Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
35. Apa??


__ADS_3

Hai, SHB belum tamat ya! masih on going! xuma Karena satu dan lain hal, ditambah aku bakalan operasi diwaktu waktu dekat kalau dan takut jarang update lagi kaya kemarin2 dan takut dpt notif poeringatan makanya aku buat tamat tapi aebenarnya belum.


jadi mohon dimwngerti


AKU BINGUNG LAGI BUAT JUDULNYA APA? WKWK.


Selamat membaca!


*******


"Kenalin saya Yudha, kakak kelas Syila sekaligus pacar Syila!" Seketika ibu dan anak itu terbelalak secara bersamaan. "Pacar?! "


Yudha terkekeh. "Heheh, kompak banget." Syila dengan sigap menarik Yudha dan menepuk lengannya. "Kenapa elo bilang gitu!"


"Syila,kok main pukul pukul orang?! " Aliya kembali menengahi. "Iya nih tante, Syila mah suka gitu ringan tangan. " Ucap lelaki itu sambil melirik usil, dia melihat dari ekor matanya wajah menyeramkan gadia itu. Tapi mwnurutnya itu menggemaskan.


"Maafin Syila ya nak Yudha, dia mah anaknya manja sama emosian." Sahut Aliya dengan lembut. "Gapapa tante, gemesin kok. " Aliya yang mendengar itu melebarkan matanya menahan tawa. "Yaudah, ayo masuk dulu! "


"Siap, tante! " Aliya membawa Yudha masuk kedalam rumahnya, dan Syila sudah pasti tidak dapat menghalaunya. "Kenapa jadi gini?!" Lirih Syila. Dia menggaruk pucuk kepalanya. "syila! " Aliya membuyarkan lamunanya. "Kamu ga akan masuk?"


"Masuk. " Dia pun mengikuti sang ibu yang menggandeng mesra Yudha. Di dalam sudah ada Gian yang asik membaca koran. Pria itu menyimpan kertas bacaan itu setelah melihat ada seorang anak lelaki memasuki rumahnya dan langsung menciumi punggung tangannya. "Halo, om saya Yudha pacar Syila." Seketila Gian membelalak lalu melirik sang putri yang membuang muka ke samping. "Ehhm, oh gitu." Jawabnya singkat membuat Yudha jadi salah tingkah. "Kamu ga salam sama ayah? " Gian yang mengalihkan pembcaraan, menghadap sang putri. Syila pun langsung mencium tangan ayahnya.


"Ya sudah, duduk dulu. Tante buatin minum."


"Gausah tante, ngerepotin! Yudha ga lama kok. "


"Gapapa lama juga, ga ngerepotin. " Aliya begitu sumringah dengan kwdatangan lelaki itu , disisi lain Gian terus menelisik kedua remaja didepannya yang membuat mereka tegang.


"Ayah, jangan bikin mereka takut atuh! " Bisik Aliya membuat Gian berdeham. "Ehhm."


"Tante buat minum dulu ya. "


"Makasih banyak tante. " Aliya menangguk. "Ayah, mau dibuatin juga? " Tanya aliya. "Kopi biasa, uhm tapi ayah mau ke taman belakang kasih makan si beno. Ayah tinggal dulu."

__ADS_1


"Iya om. "


Sepeninggal Gian dan Aliya, Syila pun langsung mengeluarkan jurus protes miliknya. "Aw!" Syila menamoar paha Yudha. "Kenapa malah pacar, sialan!"


"Sstt! " Syila terkesiap karena lelaki itu -tiba-tiba saja menempelkan telunjuknya dibibir Syila. "Jaga bibir cantikmu, sayang." Syila langsung menepis jari itu membuang dari wajah dan bibirnya. Yudha masih dengan wajah datarnya menatap dalam gadis itu. "Sayang pala lu peyang!" Syila mendelik. "Sejak kapan? Jangan owmaksaan! Elo gatau tentang Hak asasi manusia ya! " Blablablaa..


Yudha masih menatap dalam gadia yang masih terua berceloteh itu, dan sesekali tersenyum kecil. Menyadari bahwa tidak ada respon dari lelaki itu, Syila mebghentikan misuh-misuhnya dan menoleh kearahnya. Baru saja akan berkata, Aliya telah datang dengan nampan nya membawa dua cangkir teh dan juga sepiring tahu isi goreng yang masih hangat diletakan dimeja itu. "Silahkan dicicipi."


"Makasih banyak, tante."


