Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
11. Berbagi Jiwa


__ADS_3

"Hmmm, dokter apakah jantungku sehat? " Bian menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa bertanya tentang itu? "


"Apakah aku tidak boleh mengetahui kesehatan jantungku? "


"Tentu, jantungmu semakin sehat. Kamu semakin pulih. " Gadis kecil itu tersenyum kecil. "Tuan bie. "


"Hmm? "


"Jika aku mati, tolong donorkan jantungku pada anak kecil bernama Syila. " Bian menghentikan gerak geriknya, mendongakan wajahnya menatap gadis itu. "Beth.. "


"Aku tahu, tapi kita tidak akan pernah tahu. " Lirih Elizabeth dengan lembut. Dokter muda itu menatap anak yang dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya dengan sendu. "Jangan menatapku seperti itu! Sebegitunya kah kau menyukaiku?"


Bian seketika terkekeh mendengar dengusan itu. "Hai bocah, kau fikir aku pedofil! "


"Lagian menatapku sebegitunya."


"Beth, tapi.. apa kau serius? " Beth mengangguk. "Tapi kau sudah lebih baik dan pastinya akan selalu begitu. " Beth memandang Dokter itu memegangi tangan besarnya."Aku mohon. Huh, aku tau kau dan yang lainnya begitu mencemaskanku dan ingin aku kembali sehat. Tetapi keputusanku bulat, walau bukan anak itu aku ingin tetap mendonorkan organku yang sehat untuk orang lain yang membutuhkan. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan. " Dokter itu menahan haru pilunya. "Kau harus mengatakannya pada keluargamu bukan aku. "


"Tapi kau keluarga aku juga. " Bian tersenyun lebar. "Sudah selesai, istirahatlah! Oya, dimana elsa aku tidak melihatnya sedari tadi?"


"Kau sudah tahu jawabannya bukan? "


"Hahahah, iya juga. " Di tempat lain wanita berusia dua puluh lima tahun itu masih asyik makan dan bercengkrama bersama seorang dokter dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


***


Hari ketujuh kala itu Elizabeth dipulangkan, namun ditengah jalan dia dan Elsa disambut sebuah kecelakaan lalu lintas yang hingga kini masih belum tuntas. Elsa sang pengasuh masih terbaring lemah dikasur pasien. "Siapa yang melakukan ini semua? " Lirih Bian dan satu lagi pria. Disisi lain, di kediaman keluarga Wales, Pemakaman Elizabeth ditunda karena Will sang kakak memberitahukan pada sang nenek Jane tentang donor itu.


Itu menjawab kedatangan jasad Beth yang terdapat bekas jahitan di bagian dada. "Jadi jantungnya sudah tidak ada? " Remaja berusia empat belas tahun itu menagngguk. "Elsa masih belum sadar, tapi dokter Bian yang menceritakannya padaku dan mengirimkan ini satu jam yang lalu. "


"Aku akan menunda Pemakaman ini! Aku harus menemui pihak rumah sakit!" Jane meninggalkan rumah duka bersama asistennya. Mereka menemui pihak rumahbsakit dan juga Bian. Bian menceritakan semuanya. "Lalu dimana anak itu? "


"Kami akan mengantar nyonya kesana. " Seorang suster mengantar Jane ke tempat Syila di rawat, bertemu keluarganya dan berbicara. Hingga Satu hari sebelum operasi. Maria berkunjung lagi kesana untuk menjenguk. Disana juga ada Jane. "Semoga jantung cucuku menjadikan nyawa itu lebih indah. "


"Terimakasih nyonya atas kebaikan anda. " Sahut Gian dan juga Aliya. "Ya. Syukurlah cucu saya mendapatkan pendonor, kami sangat berterimakasih. " Sambung Maria.


"Hmm, kalau begitu saya pamit karena pemakaman akan dilaksanakan sebentar lagi."


Maria pun kembali ke ruangan Alvin yang sudah dua hari sadar. Dia melihat dokter yang terburu-buru masuk membuatnya ikut bergegas. Dia melihat cucu laki-lakinya kejang membuatnya murka. "Apa lagi yang kamu lakukan?! "


Alya tampak gemetar. bibir keringnya berucap pelan. "Aku tidak melakukan apapun bu, dia terus menenanyakan Dean aku bilang dia masih bekerja dan akan datang nanti sore lalu dia berteriak dan langsung kejang lagi. " Huh! Maria membuang nafas kasar. Alvin yang sudah terlelap diusap lembut wajahnya. "Kau pulanglah dulu, lihat tampangmu sudah kacau begitu. " Alya menggeleng. "Tidak bu, saya ingin tetap disini. "

__ADS_1


"Alya! Kau harus berisitirahat, kalau tamoangmu begitu yang ada putramu akan semakin takut! Pulanglah, kembali lagi bersama suamimu nanti, aku akan menyuruhnya. Sekarang pulanglah bersama supirku. " Alya pun menurut. Saat dia akan keluar, langkah lemahnya terhenti dan membuatnya semakin berat setelah mendengar gigauan anak itu. "Mama, pembunuh! Pergi! Pergi! "


"Ssst, sstt, cucu nenek.. tenanglah.. tenanglah..Apa belum bereaksi obatnya? "


"Mungkin menjadi lamban, nyonya, saya akan menaikkan dosisnya sedikit. ".


