
Suara langkah kaki memenuhi lorong itu, Aliya dan Gian baru saja datang. "Putriku! dimana putriku?! " Aliya mencekal baju Deam dan menatap tajam juga nyonya besar Maria.
"Tenanglah, aliya. " Bisik Gian dengan lembut mengelus punghung istrinya agar tenang. Seorang dokter keluar dari salah sati ruangan. "Dokter bagaimana? " Semua berbarengan. "Putra anda baik-baik saja, operasinya berjalan lancar, dia hanya patah tulang rusuk dan kaki juga tangan untung saja cepat membawanya karena kali tidak akan mengalami gagal jantung. " Alya mendemgar itu kembali berteriak. "AAA! " Dean kembali memeluknya. "Lalu putri saya dok, bagaimana putri saya? " Tanya Aliya. "Untuk putri anda.. "
"Kenapa anda berhenti, dok? " Tanya Maria dan Dean. Satu dokter dari ruang bersebalahan itu keluar menyambungkan pembicaraan dokter Ashley yang terhenti. "Gian. " Ternyata itu Elsniey teman Gian. "Ne, putriki.. "
"Putri kalian harus segera mendapat transfusi darah karena kehilangan banyak darah. "
"Ambil darahku, aku ibunya! " Aliya menyela. Elsnie menatap nanar Aliya. "Dan.. dia mengalami geger otak, lalu kami juga membutuhkan transplasi jantung secepatnya karena mengalami kebocoran akibat benturan yang keras. l Aliya merosot ke bawah dipeluk oleh Gian . lYa tuhan! " Maria mulai menangis. Dean lalu membuka pembicaraan.
"Aku akan melakukannya! "
Alya langsung berdiri. "Apa katamu!" Dean hanya melirik Alya sekali. "Saya akan mendonorkam darah dan jantung saya untuk putri saya! "
Deg.
"Kamu bilang apa?! " Pekik Alya.
Elsnie yang mendengar itu terlihat bingung dia melirik Gian sesekali. Aliya berdiri. "Tidak usah! Saya yang akan melakukannya saya ibunya!"
"Tidak! Dia membutuhkan kamu, jika kamu melakukam itu dia akan sendirian! "
"Lalu bagaimana Alvin? putra kita juga kehilanganmu! " Sela Alya. "Jangan ikut campur! " Suara Dean mendingin begitupun matanya. membuat alya bergidik ngeri. lIni semua ulahmu! "
Deg.
Kata itu menusuk ke jantung Alya. "Kamu lebih peduli anak ha... "
plak!
Dean menampar Alya. "Sudah hentikan! " Teriak Maria. "Dokter, bisakah untuk pendonor jantungnya di cari saja. bukankah anak-anak harus memakai jantung anak-anak lagi? "
"Ya, itu benar."
"Kalian dengar? " Semua terpaku lemas. "Kalau begitu saya akan mendonorkan darah saya. " Ucap Aliya lagi. Aliya pun ditemani Gian untuk memeriksa keadaan sebelum mendonorkan darahnya. "Saya ikut! " Dean dengan sigap mengikuti mereka.
"Bu Aliya, tekanan darah ibu sangat rendah akan berbahaya dan.. Golongan darah ibu dan anak ibu berbeda. Ibu O negatif sedangkan anak ibu AB negatif, darah yang cukup langka." Tubuh Aliya melemas.
__ADS_1
"Bagaimana dengan saya? "
"Saya periksa terlebih dahulu. Mari Pak Dean, silakan duduk. " Dokter memeriksa Dean. "Darah bapa cocok dengan anak Syila! Bapak bisa mendonorkan darah bapak! " Dean melirok ke Aliya yang menunduk lemas. "Baik segera lakukam tranfusi darah! "
Aliya keluar dengan Gian. Mereka melihat Alya yang mengikuti brankar putranya yang akam dipindahkan ke ruangan lain setelah operasi. Alya terus menangis disisi ranjang putranya. Maria duduk menatap keduanya. "Pergilah, jangan sentuh cucuku!"
"Tidak. Walau ibu menyeretku, aku tidak akan meninggalkan putraku! "
"Huh, padahal kau yang membuatnya seperti ini! " Lalu bagaimana keadaannya?
