SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH

SUAMIKU TUAN MUDA LUMPUH
Kematian Nyonya Ivanka


__ADS_3

BRAK....!!


Keanu terlonjak kaget karena bantingan keras pada pintu ruang kerjanya. Siapa lagi pelakunya jika bukan istri cantiknya yang sedang kesat setengah mati setelah dia marahi habis-habisan.


Dan beginilah Keanu jika sudah berada di kantornya. Keanu tidak akan memandang teman atau keluarga, di matanya semua orang sama saja. Tidak ada yang Special, kedudukan mereka sama semua.


Itulah kenapa Keanu bersikap tegas pada Ellena ketika dia melakukan sebuah kesalahan. Keanu tidak ingin di cap sebagai Boss yang pilih kasih, hanya karena Ellena adalah istrinya, maka Keanu memperlakukan dengan Special.


Selain galak dan mengerikan. Selama ini Keanu di kenal sebagai Boss yang tegas dan profesional. Dia selalu mengesampingkan urusan pribadi dan urusan pekerjaan.


Bahkan tak terlihat ada sedikitpun penyesalan di wajahnya meskipun telah memarahi Ellena dan membuatnya hampir menangis. Fokusnya kembali pada tumpukan dokumen di hadapannya.


-


"Apa lihat-lihat!!!"


Orang-orang itu langsung menundukkan kepalanya setelah mendengar suara sinis Ellena di tambah dengan tatapan tajamnya yang penuh intimidasi. Wanita itu baru saja keluar dari ruangan Keanu, mulutnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas.


Rasanya Ellena ingin sekali menggantung Keanu hidup-hidup. Ellena kesal setengah mati pada suaminya itu. Kenapa dia harus bersikap begitu mengerikan seperti itu? Bukankah dia masih bisa bicara baik-baik, tidak perlu marah-marah juga.


"Dasar manusia es menyebalkan, tak punya hati. Awas saja dia, aku tidak akan memberinya jatah selama tujuh purnama. Bisa-bisanya dia memarahiku habis-habisan seperti itu!!"


Evan terkekeh geli mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari bibir Ellena. Wanita itu terus berkomat-kamit tidak jelas sejak meninggalkan ruangan Keanu. Dan entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang dia alamatkan pada Keanu.


Dan sudah bisa Evan tebak apa yang terjadi di dalam sana, sepertinya Ellena tidak tau jika Keanu akan menjelma menjadi Iblis yang sangat mengerikan ketika sudah berada di kantor.


Evan menghampiri Ellena sambil membawa dua cup kopi yang salah satunya dia berikan pada Ellena. "Seharusnya bukan kopi, tapi minuman dingin!! Aku membutuhkan sesuatu yang dingin untuk mendinginkan otak dan hatiku yang mendidih karena pria menyebalkan itu!!"


Lagi-lagi Evan terkekeh. "Padahal belum genap satu hari kau berada di sini, Nona. Tapi kau sudah mengeluh dan ngomel-ngomel tidak jelas, lalu apa kabar dengan kami semua yang sudah bekerja selama bertahun-tahun di perusahaan ini?"


"Dan asal kau tau, tidak ada satu karyawan pun yang belum pernah di marahi oleh Tuan Muda, semua karyawan dari berbagai departemen sudah pernah mengalaminya. Bahkan yang mereka alami jauh lebih buruk dari yang kau alami hari ini. Jika bukan karena gaji di perusahaan ini sangat tinggi, mungkin banyak yang memilih keluar dan kemudian bergabung di perusahaan lain."


"Memangnya Keanu semenyeramkan itu ya ketika bekerja?" tanya Ellena penasaran.


Evan mengangguk. "Di matanya semua orang sama saja ketika sedang bekerja. Tidak ada keluarga, tidak ada teman, tuan tuda memperlakukan semuanya secara sama. Bahkan tuan Leon pernah menangis selama tiga hari tiga malam setelah di marahi habis-habisan oleh tuan muda."


"Tuan Leon pernah bekerja selama satu bulan di perusahaan ini. Dia kalah taruhan dari teman-temannya dan sebagai hukuman, dia harus mau bekerja di sini selama satu bulan. Dan tiada hari tanpa di marahi oleh tuan muda. Tuan Leon sampai begitu frustasi di buatnya, dia pikir mudah bekerja bersama tuan muda mengingat jika mereka adalah keluarga, tapi dugaan tuan Leon salah besar. Karena tuan muda memperlakukannya sama seperti karyawannya yang lain." Tutur Evan panjang lebar.


Ellena menjatuhkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja. "Itu artinya aku harus menghadapi sikap Iblis Keanu sampai enam setengah hari ke depan? Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam sampai-sampai mengalami hari yang begitu buruk seperti ini!! Tau begini aku tidak akan mengusulkan taruhan bodoh seperti ini. Ahhh, sangat menyebalkan!!!"


"Siapa yang kau sebut Iblis?"


Deg...!!


Nyawa Ellena seraya di tarik dengan paksa dari tubuhnya saat mendengar suara dingin yang begitu khas berkaur di dalam telinganya.


