
POV Dzith
Aku berguling-guling di temoat tidurku, hati-hari berlalu dengan sangat membosankan ketika aku dirumah. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, aku kerjai dan aku malas untuk keluar rumah malahan kamar. Aku memang termasuk kaum rebahan di zaman milineal ini.
Kenapa? Karena sekarang hanya aku sendiri, biasanya kembaranku yang tembok itu kemana-mana mengekoriku. Namun sekarang dia sudah punya kekasih, dan aku tak menyangka dia bisa menyukai seseorang.
"Hah. " Aku membuang nafas. Entah apa yang harus kulakukan karena semua tugas sudah kukerjakan ,ditambah dirumah kami ini sudah ada ART yang mengurusi rumah. Aku harus apa?
Ckritt.
Terdengar suara decit pintu dari kamar sebelah, sudah dipastikan itu adalah si tembok. Pasti hari ini dia dan Renita akan pergi bersama lagi. Aha! Terbesit sebuah ide yang terbentang di otakku. Aku memastikan dia benar-benar sudah pergi, aku memeriksa kamarnya lalu ke bawah menelusuri semua ruangan.
"Non teh lagi cari apa atuh bulak balik mulu? "
"Lagi cari cicak bi. Dzith mau ke atas mau mandi biar wangi! " Bibi hanya menggelngkan kepalanya, sedangkan aku kembali ke atas memasuki kamar mandi dan mengerjakan ritual mandi supaya wangi. Setelah itu aku bersiap untuk pergi.
"Kamu mau kemana tumben pagi-pagi gini udah rapi? " Tanya bunda.
" Biasanya juga begini. "
Bunda memicingkan matanya. "Aku mau jalan-jalan sambil foto yang aneh, kali aja nemu cicak diluar! "
"Cicak? "
"Udah ah, Assalamualaikum! "
"Waalaikummussalam. Ada ada aja tuh anak! "
"Tadi juga non teh bulakbalik wae dirumah, katanya nyaro cicak! Oh buat di foto ya?!"
"Masa, bi? "
"Iya, bu. "
Aku telah tiba disebuah bazar makanan dekat dari rumah yang bersebalahan dengan taman yang sejuk. "Target terlihat! " Aku sesegera mungkin beraksi.
***
"Mau beli apa? " Tanya Dzestha pada Renita. "Itu enak kali ya, seblak."
"Yaudah ayo beli. " Ajak Destha. "Mang seblak dua ya, satu level 2 kamu level berapa yang? "
__ADS_1
"Level 5 aja. "
Setelah selesai memesan seblak dan beberpa makanan lainnya mereka pun ke taman duduk untuk mencoba semua makanan yang mereka telah beli. Tidak ada yang aneh hingga Dzestha berteriak kepedesan. "Pedes bamget! "
"Lah masa? " Dengan sigap Renita mencoba seblak milik Dzestha. "Uhmm, kayaknya kebalik deh nulisnya, soalnya yang aku ga pedes. Kayaknya dia lupa, kan tadi rame disana! " Ucap gadia itu seraya menjelaskan untuk menenangkan kekasihnya yag emosian i tu.
"Ah, gila! "
"Nih minum dulu!" Renita menyodorkan sebotol aor mineral untuknya. Kerika dirinya sedang meminum air mineral itu. Tiba-yiba kucing melomoatuke arahnya membuat dia terkesiap dan tersedak sehingga sedikit memuntahkan air itu hingga membasahi dagu dan bajunya.
"Kucing Sialan! Uhuk uhuk! "
"Hush pelan-pelan! Nanti tersedak lagi lhoo.. "
"Salahin kucingnya! Hush sana! " Dengan sigap Renita mengambil anak kucing yang masih menempel ke Adzestha sebelum dilempar lelaki itu karena emosi. "Hush, meong kami diam disini ya, nih makan takoyakinya. "
"Meow! "
Laliu, gadis itu mengekuarkan tisu untuk mengelap bagian yang basah sambil menepuk pelan punggung Adzestha yang masih terbatuk. Sementara itu, disisi lain seorang gadis yang asyik bersama kameranya tertawa terpental-pental.
Beberapa jam sebelumnya.
