Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
60. Sampai bertemu nanti


__ADS_3

"Nenek mau ke kanada malam ini? "


"Iya. Alvin nampaknya menurun lagi. "


"Bukannya kemarin sudah membaik? "


"Iyw, makanya nenek mau kesana untuk memastikan. Kamu jangan dulu ikut! Kan masih ujian? "


"Iya. "


"Yasudah tunggu saja sampai ujian berakhir, dua hari lagi bukan? "


"Tapi, setelah ujian ada hari ngumpulin tugas, buku dan remedial. seminggu lagi baru bebas. "


"Yasudaj tunggu seminggu!"


"Tapi.. "


"Syila. "


"Iya. "


***


Dalam seminggu ini kami disibukkan oleh kesibukan masing-masing. Kak Liam sudahbmulai bekerja lagi tapi dikota ini saja karena dia harus mengurus keempat anaknya bergantian dengan Letha walau Gian, Aliya dan Syila turut membantu. Syila juga masih sibuk dengan ujiannya dan baru akan merasakan hari bebas besok. Dia berniat akan langsung menyusul ke Kanada, dia sudah meminta dipesankan tiket namun ternyata Syila mendapat tiket kepergiannya pada dua hari yang akan datang. Padahal dia ingin cepat melihat Alvin karena teringat akan kakaknya itu.


Lili juga mulai dekat dengan keluarga Liam meski masih malu-malu, dia selalu ingin menunggui ketiga adiknya itu.


***


Hari demi hari dia dan Mikha semakin jauh. Tidak! Tapi, Mikhalah yang menjauh dan semakin menjauhi dirinya. Kaina tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia begitu depresi dan itu membuat kondisinya kembali menurun seperti tiga tahun yang lalu. Penyakit auto imunnya kembali menggerogoti. Kedua orang tauanya pun selalu sibuk dengan bisnis mereka.


Dia merasa ingin berjalan santai sendiri. Dia berjalan menyusuri jalanan yang sepi sesekali melihat anak-anak kecil berlarian dan pedagang keliling yang ramah. Lalu, dia melihat Mikha membawa mobilnya tanpa fikir panjang dia berlari karena tidak mendapat balasan dari panggilannya. Entah apa yang merasuki dirinya, Kaina berlari dan menghadang Mikha. Mikha yang terkejut dan tidak dapat mengerem dengan tepat ditambah Kaina yang berlari mendatanginya.


BPUKK!!


AAA!!!


Suara benturan keras membuat mereka berteriak. Kaina sengaja menabrakan dirinya dibawah alam sadarnya, dan Mikha tak sengaja menabrak. Dia pun mengalami lukas di keningnya.


"Ka-i-n.. " Mikha yang sejak tadi penglihatannya memburam pun kehilangan kesadarannya dihadapan setir mobilnya.


Nerta itu sedikit sedikit terbuka mengerjap oelan dan akhirnya tersadar. Mikha melihat ke sekelilingnya, dinding berwarna putih dan dia yang terinfus. "Mikha?! "


"Mama? "


"Ahh, syukurlah kamu sudah sadar. Mama akan panggil dokter dulu. " Wanita paruh baya itu memncet sebuah bel yang menggantung disisi kasur disebuah dinding.


Dokter pun masuk dan memeriksa kondisi tubuh Mikha bersama seirang perawat. "Detak jantung bagus, nadi bagus, tekanan darah normal. " Dokter membuka mata Mikha dan menyenterinya. "bagus. " Lalu dia memijit dan menekam telapak kaki hingga paha Mikha. "Apa disini sakit bila saya pegang? " Mikha menggeleng. "Kalau disini?"


"Tidak. "


"Disimi? "


"Ngak. "


Dokter melakukam secara bergantian ke kiri dan kanan. "Apa masih terasa pusing? "


"Sedikit. " Dengan suara serak lelaki itu menjawab. Dokter mengulas senyum. "Baik, itu karena luka di dahi yang kamu dapat. Dalam hasil rontsen dan juga ct scan tidak ada masalah. Ini hanya luka luar saja, akan agak sedikit perih karena jahitannya masih basah. " Mikha mengerutkam dahi mencoba menelaah perkataan dokter dan memikirkan apa yang terjadi. "Saya akan mengganti perbannya. " Ucap suster. "Kalau begitu saya pam-" Belum selesai dokter bicara, mereka sudah dikagetkan oleh Mikha yamg telah ingat kejadian itu. "Kaina! Kaina gimana dia? "

__ADS_1


"Tenang, mas. "


"Tenang, Mikha! "


"Tenanglah, temanmu ada di ruangan sebelah meski belum sadar. Tapi dia juga baik-baik saja. " Mikha tidak begitu percaya dengan perkataan sang dokter, dia melihatnya sendiri Kaina yang dia tabrak. Setelah suster selesai mengganti perban Mikha dia pun melrlang pergi dari ruangan itu.