Sontak saja Ellena mengangkat kepalanya, wajahnya seketika memucat melihat sosok tampan dalam balutan kemeja navy lengan panjang yang di padukan dengan Vest hitam kombinasi abu-abu terang, dan celana yang senada dengan warna vestnya, berdiri di ambang pintu ruangannya.


Glukk...


Sudah payah Ellena menelan salivanya melihat tatapan dingin dan tajam orang itu yang pastinya adalah Keanu. Ellena benar-benar di buat mati kutu. Jika saja itu orang lain, pasti Ellena sudah mendampratnya habis-habisan,masalahnya orang itu adalah Keanu.

__ADS_1


Jangankan untuk melawannya, baru melihat sorot matanya saja sudah membuat nyali Ellena menciut. Dan sepertinya hanya Keanu satu-satunya manusia di dunia ini yang paling Ellena takuti.


"Ke-Keanu... Em, maksud saya Tuan Presdir." Ellena memukul bibirnya sendiri karena salah memanggil Keanu.


Tau jika keberadaannya menganggu mereka berdua, Evan pun memutuskan untuk keluar. Dan di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Keanu dan Ellena.


Ellena terlihat membuang muka dan menghindari tatapan Keanu, enggan menatapnya lebih tepatnya. Ellena masih sangat kesal pada suami tampannya itu.


Keanu mendengus geli. Sambil melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing teratas pada kemejanya serta menggulung lengan kemejanya, Keanu berjalan menghampiri Ellena yang masih senantiasa memalingkan wajah darinya.


"A-Apa yang kau lakukan?" kaget Ellena, Keanu mengunci tubuhnya pada tembok. "Jangan menatapku dengan senyum mengerikan seperti itu, Xi Keanu!! Apa kau tidak tau kalau aku sedang kesal padamu!!"


"Aku minta maaf," Keanu menyela cepat. "Aku tau jika sikapku padamu sudah sangat keterlaluan,"


"Bagus kalau tau,"


"Untuk itu aku minta maaf. Tapi jangan masukkan ke dalam hati, dan mengertilah,"


"Aku tidak janji,"


"Aku hanya berusaha bersikap profesional, bukan karena kau istriku, maka aku akan memperlakukanmu dengan istimewa. Aku tidak bisa mencampuradukkan masa pribadi dan pekerjaan, di sini kau adalah sekretarisku dan aku adalah atasanmu. Hanya ketika bekerja, kau bisa mengerti bukan?"


"Aku bilang tidak janji!!"


Keanu mendengus. Tanpa aba-aba Keanu menarik tengkuk Ellena dan mencium singkat bibirnya. "Apapun akan aku lakukan supaya kau mau memaafkanku," ucapnya sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Apapun?"


Keanu mengangguk. "Ya, apapun." Dan mengulang kalimat Ellena.


Keanu mengangguk. "Tentu saja, aku akan membebaskannya. Aku akan memberikan satu kali kesempatan padanya. Dan jika dua sampai berani menghianatiku, dengan tanganku sendiri aku akan menghabisinya. Ambil tasmu, kita makan siang bersama." Ellena tersenyum dan mengangguk dengan antusias.


"Oke, tunggu sebentar."


-


Ivanka mendatangi rumah sakit tempat ia melakukan tes DNA dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia harap-harap cemas dengan hasil DNA hari ini. Dalam hatinya ia berharap agar hasil DNA itu positif.


"Nyonya Ivanka, Anda sudah datang? Silahkan, dokter Kim sudah menunggu kedatangan Anda," sambut seorang suster yang kemudian mengantarkan Ivanka menuju ruang dokter Kim.


Ivanka mengikuti suster tersebut dan masuk ke dalam ruangan dokter Kim. "Bagaimana hasilnya?" Ivanka bertanya tanpa banyak basa-basi.


Dokter Kim menyerahkan sebuah map pada Ivanka yang kemudian di buka langsung olehnya. Air mata terlihat mengalir dari sudut mata Ivanka setelah dia mengetahui hasilnya.


Hasilnya 99,99% akurat, jadi tidak salah lagi bila Ellena memang putri kandungnya yang hilang. Ivanka pikir dia telah kehilangan putrinya, tapi ternyata tidak. Karena putrinya masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.


Ivanka yang sudah tidak sabar ingin memberitahu Ellena langsung bergegas pergi. Wanita itu meninggalkan rumah sakit dengan perasaan bercampur aduk. Dan Ivanka tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini dengan kata-kata. Dia terlalu bahagia.


Di tengah kesibukannya mengemudikan mobilnya. Ivanka berusaha menghubungi Ellena dan mengajaknya untuk bertemu. Tapi sial, ponselnya malah terlepas dari genggamannya dan jatuh ke bawah.


"Aduh, bagaimana ini? Kenapa harus terjatuh segala sih?"

__ADS_1


Tangannya segera meraba-meraba ke bawah dan dia membagi pengelihatannya menjadi dua arah, ke bawah untuk mencari ponselnya dan ke depan untuk memastikan tidak ada kendaraan lain di depannya.


