
Waktu istirahat tiba. Martha langsung berlari kecil dan menggandeng tangan Syila yang masih duduk dikursinya. "Ayo! " Ajaknya. "Semangat amat, mau kemana sih?"
"Rahasia. Nanti juga elo bakalan tahu! " Syila tak berkata apapun dan hanya mengikuti gadis itu berjalan disampingnya. Awalnya Syila biasa-biasa saja, tetapi setelah mereka jauh ke belakang sekokah dan ini hampir menuju ke luar sekolah barulah Syila membuka suara. "Sebenarnya kita mau kemna? Ini kok-" Sebuah jalan yang tidak pernah diketahui sebelumnya, jalan kecil ditengah labirin. Ada sebuah pintu kayu tua yang tertutup dedaunan merambat yang terkunci rapat dan hanya dapat dibuka dengan kunci yang tidak biasa, dan Martha memilikinya. Tidak ada jawaban dari gadis itu akan pertanyaannya, Syila pun terus mengikutinya hingga mereka tiba di depan sebuah paviliun kecil bagai rumah ala eropa yang kecil dipedesaan. "Ayo masuk! " Martha membukakan pintu itu membuat orang-orang yang ada didalamnya menolehkan pandangan mereka. "Hai, guys! Aku bawa anggota baru kesini!" Seru Martha.
"Ehh??" Sontak Syila menoleh ke sampingnya begitupun para lelaki itu. lHmm? " David memiringkan wajahnya. "Koko! " Martha berlari kecil menghampiri sang kakak, berdiro di hadapannya lelaki dengan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya, menengadahkan wajahnya keatas sedangkan David menundukan wajahnya. "Bolehkan?"
Melihat senyum yang bersinar itu membuat David yang terlihat acuh mengiyakan permintaan sang adik. "Hm. "
"Bang! Kan..Woy, ini bukan klub minum teh anak cewe! " Protes Rama pada Martha. Martha melongoskan mukanya ke arah lain. "Ini juga bukan acara minum teh buat anak bayi! " Balas Martha. Mereka berdua memang tom dan jerry bila bertemu. Sejak kecil Rama dan Martha yang sama-sama manja dan suka bersaing selalu adu mulut ketika dipertemukan. "Apa elo bilang gue bayi, dasar zigot! "
"Fuihh! " Martha berpura-pura meludah ke wajah Rama. David membuang nafas kasar hingga Hari membuka pembicaraan. "Udah, udah, lihat dia bingung tuh. " Seketika Rama dana Martha menghentikan adu argumen mereka dan menoleh kepada Syila yang terus tak dapat berkata-kata hingga suara itu keluar dari mukutnya. "Maksudnya apa? " Syila melirik tajam Martha. "Mei, apa kamu tidak cerita dulu sebelum bawa dia kesini?" Tanya David dengan tenang. Martha malah terkekeh mendengar pernyataan kakaknya itu dan menggeleng malu. Martha melirik sang kakak melihat wajah tenang itu memiliki arti sendiri. David yang terus menatap datar sang adik hanya diketahui sang adik maksudnya.
"Syil, ini klub pribadi mereka Sweet heart boys!" Syila menyela. "Sweet heart boys? " Martha mengangguk, ketika ia akan kembali bicara Yudha menyelanya. "Itu nama yang dia kasih asal." Martha mendengus kesal. "Tapi suka kan? Wlee! " Martha menjulurkan lidahnya mmengenye-ngenye. Syila kembali tercengang bukan karena sweet atau apalah itu, tetapi lebih ke sisi gadis itu yang baru saja dia lihat. Secara Martha yang selama ini dia kenal adalah sosok sempurna yang anggun dan karismatik namun ramah. "Kembali lagi, ini bukan klub ekskul atau apapun.. Sst! Gue belum selesai! Tapi gue mau elu jadi anggota baru disini dan koko udah bolehin tapi dengan satu syarat elo harus rahasiakan rentang ini pada siapapun, tempat ini, semua termasuk ke sahabat elo itu. "
"Tapi gue belum bilang mau gabung kan, tapi gue terkejut kok." martha tersenyum kemenangan. "Elo pasti suka, sebenarnya ini bekas perpustakaan tua yang dikelola kami menjadi tempat ini. Elo bilang hanya ingin membaca buku dikala penat belajar bukan? Ini tempat yang cocok, dan gue juga butuh temen cewek kali! " Martha bergelanyut Manja ke lengan Syila. "Tapi kenapa gue? " Baru saja Martha akan menjawab tiba-tiba pegangannya terlepas karena Yudha yang tiba-tiba menarik Syila ke dekapannya dan memojokkannya ke pintu.
