Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
18.Kebenaran (18+)


__ADS_3

"Akhirnya kalian sudah datang. " Maria menyambut kedatangan kedua cucunya di dalam rumah Gian dan Aliya. "Nenek? " Maria memeluk Syila lembut, gadis itu pun membalas pelukan itu. "Oh, nenek sudah dateng. "


"Iya, ayo masuk! Kedua orang tuamu ada didalam. " Ajak Maria. "Lagi apa mereka? "


"Sibuk di dapur."


"Kak Gian mana? "


"Baru masuk mengantar istrinya ke kamar untuk beristirahat, dia muntah terus. Tadi baru pulang dari dokter kandungan. " Syila hanya manggut manggut. "Wahh, sudah siap ya! Pasti kami merepotkan sekali ya? "


"tidak, nyonya. Maaf, kami hanya bisa menghidangkan ini saja. "


"Terimakaeih aku tersanjung, ah nak Gian kok sudah turun? "


"Iya, nenek."


"Mana istrimu? " Tanya Gian. "Dia tertidur karena kelelahan. "


"Biarkan dia beristirahat. " Mereka pun melaksanakan makan siang bersama. Setelah itu..


"Ehhm, Syila jadi kami.. " Aliya menyela sang suami. "Biar aku saja, mas. " Gian mengannguk. Syila semakin bingung namun mulutnya tetap rapat. "Syila, dengarkan ibumu. Walau kau telah mengetahuinya, ketahuilah ayah akan selalu jadi ayahmu dan juga Lian tetap kakakmu. " Syila semakin dibuat bingung dengan banyaknya ungkapan sang ayah yang merasuki otaknya. Aliya menarik nafas lalu membuangnya dengan pelan.


"Syila sebenarnya.. " Aliya mulai menceritakan awal kisah dimana dia memiliki hubungan ketidaksengajaan dengan sang majikannya Dean, dimana saat itu dia menjadi korban pergulatan pria itu dikala mabuk. Lalu, dimana dia pergi dari rumah itu lalu menemukan dirinya sedang mengandung hingga pertemuannya dengan Gian. Aliya juga menceritakan tentang pertemuan Syila dengan Dean dan keluarganya termasuk Alvin dan Maria. Dimna juga menceritakan tentang dirinya dan Alvin yang terlibat kecelakaan yang juga melibatkan Renita. Jadi karena itu Renita.. Batin Syila.


"Dan.. apakah kamu ingat dua tahun setelah kalian pulih dari kecelakaan itu kami baru mengetahui kalau kondisi ginjal kamu tidak baik?" Syila mengangguk diam, masih tak ada kata apapun darinya. Para orang tua berfikir gadis ini tidak seperti yang mereka khawatirkan, karena dia terlihat tenang. "Dan apa kamu ingat karena kamu jajan minuman terus dan tidak suka air putih hingga keduanya harus ditranspaltasi?" Syila mengangguknlagi. "Dan pada akhirnya kamu mendapatkan satu pendonor yang mendonorkan sebelah ginjalnya dan bersedia hidup dengan satu ginjal sepertimu. Apa kamu tahu dia siapa? " Syila tak merespon apapun, dia kalut dalam fikirannya. "Seperti yang kamu fikirkan.. " Aliya yang memnca isi fikiran putrinya. "Dia ada disebelahmu." Aliya menunjuk alvin yang duduk disebelah Syila dengan lirikannya.

__ADS_1


Syila mengangkat wajahnya, lalu melirik Alvin. "Aku ingin menambahkan!" Seru Maria. "Nak, apa kau tak ingin bertanya tentang papa kandungmu? " Syila tak menjawab dan hanya menatap sendu Maria. Wanita tua itu fikir, mungkin ini masih mengejutkan bagi gadis itu walaupun terlihat tenang namun pasti ini mengejutkan karena secara dadakan dan bertubi-tubi dia mendapatkan kebenaran yang selama ini tersembunyi darinya. "Papamu, sudah tidak ada didunia ini. " Syila menatap dalam Maria. Dia melirik lelaki yang duduk disampingnya sedang menunduk, namun Syila masih dalam mode bungkam. Dia hanya mengekspresikan lewat binar kedua netranya. "Dia terkena kanker paru-paru dan sudah menyebar! " Sela Alvin. Dia mengeluarkan sebuah kalung liontin yang berisikan foto dirinya, Alvin dan Dean. "Ini, ini kenang-kenangan dari papa buat kamu. " Syila menerima liontin itu belum berani membuka dan melihat isinya. "Liat kalau elo udah siap." Nada bicara Alvin seketika berubah membuat gadis itu menoleh padanya lalu mengangguk.


Hari semakin sore, Alvin dan Maria pamit dengan keluarga Aliya. Syila masih tak bicara dan sesekali hanya tersenyum. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya serelah membantu membereskan dapur dan meja makan. Syila tak menyadari kalau Lian mengikutinya dari belakang. Saat Syila telah membuka pintu yang sedikit terbuka dengan cepat Lian menahan adiknya dengan memeluknya dari belakang. "Eh?"