Ivanka berusaha mengemudikan mobilnya dengan benar. Beberapa kali terdengar suara klakson peringatan dari pengendara lain.


"Astaga, kenapa harus membunyikan klakson segala sih? Bikin terkejut saja," wanita itu menggerutu.


Ivanka masih berusaha menggapai ponselnya yang ada di bawah. Senyum di bibirnya mengembang lebar, setelah bersusah payah, akhirnya Ivanka mendapatkan kembali ponselnya.


"Akhirnya dapat juga,"


Senyum di bibirnya pudar, dan matanya membelalak lebar. Di depan sana sebuah truk berukuran besar melaju dengan sangat kencang. Hingga akhirnya kecelakaan pun tak bisa terhindarkan lagi. Mobil yang di kemudikan oleh Ivanka terbalik beberapa kali sebelum akhirnya tertimpa oleh kendaraan lain.


"Pu-Putriku." Hanya itu yang dia ucapkan sebelum semuanya menjadi gelap. Lengan Ivanka yang berlumur darah terjuntai ke samping setelah pintu di samping kirinya terbuka.


Dan seketika orang-orang pun berkerumun di sana. Mencoba untuk menyelamatkan wanita malang tersebut tapi naas, Ivanka sudah tidak bernafas.


-


Hanya suara tetesan air hujan yang enggan berhenti menghujam bumi. Di salah satu tempat di bumi ini, sebuah acara berlangsung mati. Dengan hujan yang tak mau berhenti, dengan petir yang tak henti-hentinya menggelegar, dengan baju hitam yang membuat suasana semakin kelam, dengan wajah-wajah yang berdiri tegap tanpa ekspresi, membuat acara ini terasa mati.


Hujan mulai bertambah deras, tangisan mulai terdengar di sela hujan yang sepertinya akan berubah menjadi badai. Sementara yang lain sibuk menangis dan menahan tangis, beberapa yang lain terpaku pada tanah yang telah di gali sambil berharap dalam hati kalau ini semua hanyalah mimpi.


Tanah itu baru selesai di gali. Namun, kesedihan tidak mau beranjak pergi. Bahkan dengan melihat lubang itu saja bisa membuat hati orang-orang ini yang melihatnya teriris-iris. Tepat pada sore hari ini, saat hujan tengah membasahi bumi, ada sesuatu yang diakhiri. Dan tepat pada sore hari ini, saat kesedihan tengah menggantung di pojok pemakaman ini; ada sesuatu yang dimulai.


Ya, seandainya hujan tidak bertambah deras, mungkin jerit tangis orang-orang yang ada di ssna akan terdengar. Orang-orang yang hanya mempunyai tugas untuk 'mengantar'.


Mereka yang berdiri bukanlah orang-orang lemah. Namun, terkadang sisi manusia mereka dengan mudah bisa merasakan saat kesedihan menghantam. Tiga keluarga besar tengah berduka. Mereka diam dengan kabut yang mulai berseliweran di matanya, dan beberapa lagi hanya terdiam sambil menatap lirih peti yang tengah dimasukkan perlahan ke dalam lubang peristirahatan yang abadi.


Hujan semakin menggila, membuat payung yang dibawa beterbangan, membuat baju yang dipakai sukses basah kuyup, membuat hati para keluarga terluka. Bagaimana tidak? Bersamaan dengan datangnya badai, mereka secara langsung menyaksikan anggota keluarga mereka menjemput akhir hidupnya.


Dan dengan mata kepala sendiri, mereka melihat tubuh berbalut gaun indah itu kaku dan kini harus dimasukkan ke sebuah lubang gelap.


Perlahan, peti kayu itu dimasukkan ke dalam lubang.


Perlahan, peti kayu itu ditimbun oleh tanah.


Perlahan, peti kayu itu menghilang dari jangkauan mata.


"IBU!!!"


Membuat jeritan histeris seorang perempuan muda langsung menggema. Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di depan gundukan tanah yang basah itu. Menangis, meraung dan menjerit. Bahkan beberapa kali dia sampai memukul dadanya. Berharap yang dia rasakan bisa mengurangi sesak yang menghimpit dadanya.


Setelah bertahun-tahun, akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan Ibu kandungnya. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Justru berubah menjadi hari penuh duka, karena dia bertemu dengan Ibunya setelah wanita itu terbujur kaku.


Brugg...!!


Tubuh itu jatuh tak sadarkan diri di samping gundukan tanah basah. Tempat di mana jasad dari wanita yang telah melahirkan dirinya bersemayam. Dan hal itu tentu saja membuat terkejut semua yang hadir di sana, terutama sosok pria yang kini tengah berlutut di sampingnya.


Pria itu meraih kepala perempuan tersebut ke dalam pelukannya. "Ellena," seru orang itu sambil menepuk pipi si wanita yang ternyata adalah Ellena.


Tanpa membuang banyak waktu. Keanu segera mengangkat tubuh Ellena dan membawanya meninggalkan area pemakaman. Dibelakangnya Evan menyusul, dan satu persatu para pelayat meninggalkan area pemakaman, memisahkan beberapa orang saja dan memutuskan untuk tetap bertahan di sana.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2