
"Keanu,"
Keanu hanya menatap datar pada sosok wanita yang saat ini berdiri dihadapannya. Ia tidak tau apa tujuan Adel menemuinya kali ini. Hanya saja ada yang sedikit berbeda pada penampilannya. Wajahnya terlihat sedikit lebih pucat.
Adel menyerahkan sebuah map pada Keanu. Keduanya tampak berkaca-kaca. "Apa ini?" tanya Keanu datar.
"Aku mengidap kanker darah setadium akhir. Dan dokter mengatakan jika waktuku sudah tidak lama lagi."
"Lalu?"
"Aku ingin di sisa waktuku yang hanya sebentar ini kau bisa ada di sisiku. Keanu, aku sangat-sangat mencintaimu. Dan aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Hanya sebentar saja, sampai sisa waktuku habis di dunia ini. Kau... mau kan?'
Keanu tersenyum meremehkan. Pria itu bangkit dari duduknya lalu merobek map yang Adel berikan padanya dan melemparkan pada wanita tersebut.
"Kau pikir bisa menipuku dengan cara kotor seperti ini? Aku bukankah pria bodoh yang mudah kau tipu dan kau perdaya. Diantara kita sudah lama berakhir, jadi jangan mengharapkan apapun lagi. Bahkan aku tidak peduli meskipun kau mati. Berhentilah berharap, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah kembali padamu!!"
"Keanu, kau-" Adel tidak melanjutkan ucapannya.
Tiba-tiba dia memegangi kepalanya dan tubuhnya mendadak lemas. Detik berikutnya wanita itu jatuh tak sadarkan diri. Keanu mendengus. Dia sudah hapal betul dengan trik murahan yang Adel pakai.
"Omo!! Ada apa dengannya?" Keanu mengangkat wajahnya dan mendapati Ellena berdiri di depan pintu. Keanu mengangkat bahunya tak mengerti. "Apa dia sudah mati?" tanya Ellena memastikan.
"Mungkin saja."
"Kalau begitu kita langsung bakar saja. Harga kremasi terlalu mahal. Aku akan meminta Evan untuk menyeretnya ke halaman belakang dan juga menyiakan minyak tanah serta korek api."
"Wanita gila!! Aku hanya pingsan saja dan belum mati!!" teriak Adel yang tiba-tiba saja bangun dari posisinya. Dan dia terlihat baik-baik saja.
"Ups, maaf. Aku pikir kau sudah mati, makanya aku menyarankan pada Keanu supaya membakae tubuhmu di halaman belakang. Bukanlah sudah seharusnya jika barang bekas itu di musnahkan, apalagi jika barang itu sangat meresahkan." Ellena menyeringai meremehkan.
"Kau!!" teriak Adel tertahan. "Tunggu dan lihat saja, aku pasti akan membalas kalian berdua, terutama kau wanita sialan."
Blam...
Adel membanting pintu ruang kerja Keanu dengan keras. Ellena terkekeh, dia geli sendiri melihat bagaimana reaksi Adel ketika ia hendak membakarnya. Lagipula Ellena bukanlah wanita bodoh yang mudah di kelabuhi.
Dan selepas kepergian Adel. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Ellena dan Keanu berdua saja. Keanu kembali ke meja kerjanya sedangkan Ellena masih berdiri di posisi yang sama.
Ellena menatap suaminya dan mendesah berat. Keanu mengabaikannya? Ellena menghampiri Keanu dan duduk di pangkuannya. "Ell, apa yang kau lakukan? Turunlah, aku harus meneruskan pekerjaanku," pinta Keanu yang segera di tolak oleh Ellena.
Wanita itu menggeleng. "Tidak mau, kau tidak bisa mengabaikanku, Tuan Xi." Jawabnya menegaskan. Ellena duduk menghadap Keanu. Kedua kakinya melingkari pinggul suaminya dan kedua tangannya mengalung pada lehernya.
