SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Cinta Pada Pandangan Pertama


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang baru saja netes. Judulnya AKIBAT CINTA SATU MALAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗


-


"Fyuhhh...."


Ellena menyeka peluh yang menetes di keningnya. Gadis itu baru saja menyiram bunga Amarilis dan Anggrek Phalaenopsis yang ada di teras toko.


Langkah kaki Ellena terhenti saat ia melihat sebuah mobil sport mewah berhenti di depan toko bunganya. Selang beberapa saat, seorang pria berpakaian rapi keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Ellena. Senyum lembut menyambut kedatangan pria itu di sana.


"Halo, adik ipar," sapa orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Leon.


"Oppa, tumben kau mampir. Apa kau sedang mencari bunga untuk kau berikan pada seseorang?" tanya Ellena.


Leon menggeleng. "Aku kebetulan lewat sini, jadi aku putuskan untuk mampir. Karena aku pikir Keanu pergi untuk menemuimu, karena sekretarisnya bilang dia sedang pergi keluar untuk bertemu dengan seseorang." Tutur Leon.


"Tidak, dia tidak datang ke sini." Jawab Ellena meyakinkan. "Mungkin dia sedang pergi untuk bertemu dengan salah satu rekan bisnisnya. Oppa tau sendiri bukan jika dia memiliki kolega di mana-mana." Ellena mencoba untuk berpikir positif dan tidak berfikir yang tidak-tidak.


"Ell, aku akan keluar untuk mengantarkan pesanan. Sebaiknya kau tetap di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Karena sebentar lagi akan ada pelanggan yang datang untuk mengambil pesanannya." ucap Shifanya dan menginterupsi perbincangan Ellena dan Leon.


Sontak keduanya menoleh. Mata Leon tak berkedip sedikit pun melihat sosok cantik nan jelita yang berdiri di hadapannya. Gadis itu memiliki kulit putih nan halus bak porselen, sepasang bola mata berwarna coklat keabuan yang menawan, rambut coklat panjang yang bergelombang.


Dan untuk sesaat Leon melupakan bagaimana caranya untuk bernapas. Sepanjang hidupnya. Ini pertama kalinya Leon bertemu dengan perempuan yang mampu membuat darah dalam tubuhnya berdesir, jantungnya berdegup kencang.


Dia merasakan perasaan aneh nan langkah yang tidak pernah dia rasakan pada siapa pun sebelumnya.


"Omo!! Oppa, lihatlah.. Bola matamu nyaris keluar." Seru Ellena sambil menepuk bahu Leon.


Wanita itu terkekeh kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Leon sendiri di teras toko. Masih banyak pekerjaan yang harus Ellena selesaikan. Sedangkan Leon masih tetap bergeming, menatap kepergian Shifanya yang kini tidak lagi terjangkau oleh matanya.


"Ya, Tuhan... Inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Kenapa rasanya begitu luar biasa?" ujarnya setelah bergumam.


Leon benar-benar terbius oleh kecantikan Shifanya. Dan Leon akan berusaha dengan keras untuk bisa berkenalan dan dekat dengan gadis itu. Ya, Leon jatuh cinta pada pandangan pertama pada Shifanya Kim.


"Tunggu saja, bagaimana aku akan mengejar cintamu, Nona bermata indah. Kkkyaaa....!! Akhirnya aku jatuh cinta...."


Teriakkan histeris Leon membuat Ellena terkekeh geli. Dia tidak tau jika kakak sepupu suaminya itu memiliki sisi yang begitu menggelikan. Ngomong-ngomong soal suami, seketika Ellena teringat pada Keanu.

__ADS_1


Wanita itu mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi pria itu. Tapi tidak tersambung. Entah kenapa Ellena memiliki firasat buruk, bukan karena dia takut Keanu kenapa-napa, karena Ellena yakin jika suaminya itu akan baik-baik saja. Tapi mantan istrinya lah yang membuat Ellena resah.


Wanita berambut coklat itu menopang dagu, tangannya sibuk mengutak-atik ponsel miliknya dengan raut wajah kesal. Berkali-kali helaan napas panjang keluar dari sela-sela bibir merah mudanya yang menawan itu.


"Xi Keanu!! Manusia kutub itu, sebenarnya apa sih yang sedang dia lakukan sekarang? Kenapa ponselnya tidak aktif dan tidak bisa di hubungi. Dasar manusia menyebalkan tidak punya hati. Atau jangan-jangan dia sedang bersenang-senang dengan mantan istrinya yang kecentilan itu? AARRRKKHHH...!! Xi Keanu, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan pada diriku? Dan perasaan aneh macam apa ini?" Ellena mengeram frustasi .


Ellena bangkit dari duduknya. Wanita menggigit ujung kukunya. Kemudian berjalan mondar-mandir, bolak-balik seperti setrikaan. Sesekali Ellena menatap layar ponselnya. Tapi tidak ada satupun pesannya yang di buka apalagi di balas oleh Keanu.


Dan entah yang sudah ke beberapa kalinya Ellena mencoba untuk menghubungi Keanu, tapi tetap tidak tersambung. Dan hal itu membuatnya Ellena semakin resah.


"Xi Keanu!!! Menyebalkan... menyebalkan.. menyebalkan...!!"


Dan tingkahnya itu membuat geli sosok tampan yang sedang berdiri di ambang pintu. Sosok itu bersandar sambil bersidekap dada. Dan sepertinya Ellena masih belum menyadari keberadaan sosok itu di sana.


"Ekhem..." Sampai deheman keras menyita perhatiannya. Ellena menoleh. Kedua matanya membelalak melihat sosok pria yang tengah berjalan menghampirinya.


