SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Pink Menawan


__ADS_3

Siang itu, cuaca sangat menyengat. Hilir-hilir angin pun tampak bermalas-malasan untuk memberikan kesejukan pada para penduduk yang bernaung di bumi.


Di sebuah ruangan yang di dominasi warna putih itu. Terlihat seorang pria berusia awal tiga puluh tahunan sedang sibuk dengan tumpukan dokumen yang di dalamnya penuh dengan tumpukan uang yang akan membuatnya semakin kaya raya.


Bukannya merasa senang apalagi bangga. Pria itu malah terlihat jengah dengan semua dokumen yang ada di hadapannya. Di matanya dokumen-dokumen itu tidaklah menarik sama sekali meskipun dapat menghasilan ratusan bahkan milyaran won.


Tok... Tok.. Tokk..


Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatiannya. Keanu mengangkat wajahnya dan mendapati Evan berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah map dan sebuah rekaman CCTV yang kemudian dia berikan pada Keanu.


"Tuan Muda. Kami menemukan beberapa bukti baru mengenai kecelakaan hari itu. Dan ini adalah rekaman CCTV yang berusaha di hilangkan oleh pelaku demi menutupi kebenarannya."


"Putar,"


"Baik, Tuan Muda."


Keanu menangkupkan kedua tangannya di atas meja, dan menjadikan kepalan tangannya sebagai tumpuan dagunya. Matanya fokus pada layar laptop yang menyala terang di depannya. Ia begitu serius dan fokus pada apa yang tengah di saksikan oleh kedua matanya.


Di dalam video tersebut memperlihatkan ketika ibunya bertemu dengan wanita yang Keanu ketahui sebagai istri dari Ramon Lu. Mereka bertemu di sebuah cafe sekitar setelah jam sebelum kecelakaan itu terjadi.


Karena CCTV itu terpasang di luar cafe. Jadi Keanu tidak tau apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Tapi dari raut wajah yang mereka tunjukkan jelas sekali mereka membicarakan sesuatu yang sangat serius.


Mata Keanu menyipit melihat Ramon yang berjalan mondar-mandir di dekat mobil milik mendiang ibunya sambil memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya.


Di rasa keadaan di sana cukup aman dan tidak ada orang yang melihatnya. Ramon segera merusak rem pada mobil milik ibu Keanu dan kemudian melenggang pergi.


Di tengah langkahnya Ramon terlihat menghubungi seseorang, dan lima menit kemudian wanita yang tadi berbincang dengan ibunya keluar dari cafe dan menghampiri Ramon yang sedang menunggunya di parkiran.


Gyutt....!!


Keanu mengepalkan tangannya. Dan ternyata dugaannya selama ini benar jika Ramon-lah, dalang utama di balik kematian Ibunya. Dan sekarang Keanu tidak akan merasa ragu lagi untuk menyingkirkan pria yang masih satu kerabat dengannya tersebut.


"Ramon Lu, kali ini aku tidak akan melepaskanmu!! Aku akan membuatmu hancur dalam hitungan jam saja!!"


-


"Tuan, nona muda mengirimkan bunga untuk Anda."


Tuan Jung mengangkat wajahnya dan menatap bunga yang di berikan oleh sekretarisnya. Senyum di wajah yang sudah penuh dengan kerutan itu mengembang lebar.


"Kosongkan semua jadwalku hari ini. Aku ingin menemui putriku." Perintah tuan Jung pada sang sekretaris.

__ADS_1


Sekretaris itu mengangguk. "Baik, Tuan."


Tuan Jung meletakkan bunga tersebut di atas meja kemudian menghubungi Ellena. Ia mengajak putrinya itu untuk bertemu dan makan siang bersama. Dan Ellena menyetujuinya.


Tak ingin membuat putri tercintanya menunggunya terlalu lama. Ayah satu anak itu segera bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan ruangannya. Kali ini dia akan pergi sendiri tanpa asisten pribadinya.


.


.


"Ayah...!!"


Seorang wanita muda terlihat melambaikan tangannya ketika melihat kedatangan pria paruh baya yang kini berjalan menghampirinya. Pria itu tersenyum di tengah langkahnya ketika menghampiri sang putri.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucapnya penuh sesal.


Ellena menggeleng. "Tidak perlu meminta maaf, lagipula aku juga baru tiba." Wanita muda itu tersenyum. "Ayah, kau ingin memesan apa? Kau boleh memesan apapun dan aku akan mentraktirmu."


"Sungguh?" Ellena mengangguk.


"Baiklah kalau begitu ayah akan memesan sekarang."


Di tengah perbincangannya dengan sang ayah. Ellena melihat kedatangan dua orang yang langsung menghancurkan moodnya. Siapa lagi jika buka Simon dan Dellia. Dan sepertinya mereka menyadari keberadaan Ellena.


"Halo adik angkat, sepertinya kau semakin popular saja ya di antara kalangan para pria. Buktinya sekarang kau berhasil menggaet om, om hidung belakang seperti dia. Sungguh luar biasa."


