Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
14. Klub Rahasia


__ADS_3

"Syil, elo yakin ga ikut klub eksul? " Syila menggelengkan kepalanya. "Gue udah males." Jawabnya singkat. Syila yang swdang fokus pada bukunya. Renita yang melihat itu hanya dapat memangku dagunya. "Gue cuma mau fokus sama pelajaran karena gue mau masuk universitas kedokteran yang sama dengan ayah. " Ya, Syila memang ingin menjadi seorang dokter seperti ayahnya semenjak tiga tahun lalu, dimana ketika ayahnya terkena stroek dan harus pensiun dini. Untung saja ketika itu ketika Aksha belum menjadi sukses seperti sekarang, Toko kue ibunya Aliya sedang sangat laris. Serta satu tempat makan dan juga satu lagi toko grosir. Akhsa dulu adalah arsitek lepas, namun sekarang dia memiliki kantor yang dikelolanya bersama sang istri yang juga seorang interior designer.


Syila menutup buku vintage tebalnya itu. "Elo udah memutuskan mau gabung kemana, Ren? "


"Hmm, gue masih bingung! Dzith dia masuk ke dalam klub sejarah. "


"Ehh, anak itu suka sejarah ternyata. Ngak nyangka gue. " Renita mengangguk. "Apalagi sejarah tentang samurai." Sontak Syila membuka matanya lebar lebar. "Serius? "


"Hm. "


"Keren juga dia. terus yang lain? "


"Adzhesta dia memilih klub basket, Kenzi masuk klub lari dan Sirya masuk klub drama. Gue sihh antara pengen klub fotografer, klub memasak, klub badminton atau klub paskibra. Syil, kenapa elo ga ikut klub kendo atau taekwondo aja? Elo kan pernah ikutan ka Lian belajar itu dulu, waktu smp pun elo malah masuk klub PMR. "


"Itukan karena gue pengen berlatih beladiri sedikit, gue pengennya jadi dokter. Elo kan udah tau alasannya. " Syila melirik sahabatnya itu. "Iya sih, kan ada tuh PMR juga disini kenapa ga ikut? "


"Bosen." Renita membuang nafas kasar dan pendek. "Gue bodoh kalau jadi ga tau elo itu orangnya gimana. " Renita menyindir dirinya sendiri membuat Syila terkekeh.


***


Tadi pagi sebelum jam pelajaran apapun dimulai..


"Martha, mau masuk sekolah! Koko, tolong Martha apa ga kasian sama temen aku itu? Dia terus mengerjakan tugas bagianku tapi aku yang mendapatkan nilai, ini ga adil buat aku! " Martha merengek kepada kakak dan kedua orangtuanya.


"Tapi kan tha.. " Perkataan wanita paruh baya itu tersenggat karena sang suami menyela. "Kamu datang waktu pelajaran setelah istirahat saja, kalau membantah tidak boleh pergi sama sekali! " Martha memajukan bibirnya. "Bagaimana? "


"Iya, Martha mau. "


"David, kamu tolong mintakan izin pada wali krlasmu dan juga bilang pada Alvin agar dia ikut mengurusinya juga, dad yang akan bilang pada Bu Rita!"


"Baik, Dad. "


"Martha kembali ke kamar. "


"Ya, sebaiknya kamu kembali, biarkan koko kamu berangkat sekolah!" Dengan berat Martha pun kembali ke kamarnya . "David berangkat dulu, mom and dad. "


"Hati-hati. "

__ADS_1


"Sayang, apa tidak apa-apa jadwal hari ini dibatalkan? "


"Daripada dia merengek terus, lebih baik begitu. Dia akan melakukan untuk jadwal pagi saja. "


"Baiklah, kalau begitu. "


Didalam kamar seorang gadis (hmm, iya. thanks!). Gadis itu menutup telponnya dengan seseorang. Dia menyandarkan punggungnya ke pintu berwarna putih dengan manik-manik merah muda yang mengagantung dan menempel di pintu itu.


***


"Gue sihh antara pengen klub fotografer, klub memasak, klub badminton atau klub paskibra. Pilih yang mana ya? " Renita menggelitiki bawah rahanya sambil memutar jari telunjuknkirinya di depan kedua matanya. "Terserah elo."


