Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
75. Kontradiksi


__ADS_3

sebelum akhir pekan..


''Apa rencana itu berhasil?'' Seorang lelaki berdiri dalam kehelapan dengan satu cahaya bulan yang merasuki jendela kamarnya. ''Bukankah elo sidah melihatnya?'' Lelaki yang jadi lawan bicaranya itu menyakui sebelah tangannya. ''Jawaban itu belum memuaskan gue.''


''Apa boleh gue bertanya?'' Sirat mata itu mengisyaratkan kebolehan.' ''Kenapa elo melakukan hingga sejauh ini? Bukannya dia-''


''Apa salahnya melihat orang yang kita cintai bahagia? Walau tidak menjadi bagian dari kita. Gue cuma ga mau dia dipermainkan, gue mau melihat kepastian dan pendirian mereka. Bukankah elo juga akan melakukan hal yamg sama karena elo juga punya perasaan itu? Terbukti dari kesediaan elo direncana ini!'' Lelaki itu menyunggingkan sisi bibirnya. ''Tqpi bukankah elo juga mempermainkan perasaan seorang gadis?''


***


''Bwahahahaha!'' Deztha gak dapat menahan tawanya dam lepas. '' ish, malah mngetawain!'' Dzestha mengelap air matanya. ''Sorry, sorry. Habisnya ya akhirnya kamu tau betapa kesalnya aku apabila sama dia.'' Renita mendelik pedas sang kekasih yang malah mensyukuri rasa kesalnya. ''Makanya aku kabur pagi-pagi !''


Renita menautkan alisnya. xMaksud kamu?''


''Eh,keceplosan!'' Lelaki itu menutup mulutnya dengan senyum tertahan. ''Gausah sok pura-pura ,aku tau kamu sengaja pamer!''


''Ihh kamu kalau marah gemesin..''


''Gausah gombal!''


''Iya,iya. Jadi, si dzith itu udah ajak gue dari bari kapan buat twins dating gitu katanya lagi musim. Kam geli aku, jadi waktu kemarin aku kabur aja sebelum dia siap!''


''Kabur kemana?''


''Ke rumah Adam , sekalian ikut nge gym sama dia!''


''Oh jadi gitu. ''

__ADS_1


''Eh?'' Gadis berkacamata itu telah berdiri tegap dengan kedua tangan melipat didada sambil manggut-manggut. ''Gitu ya.'' Dzith memutarnya dan duduk disebelahnya menempel. Dzestha melirik Renita yang dicueki kekasihnya itu. ''Kalian kerjasama ya?'' Tanya lelaki itu dengan suara tertahan. ''Gue? Sama dia? Hah, ngak!'' Jawab kedua gadis itu. Dzestha membuang nafas kasar dan mengagruki keningnya. ''Kalian ini!''


''Guys!'' Syria melambaikan tangannya pada mereka berjalan dengan girangnya mendatangi mereka. ''Kalian, kok nga ngajakin aku sih?!''


''Tadi kam elo masih dikelasnya Pa Brata!''


''Iya nih gara-gara pasha jadi lama keluar! Dia sih malah main-main dan nakal ditambah pula ga ngerjain tugas!''


''Ya udah, nih gue beli ini kebanyakan.'' Dzith yang mengangkat sekantung plastik gorengan menepuki tempat duduk mereka tanda pengajakan. Syria pun ikut duduk bersama mereka. Ketiga gadis itu nampak menikmati gorengan hangat itu,namun tidak dengan satu-satunya lelaki di sana. ''Ah, ga jadi deh berduaan!'' Gumam Adzestha dalam hati.


***


''Kenapa jadi mendadak?!'' Pekik Kaina. ''Tidak,bukannya memang sudah mita rencanakam dari sebelumnya, ini hanya ditunda saja..''


Dada gadis itu menurun dan nampak kecewa mengundang tanda tanya dari sang ayah. ''Bukankah dulu kamu yang mau segera pindah berdua dengan Mikha?'' Gadis jtu tak menjawab dan hanya melirik tajam lalu pergi ke kamarnya mengundang gelengan dari sang ayah. ''Dasar anak itu!''


Dia menutup.pintu kamarnya keras hingga terdengar ke kamar sebelah dimana itu adalah kamar milik Mikha. Ya ,semenjak itu orang tua Mikha telah pindah ke Negara sakura untuk mengurus perusahaan mereka, dan Mikha diperintahkan untuk tinggal dengan keluarga Kaina. Awalnya gadis itu sangat senang akan itu,tetapi lama kelamaan entah mengapa melihat perubahan Mikha entah mengapa dia senang tapi juga merasa kalah.


