
Penderitaan Rio belum juga berakhir. Ternyata mengurus orang yang sedang mabuk berat lebih sulit dari pada mengurus bayi. Apalagi yang mabuk sampai tiga orang.
Rio mencoba mengajak mereka pulang dengan menggunakan taxi, tapi mereka menolak untuk naik karena menurut mereka itu adalah pesawat alien. Ketika Rio berhasil memasukkan satu ke dalam taxi, yang satu malah kabur dan begitu terus selanjutnya. Dan hal itu membuatnya frustasi.
"Kyyyaaa!!! Pandang bunga Canola!!" Rio terlonjak kaget karena teriakkan Dante.
Tiba-tiba saja pria itu berteriak dan lari menuju rumput-rumputan lalu berguling-guling di sana. Rio mengambil daun kering dan menghambur-hamburkannya ke atas.
"Hyung!!! Tolong aku kakiku tersedot lumpur hidup. Kyyyaaa!! Bagaimana ini, aku tenggelam."
"Marcell, tenanglah. Aku pasti akan datang untuk menyelamatkanmu!!" seru Henry dan merangkak menghampiri Marcell yang terlihat berlutut di tepi jalan.
Henry melihat jika jalan rata di depannya menanjak dan dia berpikiran akan jatuh jika tidak merangkak.
"Marcell, bersabarlah dan tunggu ke datanganku. Jika biasanya pangeran menyelamatkan putri, tapi kali ini pangeran akan menyelamatkan pengemis miskin. Hahaha."
"Kenapa tiba-tiba saja ada laut di sini. Hahaha, tapi aneh. Kenapa lautnya tidak luas dan malah mirip parit. Airnya juga terlihat keruh. Masa bodoh, aku mau berenang dulu." Dante melompat ke kubangan air yang dia pikir itu adalah laut. Pria itu terus berguling-guling sampai akhirnya terjatuh ke dalam parit yang tidak terlalu dalam namun ada genangan airnya. "Huaa....!! Tubuhku tengelam. Huaa, selamatkan aku...!"
Rio memijit pelipisnya yang terasa pening. Dia bingung harus bagaimana sekarang. Menghadapi orang mabuk memang sangat melelahkan dan dia sangat benci itu.
"Apa yang terjadi pada mereka?"
Seperti mendapatkan angin segar ketika sebuah suara yang begitu familiar masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak dia menoleh dan mendapati Keanu dan Ellena berjalan menghampirinya.
"Kau datang tepat waktu, kawan. Bantu aku menyadarkan mereka. Mereka mabuk berat dan bertingkah seperti orang gila. Dan aku bingung harus bagaimana." Ujarnya.
"Kalau begitu serahkan saja padaku. Sebaiknya bantu aku mendapatkan air yang banyak. Jangan lupa campur dengan potongan es batu. Otak dan kepala mereka perlu di dinginkan." Ucap Ellena.
"Baiklah, akan aku Carikan sekarang airnya."
"Aku akan membantu Rio," ucap Keanu yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena. Keanu melepas long vestnya dan menyerahkan pada Ellena. "Pegang ini." Dan berlalu begitu saja.
Tak sampai sepuluh menit. Keduanya berhasil mendapatkan apa yang Ellena butuhkan. Ellena membawa air bercampur potongan es batu itu lalu menyiramkan pada tubuh Marcell, Henry dan Dante. Dan berhasil. Mereka langsung sadar dan terkejut dengan apa yang mereka lakukan.
"O-Omo!! Apa yang sedang aku lakukan?" ucap Henry sambil menggigil kedinginan. "Huhuhu, kenapa dingin sekali."
__ADS_1
"Nunna, kenapa kau menyiram kami dengan air dingin? Kami 'kan jadi menggigil." Protes Dante karena apa yang Ellena lakukan.
"Supaya kalian semua waras lagi." Ellena melemparkan tiga mantel hangat pada mereka bertiga. Mantel itu dia dapatkan dari pedagang loak di emperan toko kosong di samping Club malam.
"Pakai itu dan cepat pulang. Key, ini." Keanu menerima long vestnya lalu memakainya kembali.
"Ayo pulang, aku mengantuk." Ellena memeluk lengan terbuka suaminya. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan mereka berempat. Kali ini Rio yang akan mengemudikan mobil Dante. Bisa lain ceritanya jika tetap Dante yang mengemudikannya.
.
.
.
"Ahhhh!! Nyamannya."
