
"Renita! " Renita yang sedang didalam kelas bersama Syria terkejut mendengar teriakan namanya. "Syila? Ada apa? " Tanya Adzestha yang bari datang. "Suruh Renita temuin gue sekarang!"
"O-oke. " Lelaki itu masuk dan.. "Syila kan? "
lkok tau? "
"Karena gue ga budeg. " Renita pun keluar menghampiri sahabatnya. "Ada apa sih beb, teriak teriak gitu? "
"Sahabat sialan! "
"Kenapa sih, marah marah? nanti darting loh say! "
"Ikut gue! " Syila menarik Renita ke kamar mandi wanita dan mengunci diri mereka. "Elo bilang ulang tahunnya alvin tapi.. "
"Gue kan ga bilang hari ini. "
"Sialan! "
Hingga waktu pulang dan sesampainya dia ke dalam kamarnya, Renita terus terkekeh kecil mengingat wajah sahabatnya yang marah terhadapnya. Makian-makian yang terngiang di otaknya menjadi bahan tawanya. "Kapan lagi coba bikin dia sekesel itu. " gumamnya bermonolog.
Disisi lain, sepulang sekolah Martha mengajaknya kembali ke tempat itu. Syila langsung menyetujuinya karena dia ingin menyembunyikan diri dari Alvin. "Beneran, kalian sodara? " Bisik Martha didepan pintu berwarna putih itu. Syila tak menggubrisnya, Martha yang mengerti pun hanya terdiam. Semenjak kejadian tadi hampir seluruh sekolah menggunjingkan sang empu dan juga sang ketua osis mereka.
"Ayo masuk! " Syila memanggut. "Hai, guys! "
"Ohh, adik kau kembali! " Sapa Jeremy. "Dan tentunya dengan wanita kuat ini! " Kedua gadia itu memsang wajah datar mereka. "Jer, jangan goda mereka!" Perintah Haris. Jeremy terkekeh. "Ok! " Lelaki itu kembali ke kursinya memainkan kembali nintendo miliknya. Kedua gadis itu duduk di kursi yang sejajar berhadapan dengan Mikha yang fokus hanya pada buku ditangannya. "Koko mana?" Tanya Martha. "Mungkin sebentar lagi datang." Jawab Mikha singkat. "Ohh belum datang. " Mikha melirik Syila yang bola matanya memutari seluruh penjuru. "Yudha sama Rama ketemu bokap mereka. " Celetuk Mikha. "Hm, ga ada yang nanya mereka! " Ketus Martha. Mikha pun kembali fokus dengan bacaannya.
__ADS_1
Wangi semerbak menusuk indra penciuman mereka. "Hmm, wanginya enak! Kak Haris masak apa?! " Tanya Martha agak berteriak. Haris memaerkan setengah tubuhnya dibalik lawang di seberang sana. "Bikin pasta aglio dan sup cream juga garlic bread! "
"Waaa, ga sabar deh! "
***
"Gue duluan. " David berdiri dari kursinya. "Ke tempat biasa?" Bisik Alvin, lelaki itu menagngguk disusul olehnya. David kemudian pergi dari ruangan itu menuju tempatnya. Namun di tengah perjalanan dia dikejutkan dengan seruan seseorang dari belakangnya. "David, tunggu!" nafas alvin tersengal-sengal. David memutar wajahnya mengangkat sebelah alisnya. "Gue ikut! " Alvin memamerkan sebuah kartu putih dengan simbol pohon beringin emas. "Gue bakal pake kesempatan satu kali ini! "
"Kenapa?" Tanya David. "Kenapa? Kenapa, apa ada yang elo sembunyikan dari gue? " Mereka saling menatap lekat hingga David memajamkan matanya satu detik. "Ngak ada." David memutar kembali dan meneruskan langkahnya diikuti Alvin yang berjalan di belakangnya.
"Ini, ayo makan! " Seru Hari yang sudah menyajikan banyak hidangan. "Ngak nunggu kak Davod? " Tanya Syila. "Ngak usah, koko gue pasti masih lama. Ngak masalah kok! " Jawab Martja.