"Tante, tinggal dulu ya mau anter kopi ke ayahnya Syila. "


"Siap, tante! "


"Kapan pulang? " Tanya Syila dengan suara rendah. "Kamu ngusir aku? Padahal tahu isi mama camer enak! " Yudha mwngunyah tahu isi itu. "Uuh, nanas! fwhu, fwhu! " Yudha meniup tahu isi yang mengebulkan asap itu. Syila mendelik.


"sejak sekarang kita adalah pacar. " Yudha kembali bersuara. "Itu sih elo aja." Yudha tak jadi mengambil gorengan keduanya. Lelaki iru mengambil kedua tangan Syila dan mengelusnya. Syila berusaha mebepisnya namub sulit, dia mengangkat wajahnya membalas tatapan lelaki itu. "Yudha."


"Basi."


"Huh, Syila pliss jangan buat cerita ini menjadi drama romantis yang membosankan!"


"Emang iyakan, gombal bualan! "


Lagi-lagi Yudha membuang nafasnya, lalu menyenderman diri ke wajah sofa sederhana itu. "Terserah kamu deh. "


"Ish, ga ada usaha! " Mata Yudha membelalak dengan ocehan gadis yang menurutnya menggemaskan itu. "Tadi katanya ga percaya, ga mau, ngusir.."


"Elo cowo tapi sensian sih! "


"Karena aku manusia yang memiliki perasaan, sayang!" Yidha mencubit wajah Syila lembut. "Ish, diem ga! "


Yudha mengulum senyumnya dan menyenderkan diri kembali. "Terus maunya gimana? Aku gamau diharkosin ya! "

__ADS_1


"Siapa juga? "


"Kamu. "


"Ngak! "


"Tuh kan marah lagi. "


Syila menghela nafas. "Nyebelin. "


"gemesin. " Syila mendelik. "La."


"Hmm. "


Yudha menegakkan tubuhnya menangkap wajah syila yang diarahkan ke matanya. Dia menelisik wajah cantik itu. Mata coklat, hidung yang tidak begitu mancung namun ramping, bibir pink yang mungil dan sedikit berisi dan alis yang rapi. "Untuk yang terakhir kalinya, plis jadi pacar aku. " Entah mengapa kali ini jantungnya begitu berdegup kala lelaki itu menatapnya, namun dia kembali tersadar dan melepas tangkapan itu. Membuang kedua tangan yang lebih besar itu dari wajahnya.


"Lepas!" Kali ini Yudha mengalah dan menuruti kemauan gadis itu. Dia menywnderkan bahunya ke wajah sofa. Dia masoh menatap Syila yang menyembunyikan wajahnya. "Syila." Syila masih enggan menatap lelaki itu, dia masih mengatur ritme jantungnya agar kembali normal.


"Waktu elo pertama kali datang ke sekolah kita. " Yudha menjeda. Disisi lain, Syila memberanikan diri melihat dengan ekor matanya, dikarenakan nada bicara lelaki itu yang kembali ke awal. "Entah kenapa gue langsung penasaran sama elo. Jujur, gue emang cuma mau main-main sama elo pada awalnya, tapi-" Yudha tersenyum kecut. "Sekarang gue sadar bahwa gue bener-bener suka sama elo, Syila. Itu muncul ketika Mikha ngaku kalau kalian pacaran, entah mengapa saat itu hati gue panas, jiwa gue memberontak mendengar itu!" Yudha menarik pelan tangan Syila kedalam genggamannya. "Syila. "


Syila menolehkan wajahnya kedalam pandangan lelaki itu. Dia menatap tajam dengan wajah yang datar pada lelaki itu. "Maukah kamu jadi pacar aku? "


"Kalau ga ada jawaban, artinya iya. " Syila mengangkat wajahnya, dia ingin menolak tapi entah mengapa mulutnya fterus membungkam dan rapat. "Sorry, kalau maksa. Tapi.. Gue ga mau gila karena penolakan elo lagi. Yahh, lagian orang tua elo juga taunya kita pacaran kan? Hehe! " Syila melepas genggaman Yudha dan mendelik pedas. "Jutek amat pacarku. "


CUP.


Syila membelalak saat Yudha mencium pipinya, mereka tidak tahu bahwa dibalik dinding tebal itu ada yang melihat. Dan


PRAK!


"Yudha! " "argh!"


Alvin yang baru datang langsung menggeprak kepala Yudha dengan tangannya. "Apa-apaan elo cium-cium adik gue! "

__ADS_1


__ADS_2