
''Ok, kita mulai pembahasan kita! Jadi, tugas pertama kita adalah membuat buku tentang adiwiyata dimana yang tentang pengelolaan sampah yang akan di siapkan untuk minggu pertama. Dan selanjutnya tentang pembuatan kantin sehat dan lestari ,kita juga akan ikut berpatisipasi membantu dan nanyi akan bertugas mempromosikan kepada semua anggota sekolah ini.. '' Banyak yang mereka bahas hingga waktu tak terasa sudah menyore dengan ditemani oleh rintikan hujan yang menyendu merdu.
''Sudah jelas kan dengan tugas-tugasnya?'' Semua mengangguk. ''Kalau ada yang mau ditanyakan atau pun yang lainnya bisa langsung hubungi saya ataupun Haru!''
Syila sedang berjalan dikoridor sekah setelah dia mengadakan rapat dengan anghota klubnya ,lalu selesai urusannya dengan Osis hari ini. Ditengah perjalanan dia dikejutkan oleh Bian bersama seorang gadis yang terlihat dari kelas 10 menyeretnya yang berwajah lunglai. xBian?''
''Tolong.''
xHah?''
''Husst! Aku kan ga ngaopain ngapain kakak!'' Syila mengangkat kedua alisnya. Bian mendelikan matanya, Syila pun makin penasaran. ''Dengan Kak Syila?''
''Ya?''
''Kenalkan saya Briana panggil saja Brie. Saya adiknya Bian dan juga salah satu anggota klub drama!'' Sontak Syila menggerakkan pandangannya menatap Bian memastikan yang Diangguki oleh lelaki itu. ''Terus ada perlu apa? Kenapa Bian..''
''Ehhkhm! Begini ka, klub drama harus membuat sebuah projek agat tidak dibubarkan yaitu sebuah drama pendek yang difilmkan dan akan di siarkan dipuncak acara adiwiyata nanti. Dan, saya ingin kak Bian jadi juru busana kami, tapi dia bilang dia sibuk diklubnya kalau berani harus bilang ketua Syila jadi saya cari kakak!"
''Oh gitu..Ya, itu sih terserah Bian asalkan bisa membangi waktu dan kewajibannya.'' Seketika Bian menjadi lemas karena ketua manisnya itu tak peka terhadap tanda gelagat dan kode morse ala dirinya. Dia membuang nafas gusar tanpa suara, menurunkan dadanya kebawah.
''Kalau gitu deal! Kakak harus bantu saya!'' Brie kembali menarik Bian kedalam cekalqnnya. ''Ngak nyangka dia punya adik cantik gitu!'' Syila pun berlelang pergi untuk pulang kerumah.
***
__ADS_1
Keberangkatan Kaina berdua dengan Mikha sudah diterbangkan pesawat yang bukan terbuat dari kertas. Mereka pergi ke negara angsa agak melenceng dari rencana awal yang seharusnya mereka pergi ke negara tetangga. Didalam pesawat mereka duduk saling berdampingan. Sesekali Mokha melirik gadis yang masih berwajah muram dan sesekali sulit diartikan. hingga waktunya makan siang masuk, gadis itu masih saja berdiam diri. ''Elo gakkan pesen makan?''
''Mau.'' Gadis itu hanya memesan satu jenis kudapan dan satu jenis minuman. ''Ngak makanan berat? gue pesenin, nanti kelaperan lagi..''
''Ngak usah! Ngak mau!'' seperti merajuk, garis itu terus menolak. Sepanjang perjalanan dia hanya memakan kudapan yang bukan makanan berat. mungkin makanan berat yang dia lihat hanya burger saja. Tidak ada oemnicafaan banyak juga diantara mereka hingga tiba di negara angsa itu setelah kurang kebih empat belas jam perjalanan. Sesampainya diapartemen mereka , keduanya memasuki kamar mereka masing-masing yang saling berhadapan. Mereka tidak mengikuti sistem asrama seperti murid asing lainnya. Masih tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut gadis itu, dan langsung memasuki kamaenya. Mikha hanya melirik dan menunggu hingga gadis itu memasuki kamarnya, setelah itu dia pun masuk ke dalam kamarnya. Menelisik satu aset apartemen miliknya , melepas sepatu mengangkat barang lalu masuk ke ruang tidur dan menjatuhkan tubuhnya hingga tak sadar dia pun terpejam.
