
Penny, Adel dan Marry ternganga melihat dua buah taxi yang berhenti di teras dan menurunkan puluhan paper bag , yang di dalamnya berisi berbagai macam barang bermerek seperti pakaian, tas, sepatu, perhiasan, make up termasuk pakaian dalam.
Marry dan Penny yang merasa penasaran segera menghampiri dua supir taxi itu dan bertanya langsung pada mereka.
"Untuk siapa semua barang-barang ini?" tanya Marry to the poin. Dia begitu penasaran.
"Untuk nyonya besar di rumah ini." Jawab supir taxi itu.
Mendengar kata nyonya besar membuat Adel tersenyum sumringah. Bagaimana tidak, dia berfikir jika barang-barang itu adalah miliknya yang di berikan oleh Keanu. Adel mendorong tubuh Marry hingga wanita itu terhuyung ke samping.
"Aku adalah Nyonya besar di rumah ini, jadi barang-barang ini adalah milikku. Tolong di bawakan ke dalam, dan ini uang tips untuk kalian berdua karena sudah berbaik hati mengantarkan barang-barang ini kemari." Adel memberikan uang tip pada kedua supir taxi tersebut.
Dan dengan penuh percaya diri dia mengakui jika barang-barang itu adalah miliknya. Yang jelas-jelas adalah milik Ellena.
"Terimakasih, Nyonya."
"Ya, sekarang kau boleh pergi. Kalian melihatnya bukan? Keanu benar-benar masih mencintaiku. Buktinya dia membelikan semua barang ini untukku. Dan jangan harap aku akan membaginya pada kalian berdua!! " Adel tersenyum sinis pada Marry dan Penny.
Wanita itu beranjak dari hadapan mereka berdua dan pergi begitu saja. Adel begitu gembira karena dia pikir Keanu masih teramat sangat peduli padanya, meskipun pada kenyataannya tidak.
Marry dan Penny mengeram kesal. Ibu dan anak itu segera masuk dan menghampiri Adel yang sedang sibuk dengan barang-barang tersebut. Menempelkan beberapa dress pada tubuhnya lalu meletakkannya kembali.
Merasa tak tahan dengan sikap menyebalkan Adel. Penny pergi ke dapur untuk mengambil garam yang telah di campur dengan air. Tanpa mengatakan apa-apa. Penny merobek pakaian Adel di bagian punggungnya lalu menyiramkan campuran air garam itu pada luka bekas cambukan di punggungnya.
"Ahhhh.... Perih, perih, perih..." Adel langsung menjerit kesakitan, bahkan dia sampai mengeluarkan air mata. "Yakk!u Wanita sialan, apa yang kau lakukan? Apa kau sengaja ingin membunuhku?!!" bentak Adel penuh emosi
"Rasakan!! Memangnya enak!!"
"Kau!!!"
Dengan emosi yang meluap. Adel menghampiri Penny dan langsung memukul punggungnya. Membuat wanita itu menjerit kesakitan, sehingga perkelahian kedua wanita itu pun tidak bisa terhindarkan lagi. Mereka saling menjambak, mencakar dan memaki. Tak jarang kaki mereka saling menendang juga.
__ADS_1
Marry yang mencoba memisahkan mereka pun turut menjadi korban karena keganasan mereka berdua. Marry di pukul, di tampar, di Jambak bahkan di tendang. Entah seperti apa bentuk mereka saat ini, rambut acak-acakan, pakaian berantakan dan wajah penuh luka bekas cakaran, tamparan dan memar.
Sementara itu... Duo ajaib yang baru saja tiba langsung mendapatkan angin segar. Mereka di suguhi oleh sebuah pertunjukkan yang luar biasa. Di mana tiga wanita terlibat perkelahian sengit. Bukannya memisah, mereka malah mengompor-ngompiri dan membuat keadaan semakin menegang.
"Ayo, Bibi... Ayo, Nenek...!! Semangat.. Hajar terus, jangan kasih kendor!!" teriak Marcell dengan begitu hebohnya.
Alih-alih memisahkan mereka bertiga, Marcell malah menyorakinya. Bahkan dia terlihat begitu heboh. Sedangkan Henry langsung pergi ke dapur, entah apa yang sedang di rencanakan oleh pemuda itu.
"Ronde ke tiga....!!"
TENG....!!!
"Ayam... ayam.. ayam....!!" Marcell langsung terlonjak kaget, bahkan penyakit latahnya langsung kambuh karena ulah Henry.
Henry tiba-tiba datang dan memukul panci yang dia ambil dari dapur. Tentu saja ulahnya itu membuat jantungan semua orang karena suaranya yang sangat nyaring. Bahkan Merry, Adel dan Penny langsung menghentikan perkelahiannya. Semua menatap pada Henry dengan tatapan membunuh, termasuk Marcell.
"Ke-Kenapa kalian malah menatapku seperti itu? Dan kalian bertiga kenapa malah berhenti? Bibi, Nenek, bukankah di antara kalian bertiga belum ada yang menang? Jadi lanjutkan lagi," pinta Henry memberi saran.
