluh langsung mengucur deras dari kening Marry ketika ujung senjata api menempel pada keningnya. "Dan aku tidak akan segan-segan meledakkan kepalamu jika kau sampai berani ikut campur!!!"
"Ta-Tapi Penny adalah putriku, dan sebagai seorang Ibu aku tidak akan membiarkanmu menyentuh apalagi menyakitinya."
"Oh, jari begitu. Jadi kau ingin menggantikan hukuman untuk putrimu?" Keanu menyeringai dingin.
"Aku-"
"Ikut kau!!!"
"Keanu cukup!!" teriak Ellena kemudian menarik Keanu menjauh dari Marry. "Apa-apaan kau ini? Bukankah aku sudah bilang ini hanya luka kecil saja, kenapa harus di panjang-panjangkan?" bentak Ellena marah.
Keanu menarik lengan Ellena. "Mungkin bagimu luka ini hanya luka kecil saja, tapi bagiku tidak!! Sebagai suamimu dan orang yang peduli padamu, jelas aku tidak terima kau di sakiti dan di lukai seperti ini. Mungkin hari ini hanya luka kecil saja, lalu bagaimana dengan besok dan seterusnya? Apa kau akan diam saja saat mereka menyakitimu lebih dari ini?! Jadi jangan menghalangiku dan biarkan aku memberikan pelajaran pada manusia tak tau diri dan tak tau terimakasih ini!!" tutur Keanu panjang lebar.
Keanu menghempaskan tangan Ellena dan kemudian menyeret Penny menuju ruang bawa tanah. Ellena menggeleng, dia terus berusaha menghentikan Keanu. Sementara itu, di lantai dua, tiga pemuda tengah bersorak dengan hebohnya. Dan hal itu membuat Marry marah besar dan kesal setengah mati.
"YAKK!! KALIAN BERTIGA, DI MANA SIMPATIK KALIAN, HAH?!! DAN KAU, KIM DANTE!! DI MANA RASA PEDULIMU PADA KAKAKMU!!"
"Dia bukan kakakku dan kau bukan Ibu kandungku, jadi untuk apa aku harus peduli? Lagipula aku sekarang adalah bagian dari trio racun dan aku juga sudah di Lantik menjadi anggota resminya."
"KAU!!!"
"Go hukum go, hukum go!! Go hukum go, hukum go." Mereka bersorak dengan hebohnya, bahkan mereka memakai pakaian wanita dan papan besar. Sangat menggelikan memang.
Sementara itu. Di ruang bawah tanah. Penny di siksa dengan begitu brutalnya oleh Keanu. Perempuan itu di cambuk, di tampar dan bahkan Keanu memberikan beberapa sayatan pada tubuhnya. Pintu itu di kunci dari dalam, hingga Ellena tidak bisa masuk ke dalam.
Di luar kamar, Ellena terus berteriak dan menggedor pintu tersebut. Tapi Keanu seakan tuli dan tidak mau mendengar sama sekali. Meskipun Penny dan Marry selalu menciptakan masalah untuknya, tapi Ellena tetap tidak tega jika Keanu harus menghukumnya dengan cara yang begitu kejam.
__ADS_1
"Keanu, aku mohon buka pintunya dan hentikan!! Jangan menyiksanya lagi, aku mohon."
"Keanu, aku yakin kau tidak tuli!! HENTIKAN SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN MENYAKITI DIRIKU SENDIRI!! Aku mohon berhenti, jangan menjadi iblis hanya demi diriku. Aku mohon berhenti, Keanu berhenti!!"
"Baiklah kalau kau masih tidak mau mendengarkan juga, aku benar-benar akan melukai diriku sekarang juga. Dan ketika kau keluar nanti. Kau hanya akan melihat jasadku yang sudah tidak bernyawa!!"
