Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
58.Masalah dan triplet (18+)


__ADS_3

Pov Syila


aku telah pulang dan dibawa kerumah nenek Maria, tapi ada satu pemandangan yang membuat gadis itu penasaran. Seorang gadia cilik berusia tiga tahunan yang terus mengekori bi Piyem.


Karena sang Nenek sudah oamit berangkat kembali karena ada rapat diperusahaan dan akan melihat Letha, dia pun pamit.


"Neng, ini makannya kata nyonya makan sing sekarang, minum obat lalu istirahat dan tidur dulu. "


"Makasih bi. "


"Sama-sama. Mwu bibi suapi? "


"Ngausah, sendiri aja. Oiya itu anak bibi, ponakan atau cu-cu? " Dengan ragu Syila bertanya. wanita yang terlihat seumuran ibunya itu tersenyum simpul. "bukan. "


"Lalu, anwk siapa? Oh anak Pade ya? "


"Bukan juga. "


"Terus? "


"Sebaiknya neng makan dulu, nanti tanya sama nyonya saja. Sqya mau siram bunga didepan. "


"Ah iya."


***


"Nyonya. " Cicit Aliya. "Sudah kubikang berhenti panggil aku dengan sebutan itu, panggil saja ibu!" Titah Maria.


"Ibu, bagaimana Syila?"


"Dia sudah lebih baik, tadi bi Piyem bilang dia sudah tidur setelah makan dan minum ibat. Lalu, bagaimana dengan Letha? "


"Mereka masih didalam. "


"Gian kemana? "


"Saya disini. " Gian datang dsri belakang Maria.


"Kamu mengagetkan saja! Darimana kamu?"


"Maaf. Tadi saya ke toilet. Apa belum ada hasil? "


"Belum. "Jawab Aliya.


Mereka masih menunggu hingga sudah tiga puluh menit berlalu, Salah satu dokter keluar dari ruang operasi. "Selamat, bayi laki-laki telah lahir! " Setelah memberitahu itu dia pun kembali masuk keruangan.


"Alhamdulillah! " Tujuh menit kemudian. "Selamat bayi perempuan telah lahir! " Semua terkesiap. "Cucu kita kembar, mas! "


"Iya, ma!"


"Wahahaha aku punya buyut kembar!"


Lima menit kemudian, mereka kira Liam yang akan keluar namun nyatanya domter yang tadi kembali keluar. "Bayi ketiga perempuan telah lahir dan dipastikan bayi terakhir. "


Ketiga orang tua itu hanya berdiri termangu ditempat. "Tiga? Triplet? Buyutku triplet? "

__ADS_1


"Benar, bu. "


Tanpa bisa berkata mereka hanya mengiyakan kata-kata dokter tanpa mencerna. Mereka masih berdiri mematung hingga Letha yang terbaring dibrankar yang akam dipindahkan ke ruangan pasien bergandengan dengan Liam baru mereka tersadar. "Tunggu dok, sudah sesuai permintaan sayakan kalau Letha akan berada diruang vvip?!"


"Tentu, kami akan membawanya kesana! " Para petugas medis itu membawa letha ke ruangannya diausul dengan ketiga bayinya. Disitu langkah Liam menjadi lemas dan melambat. Gian dan Aliya yang masih cuek dengan Liam segera menyusul menantu dan ketiga cucunya, sedangkan Maria mengekori Liam dan menepuk punggungnya. "Kenapa kamu jadi siput?! "


"Nek, Liam punya triplet nek! "


"Iya aku tahu, sudah sana jangan sampai kedahaului oleh ibu dan ayahmu! "


***


Setelaj dua jam terlelap akhirnya Syila bangun, namun dia dikejutkan dengan keberadaan anak perempuan berusia tiga tahunan yang dia lihat sejak dia datang tadi tengah terlelap memeluknya.


"Neng, sudah bangun? " Bi Piyem sedikit mengetuk sambil mengintio lewat celah pintu bertanya dengan nada lirih. Syila menganngukan keoalanya tanpa menggerakan tubuhnya takit takut membangunkan anak itu. Dengan isyarat mata dia menanyakan perihal itu pada bi piyem.


