
Elo Yudha?" Lian melipat kedua tangannya mendekati sang empu yang tingginya sangat sama dengan dirinya. Menelisik remaja lelekai itu dari atas keoala sampai ujung kaki, lalu menatapnya nyalang.
Glek. Yudha menelan ludah. "Gue Lian. "
"Senang bertemu, bang. " Dadanya begitu bergemuruh, ditambah wajah Lian yang semakin melekat ke wajahnya. "Kakak! " Panggil Syila sedikit menarik mundur Lian. Pria itu tertarik karena tidak siap. "Kakak, mukanya nyeremin. jelek! Sana duduk! " Lian langsung menatap sang adik dengan penuh pertanyaan. lElo juga! " Suruh Syila pada Yudha.
Lelaki itu oun menurut. "Permisi. " Dia meleeati Lian dan menghampiri Alvin yang tengah bersantai ria diatas sofa berwarna putih gading itu. "Kamu katain kakak jelek? Kamu buta? " Bisik Lian. Syila memukul tangan kakaknya. "Siapa yang bilang kakak jelek? "
"Tadi! "
"Kakak kayak gitu sih, emang kakak polisi soksokan galak segala! "
"Tuh kan kamu bilang kakak jelek! "
"Ihh, ngak kakakku!"
"Lah, mereka malah berantem. Gara-gara elo sih! "
"Lah kok gue?!"
"Berisik! " Tiba-tiba semua orang dikagetkan dengan teriakam sang mama tercinta yang berhasil membungkam semuanya. "Duduk! "
"Iya, bu.. "
****
"Sejak kapan kalian pacaran? "
"Baru dua hari. " Syila menyela Yudha menjawab oertanyaan Lian dengan singkat. "Kenapa kamu mau sama dia? "
"Suka suka Syila lah! "
"Asyila! "
"Kakak sih pertanyaannya ga bermutu! " Ketus Syila. Lian memutar bola mata malas. "Eh elu!" Lian menunjuk ke Yudha. "Iya bang? "
"Bikinin gue kopi yang kayak ibu dan istri gue bikin! "
"Hah? "
Syila menepuk jidat, dia melirik Yudha memberi isyarat untuk tidak mengikuti kemauan sang kakak, namun betapa bodohnya lelaki itu yang dibutakan karena cinta mau maunya saja menuruti perintah itu karena takut dipecat jadi calon adik ipar.
"I-iya bang. "
"Cepet! " Lian mengibaskan tangan kanannya menyuruh lelaki itu segera membuatkan dia kopi sesuai pesanan dan kemauannya. Pastinya dibalik itu semua ads rencana terselubung.
"Mampus lo. " Lirihan Alvin terdengar oleh posau telinga itu. gadis itu menatapnya nyalang dan Alvin membuang pandangannya kesamping. "Kak Lian kenapa sih?!"
__ADS_1
"Ngak kenapa napa. "
"Ihh kok, Kak Yudha dijadiin babu! " Alvin dan Lian menatap heran adik mereka, namun dengan versi berbeda. Lian heran kenapa adiknya bisa begini, apakah dia terkena santet bin guna guna dan semar mesem? Sedangkan Alvin heran sekaligus cemburu menyuarakan isi hatinya. "Kak Yudha? Kamu panggil dia kakak? " Syila mengangguk. "Kan dia kating gue. " Jawabnya singkat. "Aku yang kakakmu ga pernah tuh dipanggil kakak,, mesra gitu.. " Alvon memajukan kedua bibirnya. "Dasar tuli! "
"Siapa yang tuli? "
"Ya elo lah! "
"Sst! Jangam berantem! " Seru Lian. "Kakak!" Rengek Syila. "Pacar kamu itu cuma kaka suruh buat kopi bukan disuruh wajib militer, Syila! Kamu ini kena guna guna ya? Ga bisa dibiarin! "
"Ish! Aku mah lebih berguna.. Udah ah, aku mau bantuin Kak Yudha! " Saat Syila akan beranjak pergi Lian menahan dirinya. "Ngapain dibantuin? Udah kamu duduk manis aja disini! " Titah Lian. "Tapi ka-"
"Bang Lian bener sayang, kamu duduk cantik aja. Gausah si baduyud itu kamu bantu dia bukan anak playgroup!"
"Baduyud? "
"Iya! " Serentak kedua kakak itu. Syila hanya bisa geleng-geleng dan kembali duduk.
***
Di tempat yang lain satu sosok wanita dengan kacamata hitam itu bergerak dengan tergesa-gesa mendatangi swotang pria yang sedang duduk santai di ujung cafe menikmati secangkir kopinya. "Je. "
"Uhmm, elo udah datang sayang. "
"Gausah bertele-tele,je. Gue cuma mau bilang sesuatu ini serius!" Lelaki itu melipat tangan dan kakinya. Ekspresi nya berubah. "Apa? Gue ga ada waktu banyak. Lagian kita udah putus kan satu minggu yang lalu. "
"Je, gue hamil. " Satu kata yang membuat mereka membeku dalam panas. Lelaki itu menatap wanita didepannya, nafasnya mulai cepat dengan alis yang saling bertautan dan sebelum dia membalas, wanita itu kembali menegaskan. "Elo sendiri tau kalau elo pertama dan terakhir bagi gue. Gue tahu itu kecelakaan, tapi gue berharap elo mau berta ggung jawab! Gue akan menunggu elo sampai lulus sekolah. " Tak ada jawaban dari lelaki itu. Lidahnya begitu peluh dan rapat. "Gue pergi! " Sepeninggal wanita itu dia masih terjebak dalam pwrgulatan batinnya.
