
Keanu menghentikan mobilnya dihalaman luas sebuah rumah sederhana, yang terletak di sebuah pedesaan kecil. Rumah itu tidak terlihat ada mewah-mewah nya. Karena tidak terbuat dari bata melainkan papan kayu.
Melihat pemandangan dan suasana pedesaan yang segar dan alami membuat Vivian terkagum-kagum. Begitu pula dengan Hans, bahkan bocah laki-laki itu memotret pemandangan yang ada di sana.
Berbeda dengan kedua saudaranya. Jordan malah menunjukkan mimik wajah yang berbeda.
Mimik wajah Jordan berubah seketika. Yang awalnya begitu gembira saat mendengar jika Ibunya akan membawanya untuk pergi berlibur. Tapi setelah melihat dimana tempat mereka berlibur, dia menjadi murung.
"Ma, bukankah kemarin kau bilang akan mengajak kami berlibur di tempat yang sangat sejuk dan segar. Tapi kenapa malah di desa terpencil seperti ini?!" Kelu Jordan melayangkan protesnya.
"Jangan bawel lagi. Sebaiknya sekarang kita masuk dan menemui Bibi pemilik rumah ini."
"Memangnya rumah ini milik siapa?" Tanya Keanu penasaran. Sebenarnya Keanu juga sangat penasaran, siapa sebenarnya orang yang Ellena maksud.
"Kalian akan segera mengetahuinya. Ayo masuk, aku akan memperkenalkan kalian semua padanya."
Ellena berjalan paling depan di susul anak-anak dan terakhir Keanu yang berjalan di belakang mereka. Sesekali Keanu memperhatikan sekelilingnya. Tempat ini sangat sejuk dan asri, suasananya juga masih segar dan alami.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian seorang wanita tua yang sedang sibuk menyulam di dalam sana. Wanita itu meletakkan alat-alat sulamnya kemudian beranjak dari duduknya.
Krieett...
Suara pintu di buka berkaur di dalam telinga mereka. Wanita tua yang usianya sudah di atas 60 tahun keluar dari rumah itu. Meskipun usianya sudah tidak muda, tapi dia terlihat masih sehat dan lincah.
"Bibi Ma, apa kabar? Apa kau masih mengingatku?" Ucap Ellena sambil mengurai senyum lebar.
Wanita tua itu melepas kaca matanya dan..."Nona El?!" Pekiknya terkejut. Wanita itu langsung memeluk Ellena begitu pun sebaliknya. Keduanya saling berpelukan untuk melepas rindu.
__ADS_1
"Bibi Ma, apa kabar. Lama tidak bertemu, aku senang melihatmu masih sehat dan lincah seperti dulu." Ujar Ellena.
Bibi Ma mengangkat kedua tangannya dan menangkap wajah perempuan yang dulu sempat menjadi anak asuhnya. Ketika Ellena diperlakukan buruk oleh orang tau angkatnya, Bibi Ma lah yang selalu ada untuknya.
Tapi sayangnya mereka berpisah saat Ellena berusia 19 tahun. Bibi Ma di pecat oleh ayah angkatnya. "Bibi baik-baik saja, Nona. Bibi senang bisa bertemu lagi dengan, Nona."
"Aku pikir Bibi masih tinggal di rumah lama. Tapi dulu saat aku mencari Bibi ke sana, ternyata sudah tidak ada. Kemudian aku bertanya pada orang-orang terdekat Bibi, dan katanya Bibi tinggal di sini."
"Bibi memang sudah lama pindah, Nona. Ngomong-ngomong siapa mereka?" Tunjuk Bibi Ma pada Keanu dan si kembar 3.
"Ini suamiku, dan mereka bertiga anak-anak kembar ku." Jawab Ellena tersenyum.
Vivian menghampiri Bibi Ma dan langsung membungkuk padanya. "Halo, Nenek. Aku Vivian, aku adalah anak paling bungsu. Ini kedua kakakku. Si sulung Hans, dan nomor dua Jordan. Nenek jangan terkejut ya dengan sikap mereka berdua, Hans sangat dingin sedangkan Jordan nakalnya tidak ketulungan." Vivian memperkenalkan dirinya dan kakak kembarnya.
