Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
41. Penyakit yang disembunyikan


__ADS_3

Hallo readers semua maaf aku baru kembali baru ada waktu sblum tgl 10 bulan ini operasi mohon doanya ya.. terimakasih dan selamat membaca


_


_


Jangan lupa juga baca novel pertama aku


LAIR : THE BEGINNING


Para Esper baru telah muncul di berbagai belahan dunia. Hitzuziaki Kaoh pemilik sekolah khusus bagi para Esper telah menyuruh para muridnya untuk mencari para Esper yang masih berada di luaran sana untuk dibawa ke tempat rahasia mereka, di bantu oleh sang adik Nabari.


*****


Pasien boleh dijenguk oleh satu orang saja, jadi sebaiknya bergantian. " Jelas Dokter sebelum dia meninggalkan mereka setelah menjelaskan keadaan pasien darinya. Gadia itu hanya melamun dengan tatapan kosong. Maria meraup tubuh cucunya merangkulnya lembut. "Kamu juga dengarkan?" Syila mengangguk. "Itu yang mau Alvin sampaikan tadi, kakakmu itu nampaknya sudah lelah bersembunyi. " Tak ada jawaban dari gadis itu. "Hah. " Maria menghela nafas. "Kamu mau duluan atau nenek dulu?"


"Nenek dulu saja. " Jawabnya singkat. Sebenarnya dia masih belum bisa menghadapi sang kakak, dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun. Memang ada bukti bahwa dia mengenal dan bertemu Alvin setahun belakangan ini setelah kehilangan ingatannya. Mereka memang pernah mengenal sebelum itu, namun takdir berkata lain dan sekarang takdir menjawab lain untuk mereka setelah pertemuan kedua ini.


"Baiklah, kamu duduklah dulu disini tunggu nenek ya.. " Maria merapikan rambut panjang hitam gadia itu dan mengaitkannya kebelakang telinganya. Maria beranjak masuk ke ruangan dimana Alvin dirawat meninggalkan gadis yang duduk te rmenung itu sendiri. Keluarga mereka masih didalam perjalanan menuju rumah sakit, sedangkan Yudha masih berada dikelasnya karena ini belum waktunya untuk pulang.


Gadis itu menyeka mata dan wajahnya yang mulai membasah. Dia sudah tak sanggup lahi untuk menahannya. Sementara itu didalam ruangan..


"Alvin." Lelaki itu tersenyum lemas dengan wajah pucat. Maria berusaha menahan tangisnya ketika melihat wajah pucat itu, dia kembali teringat akan pembicaraan bersama dokter tadi.


Flasback on

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Deril? " Tanya Maria yang tampak akrab dengan pria muda pertengahan usia tiga puluhan itu. "Seperti yang sudah kita tahu karena sudah membesar dan sudah semakin menyebar, tidak ada cara lain selain harus kemoterapi." Disisi lain sufah tidak dapat digambarkan bagaimana ekspresi gadis itu ataupun siapapun tak akan dapat melihat peradaan yang berkecamuk itu, namun dapat mudah dimengerti. Syila hanya mematung dibelakang Maria yang masih berbincang dengan pria berbalut jas putih itu.


"Dan, untuk sekarang dia masih belum sadarkan diri karena kami telah menyuntikan obat penghilang nyeri juga obat tidur agar dia bisa berisitirahat."


Setelah kepergian Dokter Deril, Maria membalikkan tubuhnya menghampiri sang cucu dan duduk disebelahnya mengatur ritme jantung dan deru nafasnya. Diam terduduk merenung untuk beberapa menit.


Setelah itu, dia memulai pembicaraan. "Kamu sudah mendemgarnya bukan? " Tanya Maria lembut. Syila hanya menganggukan kepalanya. "Itu yang mau Alvin sampaikan tadi, kakakmu itu nampaknya sudah lelah bersembunyi. " Tak ada jawaban dari gadis itu. "Hah. " Maria menghela nafas. "Kamu mau duluan atau nenek dulu?"


"Nenek dulu saja. " Jawabnya singkat. Sebenarnya dia masih belum bisa menghadapi sang kakak, dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun. Memang ada bukti bahwa dia mengenal dan bertemu Alvin setahun belakangan ini setelah kehilangan ingatannya. Mereka memang pernah mengenal sebelum itu, namun takdir berkata lain dan sekarang takdir menjawab lain untuk mereka setelah pertemuan kedua ini.