"Baiklah, Kau jangan menangis terus keluarlah! " Alya pun pergi meninggalkan tempat itu.


Di ruang operasi, operasi masih berjalan.


***


Keadaan Renita pun semakin membaik, setelah dua hari Syila dioperasi akhirnya dia pun meminta ingin melihat sahabatnya walau sebentar. Dia bersama orangtuanya datang menjenguk. "Rere, kamu datang, nak. " Aliya mengelus lembut kepala Renita. Anak itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil. Ya, setelah kejadian itu Renita terguncang mentalnya sampai tidak ingin keluar rumah dan terus mendapat perawatan dari psikiater.


Tujuh tahun kemudian..


Alvin pindah bersama sang nenek setelah kematian sang ayah Dean yang menderita kanker paru-paru. Sedangkan Alya, dia tinggal di sanitarium kejiwaan karena sakit.


Saat itu dia mendengar bahwa Syila dan keluarganya pun pindah kesini. Namun, dia tidak pernah menemuinya. Suatu hari, dia dengan tidak sengaja menabrak seorang gadis di hari minggu.


Bruk!


"Saya gak ap-Kak Alvin?! " Sontak Renita terkejut melihat sosok yang menabraknya.


"Renita, kamu Renita kan teman Syila? " Gadia itu mengangguk. "Kakak? "


"Gue tinggal di ujung sana. " Alvin menunjukkan sebuah perumahan yang tertutup gerbang hijau. "Elo juga? "


"Ngak, Rere habis beli puding di toko itu sekarang mau jenguk Syila dia sakit."


"Dia sakit?! Kalau gitu gue ikut jeng-"


"Jangam! "


"Kenapa? "


"I-itu, Syila pasti udah lupa sama kakak karena dia juga masih lupa sama aku. "


"Maksud kamu? "


Flashback on

__ADS_1


Empat hari setelah Syila dioperasi transpaltasi jantung akhirmya dia pun tersadar. Semua sangat senang, bahkan Maria mengunjunginya tidak dengan Dean karena dilarang oleh Alya. Namun, dia tidak ingat siapapun termasuk kedua orang tuanya. Gian dan aliya juga kakaknya Lian dan sahabatnya Renita. "Masa Syila ga inget sama Rere? Hik.. Hik.." Syila hanya memasang wajah datar. "maaf. "


Setelah hampir dua minggu dirawat akhirnya dia di izinkan untuk pulang. Dia selalu dibantu untuk berbaur dan tidak memaksa untuk mengingat. "Kita temenan dari TK nih foto kita! " Rere yang bersemangat ketia Syila bertanya tentang itu. Dia melihat foto-foto uang diberikan gadia kecil itu. "Jadi ini kita? "


"Ya. "


Mereka juga tidak membicarakan tentang kecelakaan itu. Ketika Syila menanyakan kenapa dia bisa ada dirumah sakit, Aliya menjawab. "Karena kamu sakit, dan tertidur untuk waktu yang lama. Kamu ingat nenek Jane yang menjenguk? " Syila mengannguk. "Cucunya sudah membantumu. " Aliya memegang jantung Syila, Syila mengikuti memegang dadanya. "Apa aku boleh melihat dia? "


"Nanti ketika kamu sudah besar ya. " Syila mengangguk.


Flashback of


"Jadi begitu. Jadi dia juga.. "


"Maaf kak, seperti kita yang masoh sedikit trauma. Syila juga tetapi parahnya dia tidak ingat apapun dan hanya mengagap itu mimpi buruk. " Ya, Syila sering bercerita bahwa dia bermimpi ditabrak mobil bersama bocah laki-laki.


"Maaf, tapi bisakah kakak tidak menemuinya dulu. Apa kakak ingat dia tiba-tiba histeris melihat kakak lima tahun yang lalu padahal dia tidak ingat apapun? "


"Ah, benar juga. "


Flashback on


Dua tahun setelah kesembuhan Syila, tiba-tiba dia mengeluh sakit pinggang dan Punggung dan ternyata dua ginjalnya sudah rusak.


"Hik, hik, sakit bu! "


"Kamu sih ibu bilangkan jangan banyak minum minuman kemasan! mana gak minum air putih, susah banget kalau diauruh! "


"Huwaa!"


"Sst, jangan menangis sayang. " Sela Gian. "Sudah sayang, jangan emosi dulu.. "


***


"Alvin juga mau ikut! "


"Yasudah kita berangkat! " Maria mengagandengnya bersama keluar karena Alvin yang tidak mau ditinggal bersama pengasuhnya.


Sesampainya disana. "Syila! " Gadis itu menoleh ke arah Alvin saat sedang asyik bersama Renita. Namun, setelah Syila melihatnya dia Tiba-tjba berteriak.


Flashback of

__ADS_1


__ADS_2