Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
28. Absurdnya Alvin di pagi hari


__ADS_3

Mentari pagi telah menyingsing dari ufuk barat ke ufuk timur, namun cuaca tetaplah terdingin membuatku malas untuk bergeral satu inci pun. Tetapi suara ketukan berhasil membuatnya yang malas itu terbangun. "Sayang! Sayang! " Ck! Syila mencebik, merinding dengan panggilan itu padahal dia sudah mulai terbiasa, tetapi entah mengapa itu masih membuatnya merinding tujuh turunan.


Ckilt!


Syila memutar kenop pintunya. "Hmm?! " Dengan wajah bantal Syila menjawab asal. "Sayang, udah shalat subuh belum? Shalat dulu gih! "


"Hmmm. " Jawab lagi Syila asal membuat lelaki di depannya itu menyengir. "Gemesin deh! " Alvin mencubit lembut kedua pipi gadis itu. "Ish! " Geplak! Gadia itu memukul kedua tangan besar itu. "Galak bener sih sayangku ini. " Syila memutar bola mata malas. "Sana! Gue mau shubuhan! " Bduk! Syila segera menutup pintu kamarnya. "Cih, diusir! " Monolognya dalam lirih. "Awaw ya, ntar kakak bunyel-bunyel kamu lho syang! "


"BERISIK!!" Alvin mengelus kedua telinganya memejamkan kedua matanya setelah menerima serangan suara super ultrasonik itu. Badannya bergidik ketika dia membalikkan tubuhnya. Sepasang wanita dan pria tua tengah berdiri menatapnya. Yang satu dengan keheranan dan kekhawatiran, dan yang satu lagi dengan tatapan tajam khasnya sambil menyingkap kedua lengannya didada.


"Ada apa? Apa ada masalah? " Tanya Maher dengan gelagap. Maria yang berdiri disebelahnya dengan anggun menepuk bahu sang adik. "Tenang dik, tidak terjadi apa-apa hanya saja bocah ini memang biang masalah!" Kata-kata itu membuat Maher tertawa lepas. "Bawahaha, kukira apa! Alvin, kamu memang selalu usil pada adik-adikmu ya haha! "


"Hehe. " Alvin terkekeh. "Adududh! Nenek kenapa ngegepalk kepala alvin sih? "


"Kau apakan lagi adikmu Hah?!" Maher ikutan terkesiap bersama Alvin. "Sudahlah kakaku yang cantik, nanti darah tinggimu kumat! "


"Darah tinggiku memang sudah kumat! "


Tiba-tiba seseorang dengan suara lembut memecah kepanasan diantara mereka. "Good morcning, a-pa aku mengang_gang-gu? " Maria tersenyum dan mengelus wajah cantik bak boneka porselen itu. "Tidak, honey. Good morning. "

__ADS_1


"Dia langsung tenang. " Dalam hati Alvin dan maher. Mereka menghela nafas lega. "Good morning grand pa, kakak! "


"Morning, tumben kamu bangun sepagi ini? " Selena memajukan kedua bibir strawberry nya. "Kenapa harus buka kartuku?" Selena melirik Alvin. Mager yang mengerti langsung terkekeh dan mengelus kepala sang cucu. "Morning. " Sahut Alvin. Selena beringsut memegang kedua tangan lelaki itu bersamaan dengan kluarnya Syila dari kamar.


"Eh, selamat pagi! Kok pada ngumpul disini? "


PoV Selena


Dia terbangun lebih pagi dari biasanya ,bersemangat menyambut hari yang baru. "Eung! " Selena meregangkan tubuhnya mengangkat kedua tangannya. "Hah!" Dia mengha nafas lega, dia beranjak dari temoat tidurnya turun berjalan ke bilik mandi unruk membersihkan diri. Berselang cukup lama, kini Selena telah tampil memukau. Dia keluar dari kamarnya dengan wajah yang cerah. Dia berniat pergi mengunjungi Alvin, tetapi ternyata lelaki itu telah bangun berdiri di deoan sebuah pintu berwarna cream dengan aksen kayu yang indah. lSayang! Syang, bangun! " Seruan itu terus vergejolak didalam kepalanya membakar kedua telinganya. Membuatnya menghentikan langkah bahagianya. "Sayang, bangun ini udah subuh!" Sekali lagi dia terbakar, namun ketika lelaki yang merasa diawasi itu melirik, kedua kakinya bergerak sendiri untuk bersembunyi.


Sayang..


