
Halo kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. CINTA TULUS UNTUK KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu 🙏🙏🙏
-
"APA, DI SITA?!"
Sarah jatuh lemas setelah mengetahui jika rumah yang selama ini dia tempati akan di sita oleh pihak bank karena tidak dapat melunasi semua hutang-hutangnya dengan tepat waktu. Perusahaan milik keluarga Su mulai mengalami masalah semenjak Keanu menarik semua investasinya di perusaan tersebut, di susul oleh beberapa koleganya yang juga menarik sahamnya.
Demi menutupi gaji karyawan yang selama dua bulan tidak terbayar. Tuan Su terpaksa mencari pinjaman ke bank dan menjadikan rumah yang dia tempati bersama keluarganya menjadi jaminannya. Tuan Su pikir perusahaannya akan kembali normal seiring berjalannya waktu, tapi ternyata salah. Bukannya normal, perusahaan miliknya malah mengalami kebangkrutan. Hutangnya di mana-mana. Dan dia tidak bisa melunasinya.
"Sebaiknya segera kemasi barang-barangmu. Kita harus pergi dari sini,"
"TIDAK!!" Sarah menjawab cepat. "Aku tidak akan pergi apalagi meninggalkan rumah ini. Ini rumahku dan di sinilah seharusnya aku tinggal. Dan satu hal lagi. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengambil rumah ini dariku. Tidak ada dan tidak akan aku biarkan!!"
"SARAH CUKUP!!" bentak tuan Su. "Berhentilah bersikap tamak. Kita sudah berakhir, kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Perusahaan kita bangkrut dan kita jatuh miskin."
"APA?! JATUH MISKIN?!" pekik seseorang dari arah pintu. Sontak keduanya menoleh dan mendapati Dellia berdiri di ambang pintu. Dellia menghampiri kedua orang tuanya dan menatap mereka bergantian. "Jelaskan padaku,"
"Apalagi yang harus Ayah jelaskan? Bukankah kau sudah mendengarnya sendiri, kita bangkrut dan tidak memiliki apapun lagi."
Dellia menggeleng. "Tidak mungkin, ini tidak mungkin?! Pasti Ayah bercanda kan!! Ayah hanya membohongiku saja 'kan? Tidak, pokoknya aku tidak mau miskin, aku tidak mau miskin!!!"
"Dellia tunggu!!" seru tuan Su dan segera berlari mengejar putrinya yang berlari ke arah jalan raya.
Dellia tetap berlari tanpa menghiraukan teriakan ayahnya. Dellia tidak ingin jatuh miskin apalagi hidup serba kekurangan. Apapun akan Dellia lakukan demi mendapatkan kembali hidupnya yang normal. Salah satunya adalah dengan menjual diri.
"DELLIA, AWAS!!!"
Dellia terkejut mendengar teriakan keras ayahnya. Sontak saja dia menoleh, kedua matanya membelalak saat ia melihat sebuah truk berukuran besar melaju kencang ke arahnya.
__ADS_1
Kedua kakinya seketika bertransformasi menjadi jelly. Kedua lututnya terasa lemas, jangankan untuk menghindar. Untuk bergerak saja dia tidak sanggup lagi. Dellia menggeleng, dan yang terjadi selanjutnya adalah tubuhnya yang serasa melayang setelah terhantam bagian depan truk dengan sangat keras.
Tubuh Dellia terlempar hingga beberapa meter sebelum akhirnya berakhir di aspal dengan kondisi yang sangat-sangat mengenaskan. Wanita itu meregang nyawa di tempat.
"DELLIA TIDAK!!"
-
Kabar tentang kematian Dellia telah sampai ke telinga Ellena. Tapi wanita itu tak mau ambil pusing apalagi terlalu menghiraukannya. Ellena masih teramat sangat sakit hati pada semua yang telah wanita itu lakukan padanya. Dan Ellena menganggap jika itu adalah karma dari semua perbuatannya.
Ellena duduk di jendela kamar-nya , berusaha menikmati langit sore yang tampak indah itu.
Semburat jingga terlukis di langit. Sang surya mengintip dari bukit, yang perlahan mulai tenggelam. Semilir angin senja bertiup, menerbangkan dedaunan kering di hamparan rumput.
Riuh desir angin menggoyangkan helaian rambut sang dara yang terurai bebas di balik punggungnya. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.
Dia masih setia duduk di depan jendela kamarnya, bercengkrama dengan hembusan angin senja yang senantiasa menemaninya tanpa bosan. Kelopak matanya tertutup, menyembunyikan sepasang mutiara indah di balik kelopaknya. Sungguh betapa dia sangat menyukai suasana seperti ini.