Disisi lain, Kaina tidak menelisik lebih dulu isi apartemennya seperti Mikha. Dia menatap lurus melepas alas kaki, mendorong barang-barang bawaannya ke ruang kamar , melempar asal satu persatu secara perlahan diakhiri melemparkan tubuhnya ke kasur, membuka ponselnya menatap layar itu sejenak lalu memejamkan matanya dan terlelap.
****
,
Berhari-hari tidak hanya mereka satu sekolah sibuk dengan agenda kegiatan mereka. ''Ouuhh, gak nyangka gue elo bisa ..'' Rama memuji Nobel. ''Noir, hebat bukan?'' Sambung Haru. Tetapi si empu yang elu elu kan itu bukannya menerbangkan hidungnya ke kahyangan langit ke tubuh, melainkan malah berwajah keki. ''Udah, udah, gimana Ram udah bagus dan sesuai belum?'' Tanya Syila. ''Menurut gue ini udah padat, tapi singkat dan jelas. cocok juga unruk yang ga suka baca sih menurut gue. Kalau gitu, ayo kita perlihatkan dulu ke Pak Indra dan Pak Kepala! Kalian berdua ikut juga!'' Haru mengiyakan, namun berbeda dengan Nobel. ''Kenapa gue harus ikut juga?''
''Ga usah aja napa?''
''Ikit!'' Rama menarik Nobel yang awalnya melawan lalu pasrah diikiuti oleh Syila dan Haru dibelakangnya.
***
''Pak, ini sampel buku yang sudah mereka buat tentang pengelolaan sampah.'' Rama dan ketiga lainnya sudah tiba di ruang Kepala Sekolah yang sudah ada sang empunya bersama seorang pria pertengahan tiga puluhan berkacamata sudah duduk disampingnya. Mereka duduk saling berhadapan. Rama menyodorkan satu buku yang tidak begitu tebal penuh dengan warna yang menarik tetapi bukan buku anak-anak tetapi bisa untuk semua umur. Terangkum dengan apik dengan pilihan kata yang asik , singkat , padat dan jelas. Kedua pria yang terpaut usia sudah cukup jauh , pria tiga pukuh tahunan dan lima puluh tahunan itu membaca satu persatu halaman hingga selesai secara bergantian. ''Uhmm, bagus!'' Komen Pak Kepala dengan medok jawanya. ''Bukankah begitu, Pak Indra?''
''Ya, ini singkat, padat, jelas ,dan menarik untuk dibaca. Semua kalangan pasti suka, apalagi dengan orang-orang yang tidak gemar membaca pun pasti mau membaca!''
__ADS_1
''Siapa yang menulis? '' Mereka terlihat terkekeh kecil, para siswa yang berada dideoan mereka mengulum senyum. Indra dan Pak kepala bertanya bersamaan. Rama, Syila dan Haru menoleh dan menunjuk ke arah Nobel. ''Ini, Pak. Namanya Nobel yang ingin dipanggil Noir.'' Sahut Rama membuat Nobel menggaruk belakang ceruknya. ''Kenapa mesti dijelasin?''
''Hahahaha, begitu ya. Bagus! Bagus!'' Nobel menggaruk keningnya. ''Kamu suka menulis ya?'' Tanya Indra. ''Lumayan, Pak.''
''Sudah lama menulis?'' Tanya Pak Kepala. ''Saat SD aja sampai kelas dua.''
''Loh ga diterusin? Jadi, ini perdana lagi?'' Nobel mengangguk. ''Iya,Pak.'' Pria paruh baya itu manggut-manggut. ''Ini sudah bagus, iya Pak Indra?'' Diiyakan oleh pria di sebelahnya. ''Jadi, bisa kan diperbanyak sesuai permintaan kemarin?''
''Bisa, Pak!''
''Semangat Pak, Nak Nobel eh Noir.'' Goda Pak kepala. ''Iya, pak.''
''Kalau begitu selamat kembali ke ruangan kalian ya, saya mau ada keperluan dulu.''
''Baik pak, kami permisi dulu.''
''Ya.''
Mereka pun keluar dari ruang Kepala Sekolah. Rama kembali ke ruangan OSIS setelah pembicaraan mereka perihal perbanyakan buku itu dan dimana dia juga akan membantu bersama yang lainnya. Lalu, Syila dan kedua adik kelasnya itu kembali ke klub house mereka.
''Ok guys, semangat membantu Nobel!''
''Siap!''
__ADS_1