Ellena mendesah berat. "Jika keberadaan kalian di sini hanya untuk membuat masalah, sebaiknya kalian pergi saja karena aku sedang tidak berminat untuk ribut dengan kalian."


"Sayang, kau dengar?! Dia semakin hebat saja, dan lihatlah betapa arogannya dia sekarang. Bukankah dia ****** yang sangat hebat," ujar Dellia. Dia menatap Ellena dengan seringai meremehkan.


Ellena beranjak dari duduknya dan kemudian menghampiri Dellia. Di tangannya memegang sebuah mangkuk berisi sup yang kemudian dia tumpahkan di atas kepala Dellia. Dan apa yang dia lakukan tentu saja mengejutkan semua orang yang ada di sana termasuk tuan Jung dan Simon.


"Aku sudah muak dengan semua tuduhanmu yang tidak berdasar itu. Dan daripada kalian berdua sibuk mengurusi hidupku. Sebaiknya urusi saja hidup kalian sendiri yang jelas-jelas masih sangat berantakan itu."


"Dan satu lagi, asal kau tau saja, orang yang kalian anggap sebagai hidung belang ini adalah ayahku, Jung Daniel!! Ayah, kita pindah cafe saja, aku sudah kehilangan selera untuk makan di tempat ini." Ellena menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Dellia dan Simon yang terpaku di tempatnya.


-


"bagaimana dengan perpanjangan waktu?"


"tch. kau bilang apa Ramon? Perpanjangan waktu? Kau bermimpi ya,?"

__ADS_1


"Yah,, beri aku waktu satu bulan, aku pasti akan melunasi semua hutang-hutangku pada Amber Corp."


Pria itu menghisap kembali rokoknya. "Kau sudah berurusan dengan orang yang salah, semua asetmu yang ada di Inggris akan menjadi milikku, termasuk rumah mewah yang sekarang kau tempati".


"Saya mohon, Tu-"


"Sebelum jam 7 pagi, kau harus mengkosongkan rumahmu, dan jika tidak, jangan salahkan ketika orang suruhanku mengusirmu paksa".


Pria itu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Di tengah langkahnya dia terlihat menghubungi seseorang.


"Tuan, semua berjalan seperti keinginan Anda. Selebihnya akan saya serahkan pada Anda,"


"Kerja bagus, Tuan Lee, dan sesuai janjiku. Kau bisa mengambil perusahaan itu, aku tidak membutuhkan perusahaan kecil yang tidak akan menguntungkan diriku!!"


"Baik, Tuan. Senang bekerja sama dengan Anda."


Entah mimpi buruk apa yang tengah Ramon alami saat ini. Padahal kemarin semua masih baik-baik saja, tapi hari ini mimpi buruk datang dan menimpa hidupnya. Ia mengalami kebangkrutan pada perusahaannya yang berada di Inggris, 7 tahun ia menjalankan usahanya disana, tetapi hancur ketika ada salah satu orang kepercayaannya yang berkhianat sehingga membuat perusahaanya bangkrut.


Ramon mencoba untuk membangun usahanya kembali dari awal dengan meminjam sejumlah uang yang cukup besar pada Amber Corp , dengan perjanjian ia akan melunasi dalam waktu satu tahun, namun sampai batas waktu dimana ia harus membayar hutangnya itu. Ramon tidak mampu karena perusahaannya masih belum mendapatkan keuntungan yang signifikan.


Kebangkrutan perusahaannya tidak di ketahui oleh putri dan istrinya. Ia tidak ingin membuat mereka hancur dan terpuruk jika sampai mengetahui jika kini mereka telah jatuh miskin.


"Aku tidak memiliki pilihan lain, sepertinya hanya Keanu satu-satunya yang bisa membantuku."


-


Keanu memutuskan sambungan telfonnya dan kemudian mengambil jas yang telah Ellena siapkan untuknya. Keanu melihat jas tersebut selama beberapa saat dan kemudian mendesah berat.


Pink....


Keanu yakin tidak yakin untuk memakai jas tersebut. Ia tidak tau apa yang Ellena pikirkan sampai-sampai istri cantiknya itu menyiapkan setelan jas berwarna pink. Dan karena tidak ingin membuat istri cantiknya itu sampai ngambek padanya. Keanu tidak memiliki pilihan lain selain memakainya.



"Wahh....!!" Ellena yang baru tiba di kamar langsung berteriak heboh ketika melihat bagaimana tampannya suaminya dalam balutan setelan jas pink yang dia pilihkan. "Ya Tuhan, Key. Lihatlah betapa tampannya dirimu. Kau benar-benar tampan dengan setelan jas ini."


"Menurutmu begitu?" Ellena mengangguk antusias. Tidak, ini sangat mengelukan Ell, dan aku paling benci warna pink !! Dan sekarang kau malah memintaku memakai setelan jas warna ini."


"Ck, sebaiknya kau tidak usah banyak protes. Lagipula aku sangat puas melihatnya. Kau sangat tampan, sungguh dan aku tidak berbohong. Kau sangat-sangat tampan dan menawan dengan setelan jas pink ini"


Keanu memutar jengah matanya. "Terserah,!!"

__ADS_1


-


Bersambung


__ADS_2