"Sebentar aja." Lian memeluk sang adik. "kamu akan selalu jadi adikku. " Lian mencium pucuk kepala sang adik dan memeluknya lagi. "Udah kak! aku mau tidur, ngantuk! Sana ah! " Gadis itu akhirnya bersuara hingga terdengar sampai ke lantai bawah. "Ngusir nih? " Syila mendelik kasar. "Nga shalat dulu? Bentar lagi magrib pemali kalau tidur!"


"Aku lagi halangan." Lian tersenyum kecil, mengacak-ngacak rambut Syila. lIsh. " Syila menepis tangan besar itu. "Yaudah sana ke kamar, tapi jangan langsung tidur! "


"Iya, iya.. " Syila pun masuk dan menutup pintu kamarnya. Dia menyenderkan tubuhnya ke badan pintu. Termenung sejenank sembari memejamkan kedua matanya. "Ah, gue kan ada PR! " Tugas yang mengingatkannya membuatnya membuyarkan lamunannya.


Di sisi lain, di kamar Lian. Lian mengecup kening istrinya. "Sayang, bangun bentar lagi magrib. " Wanita itu membuka kedua netranya. "Bangun dulu, shalat jamaah ya? " Wanita itu mengangguk.


Di lantai pertama, Aliya dan Gian yang habis selesai shalat magrib. Kemudian kembali ke ruang tengah duduk bersama. "Ahh, aku lega mas. "


"Aku tahu. " Gian mengusap punggung istrinya. lTapi, dia masih.. "


"Iya mas. Aku mau menyiapkan makan malam dulu. "


****


Keesokan harinya, Syila berangkat sekolah sendiri karena hari ini Renita sakit dan izin masuk sekolah. Alvin pun tidak menjemputnya seperti menghindarinya. Syila terus memikirkan lelaki itu dan menggengam liontin yang melingkar dilehernya. lIsh, kenapa juga mikirin dia terus! " Syila berusaha membuyarkan fikirannya.


Tinnn..


Suara klakson menyadarkannya. "Syila!"

__ADS_1


"Yudha? " Yudha turun dari mobilnya menghampiri sang gadis dan mengjaknya pergi bersama. "Ayo bareng! " Yudha menarik pelan tangan Syila. Syila ingin menolak tetapi dia takut terlambat ditambah bus dan angkutan umum yang belum terlihat atau mungkin karena dia yang terlalu larut dalam fikirannya sendiri. Dia pun menerima tawaran Yudha, mereka memasuki mobil berwarna kuning cerah itu. Yudha menyalakan mesin mobilnya dan mulai melaju. "Tumben elo ga bareng Alvin? " Tanyanya, namun gadis itu tak menjawab dan terus melihat kekuar jendela.


Mereka telah tiba diparkiran mobil sekolah, Syila keluar bersamaan dengan Yudha dari sisi berbeda. "Thank, tumpangannya. Gue duluan. " Belum sempat Yudha menjawab, Syila telah pergi meninggalkannya.


Di jam istirahat dia berpura-pura melewati kelas Alvin, entah apa yang dilakukannya dia pun tidak mengerti. Dia berperang dengan hati kecilnya yang merindukan sosok itu, namun kembali menampiknya. "Itu Syila, kan?" David menyenggol Alvin dan berbisik. Alvin melirik ke luar kelasnya. "Oh. Gue ke ruang Osis dulu. " Alvin menepuk pundak David, dia keluar dan mengacuhkan Syila yang berdiri membelakanginya, gadis i tu berpura-pura melihat ke arah taman. David yang melihat itu merasa ada yang aneh dengan keduanya.


Dua hari kemudian..


Di ruang OSIS yang sama, Alvin kembali kesana karena sebentar lagi akan ada pemilihan ketua yang baru karena semester 2 akan segera tiba. "Ketua, nih ada kiriman. " Celetuk Rian. Alvin mengangkat sebrlah alisnya. "Dari siapa? " Rian mengedikkan kedua bahunya. "Kagak tau! " Alvin membuka kotak itu dan dia tiba-tiba berteriak panik diikuti Rian.


AAA!


"Waaaaa! kenape elu?! "


"U-ular! "


"Ular? yang bener lu? "."


"Liat aja sendiri! " Rian membuka kotak yang ditutup kembali Alvin, dia melihat mainan ular dari karet. "Yelah! inikan cuma mainan bro! "


"Tapi.. Arhg, siapa sih yang kirim beginian? Sialan dia! "


"Gue si sialan itu! " Alvin dan Rian sontak menoleh ke asal suara itu. "Syila?" Alvin mengerjapkan matanya. Syila masuk ke ruangan itu dan menghampiri Alvin berdiri dihadapannya memegang kedua tangannya. Alvin ternganga melihat perubahan wanita itu. "E-elo kenapa? "


"Happy birthday, kakak. "

__ADS_1


"What?? "


__ADS_2