Karena Keanu tetap tidak memberikan respon. Ellena memecahkan botol yang dia temukan di lantai kemudian dia arahkan pada pergelangan tangannya. Ellena menutup rapat-rapat matanya, sebenarnya dia merasa takut tapi dia harus menghentikan Keanu. Ellena mulai merasakan perih pada pergelangan tangannya namun tiba-tiba...
"Kau sudah gila ya?!" bentak suara berat seorang peia.
Dan sontak saja Ellena membuka kembali matanya dan mendapati Keanu berdiri dihadapannya. Keanu merebut beling itu dan membuangnya ke lantai.
"Keanu," seru Ellena dan berhambur ke dalam pelukan Keanu.
"Kenapa kau harus menghentikanku? Kenapa kau tidak membiarkanku memberikan pelajaran pada mereka?"
Wanita itu menggeleng kuat. "Aku mohon, jangan lakukan hal itu lagi, jangan menjadi iblis hanya karena diriku. Aku tau kau marah karena dia melukaiku, tapi aku benar-benar tidak ingin jika kau menjadi Iblis hanya karena diriku, Key. Jadi aku mohon berhenti," pinta Ellena dengan berlinang air mata.
Keanu melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Ellena. "Aku tidak akan melakukan hal ini lagi, aku berjanji padamu. Tapi aku mohon jangan menangis lagi, dadaku terlalu sesak melihat air matamu."
"Kenapa?" Ellena menatap langsung ke dalam manik amber milik Keanu.
"Itu karena aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu,"
"Sejak kapan? Sejak kapan kau memiliki memiliki perasaan itu untukku, Key?"
"Sejak aku merasakan ketakutan yang luar biasa saat melihatmu berada dalam bahaya. Dan sejak saat itu aku tau jika kau sangat berarti bagiku."
Dan Ellena semakin tidak kuasa menahan air matanya setelah mendengar pengakuan Keanu. Dia begitu bahagia mengetahui bagaimana perasaan Keanu padanya. Keanu mencintainya dan itu sudah lebih dari cukup baginya.
Ellena melepaskan pelukannya dan menatap Keanu dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kau harus kembali ke kamar. Kau harus istirahat supaya keadaanmu segera pulih." Keanu mengangguk. Ellena menuntun Keanu meninggalkan ruang bawah tanah dan kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Sedangkan Marry langsung pergi menghampiri Penny yang sedang tak sadarkan diri. Marry tidak tau bagaimana nasibnya jika Keanu sampai tau jika dirinyalah yang telah menyewa beberapa orang untuk mencelakai Keanu tadi.
-
Leon tidak bisa menutupi kebahagiaannya ketika Shifanya menghubunginya dan memintanya untuk datang. Rencananya Shifanya ingin mengajak Leon untuk membeli bibit bunga yang terletak di kota Busan. Dan tentu saja dengan senang hati Leon mengiyakannya.
Bisa saja Shifanya pergi sendiri. Tapi dia terlalu malas, itulah kenapa dia mengajak Leon untuk ikut bersamanya.
Leon menghentikan mobilnya dihalaman rumah Shifanya, matanya menyipit saat melihat keberadaan mobil asing di sana. Leon mengangkat bahunya acuh. Pria itu melangkahkan kakinya dengan begitu bersemangat.
Namun langkahnya terhenti di depan pintu ketika melihat seorang pria yang wajahnya tak asing memeluk Shifanya dengan begitu mesranya. Membuat Leon terpaku dan tak mampu bergerak satu inci pun. Dadanya bergemuruh hebat dan jantungnya berpacu cepat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir pria tersebut.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Shifanya Kim, sangat-sangat merindukanmu."
Leon mundur perlahan-lahan dan beranjak dari sana. Hatinya serasa seperti terbakar melihat Shifanya di peluk oleh orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah sahabatnya, orang yang sudah menghabiskan banyak moment suka mau pun bersamanya dan orang itu adalah Alden.