Wanita setengah baya itu lantas masuk kedalam kamar. "Maaf neng, tadi Neng lily teh pengen tidur disini. Katanya mau temenin kaka cantik yang lagi sakit. " Syila pun tersenyum. "gapapa bi. "


"Eh, bibi lupa kalau lagi rebus soto, bibi ke dapur dulu ya! " Syila mengiyakan. Lima menit belum berlalu, mata gadis kecil itu bergerak dengan perlahan terbuka. Syila dan gadia kecil bernama lili itu saling memandang.


Syila yang gemas kantas mencubit pipi cabi itu dengan lembut. "Ishh gemesin deh, kamu tuh anak siapa sih cantik? "


"Liliana anaknya papa Liam."


"Liam, maksud kamu kak Li.. " Ah ngak mungkin kan?!


****


Beberapa jam sebelumnya..


"Siapa yang subuh gini sudah bertamu? " Gumam Aliya. Dia pun membuka pintu dan dikejutkan bahwa yang bertamu pagi buta itu adalah putra sambungnya Arkana Liam. "Liam? Kamu udah pu-" Matanya terpaku dengan yang bersembunyi dibelakang Liam. "Ini anak si-Argh Ah, ayo masuk dulu! "


Liam mengaguk. "Assalamualaikum. " Dia masuk sambil menggandeng anak itu.


"Walaikumussalam."


"Liam, dia anak siapa? " Tanpa basa basi Gian bertanya. "Sayang, kamu udah pulang? " Letha yang mendengar suara Liam keluar dari kamarnya berjalan sedikit mengangkang karena perutnya yang membesar. Dia menyapa sambil mengusap perut buncitnya. Liam yang melihat itu, setelah mencium tangan kedua orang tuanya dan menyuruh anak kecil itu juga mengikutinya, lalu dia menghampiri sang istri mencium keningnya dan perut istrinya mengusapnya.


"Halo, sayang. Umm lili, ayo salim juga dengan bunda. " Sambil berkerut dahi anak itu menuruti oerintah Liam.


Ketiga orang itu saling melirik. "Ini anak siapa? "


"Umm, ada yang mau saya bicarakan dengan kalian. Bisa kita duduk dulu? Dan, apa bisa anak ini tidur dikamar Syila, sepertinya dia mengantuk. "


"Biar dia denganku! "


"Nenek?"


"Aku datang semalam, inginnya bertemu Syila tapi anak itu ternyata tidak ada dirumah. Ayo, sayang tidur dengan nene. "


"Ayo sama nenek dulu ya, papa mau bicara dulu dengan ibu, ayah dan bunda. "


Semua orang sudah mengerjap ingin menyemprot tapi mereka sekali lagi melirik anak perempuan itu. Aealnya dia ragu, namun akhirnya dia mau ikut dengan Maria.


Liam pun duduk bersama yang lain, menghadapi mereka dan mulai mengatur nafas. "Liam siapa anak itu? " Dengan tegas Gian bertanya. "Pertama Liam mau meminta maaf sayah ayah, ibu, terutama kamu sayang. Anak itu bernama Liliana Selly Arkana, dia adalah anak Liam."

__ADS_1


Bagai disambar petir semua termangu dengan deru nafas masing-masing. "Anak kamu? Tolong jelaskan yang benar! " Seru Gian.


"Sebenarnya empat tahun yang lalu dimana pertama kalinya Letha keguguran Liam samgat merasa bersalah karena saat itu Liam lah yang membuatnya keguguran karena mengusilinya sampai jatuh yang membuay Liam jatuh pada minuman keras dan saat itu yang membantu adalah Selly sekretaris Liam hingga dia hamil-"


PLAK! BUK!


"Mas?! Hentikan. mas! " Aliya berusaha menenangkan suaminya namun Nihil, hingga mereka mendengar suara tangisan anak kecil.


"Kalian ini ribut sekali! Dia jadi terbangun dan ketakutan! " Seru Maria. "Aku tahu ini bukan urusanku, tapi bukankah sebaiknya bisa lebih tenang dan bijak? " Sosor wanita tua itu mampu membungkam mereka. Tak terasa bulir bening menjatuhi pipi Letha. lMaaf. " Cicit Liam.