Bibi Ma tertawa. Si bungsu benar-benar mewakili sifat Ellena. Bibi Ma ingat, sangat masih anak-anak. Ellena persis seperti Vivian. Cerdas dan pemberani.
"Udara di luar sangat dingin. Sebaiknya kita masuk dan mengobrol di dalam. Tuan Muda, maaf karena rumahnya tidak bagus."
Mereka masuk ke dalam dan melanjutkan perbincangannya. Si kembar bermain di halaman belakang, ada banyak pohon bunga dan buah di sana. Jadi mereka senang bermain di sana.
Mereka bertiga masuk dalam perbincangan serius. Dan Ellena menyampaikan apa maksud dan tujuannya datang ke rumah Bibi Ma. Bukannya menolak, Bibi Ma malah senang karena memiliki teman, selama ini wanita itu hanya tinggal sendiri.
"Ini ada sedikit uang untuk biaya mereka selama di sini. Dan setiap bulannya, kami akan mengirimkan jumlah yang sama pada Anda."
Bibi Ma menolak uang pemberian Keanu, karena menurutnya itu sangat kebanyakan."Maaf, Tuan. Tapi jumlah ini terlalu banyak. Jika hanya untuk makan sehari-hari, seperempat dari ini sudah lebih dari cukup."
Ellena menggeleng. "Tidak apa-apa, Bibi. Bibi, terima saja ya. Kami akan menjemput mereka pulang saat liburan musim dingin berakhir."
__ADS_1
"Baiklah, Nona. Kalian bisa mempercayakan mereka pada Bibi. Bibi, pasti akan menjaga mereka dengan baik."
.
Ellena menghampiri ketiga buah hatinya. Hans yang memang sudah tau sejak awal tidak merasa terkejut, Vivian memberikan respon di luar dugaan Ellena. Ternyata gadis kecilnya itu sangat kegirangan ketika Ellena mengatakan harus meninggalkan mereka sampai liburan berakhir.
Sangat berbeda dengan kedua saudaranya. Jordan menangis dan meraung, menolak ditinggalkan di sana. Bahkan jurus andalannya pun tidak mempan untuk merubah keputusan Ellena.
"Huaa.. Mama jahat, Jordan tidak mau di sini. Bawa Jordan pulang, huwa!!!"
"Jangan nakal. Ini adalah salah satu hukuman dari Mama untukmu. Mama ingin supaya kau bisa belajar bertanggung jawab. Baik-baik selama di sini dan jangan berulah. Atau Mama akan melipat gandakan hukuman mu?!"
Jordan menghampiri Keanu dan memeluknya, memohon supaya dirinya tidak ditinggalkan. Tapi Keanu menolak membantunya, karena dia dan Ellena telah sepakat untuk meninggalkan mereka di sana.
"Hua.. Kalian jahat, Hua.. kalian tega sekali padaku. Hua.. Mama, Papa kenapa kalian tega sekali?! Hua.."
"Berhentilah, bersikap seperti bocah. Kau tidak lihat, orang-orang memperhatikanmu. Lagipula apa buruknya di sini?! Di sini banyak buah-buahan segar yang bisa kita petik, Nenek Ma juga bilang ada peternakan di dekat sini. Kita bisa minum susu gratis setiap hari, meras langsung dan sangat segar."
"Tapi, disini tidak ada internet. Bagaimana bisa aku hidup tanpa internet?!"
"Gampang, kau hanya perlu melakukan aktifitas yang tidak membosankan!!" Sahut Hans menimpali. "Dan setidaknya di sini banyak sekali Ilmu yang bisa kita pelajari." Bocah itu beranjak dan pergi begitu saja.
Vivian menghampiri kedua orang tuanya. "Ma, Pa, kalian hati-hati ya. Kami akan baik-baik saja di sini." Ellena memeluk putrinya itu sambil tersenyum lebar. Setelah berpamitan pada Bibi Ma. Keduanya pun kembali ke kota.
Meskipun dalam hati tidak tega. Tapi Ellena dan Keanu tetap melakukannya. Dia ingin mengajarkan pada putra-putrinya apa itu artinya tanggung jawab.
Pada Jordan terutama. Ellena dan Keanu ingin putra keduanya itu berubah menjadi anak yang lebih baik, yang bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain lagi.
__ADS_1
-
Bersambung.