
Burung besi dari Swiss itu telah mendarat sejak lima belas menit yang lalu. Para penumpang sudah turun dan berjalan keluar dari pintu kedatangan, mencari orang yang dikenalnya diantara kerumunan orang yang mengangkat berbagai tulisan tinggi-tinggi dengan berbagai bahasa pula.
Bandara Incheon merupakan bandara Internasional, tentu saja banyak sekali orang asing dari banyak Negara yang mendarat disana, siap mengunjungi destinasi-destinasi wisata di penjuru Kota Seoul.
Tepat jam lima sore kesibukan di sebuah bandara international di Seoul terlihat begitu ramai oleh seluruh calon penumpang pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tujuan masing-masing, atau mereka yang baru saja tiba dari sebuah negara ataupun luar kota.
Keramaian itu semakin terlihat padat dengan beberapa orang yang walaupun sebenarnya bukanlah calon penumpang, namun alasan mereka ada dibandara adalah untuk sekedar mengucapkan "Aelamat tiggal" atau "Sampai jumpa lagi" kepada orang yang mereka kenal sebelum berangkat, atau mereka yang sedang menunggu kedatangan kerabat, teman atau orang terdekatnya. Bukankah sesuatu yang sangat biasa?
Diantara banyaknya orang yang berlalu lalang. Terlihat tiga orang, seorang wanita dan dua pria yang sedang berjalan beriringan menuju luar bandara untuk mencari taxi. Ellena sengaja tidak memberitahukan kepulangannya, ia ingin memberikan kejutan pada semua orang.
Taxi berwarna biru itu pun melaju memecah jalanan kota Seoul dengan kecepatan rata-rata. Ellena dan Keanu duduk di belakang, sedangkan Rio duduk di samping pengemudi.
"Huaaa... Jadi beginilah Seoul saat ini? Luar biasa,"
Kemudian Rio menoleh ke belakang pada Ellena dan Keanu. "Lain kali kalian harus membawaku jalan-jalan. Aku ingin berkeliling kota." Ucapnya yang segera di balas anggukan oleh Ellena.
"Bukan hal yang sulit. Kau bisa pergi bersama Trio rusuh atau mungkin Penny, mereka adalah pilihan yang tepat untuk menemanimu jalan-jalan." Ujar Ellena.
"Bukan masalah, yang penting aku bisa pergi berkeliling kota. Aku ingin melihat seberapa hebat negeri kelahiranku saat ini." Jawab Rio.
.
.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam. Akhirnya mereka tiba di kediaman Keanu. Rio sampai tak berkedip melihat bagaimana besar dan mewahnya tempat tinggal Keanu.
Sungguh, Rio tidak menyangka jika pria yang dia selamatkan satu tahun yang lalu tanpa nama itu ternyata adalah seorang yang kaya raya. Dia memiliki rumah yang bak istana.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana. Ayo masuk, kau tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri." Ucap Ellena.
"Benar apa yang Ellena katakan." Timpal Keanu menambahkan.
"Keanu,?" Rio menatap Keanu penuh haru.
"Ayo,"
__ADS_1
Keanu merangkul pria yang sudah ia anggap sebagai saudaranya tersebut. Dan ketiganya berjalan beriringan memasuki mansion super megah miliknya
Ellena membuka pintu di depannya, memperlihatkan bagaimana besar dan megahnya bagian dalamnya. Lagi-lagi Rio terperangah melihat bagian dalam bangunan bertingkat tersebut. Seumur hidup, ini pertama kalinya bagi Rio menginjakkan kakinya di dalam bangunan semegah dan semewah itu.
"KYYYAAA!!!"
Gluduk....
Gluduk...
Gubrak...
Mereka bertiga terkejut mendengar suara teriakkan yang di susul suara gaduh yang berasal dari ruang keluarga. Penasaran apa yang terjadi. Ellena mempercepat langkahnya begitu pula dengan Keanu dan Rio yang berjalan di belakangnya.
Kedua mata Ellena membelalak ketika melihat Dante, Henry dan Marcell bertumpang tindih di lantai setelah jatuh terguling-guling dari lantai dua mansion tersebut.
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?" seru Ellena dengan suara meninggi, Ellena terkejut.
Dan pekikan keras Ellena langsung menarik perhatian mereka bertiga. Ketiganya sontak menoleh dan mata mereka membelalak melihat siapa yang datang bersama Ellena. Antara percaya dan tidak percaya melihat siapa yang ada di hadapan mereka, berdiri menjulang dalam keadaan baik-baik saja.