Dia tahu kesalahan tak sengaja itu akan berakibat fatal dan pasti ini akan terjadi. "Apa yang harus gue-"
***
"Ngak enak, ulangi lagi! " Titah Lian. Yudha mulai kesal sebenarnya sudah kesal tapi dia menahannya karena ingin dicap adik ipar yang baik, beginilah jadinya. "Kak Lian, ini udah yang ketiga kalinya kak, jangan buang-buang kopi mubazir! Ayah tahu pasti marah! "
"Itu kopi kakak, bukan punya ayah. " Sahutnya singkat. Syila mendelik. "Ibu nanti marah! "
"Ngak akan. "
"Kak Letha nanti marah! "
"Dia agak kan berani marahin kakak. Dia istri lembut yang baik. "
"Punya istri baik tapi ditinggal terus! " Syila terus misuh-misuh membuat Yudha semakin pusimg, meski disisiain senang karena Syila membelanya namun disisi lain juga dia menjadi merasa lemah. "Saya akan buatkan lagi yang baru! "
"Yudha?! " Lian menyunggikan bibirnya. "Ol, thanks. " Yudha kembali ke dapur dan dia menemukan sosok Aliya yang juga datang kesana. "Bikin kopi lagi? "
"Iya bu. "
__ADS_1
"Disuruj Lian?" Yudha memaerkan senyum pepsodentnya. "Iya bu. "
"ck. ck. anak itu kalau udah usil! Sini ibu bantu! "
"Tapi bu. "
"Nga usah tapi-tapian! Ibu cuma bakal kasih tau step by step aja gimana kopi yang disukai anak usil itu!"
"Baik bu. "
"oya, terus kopi kopi sebelumnya. Saya dan Alvin minum bu. " Aliya manggut manggut dan dia mai memberilan arahan pada Yudha. Setelah selesai dia pun menyajikannya ke depan Lian dan langsung diseruput pria itu. Syila gugup melihat itu, dia ingin semua ini cepat berhenti. "Hm, lumayan. "
"Lumayam enak kan ka? jadi Kak Yudha bisa duduk manis disebelah aku kan? " Syila menyajikan puppy eyes nya pada Lian yang dibalas tatapan datar lalu Lian memutar matanya. "Hm. "
Yudha menghela nafas lega dan Syila pun mempersilahkan dia duduk disebelahnya berbarengan dengan lirikan tajam kedua kakak posesif itu.
***
Jeremi yang telah berada dikamarnya masih melamun sambil berbaring menjadikan kedua tangnnya menjadi bantal. Dia teringat awal lertemuanya dengan Jessica dulu sekitar satu bulan yang lalu. Jessica saat itu adalah teman salah satu wanita Jeremy yang bernama Tia. Tia adalah salah satu wanita yang disukainya tetapi karena penghianatan wanita itu dotambah dengan sikap keras ayahnya yang selalu mengekang dan menikah lagi dengan sekretarisnya disaat ibunya masih terbaring koma membuat dia terjerumus kedalam dunia malam. Saat itu, dia pulang dari sebuah klub dengan keadaan mabuk dan hampir terserempet mobil dan yang menyelamatkannya adalah Jessica.
Jessica tahu bahwa jeremy adalah sang cassanova terlebih dia pernah berhubungan dengan teman satu fakuktasnya Tia.
Flashback on
"Awas! " Wanita itu menarik pria yang berjalan semmpoyongan didepannya. "Elo cari mati! " Serunya. Lelaki itu hanya menatap penyelamtnya dengan datar. "Elo Jeremy kan?! Elo kenapa, mabuk? " Jeremy tersenyum masam. Dia melepas paksa tangannya dari kungkungan gadis itu. "Tia. "
"Tia? Gue bukan Tia! "
"Kenapa elo khianatin gue Ti! Kenapa elo main sama laki-laki lain, dan akan menikah hah?! "
"Itu namanya karma! Padahal elo sendiri playboy ya mana mau si Tia sama elu yang ga serius! " Cerocos Jessica.
"Berisik! "
"Oh elo udah sad-eh, eh, eh, mau apa elo ke tengah jalan sini ga! Sini! " gadis itu menarik paksa lelaki itu. "Gue mau pulang! "
"Kemna ? gue pesenin taksi! " Jeremy menggeleng. "Deket sisni, jalan aja. "
"ok, gue bantu." Dia membopoh tubuh lelaki itu mengalungkan tangn lelaki itu kelehernya dan membopohnya berjalan dan sampailah mereka di satu bangunan bungalau ditengah taman yang lumayan luas. "kunxinya disana. " Lelaki itu menunjuk ke arah pot yang berada dibawah. Jessica mengambilnya dan membukanya lalu membopong kembali lelaki itu hingga ke dalam. "Tia. "
"Udah gue bilang gue bu-ehmph! " Jessica berusaha melepas kungkungan lelaki itu namun nihil, tenaganya tak besar dan akhornya itu pun terjadi.
Flashback off
"Hah! " Jeremy memghela nafas kasar. Dia memeprtahankan hubungannya dengan Jessica karena takut hal ini terjadi, namun entah mengapa dia masih belum bisa setia dengan satu wanita alhasil yang seharusnya jessica tahu bahwa jangan terlalu dalam dan berharap padanya namun membuat wanita itu memutuskannya karena dia bersama yang lain. Dan seharusnya dia juga mengerti bahwa itu karenanya.
Jeremy adalah putra semata wayang Stevano Chow dan Inggrid Astania. Namun, setelah ibunya sakit hubungannya demgan sang ayah memburuk ditambah dia yang menikah lagi dengan sekretarisnya tanpa sepengetahuannya, lalu memaksakan ini dan itu kepadanya. Untuk seorang berjiwa bebas sepertimya , dia pasti menolak dan menjadi hampir tak pernah pulang ke kediaman utama.
__ADS_1