***
Di depan ruang operasi darah telah ditransfusikan dan sementara dia akan di rawatt di ruang ICU dengan pemasangan alat pacu jantung setelah operasi jantung sementara. lWalau sudah operasi, tetapi transpaltasi jantung tetap dibutuhkan. Saat ini putri kalian masih dalam keadaan koma. " Aliya terus terisak dalam pelukan Gian, sedangkan Dean berdiri memaku di belakang mereka.
anak perempuan iyu dipindahkan ke ruang ICU. "Lebih baik anda pergi ke ruangan putra anda. " Suruh Aliya dengan datar ke Dean. "Tapi dia juga putriku. "
"Saya ibunya dan Mas Gian juga ayahnya ada disini, jadi lebih baik an-"
"Kamu mengusirku! "
"Ibu/nyonya." Maria masuk ke depan kaca pembatas ruangan itu. "Jadi belum ada pendonor? " Tanya Maria lembut. "belum, nyonya. " Jawab Aliya. Maria memegang kedua tangan Aliya. "Aku akan berusaha mencarinya, aku akan membantu sebisaku. "
"Saya tidak ingin merepot-" Maria menengadahkan tangannya menyuruh Aliya berhenti bicara dan dia menurut. "Jangan menolak! Dean! "
"Ibu. "
"Sebaiknya kita kembali ke ruangan Alvin, aku tak ingin dia terus berduaan dengan wanita itu! " Dean tak bisa menolak tarikan ibunya. Dia keluar dari ruang tunggu itu menuju ruang putranya di rawat.
Suara pintu bergeser terdengar pelan, pria dan wanita tua itu masuk ke ruangan itu. Terlihat sosol wanita yang tertidir di samping ranjang sembari mengenggam lembut satu tangan kecil itu. "Alya. " Lirih Dean mendekati istrinya yang tertidur dan menyelimutinya dengan jasnya. "Jangan terlalu memanjakan dia, nanti tidak sadar sadar! " Maria mendengus. "Ibu. "
***
Tiga hari kemudian..
Alvin kecil telah sadar dari tidurnya kemarin sore , dan kondisinya yang sudah sedikit lebih membaik. Alya dan Maria terus menemaninya. Namun, bocah itu sama sekali tidak mau bicara dan tak berekspresi. Bahkan dia terus menolak semua yang ditawarkan Alya.
"Sepertinya dia masih trauma, kami akan memanggil psikiater anak untuk menanganinya. " Ucap dokter itu.
__ADS_1
"Sayang, makan dulu ya sedikit. " alya menyodorkan sesendok bubur namun dihempaskan oleh anak itu. "Alvin! " Alya membentaknya membuat anak itu kejang-kejang. "Al-alvin? Alvin! Dokter! dokter! Tolong! " Perawat dan dokter berdatangan begitupun Maria yang baru saja berkunjung ke tempat dimana Syila kecil dirawat.
Mereka menyuntikkan obat penenang yamg membuat bocah itu tertidur. "Apa yang terjadi sebelumnya bu, apa ibu memaksanya atau membentaknya? " Tanya dokter itu. "Alya cepat bicara apa yang kamu lakukan pada cucuku?!"
Dengan terbata-bata Alya menjawab. "Tadi aku mau menyuapinya tapi dia malah menumphkannya jadi aku sedikit kesal. "
"Bodoh! sudah tahu dia iti trauma karena kamu, sudah syukur hari ini mau di temani olehmu karena bujukan Dean. Sudah kubilang jangan dulu menemuinya kalau tidak becus! "
"Tidak! Alya tidak bisa, dia putraku bu! "
"Sudah cukup, nyonya Maria dan nona alya! jika terus begini yang ada dia akan semakin depresi. sebaiknya anda berdua keluar dulu biarkan pasien tenang. Karena kalau dia terus seperti ini akan berakibat fatal!" Akhirnya mereka pun keluar, dokter membuang nafas lega. "Ada ada saja! " Dia mendengus.
Akhirnya sepuluh hari sudah mereka menunggu, Syila kecil telah mendapatkan pendonor jantungnya dan hari ini akan dilangsungkan operasi.
Flashback on
Sembilan hari yang lalu seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang memiliki penyakit gbs sindrom sejak usia dua tahun dan rumah sakit sudah menjadi rumah tetapnya. Dia sedang berjalan-jalan menelusuri rumah sakit itu dan melihat seorang wanita yang menangis dan ramai orang. "Elsa, mereka kenapa? "
"Saya dengar anaknya mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor jantung, nona muda. "
Siang hari yang mulai terik, seorang dokter masuk ke dalam ruangan gadis yang gemar membaca buku itu. "Halo, beth. " Elizabeth menorehkan senyumannya. "Halo, tuan bie. " Dokter Bian terkekeh. "Bagaimana perasaanmu hari ini? "
"Hmmm, dokter apakah jantungku sehat? " Bian menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa bertanya tentang itu? "
"Apakah aku tidak boleh mengetahui kesehatan jantungku? "
"Tentu, jantungmu semakin sehat. Kamu semakin pulih. " Gadis kecil itu tersenyum kecil. "Tuan bie. "
"Hmm? "
"Jika aku mati, tolong donorkan jantungku pada anak kecil bernama Syila. " Bian menghentikan gerak geriknya, mendongakan wajahnya menatap gadis itu. "Beth.. "
"Aku mohon. "
Flashback of
Ruang operasi masih menyala, Aliya berharap cemas dal dekapan Gian dan Lian.
__ADS_1