"Ada apa? Apa ada masalah? " Tanya Maher dengan gelagap. Maria yang berdiri disebelahnya dengan anggun menepuk bahu sang adik. "Tenang dik, tidak terjadi apa-apa hanya saja bocah ini memang biang masalah!" Kata-kata itu membuat Maher tertawa lepas. "Bawahaha, kukira apa! Alvin, kamu memang selalu usil pada adik-adikmu ya haha! "


"Aduh! Nenek nih kasar kali lah! " Alvin memajukan bibirnya mengelus kepalanya yang digetok sang nenek. "Sudahlah, yang pentingkan tidak terjadi apa-apa. Nanti malah darah tinggimu kumat loh, kak. "


"Hah! " Maria membuang nafas kasar. "Darah tinggiku memang sudah naik kalau liat anak ini! "


"Aw! Dicubit pula lagi! " Saat suasana sedang geram-geramnya, tiba-tiba saja kaki gadis bergerak sendiri. Dia tidak mengerti, namun dia meninggikan egonya.

__ADS_1


Maria tersenyum dan mengelus wajah cantik bak boneka porselen itu. "Tidak, honey. Good morning. "


"Dia langsung tenang. " Dalam hati Alvin dan maher. Mereka menghela nafas lega. "Good morning grand pa, kakak! "


"Morning, tumben kamu bangun sepagi ini? " Selena memajukan kedua bibir strawberry nya. "Kenapa harus buka kartuku?" Selena melirik Alvin. Mager yang mengerti langsung terkekeh dan mengelus kepala sang cucu. "Morning. " Sahut Alvin. Selena beringsut memegang kedua tangan lelaki itu bersamaan dengan kluarnya Syila dari kamar.


"Eh, selamat pagi! Kok pada ngumpul disini? "


Syila yang baru keluar dari kamarnya terkejut melihat semua anggota keluarganya berkumpul ria didepan kamarnya. Selena langsung merangkul lengan kanan Alvin menyenderkan kepalanya ke bahu lelaki itu. "Kakak, ayo kita jogging! " Ajaknya. "Uhm, ayo! Sayang, kamu mau ikut? " Alvin mengajak Syila. Disisi lain Maher melirik Maria yang dibalas anggukan oleh wanita tua itu. Syila melirik gadis yang masih melenggut di bahu Alvin. "Kayaknya gue gak ikut, dingin! " Syila memeluk tubuhnya sendiri. "Dengarkan, dia ga mau ikut. jadi kita aja yuk! " Selena sedikit menarik lengan Alvin. "Ah ok ayuk! "


"Grandpa \nd Grandma, kami jogging dulu ya!" Setelah mereka pamitan, Syila mendekati sang nenek. "Nek, boleh ga Syila masak? " Maria melebarkan kedua bola matanya. "Masak? " Syila mengangguk. Maria melirik pada sang adik. "Tidak perlu cantik, sudah ada maid dan chef dirumah ini. " Syila membuang nafas pendek. "Mending kamu ikut nenek aja! "


"Kemana? " Tanpa menjawab, Maria telah menggirimg cucunya bersama dirinya. "Aku pergi dulu! " Maria menoleh ke belakang sejrnak, dan diangguki oleh Maher. Disepanjang jalan Syila terus bertanya. "Diam ikut saja nenek! " Tetapi Maria telah membungkamnya sehingga dia beralih, bertanya-tanya dalam hatinya. Saking masuk kedalam dirinya sampai-sampai dia tidak sadar bahwa mereka telah berhenti. "syila?! " Seru Maria membangunkan lamunannya. "Eh?"


"Kamu ngelamunin apa? " Syila menggelengkan kepalanya. "Ngak, kok. " Maria geleng-geleng. "Yasudah ayo masuk! " Mereka memasuki sebuah gedung tinggi bertingkat berwarna putih dan tibalah mereka di sebuah ruangan yang terlihat terjaga privasinya. Disana terlihat seorang pria yang terbaring diatas kasur queen size didalam ruangan yang cukup mewah dengan banyak selamg infus dan oksigen yang terpasang. "Itu.." Lirih Syila. Maria memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali dan menggiring Syila ke sisi ranjang itu. "Aku telah membawanya kemari. "


***


"Woah! Udaranya segar ya, kak! " Selena berbalik dan senyum merekahnya kembali berhenti. "kak alvin? "

__ADS_1


"Sel, bisa antar gue ke tempat itu? "


__ADS_2