Ellena menjatuhkan tubuhnya pada kasur king size di kamarnya dan Keanu. Wanita itu merasa lelah dan juga mengantuk. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan waktu sudah menunjuk angka 01.00 dini hari. Pantas saja jika dia sudah sangat mengantuk.
Pandangan Ellena bergulir setelah mendengar suara decitan pintu di buka dari luar. Terlihat Keanu berjalan menghampirinya sambil menganggukkan long vest yang dia pakai dari tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Keanu sambil melirik wanita itu dari ekor matanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa bahagia saja. Satu tahun aku merasakan kekosongan hati, dan semua itu terbayar lunas setelah kau kembali. Key, terimakasih karena sudah kembali untukku." Ucap Ellena sambil mengunci manik mata milik Keanu.
Keanu merubah posisinya kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh mungil itu dengan erat. Keanu juga tidak menyangka jika akhirnya dia kembali ke mana seharusnya dia pulang, yakni hati Ellena.
Keanu mengecup kening Ellena berkali-kali. Dan rasanya Keanu sulit untuk mempercayai apa yang terjadi pada dirinya. Dirinya yang tidak mudah jatuh cinta ternyata bisa mencintai Ellena begitu dalam.
Bahkan apa yang dia rasakan pada Ellena saat ini sangat berbeda dengan apa yang dia rasakan pada Adel dulu. Ellena begitu berarti dalam hidupnya, dan Keanu tidak akan pernah kehilangannya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur sekarang. Karena mulai besok aku harus kembali bekerja." Ucap Keanu yang kemudian di balas anggukan oleh Ellena.
Ellena berbaring di samping Keanu dan menjadikan lengan kekar prianya sebagai bantalan kepalanya. Pelukan dan sentuhan hangat bibir Keanu di keningnya menghantarkan Ellena menuju alam mimpi. Dan tak lama Keanu ikut terlelap juga.
-
__ADS_1
Terdengar suara yang sangat pas-pasan yang memenuhi kamar mandi, seseorang sedang bernyanyi, di dalam kamar mandi.
Dan suaranya yang jelek terdengar sampai ke telinga seorang perempuan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tamu. Dia sangat penasaran pasalnya kamar tamu yang biasanya kosong hari ini di tempati oleh seseorang.
Cklekk...
Decitan suara pintu kamar mandi di buka langsung menyita seluruh atensinya. Sontak saja perempuan itu menoleh setelah melihat siapa yang keluar dari kamar mandi, begitu pula dengan pria tersebut.
"KAU!!" keduanya sama-sama memekik keras.
"Apa yang sedang kau lakukan di kamar ini?Omo!! Jangan-jangan kau seorang penyusup ya?" tuding wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Penny. "TOLONG, ADA PEN-" buru-buru Rio membekak mulut Penny sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
"Tenanglah, kau tidak perlu berteriak. Semua orang bisa datang kemari dan salah paham padaku. Aku bukan penyusup dan aku di sini karena pemilik rumah yang membawaku." Tutur Rio memberi penjelasan.
Penny menggigit tangan Rio dan membuat pemuda itu kesakitan. "Kau pikir aku peduli. Lihat saja aku akan melaporkanmu pada nyonya di rumah ini, dan aku tidak tau apa yang akan dia lakukan padamu."
Penny beranjak dari hadapan Rio dan hendak pergi, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.
"Yakkk!! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku atau aku akan berteriak supaya semua orang datang kemari dan menghajarmu!!"
"Nona, percayalah padaku. Aku benar-benar seorang penyusup. Namaku Rio dan Keanu sendiri yang membawaku kemari. Dia mengjinkan aku untuk tinggal di sini."
"Kau semakin ngaco saja. Dia itu sudah lama tiada. Jadi jangan mengatakan omong kosong!!"
"Aku tidak mengatakan omong kosong dan aku tidak berbohong. Memang dia yang membawaku kemari. Dia masih hidup dan belum meninggal."
"Terserah!!"
Penny menyentak tangan Rio dan tanpa sengaja jarinya menarik handuk yang melilit pinggulnya. Membuat handuk putih itu terlepas sehingga terpampapang jelas sosis berurat milik Rio yang mengecil.
Sontak saja mata Penny dan Rio sama-sama membelalak. Dan Penny pun langsung berteriak histeris.
"KYYYAAA!! SOSIS BERURAT!!"
-
__ADS_1
Bersambung.