Keanu mendengus geli. "Lalu apa yang kau inginkan sekarang?" Ellena menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
Dan tanpa mengatakan apapun, Keanu menakup wajah Ellena dan kemudian mencium bibir tipisnya. Memagutnya dengan penuh kelembutan. Tapi sayangnya ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sekarang kau sudah puas?" Ellena mengangguk. "Sekarang turunlah, aku harus melanjutkan pekerjaanku."
Ellena mendesah kecewa. Dan dengan terpaksa ia pun turun dari pangkuan Keanu kemudian berjalan menuju sofa. Jika sudah seperti ini Keanu tidak mungkin bisa di ganggu lagi, dan yang bisa Ellena lakukan hanyalah menunggu sampai suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya.
-
Bukan Henry dan Marcell namanya jika tidak membuat masalah dan membuat orang lain marah. Dan kali ini yang menjadi korban kenakalan mereka adalah Dellia dan Simon.
Marcell menyamar pemuda culun yang di telantarkan oleh orang tuanya. Sedangkan Henry menjadi kakek-kakek tua yang memiliki penyakit menular.
Marcell terus saja menempel pada pasangan tersebut dan mengaku sebagai anak mereka yang telah di telantarkan. Marcell mengaku jika usianya baru sepuluh tahun. Tapi tubuhnya meninggi dengan sendirinya hingga membuat dia terlihat seperti pemuda berusia 19 tahun.
"Hiks, Mama jahat, Papa jahat. Kenapa kalian tidak mau mengakui anak kandung kalian sendiri? Apa karena aku aneh dan tidak seperti anak-anak yang lain?" selain pakaian yang dia pakai, Marcell juga tampak menggelikan dengan bedak bayi yang memenuhi mukanya.
Simon mengusap kasar wajahnya. "Berapa kali lagi aku harus mengatakan padamu jika kami bukanlah orang tuamu. Kami belum menikah apalagi memiliki anak seusia dirimu!!" bentaknya penuh emosi.
"Hiks, hiks, hiks...HUAAAA....!!" dan tangis Marcell pun pecah detik itu juga. Marcell menangis sejadi-jadinya. Semua mata kini tertuju padanya. "Ya Tuhan,kenapa kau memberikan nasib seperti ini pada hambamu ini, Tuhan? Karena mukaku mirip Dakocan mama dan papaku tidak mau mengakui ku, hiks.. Aku kan jadi sedih."
Simon dan Dellia memperhatikan sekelilingnya. Semua orang kini tengah memperhatikan mereka, mereka saling berbisik-bisik dan membicarakan mereka. Orang-orang itu saling berbisik dan menyebut keduanya sebagai orang yang jahat.
"Astaga, kasian sekali anak ini. Bagaimana bisa. mereka tidak mau mengakuinya."
"Pasti mereka malu karena memiliki anak dengan fisik tak biasa. Baru sepuluh tahun tapi sudah seperti remaja 19 tahun."
"Benar sekali, mereka memang tidak memiliki hati."
Brugg...
Tapi sial malah menimpa dirinya. Dellia tidka sengaja bertabrakan dengan seorang kakek tua yang terlihat berpeyakitan. Kakek itu terus saja terbatuk-batuk. Dan berkali-kali bersin di depan muka Dellia dan Simon. Hingga membuat cairan yang keluar dari mulutnya menyembur pada wajah keduanya.
Tiba-tiba saja Marcell memekik kencang. "Kau, bukankah kau kakek yang membawa virus anjing gila itu ya? Virus yang bisa menular hanya dari batuk saja?" ujar Marcell setengah memekik.
"Uhuk.. uhuk...hachu..hachu.. Benar sekali, nak. Dan penyakit ini belum ada obatnya. Dan mereka berdua baru saja terkena infeksi virus berbahaya ini. Virus anjing gila."
"APA?! VIRUS ANJING GILA?!!"
-
"Penny,"
Penny yang baru saja keluar dari tempatnya bekerja sedikit terkejut melihat kedatangan Rio di sana. Penny memperhatikan sekelilingnya, semua orang kini memperhatikan mereka berdua. Ia dan Rio.