"Jere, bangun! katanya laper! " Haris menggoyang-goyangkan tubuh jeremy yang tertidur bersama dengan alat permainannya. "Nanti gue masih ngan.. brz! " Haris membuang nafas kasar. "Mikh, elo? " Mikha menutup bukunya dan menyimpannya ke sampingnya. "Sekarang aja. Thanks! " Haris menghidangkan satu porsi masing-masing dsri makanan itu didepan Mikha. Baru saja mereka akan menyuap pintu terbuka terlihat David yang masuk bersamaan dengan seseorang yang membuat semuanya tertegun apalagi Syila yang tak dapat bergerak. "Wah, keren juga interiornnya!" Alvin mengitari seluruh ruangannya saat mata itu tertuju pada satu orang. Saat itu Syila langsung memutar badannya membelakangi Alvin, tetapi itu tidak dapat membodohi lelaki i tu.
Alvin mengulum senyumnya menyela langkah David, menggusur kursi di sebelah gadis itu dan duduk. Dia menarik lembut tangan gadis itu merebut suapan pertama dari pasta yang sudah terlilit rapi di garpu itu. "Mm, masakan elo emang selalu mantep,Ris!" Alvin tersenyum ke arah Haris. Haris terkekeh. "Gue ga nyangka elo bakal memakai kesempatan sekali itu sekarang. Apa karena adik elo ini? " Pernyataan itu menyadarkan lamunan Syila. "Gosip memang selalu menyebar cepat, tapi sayangnya ini bukan gosip. " Alvin merangkul sang adik dan itu membuat Syila terkesiap. "Kami memang saudara yang sempat terpisah!"
"Pftt. " Syila melirik tajam sahabat barunya itu, mmmembuat sangempu menarik kembali tawanya. Lalu gadis itu juga dengan berani melirik tajam dua lelaki di depannya. Dacid dan Mikha lalu menyuap makan siang mereka. "Ayo dimakan, nanti keburu dingin! " Seru Alvin. "Aaaa! "
"Apaan sih? "
"Suapin. " Syila dengan kesal memakan makananya tanpa menggubris Alvin yang terus menggodanya.
***
"Gue duluan! Ayo, pulang! " Ajak Alvin. Syila pun ikut berpamitan. Di parkiran, Alvin memasangkan helm pada sang adik yang terus diam dengan wajah ketusnya. "Jangan ngambek terus dong, ayang! " Alvin mencolek bibir manyun Syila. "Ayo naik. "
__ADS_1
Mereka telah sampai dirumah Syila. Alvin mengantar Syila sampai ke depan pintu. "Ngak akan masuk dulu, nak Alvin? " Tanya Aliya dengan ramah. "Ngak bu, makasih. Saya harus segera pulang karena lagi banyak tugas. "
"Yasudah, ini dibawa! " Aliya menyodorkan susunan rantang tiga tingkat. "Ini apa bu? "
"Oleh-oleh buat kamu sama nenekmu. "
"Wah, terimakasih banyak bu! jadi repot. "
"Ngak kok. Syila, jangan cemberut terus senyum dong sama kakaknya! "
Gados itu tersenyum kelum. "Kok gitu? "
Alvin terkekeh. "Ngak apa-apa bu. Kalau begitu saya pamit. "
"Iya, Hati-hati dijalan! "
"Iya bu. " Alvin mengacak-ngacak rambut Syila. "Kakak puoang dulu ya, jangan bandel nurut sama ibu! Besok kakak jemput lagi! "
"Hm."
"Ish, ga sopan kamu! Jawab yang bener! " Protes Aliya. "Iya, Hati-hati ada yang nyantol. " Syila yang asal bicara membuat sang ibu menahan tawa, namun Alvin tak dapat menahannya. Dia tertawa lepas mendengar ocehan sang adik. "Kenapa? Cemburu aku ada yang nyantol?"
"Ngapain? Yang ada takut, serem. " Alvin mengerutkan dahinya. Awalnya ia tak mwngerti yang dimaksud sang adik, namun otak pintarnya cepat memproses hingga dia membelalak dan ternganga. "Ya, jangan yang itulah! Cewe bener yang cantik, kaya, lembut, perhatian, sayang ma aku.."
"Idih ngimpi! " Alvin terkekeh juga Aliya. "Yya sudah, aku pulang ya sayang! Bu, saya pamit. Assalamualaikum! "
__ADS_1
"Waalaikummussalam! " Alvin pun menyalakan kuda mesin yang dia tunggangi untuk melaju meninggalkan tempat tinggal sang adik semata wayangnya.