"Bukankah kamu belum selesai menjrlaskan? " Liam yang masih terkapar dilantai mengannguk. "Jadi kami pun menikah diam-diam karena Selly juga yatim piatu dan sebatang kara. Lalu, dua tahun terakhir ini dia jatuh sakit, dia terkena kanker otak stadium 4 dan kejaiban dia bisa bertahan selama itu. Dan aku juga ingin meminta maaf lagi telah berbohong-"


"Apa lagi?! " Kembali Gian yang bersuara.


"Bukan dinas yang lama tetapi setelah dinas, saya menemani Selly berobat dan kemo. Tapi tuhan berkehendak, minggu lalu dia meninggal dunia. "


"Innalillahi wa Innalillahi rajiun. " Lirih Maria dan Aliya.


"Jadi.. " Semua dikejutkan dengan Liam yang tiba-tiba meringkuh bersujud. "Liam mohon tolong terima anak kami Liliana disini! " Sontak Letha berdiri dari tempatnya. Tangisan anak itu pun mengencang seakan mengerti. Dia berontak dan turun dari gendongan wanita tua yang masih terlihat bugar itu.


"Eeuhh, Euhh, papa tinggalin aja Lili sendiri, gapapa! Euhh.. Lili mau sama mama. " Para orang tua itu termangu, hati mereka teriris.


Liam memeluk gadis kecil iitu. "Maafin papa nak, papa ga akan ninggalin kamu. " Masih dalam pelukan Liam anak itu melirik ke arah samping dimana tepat Letha berdiri dan tiba-tiba teriak. "Akhh darah! Lili takuy! "


Semua terkesiap termasuk Letha sendiri. "Ya ampun Letha! " Teriak Maria. "Eh? " Letha sendiri bingung. "Astagfirullah! " Liam dan Aliya langsung menangkap Letha yang hendak pingsan setelah melihat darahnya sendiri.


"Dia pendarahan, cepat bawa dia ke rumah sakit! Biar aku yang urus Li-"


lkring! Kring!


Ponsrl Maria berdering satu oanggilan dsri David.


"halo, ada apa? Kami sedang urgent! APA?!" Pekik Maria.


"Ada apa bu? "


"Ga ada apa-apa, sebaiknya kalian cepat kerumah sakit aku juga mau ke rumah sakit di kota B. "


"Loh mau apa? " Sialnya Maria baru sadar jika dia keceplosan. "Syila dan temannya jatuh dan dibawa kerumah sakit terdrkat katanya tergelincir dan terkilir."


"Astagfirullah! "


"Sudah kalian urus yang disini, aku urus yang disana! Lili akan aku bawa ke rumah disama ada Piyem!"


Mereka pun pergi ke tempat masing-masing dengan kecemasan berlipat ganda dan fikiran yang tidak singkron.


***


"Jadi gitu." maria terhean-heran dengan gadis satu ini. Dia menceritakannya semua yang terjadi sepeninggal Syila berkemah dan kejadian jatuhnya dia.


"Aku nga nyangka. " Syila melirik anak itu yang sedang asyik betmain bersama bi piyem dihalaman rumah yang terlihat dari balik jendela kamar yang ditempatinya.


Sementara itu di rumah sakit, Letha hanya menatap lurus tanoa bicara dan berekspresi melihat suaminya yang sedang mengumandangkan adzan untuk ketiga bayinya. Hingga Aliya mengelus pucuk kepalanya yang membuatnya tersentak dan sintak menoleh ke arah wanita patuh abya itu.


"Ibu. " Aliya tersenyum lembut. "Kamu benar-benar wanita kuat. " Aliya menautkan jemarinya ke jemari Letha lalu mencium lucuk kepala yang sudah dia anggap putrinya. Dan Letha hanya tersenyum gentir bersamaan drngan bulir bening yang membasahi wajahnya.

__ADS_1


Hari pun berganti, di keheningan yang dikelikingi banyak orang dibuat gaduh ileh satu yang baru datang. "Liam bego!!! "


__ADS_2