Penny menghampiri Rio yang masih senantiasa bersandar pada bagian depan cap mobilnya. Rio tersenyum lebar. "Aku datang untuk menjemputmu, aku ingin supaya kau menemaniku makan malam."
"Kau sengaja datang untuk menjemputku?" Penny menatap Rio tak percaya. Pria itu mengangguk membenarkan. "Kau membuatku malu saja, semua orang sedang menatap kita." Ujarnya.
__ADS_1
"Aku rasa itu bukan masalah. Ayo," Rio membukakan pintu untuk Penny dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
Dan dalam hitungan detik mobil Rio telah melesat jauh meninggalkan tempat kerja Penny dan membelah jalanan kota yang penuh kendaraan. Rio merasa bahagia karena bisa bersama Penny, dan hal serupa juga di rasakan oleh wanita itu.
-
"Key, aku mau makan manga muda!"
"Ket, aku mau makan kue beras pedas…"
"Key, aku mau makan es kacang merah campur kue beras pedas!"
Sungguh, permintaan yang Ellena utarakan dalam beberapa hari terakhir membuat Keanu pusing bukan kepalang. Bukannya ia tidak mau membelikan ataupun mengabulkan permintaan istrinya, ia hanya berharap istrinya itu tidak meminta makan di tengah malam atau dini hari. Selain mengganggu waktu tidurnya, permintaan itu juga sulit dipenuhi karena toko-toko kebanyakan tutup pada saat tengah malam.
Ngidam atau food craving, adalah semacam keingin calon ibu yang sedang hamil, keinginan ini bisa dari normal sampai yang paling up normal, dari makanan sampai hal-hal yang tidak wajar.
Diperkirakan hal ini disebabkan semacam hormone yang aktif dalam masa kehamilan.
Ngidam biasanya ditemukan di trimester pertama. Itulah yang sedang dialami oleh Ellena.
Yang ketiban sial siapa? Ya jelas adalah Keanu.
"Hiks, kau sungguh suami yang jahat, Key. Jadi kau benar-benar mau aku pergi malam-malam sendirian keluar?"
Keanu mendesah berat. "Bukan seperti itu, Ell. Hanya saja-"
"Uh… ini gara-gara dirimu, jika kau tidak membuatku hamil. Pasti aku juga tidak akan ngidam! Dasar Keanu menyebalkan!"
Dan combo antara ngidam dengan mood swing bisa mematikan suami paling tangguh sekalipun. Dan Keanu adalah salah satu contohnya.
"Iya, iya, aku pergi belikan dulu," ucap Keanu menyerah. Ia segera bangkit dari tempat tidur dengan wajah lesu, matanya sempat melirik ke jam dinding. Pria itu menghela napas.
"Jangan lupa, manganya yang masih mudah dan segar. Terus kue berasnya yang pedas dan es kacang merahnya harus pakai toping kue bera," sahut Ellena dari tempat tidur.
Keanu mengernyitkan bahunya, mendengar permintaan istrinya yang aneh itu. Yah setidaknya yang diminta oleh Ellena itu makanan, jika dia sampai memintanya memakai kemeja lengan terbuka ketika pergi ke kantor kan akan beda lagi ceritanya.
"Hn, aku tau." Ucap Keanu dan pergi begitu saja. Bahkan pria itu hanya memakai kemeja lengan terbuka tanpa jaket ataupun mantel hangatnya. Ellena bisa ngambek jika dirinya sampai mengganti pakaian.
"Jangan lama-lama dan harus dapat semua," seru Ellena sedikit lantang.
Keanu tidak merespon teriakan istrinya. Sudah hampir seminggu ini Ellena terus merecokinya dengan ngidamnya yang aneh-aneh, dan hal itu nyaris saja terjadi di tengah malam.
Tapi, Keanu tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa mengabaikan permintaan Ellena, atau harus menghadapi Ellena yang menangis histeris dan menyebutnya sebagai suami yang jahat.
Benar-benar merepotkan…. batin Keanu.
__ADS_1
-
Bersambung.