"Ini bakalan jadi video bagus. HiHi. "
***
"Kamu mau memperlihatkan apa sama kami?" Mikha mengeluarkan semua berkas yang dia bawa dan memperlihatkan semuanya kepada kedua orang tuanya.
"Lihatlah, disisi kanan adalah Kaina sekarang dan masa kecilnya, sedangkan gadis kecil yang selama ini aku cari dan obat pertamaku adalah gadis kecil disebelah kiri. " Jelasnya.
"Lalu? " Tanya sang ayah.
"Ini membuktikan bahwa Kaina berbohong, dia bukan gadis itu dia orang lain! " Kedua orang tuanya menyelisik sekali lagi foto-foto itu, bahkan ada foto terbaru sekaligua semua data dari tes dna, profil, akta lahir mereka. "
"Nak, kamu stalker? Semua ini.. "
"Bukan, hanya pencari kebenaran! " Jawab anak lelako remaja itu dengan nada datar dan dingin begitupun ekspresinya.
"Tetap saja ini kelewatan!"
"Ayah tidak akan mengerti!"
__ADS_1
"Sstt! Mikha, kami hanya takut kalau ada orang yang merasa ini tindakan kriminal dan melaporkanmu. " Ucap eanita paruh baya iru dengan lembut.
"Tapi, Kaina telah berbohong!"
"Jadi, maksud kamu itu kamu ingin membatalkan pertunangan kalian?! "
"Ya!"
"Tidak bisa! Karena perjanjian ini sudah kama, bagaimana bisa dibatalkan swmudah itu dengan alasan tidak jelas?"
"Harus apalagi jika bukti sejelas ini juga belum jelas? Kalian hanya mempedulikan jabatan dan harta saja! Sekali lagi, saya tidak akan pernah sembuh karena obat saya hanya dia seorang! " Setelah menggertak, Mikha pergi meninggalkan kedua paruh baya itu begitu saja.
****
"kenapa kita kumpulnya disini? " Tanya Clarisa. "Haris mana? " Tanya Mikha.
"Karena itu Ko David dan gue bawa kalian semua kesini kecuali Jeremy dan Haris! " Seru Rama. "Kalau ada jeremy bakalan ancur!" Srmua mengangkat sebelah alis mereka.
David berdeham. "Jadi Besok adalah ulang tahun Haris! "
"EHH??!!"
"Kita lupa! "
"Kasian. "
"Jadi.. " Belum selesai David berbicara dia disela oleh Mikha. "Biar gue yang bikin ide tapi.. " Syila terperangah kala Mikha menariknya ke dalam dekapannya. Mikha merangkul gafis itu dengan erat. Disisi lain, seseorang tengah melihat mereka dengan sinis. "Gue pengen ditemenin sama dia! "
David mengangkat sebelah alisnya. Ada rasa yang mengganjal dalam hati Yudha saat melihat pemandangan itu, dimana mantan kekasihnya yang masih dia cintai sedang dirangkul mesra oleh pria lain.
Namun, kenyataannya Syila berusaha melepas dekapan itu tapi Mikha terus menang. Alhasil Syila pun menyerah dan membiarkan Mikha semaunya. Lelaki yang sinis dan menyebalkan ini memang selalu membuat gadis itu kesal sendiri.
"Kenapa harus dibantu? Syila aja bikin kejutan kemarin sendiri! " Celetuk Rama.
"Dia dibantu temen gemennya, gue tahu itu! Dan pastinya juga elo, iya kan! " Rama menggaruk ceruknya. "Jadi gue juga ingin dibantu, cukup dengan orang ini! " Tunjuknya pada Syila.
"Baik, tapi kalau ada apa-apa bisa minta bantuan gue. " Sahut David. "Aku juga, kita semua akan membantu iyakan? " Sambung Kaina. Semua mengiyakan.
Setelah rapat darurat yang tadi dilakukan, semua berpisah ke kelasnya masing-masing hingga waktu pulang Syila dan Mikha kembali ke home club di sisi lain sekolah untuk mengatur tempat, dekorasi dan juga tema dam skema yang akan dibuat untuk pesta kejutan besok.
"Karena waktunya sangat mepet, gimana kalau dekornya sama seperti ini aja? "
__ADS_1