Lalu, dua pria paruh baya masuk keruangan itu. "Pa. "


"Mikha, apa kamu sudah lebih baik? " Mikha mengangguk. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? " Mikha pun mulai menceritakan semuanya.


"Jadi begitu ya. " Sahut ayah Kaina. "Hah, ini juga salah kami. " Semua jadi berkerut dahi.


"Sebenarnya Kaina pengidap skizofrenia dan ptsd yang membuatnya memiliki penyakit auto imun. Itu yang membuatnya belum sadarkan diri. "


lPemicunya? " Tanya ayah Mikha.


"Stress berkepanjangan. "


***


Keesokan harinya.


Hari ini David memanggil semua anggota untuk berkumpul ke rumah klub. "Semua sudah berkumpul? "


"Mikha dan Kaina belum." Sahutku.


"Itu salah satu alasan kita berkumpul. " Jawab David, lalu dia melanjutkan. "Mereka berdua sedang dirawat dirumah sakit karena kecelakaan. "


"Apa?! " Serentak para gadis. "Kok bisa? " Tanya Rana. "Kasian banget. " Sambung Calrisa.


"Jadi, kita akan menggunakan uang kas kita untuk membeli sesuatu untuk menjenguk mereka. " Ucap David. "Katanya Kaina baru sadar tadi pagi. " Sambung Jeremy. Uang kas, ya kami memang mempunyai satu kebiasaan yang biasa kami sebut mengencleng. Membuat kotak dari barang bekas yang dibuat seperti kotak amal untuk kami isi. Bila bila ada sesuatu, kami akan memakai uang itu.


"Iya"


"Terus mau beli apa? "


"Gimana kalau buah-buahan, susu dan puding/kue?" Usul Syila. "Hmm, boleh. "


"Lali, yang satu lagi! " Yudha berdiri dari .temoat duduknya."Kalian harus ulangi pemilihan dan hapus gue dari pilihan kalian! Gue tadi banyak dari kalian milih gue! "


"Emang kak Yudha kenapa ga mau dipilih? "Tanya si polos Rana.


"Gue akan pindah ke Amerika, melakukan pertukaran pelajar dan akan kuliah disana!"


Sesekali lelaki itu melirik Syila.


"Ekh hm! " David berdeham. "Jadi, pemilihan kandidat akan diulangi. "


***


Di rumah sakit.


"Thanks udah jenguk. " Ucap Mikha. "Ya! " Srentak kami.


"Kalau gitu, Kita mau kesebelah dulu ya jenguk Kaina. " Kata David.


"Gue ikut! " Mikha pun dipapah Haris dan ibunya mengekori kami menuju ruangan dimana Kaina dirawat. Namun, keadaan gadis itu lebih parah dibanding apa yang kami bayangkan. Dia terlihat terus melamun dan seakan tidak mengenal kami dan hanya mengenal Mikha, hingga dia tiba-tiba mengusir Syila dengan melemparinya dengan boneka kecil yang dia peluk. "Pergi cewek sialan! " Boneka lembur itu berhasil menimpuk ke wajah Syila yang tertahan tangannya. Membuat semua terkejut. "Kai.."