"Ish, diminta pendapat kok gitu! "


"Lagipula elo gakkan dengerin pendapat gue, iyakan? " Renita terkekeh. "Hehehe, iya sih. " Dia mempertontonkan kedua baris gigi rapinya. Syila memutar bola mata malas.


DRtt.. Drttt..


Getaran ponsel terdengar diantara alunan angin yang menerpa rambut halus kedua gadis itu. Syila membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu. "Siapa? " Tanya Renita. Syila menenteng buku tebalnya. "Martha baru datang ke sekolah setelah pemotretan, katanya mau ketemu gue di depan ruang musik. "


lRenita gitu lho! " Mereka terkekeh. "Udah sono samperin temen lu, gue juga mau ke kelas lagi! " Mereka pun turun dari atap itu dan berpisah di depan taman kecil yang berada di pinggir sekolah dekat dengan gudang penyimpanan alat olahraga. Renita kembali ke kelasnya sedangkan Syila pergi menemui Mrtha didrpan ruang musik yang berada di lorong kelas 3-A dan 3-C yang saling bersebrangan.


Nampaknya gadis itu telah menunggu. Martha telah melihat batang hidung Syila yang nampak mendatanginya. "Syila! " Martha melambaikan tangannya. "Disini! " Syila berjalan menghampirinya. "Elo, udah ga sibuk? "


"Ishh, kok nanya itu sih! " Protes Martha. "Terus harus nanya apaan? "


"Dasar ga peka! "


"Ok, apakabar sayang? Udah makan belum? " Syila berbicara tepat di lubang telinga kanan Martha. "Ihh, ihh, geli Syil!" Martha mendorong halus tubuh Syila, gadis jahil itu pun terkekeh melihat wajah Martha yang mengerucut. "Heuheu. "


"Emang gue pacar elo!"


"Habisnya elo kurus banget sih sekarang, kan aku jadi khawatir.. "


"Jijik banget! " Martha mengendikkan kedua bahunya. Syila terkekeh. "Gue kan model jadi harus diet, ini buat pemotretan!"


"Yahh, tadinya gue mau ajak makan cuanki bandung di kantin,tapi yaudah deh gue aja se-"

__ADS_1


"Tunggu!" Syila membalikkan tubuhnya dengan senyum mengejek. Gadis ini benar-benar jahil. "Kenapa? "


"Ikut!" Rengek Martha dengan manja. lkatanya diet. "


"Ya-yah, kalau cuanki ga apa-apa kan itu sup. "


"Ok. " Martha menggandeng tangan Syila dan mengikutinya. Banyak orang yang melirik sepanjang jalan dan juga beberapa bisikan yang terdengar.


"Mang, cuanki 2 porsi pedesnya sedikit jangan terlalu asin! "


"Siap neng Syila, ditunggu ya! " Syila mengannguk, dia menyusul Martaha yang sudah duduk di bangku panjang yang berpasangan dengan meja itu. "Syil. "


"Hmm? "


"Soal mereka.. "


Flashback on


"liat tih sok Boss banget sih si Syila, mrntang-mentang deket sama Martha. " /"Si Martha di pelet apa tuh ya?! "


Banyak sindiran sindiran yang membuat Martha merasa tak enak drngan gadis didepannya itu, tapi dia pun tak bisa menjauhi Syila karena dia tahu bahwa orang melihatnya dengan casing Martha yang seorang model berbeda dengan gadis itu.


Flashback of


"Gue baru tau mereka.. "


"Gausah fikiran hal itu, gue gak masalah kok. Gak perlu didemgerin! "


"Ini neng pesanannya. " Mang itu menyajikam dua mangkok cuanki panas untuk kedua gafis itu. "Makasih, manag! "


Mereka mulai menyuap makanan yang mereka pesan. "Sorry ya, Udah selalu repotin elo.. soal tugas. "


"Gak masalah kok. " Martha terenyuh melihat senyuman yang terbit di wajah itu. "Thanks. "


"Sure. "


"Oya, gue denger elo belum milih klub eksul.."

__ADS_1


__ADS_2