Ketiga wanita itu pun langsung bertukar pandang. Mereka sama-sama melotot dan menatap penuh kemarahan. "Hiaaatttt....Akan kuhabisi kau!!!" dan berteriak dengan kompak. Yang terjadi selanjutnya pasti sudah bisa di tebak, ya.. mereka langsung terlibat perkelahian sengit.
-
Sebuah mobil sport hitam baru saja memasuki halaman utama mansion mewah tersebut. Dua orang, pria dan wanita terlihat turun dari mobil tersebut dan melangkah masuk.
"Ada apa di dalam? Kenapa ribut sekali?" tanya si wanita sedikit kebingungan.
"Entah, aku sendiri tidak tau."
"Ayo kita lihat," si wanita memeluk lengan pria itu dengan mesra. Dan keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam.
Dan setibanya di depan pintu, mereka langsung di suguhi pemandangan yang begitu mengerikan, di mana tiga wanita sedang berkelahi dan dua pemuda yang sibuk menyoraki.
__ADS_1
Kedua mata wanita yang baru datang itu membelalak, terkejut melihat barang-barangnya berserakan di lantai dan berantakan. "YAKK!! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA BARANG-BARANGKU??!" teriakkanya yang nyaring langsung menghentikan aksi ketiga wanita itu. Ellena berdiri di ambang pintu bersama Keanu.
Adel menghampiri Ellena dengan tatapan menantang. Bahkan dia tidak menghiraukan rasa sakit dan perih pada sekujur tubuhnya akibat perkelahiannya dengan Penny dan Marry, apalagi luka pada punggung dan wajahnya.
"Apa maksudmu barang-barang itu milikmu? Jelas-jelas itu semua milikku, bahkan supir taxi sendiri yang mengantarkannya kemari mengatakan jika barang-barang itu untuk Nyonya Besar di rumah ini, jadi jelas sekali itu milikku!!"
Ellena mendengus berat. Sepertinya wanita di hadapannya itu baru saja terbentur sesuatu, hingga dia mengalami amnesia. "Hei, Nona!! Sebaiknya kau segera bangun dan jangan terus bermimpi!! Apa kau mengalami amnesia sehingga kau melupakan statusmu sekarang?"
"Dan atas dasar apa kau menyebut dirimu sebagai Nyonya Besar di rumah ini, sedangkan Keanu saja sudah membuangmu!! Dan sekali lagi aku tegaskan padamu, jika barang-barang itu adalah milikku!! Apa kau tidak melihat nomornya? Bahkan ukuran semua sepatu itu satu nomor lebih kecil dari sepatumu!!"
"Itu tidak mungkin!! Jelas-jelas, Keanu membelikannya untukku, bukan untummu!! Jadi semua barang-barang itu milikku!! Benarkan, Keanu?"
Keanu menyentak tangan Adel dari tubuhnya dan melewatinya begitu saja. "Sebaiknya segera kemasi barang-barangmu dan segera pergi dari rumah ini. Angkat barang-barang milik, Nyonya dan pindahkan semua ke kamar. Dan buang saja yang sudah rusak," perintah Keanu pada beberapa pelayan. Para pelayan itu pun mengangguk.
"Baik Tuan,"
"Awww, kakiku sakit." Seru Ellena dan membuat langkah kaki Keanu terhenti. Pria itu terlihat memicingkan matanya. "Kakiku sakit lagi, sepertinya lukanya semakin parah saja," Ellena menatap Keanu penuh harap.
Pria itu mendengus geli. Keanu berbalik dan menghampiri Ellena, kemudian mengangkatnya bridal style. Ellena tersenyum lebar. "Suamiku, kau memang yang terbaik. Sudah membelikanku begitu banyak barang, dan sekarang kau menggendongku juga. Kau sangat romantis," Ellena mengerlingkan matanya pada Keanu.
Keanu tau jika istrinya yang cantik ini memang sengaja. Dia sengaja memprovokasi Adel dengan bertingakah seperti ini. "Harga yang harus kau bayar sangat mahal, Nyonya. Dan malam ini kau harus menerima hukumannya!!" ucap Keanu sambil mengunci sepasang manik coklat milik Ellena.
Ellena mengangkat bahunya. "Siapa takut. Bahkan aku ingin menantangmu untuk bermain sampai lima ronde. Jika kau menang, aku akan menjadi asisten pribadimu di kantor selama satu Minggu, tapi jika kau yang kalah... Kau harus rela memakai palaian lengan terbuka selama satu Minggu penuh, bagaimana?" Ellena menatap Keanu dengan tatapan menantang.
Keanu menyeringai dingin. "Baiklah, siapa yang takut. Aku terima tantanganmu, dan lihat saja bagaimana aku akan menghajarmu malam ini, Nyonya Xi!!" bisik Keanu dengan seringai yang sama.
Sedangkan Adel. Menatap kepergian mereka dengan tatapan tak suka, bahkan kedua tangannya terkepal kuat. Lalu pandangannya bergulir pada Merry dan Penny. Mereka berdua menatapnya dengan tatapan mencemooh.
Tanpa mengatkan apapun, Adel beranjak dari hadapan semua orang dan pergi begitu saja.
"ELLENA SU!! AKU MASIH BELUM KALAH DARIMU!!"
__ADS_1
-
Bersambung.