"PAMAN KEANU//HYUNG!!" pekik ketiganya dengan suara meninggi.
"Hiks, jadi ternyata Paman masih hidup. Kami pikir Paman benar-benar sudah tiada?!" Isak Marcell sambil mengeratkan pelukannya.
"Kalau Paman memang masih hidup. Lalu kenapa Paman tidak pulang? Kemana saja Paman selama ini?" tangis Henry ikut pecah.
"Hiks, kami pikir kau benar-benar sudah tiada, Hyung." Timpal Dante.
Keanu tersenyum tipis. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan tiga pemuda yang tengah memeluknya itu. "Maaf, keadaanlah yang tidak memungkinkan aku untuk pulang. Tapi hal itu tidaklah penting lagi, yang terpenting sekarang aku sudah pulang dan kembali pada kalian." Ujar Keanu.
Marcell melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. "Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan dan harus di rayakan. Malam ini kita akan berpesta sampai pagi dan Paman Dante yang akan mentraktir kita semua minum." Serunya heboh.
"Yeeeaahh..!! Kita berpesta sampai pagi dan aku akan mentraktir kalian semua." Balas Dante yang tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan. Dan kedua matanya membelalak seketika, ketika dia menyadari sesuatu. "APA!! AKU?!"
-
Hingar bingar musik terdengar menghentak telinga. Gemerlap lampu khas klub malam terlihat jelas dan membuat pusing bagi yang tidak biasa melihatnya. Para muda-mudi, baik itu pria maupun wanita, terlihat asyik menggoyangkan tubuh mereka di dance floor, menikmati dentuman musik yang terputar.
__ADS_1
Sementara yang sedang tidak berminat mencari hiburan diantara kerumunan manusia itu, hanya menonton keriuhan itu dari bangku mereka, di temani minuman pesanan masing-masing yang tentu saja beralkohol.
Dante dan Keanu memarkirkan mobilnya di parkiran Bar.Keluar dari mobil, mereka berjalan tenang menghampiri klub yang telah sarat pengunjung. Semua menunjukkan tanda pengenalnya pada bodyguard di depan pintu masuk, dan mereka langsung di persilahkan tanpa harus melakukan pemeriksaan terlebih dulu.
Dentuman musik sudah dapat didengar tatkala mereka menyusuri lorong temaram berhias lampu neon berwarna biru. Memasuki area utama yang mampu menampung ratusan manusia, Ellena menarik napas dalam-dalam. Bau tembakau dan aroma alkohol yang menyengat mulai merayapi indera penciumannya.
Seumur-umur ini pertama kalinya Ellena menginjakkan kakinya di tempat yang di sebut club malam. Berbeda dengan kebanyakan wanita yang mendatangi club malam seperti ini. Penampilan Ellena justru sangat berbanding balik.
Wanita itu memakai dress hitam berbahan brukat berlengan, di atas lutut dengan bagian bawahnya yang mengembang, menampilkan kulit kakinya yang mulus, dan stiletto membuat kaki Ellena terlihat lebih jenjang. Sementara Keanu memakai kemeja hitam lengan terbuka yang di balut long vest abu-abu gelap dan celana yang senada dengan warna kemejanya.
"Tempat ini sangat mengerikan, aku ingin pulang saja."
Alis Keanu terangkat naik. "Pulang?" Ellena mengangguk. "Lalu siapa tadi yang merengek ingin ikut? Kita baru saja sampai, Sayang. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang jauh lebih tenang?" usul Keanu kemudian mengecup singkat bibir Ellena.
"Huft, aku rasa itu lebih baik."
"Baiklah, ayo kita pergi ke sana."
-
Bersambung.
Cuplikan buat bab selanjutnya
"Hahaha...!! Paman, kenapa mukamu terlihat aneh? Mukamu ada dua, dan kau terlihat sangat jelek!!"
"Hei, bocah. Jangan sembarangan mengataiku. Apa kau tidak tau jika mukaku ini sangat tampan dan di gilai banyak wanita? Henry, kenapa bentukmu jadi aneh begini? Kenapa di mukamu banyak bulunya, dan... Hahaha... Hidungmu panjang."
"KYYYAAA!! ADA JURANG YANG MEMBENTANG DI DEPAN SANA. SIAPAPUN SELAMATKAN AKU!!"
-
Visual Rio....
__ADS_1
Visual Penny Author ganti ya...