"Baiklah, kamu duduklah dulu disini tunggu nenek ya.. " Maria merapikan rambut panjang hitam gadia itu dan mengaitkannya kebelakang telinganya. Maria beranjak masuk ke ruangan dimana Alvin dirawat meninggalkan gadis yang duduk te rmenung itu sendiri. Keluarga mereka masih didalam perjalanan menuju rumah sakit, sedangkan Yudha masih berada dikelasnya karena ini belum waktunya untuk pulang.


Srjujurmya bukan karena ingin mrnghormati orang tua tetapi karena dia masih takut untuk melihat keadaan sebenarnya takut untuk tidak dapat menahan kesedihan didepannya. Takut jika membuat dia semakin terpuruk dan menyalahkan diri sendiri.


Maria masuk kedalam ruangan itu, remaja lelaki itu terbujur lemah diatas kasur dengan segala alat yang menemoel ditubuhnya. Wajah yang memutih pasi dan mata yang menghitam. Bibir keunguan yang mengering. Wanita tua itu duduk dikursi yang berdiri disamping tempat tidur itu. Dia menatap sendu sang cucu yang tak sadarkan diri. "kamu memang keras kepala. " Gumam Maria.


Sudah lima belas menit berlalu, walau Maria menyuruh Syila menyusulnya masuk namun gadis itu masih menolak dengan alasan dia sedang menunggu Yudha. Lima menit tambahan pun berlalu. "Sayang. " Panggil lirih lelaki itu, berlari kecil mendatangi gadisnya. "Syila? "


"Hm? "


"Kamu.." Belum selesai dia bixara, namun gadia itu telah memotong seakan tidak mau ditanyai dengan itu. "Sendiri? "


Yudha memnagguk. "Iya. "


"Yaudah ayo! Nenek udah nunggu didalam! " ajak Syila.

__ADS_1


Sementara itu, Maria sudah melihat tanda-tanda kesadaran Alvin. Mqta lelaki itu mengerjap sedikit demi sedikit membuka matanya. "Alvin. " Lelaki itu mulai meraup kesadarannya menatap lemah sang nenek dan tersenyum kecil. Dengan suara seraknya dia bertanya,karena ketiadaan seseorang disana. "Mana Syila? "


"Gue disini! " Jawab gadia itu dengan lantang seperti biasanya. Maria tersenyum tipis begitu pun Yudha. "Yo! Kakak ipar! " Yudha menyapa mengikuti sang kekasih memasuki ruangan itu. "Ck. " Alvin berdecih. "Udah gue bilang gue ga ngerestuin elo sama Syila! " Yudha terkekeh. "bentar lagi juga restuin, iya ga? "


"Kagak! "


"Ehchm! " Syila berdeham. "Ini rumah sakit malah ribut! " Memutar bola matanya malas.


Maria hanya geleng-geleng melihat kelakuan anak-nak muda itu. Ponsel di tsnya berdering. "Nenek keluar sebentar kalian mengobrol lah dulu. "


"Iya nek. " Maria pun keluar untuk mrngangkat telepon itu.


"Uhm, kayanya ko David udah didepan gue jemput dia dulu ya. "


"Idih kaya tuan bos aja dia! " Ejek Alvin yang sama seka kl i tidak memlerlihatkan rasa sakitnya walau dengan tubuh lemas dan pucat. Yudha pun pamit keluar dan tersisalah sepasang kakak adik itu.


"Sayang. "


"Hm? "


"Kok nunduk trus sih, ga tau apa yang ganteng disini."


"Kagak. " Syila melirik sedetik. Alvin mengulum senyum. Dia mengangkat tangan yang diinfus itu menggapai wajah gadia itu. Alvin mengelus wajah Syila dengan lembut. "Maafin kakak yang gak pernah jujur sama kamu." Tatapan sendu itu berbalas. Alvin tahu bagaimana lerasaan itu. Dia tersenyum lembut lalu membuang nafasnya. "Hwh! Kamu jelek tahu kalau nangis!" Alvin menxubit pelan wajah itu. Bibir ranum itu maju sampai setengah meter karena ledekan Alvin. Dia menyeka air mata yang tak bisa dia tahan. "Ish! " Melirik nyalang lelaki yang dibuatnya terkekeh itu. "Hahahha, lucu banget sih adikku! "


"Diem ga? "

__ADS_1


"Hahwhahhahahah. "


__ADS_2