''Ngak! Kita bakalan pindah!'' Mikha membuang nafas kasar. ''Terus?'' Tak ada jawaban dari pemilik kamar itu. ''Kalau berubah pikiran lebih cepat lebih baik!'' Kaina sudah terbiasa dengan sikap dingin dan omongan pedas lelaki itu,tapi entah mengapa belakangan ini dia menjadi sebal tapi juga dia tidak mau terlalu diposesifi. Entah apa yang membuat Mikha mau menuruti samg ayah, entah apa yang merasuki dirinya dan Mikha. Entah ini kontradiksi macam apa.


***


''Bukankah elo juga mempermainkan perasaan dia? Perasaannya Syria.'' Langkah itu terhenti awal-awal ingin sembunyi-sembunyi lewat setelah mendengar nama seorang gadis. ''Gue ga pernah mempermainkan dia, gue benar-benar mencintainya!''


''Tapi itu malah seperti elo menjadikannya pelampiasan. '' Dia akhirnya menatap nyalang lelaki dihadapannya. ''Seperti yaudahlah gue mengalah dan menyerah gue cari yang lain dan TEK!'' Remaja lelaki itu mengetikan jarinya.


''Tapi gue ga bisa membohongi perasaan gue. Soal Rya maupun Syila! Lagi pula gue udah menyerah terhadap Syila semenjak dia dan Yudha udah jadian, dan sejak itu pula sosok Syria muncul. Tapi gue hanya ga ingin anak itu terus-terusan dibuat kebingungan dengan seorang lelaki yang bahkan sudah dijodohkan. Ini balasan gue karena gabisa menghentikan setiap perjodohan orang yang dia sayang!''

__ADS_1


''Makanya elo melakukan ini? membuat Yudha ataupun Mikha memilih yang mana agar salah satu dari kedua gadis itu bisa menerima walaipun elo udah tau kalau para tunangan itu ga akan tinggal djam?'' Mereka saling menatap tajam.


''Bukankah elo juga akan melakukan itu? Menjadi sosok pelindung bayangan?''


xTapi bukan itu cara gue!''


Sosok yamg sedang dibicarakan mereka sudah semakin apanas dan ingin sekali menggeliat keluar dari lubang ,berteriak ke mereka dan membuat mereka menjelaskan secara langsung dam rinci. Tapi..


''Kalau itu gue, gue akan membiarkan mereka dan membuat dia jadi milik gue walau dari bayangan dan kegelapan sekali pun.'' Kata-kata itu membuat Syila terhenti. Maksudnya apa?


''Tapi, gue ga merasa bersalah telah melakukan ini! Gue jadi tau kalau perasaan itu memang mudah berubah.''


''Berarti kaliam dan perasan yang elo semua punya itu lemah.''


''Bukan, tapi karena kita harus melindungi apa yang kita sayangi.''


''Dengan mengorbankan orang lain?''


''Bukankah elo juga begitu?''


***


Akhir pekan telah usai hari senin telah merayu untuk kembali. Walau mata belum sepenuhnya sudi membuka di waktu pagi, namun harus tetap siap siaga menjalani hari.


''Kak Cila kenapa? Nga enak badan? '' Semua ikut menoleh ke arah Syila dengan Haru. ''Muka elo pucet tuh.'' Sambung Nobel. ''Kalau nga enak badan istirahat aja, mungkin sebentar lagi Rana, Risa balik!'' Suruh Alethia.


''Uhmm, ga apa-apa kok. Gue cuma lagi mumetnya mau ngerjain tugas dari mana dulu saking banyaknya.'' Anak-anak manggut-manggut. ''Tapi,sebaiknya duduk dulu biar kita yang terusin.'' Suruh Haru.Club schole ini memang sedamg mendapat tugas membersihkan taman dari kepala sekolah agar tidak terlihat seperti klub pengangguran katanya. ''Huh, napa jadi gini sih?! Ini klub membaca bukan klub bersih-bersih! ''

__ADS_1


''Elo mau teriak sampe ujung dunia pun, protestan elo ga akan didemger! toh anak-anak terima-terima aja! Ketua kita juga!''


''Fyuhh!''


__ADS_2