"Keanu?!" seru Ellena sedikit memekik. "Sejak kapan kau berdiri di sama?" Ellena menunjuk pintu yang ada di belakang Keanu.


Keanu mengangkat bahunya. "Entah, yang jelas sebelum kau menggerutu tidak jelas dan mengumpatiku dengan berbagai sumpah serapahmu yang menggelikan itu." Jawab Keanu.


Keanu menarik pinggang Ellena ke dalam pelukannya. "Sebenarnya apa yang terjari padamu, Nyonya Xi? Kenapa kau terlihat kesal? Apa kerena aku mematikan ponselku dan tidak membalas semua pesan darimu? Sampai-sampai kau berpikir jika aku pergi untuk menemui, Adel." Keanu mengecup singkat bibir Ellena.


"Aku masih memiliki banyak agenda penting dari pada harus menemui wanita itu, dan dibandingkan harus pergi menemuinya, bukankah lebih baik aku pergi menemuimu?" Keanu menakup wajah Ellena dan mengunci manik coklatnya.


"Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, apalagi berpikir jika aku sengaja pergi menemuinya."


Ellena menurunkan tangan Keanu dari wajahnya kemudian berhambur dan memeluknya. "Maaf, aku sungguh merasa tidak nyaman ketika memikirkan kau dan wanita itu bertemu. Membayangkan kau dan dia duduk dan berbincang membuat dadaku seperti di tekan. Aku...memmpphhh...!!" Ellena menggantung kalimatnya ketika bibirnya lebih dulu di bungkam oleh bibir Keanu.


Kedua tangan Keanu membingkai wajah Ellena. Menyentuh pipinya dengan lembut, membuat yang disentuh semakin merona.


Wajah Ellena semakin memanas, seiring dengan semakin dalamnya ciuman Keanu. Ellena dapat merasakan nafas Keanu yang menerpa wajah cantiknya dengan lembut. Namun mereka harus merelakan ciumannya berakhir karena kedatangan seseorang. Keanu mengeram kesal


"Nanti kita bisa lanjutkan lagi di rumah."


Ellena mengusap bibirnya yang basah lalu menghampiri seorang pelanggan yang datang. Dan orang itu adalah pelanggan yang maksud oleh Shifanya.


Tak lama setelah kepergian pelanggan itu. Terlihat Shifanya datang dengan muka di tekuk, dan hal itu membuat Ellena penasaran setengah mati.


"Hei, ada apa dengan mukamu itu? Kenapa kusut seperti pakaian yang belum di setrika?" tanya Ellena penasaran.

__ADS_1


"Ini semua karena manusia menyebalkan itu. Dia yang sudah membuatku kesal setengah mati. Dia terus saja menggangguku dan bersikeras ingin mengantarkan ku, dan hal itu membuatku dongkol setengah mati." Tuturnya panjang lebar


"Manusia menyebalkan? Siapa? Ahhh, jangan bilang jika orang itu adalah kakak sepupu suamiku? Maksudku, Leon Oppa?" tebak Ellen 100% benar.


"Aku tidak peduli siapa namanya, yang jelas dia sangat menyebalkan!!"


"Hahahha! Sepertinya, Leon Oppa jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Dan sedikit saran dariku. Jangan terlalu membencinya atau rasa benci itu akan berubah menjadi cinta."


"Dalam mimpimu!!!" balas Shifanya menimpali. Lagi-lagi Ellena terkekeh geli. Dan dia berani bertaruh, cepat atau lambat mereka pasti akan menjadi teman dekat. Apalagi dia melihat ketertarikan di mata Leon ketika dia menatap Shifanya. "Sebaiknya kau kemari dan bantu aku merangkai buket-buket ini!!"seru Shifanya.


Ellena mendengus. "Iya-iya, dasar bawel."


-


Bukan Marcell dan Henry namanya, jika tidak membuat keributan dan membuat orang lain mengalami tekanan darah tinggi. Dan kali ini Penny-lah yang menjadi korbannya.


Mereka berdua menyelinap masuk ke dalam kamar wanita itu dan mendapati Penny sedang mandi. Marcell mengunci pintunya dari luar, setelah dia berhasil mengambil kuncinya diam-diam saat Penny membilas rambutnya. Sedangkan Henry bertugas membuat suasana di sana menjadi sedikit horor dan mencekam.


"A-Apa yang terjadi?" Penny berseru panik ketika lampu kamar mandi tiba-tiba saja padam. "Ibu!!! Oppa!! Apa kalian ada di luar? Siapapun tolong nyalakan lampunya untukku." serunya, namun tidak ada sahutan.


Gluduk....


"AAAKKHHHHH!!!"


Penny menjerit histeris melihat sesuatu tiba-tiba saja jatuh di bawah kakinya. Wanita itu gemetar ketakutan. "Ahhhh.." dan sekali lagi Penny berteriak histeris ketika kakinya bersinggungan dengan sesuatu yang ada di lantai itu.


Kretek... Kretek... Kretek...


"Penny....!!!"


"KYYYAAA!!" lampu tiba-tiba saja menyala dan Penny pun langsung melesat keluar tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya polos,


Dan di saat itu lah tiba-tiba saja Henry muncul sebagain pahlawan kemalaman. Tubuh Henry menegang dan membeku, bukan karena Penny memeluknya. Tapi karena wanita itu memeluknya tanpa busana. Tiba-tiba mata Henry berkunang-kenang dan dari hidungnya mengeluarkan darah segar, mimisan.


"Ya Tuhan, inikah yang di namakan surga dunia? Ahhh... Aku mau pingsan dulu..."


"YAKK!! BOCAH!! KENAPA KAU MALAH PINGSAN!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2