"Oppa, kau sudah pulang?" gumam Ellena tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hn,"
Ellena melepaskan pelukan Keanu pada perutnya kemudian berbalik. Posisi mereka saling berhadapan. Ellena mengalungkan kedua tangannya pada leher Keanu seraya tersenyum manis. "Aku senang hari ini kau tidak lembur lagi. Karena dia sangat merindukan Papanya." Ujar Ellena sambil mengusap perutnya.
"Benarkah?" Ellena mengangguk.
Kemudian Keanu mensejajarkan posisinya dengan perut Ellena yang terlihat masih rata. Mengusapnya pelan dan penuh kelembutan. Takut jika yang ia lakukan itu akan menyakiti calon anaknya. Sementara Ellena tersenyum melihat bagaimana cara Keanu memperlakukan calon anak mereka.
"Nak, bagaimana kabarmu hari ini? Baik-baik ya di dalam sana. Tumbuh dengan sehat dan jangan membuat Mamamu sengsara."
"Iya, Papa." Ellena menyahut cepat dan terkekeh.
__ADS_1
Keanu bangkit dari posisinya dan berdiri di depan Ellena. Jari-jari besarnya di genggam lembut oleh Ellena. "Oya, Ell. Tentang kakak angkatmu, apa kau sudah mendengarnya?" tanya Keanu memastikan.
Ellena mengangguk. "Hm, aku sudah mendengarnya. Ayah angkat menghubungiku dan memberitahuku jika Dellia meninggal karena tertabrak mobil, perusahaannya bangkrut dan mereka jatuh miskin. Ibu angkat langsung mengalami gangguan jiwa setelah kehilangan Dellia dan seluruh hartanya." Terangnya panjang lebar.
"Apa kau tidak ingin menemui ayah angkatmu yang saat ini berada di penjara."
Ellena mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik mata Keanu. "Untuk apa? Biarkan dia menerima hukumannya. Aku masih sakit hati dengan apa yang telah dia perbuat padaku di masa lalu."
"Dia tidak pernah memperlakukanku dengan adil hanya karena aku anak pungut. Ya meskipun hanya dia yang terkadang memperlakukanku dengan baik. Setidaknya untuk saat ini tidak. Mungkin lain waktu. Aku masih membutuhkan banyak waktu,"
Keanu menarik Ellena ke dalam pelukannya."Aku mengeri, Sayang. Dan aku tidak akan memaksamu." Ellena tersenyum. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan suaminya.
-
Penny hanya bisa mendesah nafas pasrah. Kali ini bukan Keanu ataupun si trio yang menjadi korban dari si Ibu hamil kita yang satu ini. Tapi Penny. Ellena mengatakan ingin memakan nasi goreng buatan Penny, tapi ketika nasi goreng itu sudah matang. Ellena mengatakan tidak ingin memakannya dan mengatakan ingin makan ramen.
Awalnya Penny masih bisa bersabar, tapi semakin lama dia justru di buat kesal oleh permintaan-permintaan Ellena yang selalu berubah-ubah. Hampir dua jam Penny berkutat di dapur tapi tak ada satupun dari masakannya ada yang cocok dan di makan oleh Ellena. Meslipun begitu, tapi tetap saja Penny tidak bisa marah dan memakluminya.
"Eonni, sebenarnya kau ini ingin makan apasih? Aku benar-benar sudah lelah. Aku sudah memasak lebih dari lima menu tapi tak ada satupun yang cocok untukmu," ujarnya setengah frustasi.
"Aku tidak jadi ingin makan semua makanan itu, Penny. Tiba-tiba aku tidak jadi lapar. Sebaiknya suruh saja yang lainnya yang memakannya. Aku ngantuk dan ingin tidur. Hoam," Ellena beranjak dari hadapan Penny dan pergi begitu saja.
Penny hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Kemarin dia menertawakan Dante, Henry dan Marcell yang berkali-kali menjadi korban dari ngidam Ellena. Dan hari ini malah dirinya. Penny tidak tau jika wanita yang sedang hamil itu begitu merepotkan.
"Sabar, Penny. Sabar, ini adalah ujian hidup. Saat kau hamil nanti kau juga akan mengalaminya. Jadi jangan mengeluh dan cobalah untuk mengerti." Penny bicara dengan dirinya sendiri.
Wanita itu meninggalkan dapur untuk memanggil trio racun. Terlalu sayang jika makanannya di biarkan begitu saja.
-
Bersambung.
__ADS_1