Martha yang melihat itu menutup mulutnya tertegun begitu pun yang lain yang kangsung termangu. "Mau ga mau elo harus ga-Arghh! " Syila menendang tulang kering Yudha hingga tergopoh. "Apa yang elo lakuin sama kakak gue?! " Rama yang langsung mendatangi Syila. Gadis itu mendongakan wajah dinginnya dan menatap nyalang. "Elo mau juga? " Suara itu begitu dingin, Rama yang memandanginya dibuat bergidik ngeri. "Ng-gak. " Rama langsung membawa Yudha namun ditepis olehnya. "Elo! " Yudha memantap nyalang gadis itu. "Apa? "
"Woohh! Kita punya cewe tangguh nih! " Suara tepuk tangan dari Jeremy memecah keheningan. "Ah, udah, udah, sini duduk! Yudha, berhenti jahilin dia kalau ga mau dibalas. " Suara lembut dan wajah yang berseri ramah itu dapat membuat suasana panas menjadi mendingin. David dan Mikha yang santai melihat hanya tersenyum simpul.
Martha mengajak Syila duduk disebelahnya, Syila duduk tepat di sebelah Mikha. Mereka duduk diantara Mikha dan David yang berada disebelah sang adik. "Kamu suka teh? " Tanya Hari dengan ramah. "Sedikit. "
__ADS_1
"Saya punya teh chamomile hangat, kamu mau? " Syila mengannguk. "Boleh, terimakasih." Suara oven berbunyi. "Ah, sepertinya pizza kita udah jadi. Tunggu! " Hari, pria kekar itu pergo menuju dapur yang berada diruangan lain di belakang, lalu kembali dengan dua nampan yang berisikan satu pizza yang sudah terbagi enam dan satu lagi berisikan teko kecil nan cantik dengan cangkir teh yang tersusun rapi. Dia meletakkan semua bawaanya di atas meja bulat berwarna putih yang mengeliling dihadapan kami. "Ini, silahkan diminum. " Hari menyodorkan secangkir teh pada Syila. "Pizzanya akan aku ambilkan lagi. "
"Ouh, masih adakah? " Tanya Jeremy, Hari mengannguk dan kembali ke dapur lalu datang dengan pizza di satu tangannya. "Masih Hangat. " Tidak terasa waktu telah menjadi senja berwarna turkish berpadukan dengan dusty pink yang hangat. "Guys, gue duluan ya ada meeting sama bokap!" Seru Rama. "Ayo, Yud! " Rama menarik Yudha pergi. "Ok. " Sahut David. Yudha melirik Syila yang tak menyadari lirikannya, lalu melengkungkan sisi bibirnya. "Kalau gitu gue juga mau cabut-" Seorang pria paruh baya masuk ke dalam dan mengetuk pelan sebanyak tiga kali. "Permisi, tuan dan nona muda maaf saya menganngu tapi tuan muda Hari ini saatnya pulang. Nyonya sudah menunggu." Hari melepas apronnya lalu menujubke arah dapur dan kembali menghampiri pria tua itu. "Gue pergi."
Sepeninggal Hari dan Jeremy yang menyusul Si kembar. Tinggalah ke empatnya yang masih berkutat dengan buku masing-masing kecuali Martha yang hanya melihat ketiga orang didepannya yang sama sama fokus pada buku mereka. David menutup buku itu, berdiri dan menyimpan buku itu ke dalam sebuah rak yang menata para kertas berjilid itu.
Drtt Drrt.
Martha terbelalak setelah membaca pesan dari ponselnya membuat Syila menghentikan pergulatannya dengan sang buku. "Ada apa? " David yang ingin mengambil buku keduanya itu menanggalkan aksinya dan mengembalikan buku itu pada tempatnya. Mikha melirik kedua gadis yang berada disampingnya. "Uhmm, itu.. Gue dapat kabar pemotretan dadakan." Martha memanyunkan bibirnya. "Jadi elo-"
"Jam berapa?!" Pertanyaan yang tegaa itu mengagetkan kedua gadis itu. "Jam 4." David melihat arlojinya. "Dua puluh menit lagi. Mikha, tolong elo beresen ini! " Mikha mengangguk. "Syila, saya minta tolong kamu juga! "
"Ehh?! "
"Sorry ya Syil, gue buru-buru. " Martha terlihat merasa bersalah. "Ya, sebaiknya elo ga bikin koko eli nunggu. "
"Thank you, honey! " Martha memeluk Syila yang sesak karena dekapannya. "udah, ga bisa napas gue! Sono ntar telat! " Martha beringsut pergi meninggalkan dua sejoli itu menyusul sang kakak yang sudah keluar. "Ayo, bawa itu ke dapur gue mau cuci. " Suara Mikha yang lembut memecah keheningan. "Atau elo masih mau min-"
"Gue bantu cuci piring!" Syila memotong ucapan Mikha. "Gak usah, elo rapiin buku aja tapi bantu dulu bawain wadahnya. " Syila tak menjawab dan hanya menganngguk menuruti perintah lelaki itu. Setelah dia menyimoan wadah-wadah itu dia meninggalkan Mikha sendiri didalam dapur dan kembali ke ruangan tadi merapikan buku-buku dimeja dan mengembalikannya ke tempat semula. Ini adalah kesempatan baginya untuk melihat buku-buku tua yang menarik perhatiannya. Dia melihat buku-buku itu dengan antengnya hingga tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang.