-
"Sejak aku merasakan ketakutan yang luar biasa saat melihatmu berada dalam bahaya. Dan sejak saat itu aku tau jika kau sangat berarti bagiku."
Ellena tidak bisa mengenyahkan kata-kata Keanu dari kepalanya. Kata-kata itu begitu membekas dan melekat dalam ingatannya. Dan setiap mengingat kata-kata Keanu membuat jantungnya berdegup kencang, rasanya jantungnya ingin melompat dari tempatnya.
Rasanya Ellena masih tidak percaya bila Keanu menyatakan cinta padanya.
"Bibi, apa pagi ini kau salah minum obat?Aku perhatikan dari pagi kau terus saja senyum-senyum sendiri. Memangnya apa yang membuatmu merasa sebahagia itu?" tegur Henry yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada dihadapan Ellena.
"Omo!!" dan membuat wanita itu terlonjak kaget. "Yakk!! Kau sudah bosan hidup ya?!" amuk Ellena pada Henry. Pemuda itu nyengir kuda dan menatap Ellena tanpa rasa bersalah.
"Nunna, bagaimana keadaan Key hyung? Apakah dia sudah merasa lebih baik?" tanya Dante memastikan, dia benar-benar mencemaskan keadaan Keanu saat ini.
"Eo, dia sudah lebih baik dan sekarang masih belum bangun. Hari ini aku memintanya untuk cuti. Oya, Dante. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, dan sejak semalam hal ini sangat menggangguku."
"Tentang apa, Nunna?"
"Tentang apa yang kau katakan semalam. Aku tidak sengaja mendengar saat kau mengatakan jika Marry bukanlah ibu kandungmu."
Dante menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sudah menduganya, pasti akan ada yang bertanya tentang apa yang dia katakan semalam.
"Ah, soal itu. Itu benar, Jang Marry bukanlah ibu kandungku dan Penny bukan adikku. Dia adalah wanita yang merebut ayahku. Ibuku meninggal ketika aku berusia enam tahun. Dia meninggal setelah wanita itu dan putrinya datang. Bisnis keluarga kami hancur karena dia menggelapkan dana perusahaan milik ayah hingga kami mengalami kebangkrutan. Ayah meninggal karena serangan jantung."
"Jika memang dia yang membunuh orang tuamu lalu kenapa kau masih mengikutinya, bahkan kau ikut berbuat jahat sepertinya?"
"Itu karena aku terpaksa. Dia selalu mengancam dan selalu membuat aku tidak berdaya. Itulah kenapa aku selalu menuruti semua yang dia perintahkan dan mengikutinya. Itu bukan keinginanku, karena apa yang aku lakukan selama ini selalu bertentangan dengan hatiku."
"Lalu kenapa akhirnya kau memilih untuk meninggalkan mereka dan berdiri di pihak kami?!" tanya Ellena lagi. Ellena sangat-sangat merasa penasaran.
"Karena aku tidak ingin terus-terusan di kendalikan dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatiku. Itulah kenapa hari itu aku memutuskan untuk menyelamatkanmu dan menyerahkan diri ke kantor polisi. Nunna, maafkan aku atas semua yang dulu pernah aku lakukan padamu, aku sangat-sangat menyesal."
Ellena menggeleng. "Sebaiknya kita lupakan apa yang sudah terjadi. Kita buka lembaran baru demi masa depan yang lebih baik. Tolong selesaikan memotong bawang ini ya, aku harus melihat Keanu." Ellena menepuk bahu Dante dan pergi begitu saja.
Sontak saja kedua mata pemuda itu membelalak. "Apa?! Memotong bawang, Bibi yang benar saja. Kami ini pria kenapa malah di suruh memotong bawang?!!" teriak Marcell frustasi.
Pemuda itu mendesah berat, dan dengan terpaksa mereka pun melakukan perintah Ellena meskipun dalam hatinya tidak rela.
-
Bersambung.
__ADS_1