"Ngapapa, saya akan keluar. " Setelah mengembalikam boneka itu, dia pun keluar. "Maaf. "

__ADS_1


lTidak apa-apa. "


***


Setelah Clarisa dan Rana pamit pergi ke sisi lain, Syila bersama para cowok berjalan kaki hingga depan. "Kalau gitu, gue juga pamit." Kata Syila. "Elo naik apa? "


"Ojek. Gue jalan dulu. "


"Hmm. Hati-hati besok dan sampaikan salam kita sama Alvin. "


"Ya. "


***


Hari ini adalah hari dimana Syila menyusul Maria ke kota Toronto untuk melihat Alvin. "Hati-hati ya nduk. " Aliya memeluk putrinya. "Jangan lupa kabari kalau udah sampe ya, dek. " Sambung Liam. Merekalah yang mengantar Syila ke bandara. Sementara Gian yang sedang sakit pinggang, dan Letha yamg repot dengan ketiga bayinya juga Lili hanya mengantarvkepergiannya hingga lawang pintu rumah saja.


"Kalau gitu Syila berangkat ya. " Setelah 23 jam terbang, akhirnya gadis itu pin sampai di bandara pearson. Seorang gadis yang seusianya telah menunggu dengan begiyu anggun menggunakan dress terusan putih dan topi berwarna cream dan sepatu sketch berawrna putih bersemu merah muda.


"Hai. "


"Selena? Loh mana nenek? "


"Grandma dan Grandpa sedang sibuk. Jadi aku yang jemput kamu, ayo kita kerumah! " Mereka pun pergi dengan mobil berwarna hotam itu.


"Mata elo kenapa? "


"Ah, aku kurang tidur belakangan ini. "


"Sorry ya gue baru datang dan membantu. "


"It's ok. Alvin pasti mengerti. "


"kok rame, ada siapa? " Syila belum menyadari sesuatu yang aangat penting saat itu. Dia hanya mengikuti Selena yang terus memegangi tangannya. Hingga dia melihat banyaknya karangan bunga dan diela-sela ada yang berbahasa inggris dan indinesia. Namun peluh itu merapatkan bibirnya.


Dia masuk kedalam, ada Maria yang termenung sedang dirangkul sang adik semata wayang. "Grandma, grandpa, Selena sudah jemput Syila. " Gadis yang dimaksud belum bisa berkata. Maria tersenyum getir dan mengelus wajah cantik itu setelah memeluknya sebentar. "Ayo kita ke Alvin. " Bisiknya. Mereka mendatangi satu orang yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh kain. Maria membawa Syila ke sisi seorang wanita paruh baya disebrangnya. Maria menuntun Syila duduk disisi tubuh kaku itu dan perlahan membuka penutup wajahnya. Seketika disaat itu juga, Eyila langsung histeris. "Alvin? Alvin, ini gue vin! Ayo bangun, vin! jangan tidur terus! Nenek, kenapa alvin ga bangun?! Alvin!!"


"Syila, sayang, alvin sudah.. "


"Ngak!! Ini boong! Alvin cepet bangun, vin! Ini gue, cepet bangun! kalau nga gue pergi, ayo bangun! "


"Sayang, tenangkan dirimu! Alvin sudah pergi."


"Bohong hiks, bohongkan hiks. Alvinn.. Bangun! Huaaaa! Alvin! " Maria memeluk erat cucu perempuannya agar bisa menangis dan tenang. "Huaaahaa! Alvin! "


Setelah dimandikan, mereka akan mengantar Alvin ke pelataran terakhirnya di Regina. Seorang wanita menghampirinya. "Kamu, Syila kan? " Syila yang masih sembab dan kosong itu menengadah ke wanita yang berdiri didepannya. "Ya. " Dengan tatapan kosong dan suara yang bergetar dia menjawab.


"Terimakasih sudah peduli dengan anakku. " Syila terkesiap karena wanita itu tiba-tiba menundukkan dan setengah membungkukkan tubuhnya. "I-iya. " Wanita itu bangkit dan tersenyum kecil sebelum dia berlalu pergi.


***


"Hmm, iya. iya. " Liam menutup panggilan diponselnya. "Kenapa Liam, ada apa? "


"Alvin sudah meninggal dunia. "


"Innalillah wa Innalillahi raji'un! "


Sementara itu, di sebuah rumah sakit yang cukup modern di daerah Toronto ada dua pasang netra yang telah terbuka.


***

__ADS_1


Di tempat yang sama namun berbeda. Mereka mengisak, kecuali satu orang yang menjatuhkan barangnya yang seharusnya menjadi sebuah kejutan, namun menjadikan ini kejutan tak terlupakan untuknya. Lalu, bunga-bunga indah itu menghiasi sang pemiliknya.


__ADS_2