POV Mikha
__ADS_1
Aku telah menyelesaikan pekerjaan mencuci piring ini, dan aku kembali ke ruang utama untuk melihat gadis itu. Aku menyuruhnya untuk merapikan buku-buku yang masih berserakan dan belum tertata rapi, aku kembali ke ruangan itu. Kulihat gadis itu sedang asyik menatap buku-buku itu sesekali dia membukanya membacanya sekikas dengan senyum yang tersimpul diwajahnya ,lalu menyimpan kembali ke dalam rak kayu berdebu itu. Dia tidak menyadari kedatanganku, aku berjalan dan berdiri dibelakangnya menyender ke salah satu badan rak dibelakangku. Namun, tiba-tiba aku mihat salah satu buku yang berada dipaling atas jatuh akan mengenai kepalanya dan dengan reflek aku menghlanginya membuat kami berada samgat dekat dan saling berhadapan. Gadis itu terlihat begitu kaget.
***
Syila mulai merapikan buku-buku itu, dia juga nembuka buku lainnya dan membacanya sekilas karena penasaran. Lalu mengembalikannya. Dia tak menyadari kedatangan seseorang yang lalu berdiri memperhatikannya hingga sebuah buku tiba-tiba terjatuh dari atas, dengan cepat Mikha melindungi kepala Syila dengan tubuhnya. Suara debukan itu sontak membuat gadis itu reflek membalikkan tubuhnya. Betapa tertegun dirinya menghadapi Mikha yang begitu dekat dengannya dan melindunginya. "Mikha?" Mikha melepas kungkungan itu, dia menurunkan tubuhnya mengamabil. dua buku yang terjatuh tadi dan mengembalikkannya kembali. Syila masih mematung di tempatnya dia berusaha keras agar tidak terhimpit lelaki itu. "Elo, ga apa-apa? "
"Ngak. " Tanpa bicara lagi Mikha meninggalkannya mengambil tasnya dan berjalan menuju lawang pintu menoleh pada gadis itu. "Ayo pulang! " Lalu dia keluar, dengan cepat Syila menyusulnya. Disepanjang perjalanan didalam. mobil tak ada percakapan yang terjadi. Syila terus memandang jalan lewat jendela disampingnya sedangkan Mikha hanya fokus dengan menyetir hingga di tengah perjalanan. "Eh, iya gue belum kasih tau alamat rumah gue! Gue tinggal di-"
"Gue udah tau, bentar lagi sampai. " Syila mengerutkan dahinya, dia melihat ke jalan dan benar saja ini memang jalan ke rumahnya. Tidak lebih darinsepuluh menit mereka akhirnya sampai di depan rumah Syila. Gadis itu penasaran bagaimana lelaki itu tau alamat rumahnya tetapi dia malas memulai percakapan pada lemari kutub itu. "Thanks." Syila turun dan akan menutup pintu mobil putih itu. "Hm. " Syila menutup pintunya dan mobil. itu pun langsung melaju.
***
Malam telah datang, Syila merasa segar setelah ritual mandinya. Tiba-tiba ponsel Syila berdering, dia segera mengangkat telepon dari Alvin yang ia lihat telah melakukan panggilan sebanyak sebelas kali. "Halo."
(sayang, tadi kamu pulang sama siapa? Aku tunggu gak muncul darimanapun, kamu kemana?) Kuping Syila panas mendengar banyaknya pertanyaan yang terlontar dari mulut lelaki posesif itu. "Sama temen."
(siapa, cewe atau cowo. Ah, apa jangan-jangan kamu pulang sama Yudha?! )
"Sama Martha temen sekelas." Terdengar helaan nafas dari seberang sana. (Yaudah, sampai ketemu besok sayang! Mmmu-" Klik. Syila. memutuskan panggilan itu.
Malam berganti pagi, Syila bergegas turun ke lantai bawah keluar dari kamarnya karena sang ibu sudah berteriak terus menerus memanggilnya. Dia menuruni anak tangga itu. "Iya bu, ini udah tu-"
__ADS_1
"Pagi, Sayang! "