
Aliya dan Gian pun pindah ke daerah Z setelah sepeninggal orang tua Aliya Ketika itu usia putri mereka telah beranjak lima tahun dan putra mereka yang telah berusia dua belas tahun.
Maria yang mengetahui itu diam-diam mencari tahu, namun Dean mengetahuinya. Dia pun diam-diam mencari tahu keberadaan anak dan ibunya itu. Dean diam-diam bertemu dengan Aliya, tentu wanita itu tercengang setengah mati ketika melihat pria didepanya.
"Ke-kenapa tuan ada di-sini? " Dean tersenyum, menarik aliya dan mendekapkan tubuhnya masuk dalam pelukannya.
"Lepas tuan! "
"Diamlah, hanya sebentar. " Bisik Dean. Namun aliya terus berontak untuk terlepas dari dekapan Dean. "Dimana putri kita? " Tanyanya lirih. Dean selama ini merasa bersalah, sangat bersalah pada wanita malang itu. Namun, apa daya dia tidak dapat melawan sang ibu yang menyuruhnya mempertahankan istrinya kala itu.
Mendengar pernyataan Dean, Aliya terbelalak tubuhnya melemas namun dia masih berusaha terlepas dari pelukan pria itu. "Anda siapa memeluk istri saya? " Suara berat seorang pria membangunkan lamunannya. Dean melepas pelukannya dan menolehkan setengah tubuhnya. Dia menatap tajam ke arah Gian.
"Anda ada perlu apa kemari? " Gian merebut Aliya dari Dean. "Ada perlu apa dengan istri saya?! " Sekali lagi dia menegaskan.
"Jadi kalian telah menikah? " Dean terkekeh mengejek. "Anda tahu wanita ini telah saya hamili duluan? " Dean tersenyum mengejek. Tubuh Aliya gemetar. Gian yang menyadari itu memegang erat tangan istrinya. "Saya fikir itu bukan masalah, karena saya mencintai istri saya putrinya adalah putri saya juga. Kenapa anda yang mempermasalahkan? Ahh, apa anda.. "
BUKK!
"Mas Gian! Apa yang tuan lakukan?! Kenapa tiba-tiba memukul suami saya?! " Sontak Aliya berteriak fan langsung mendekatkan diri ke suaminya menatap lalang pria di depannya.
Ya, Dean memukul Gian hingga tersungkur ke tanah. Dean dengan nafas tersengal-sengal dan wajah yang memerah terus menatap keduanya. Dia membuang nafas kasar.
"Saya hanya ingin melihat putri saya! " Aliya berdiri tegak dengan tatapan tajamnya. "Begini cara anda untuk meminta? Tidak ada sopan santun padahal anda orang terpandang! Perbuatan anda ini membuat saya tidak ingin anda menemui putri saya! Sekarang tolong pergi! "
"Kamu mengusir saya? Saya ini ayah biologis anak kita! "
"Saya tidak peduli tolong pergi sebelum saya lapor polisi! pergi!! " Aliya berteriak histeris. Gian yang masih menahan sakit diwajahnya itu langsung memeluk istrinya dari samping. "Tenanglah. " Bisiknya. "Sebaiknya anda pergi dulu sampai semuanya tenang. Jika memang anda berniat baik untuk menemui anak itu anda harus benar-benar memintanya dengan baik pada istri saya. " Dengan berat Dean pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
***
"Ayah dari mana?" Tanya Alvin. "Ayah sudah menemukan adikmu. " Dean memeluk putranya dan berbisik. Alvin mengerutkan dahinya. Adik?
Tiga bulan kemudian..
Dean telah diberi izin untuk menemui Syila, namun dengan syarat dia tidak memberitahukan identitas aslinya kepada putrinya sendiri. Dia dikenalkan sebagai teman kedua orang tuanya.
Dean mengalungkan sebuah liontin di leher putranya Alvin. "Ini apa, pa? " Tanya bocah kecil itu. Dean menempelkan bibirnya di telinga kecil itu sambil memeluk tubuh kecilnya. "Lihatlah jika sedang sendiri, adikmu sangat cantik." Dean melepas pelukam itu memegang kedua bahu putranya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Saat itu bocah itu tidak begitu mengerti dan dia hanya mengiyakannya saja. "Jangan bilang siapa-siapa ini rahasia lelaki, janji? " Alvin mengangguk lalu menyematkan kelingking kecilnya ke kelingking besar Dean.
Satu tahun berlalu, Syila dan Renita masuk ke sekolah dasar yang sama.
Bruk!
Syila tak sengaja menyandung batu yang membuatnya terjatuh dan melukai lututnya.
"Syila! " Teriak Renita. Seorang bocah membantu mereka. Dia membopong Syila untuk berdiri dan mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Menempelkan hansoplas itu ke lutut Syila yang terluka.
"Aku Renita dan ini Syila kelas satu! " Alvin mengangguk iya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepan mereka. Dean terkejut ketika melihat Alvin bersama Syila dan satu anak perempuan. "Papa! " Dean mengelus kepala putranya. "Hao, Syila. "
"Halo, om. " Om? Kenapa dia memanggil Om? Tanya Alvin dalam hati. "Mau pulang bareng sama Alvin, temennya juga? "
Istri Dean mengetahui semuanya dia begitu marah dan menempati Dean yang mengajak jalan putranya bersama putrinya dari wanita lain. Dia berjalan cepat ke arah mereka. Api cemburu membakar selurih tubuh dan batinnya. "Mama? " Alvin yang menoleh dan memanggilnya pun tak dia hiraukan dia lamgsung menarik syila hingga terpekik. "Alya, apa yang kamu lakukan?! " Bentak Dean. "Mama? Kenapa dorong adik kelas Alvin? "
"Keterlaluan kamu mas! " Dia menampar suaminya. Semua terkejut melihat itu. "Dasar kamu anak haram! " Alya mendorong tubuh kecil Syila hingga ke tengah jalan Alvin dan Renita yang melihat sebuah mobil melaju. Renita kalah cepat dengan Alvin membuat Alvin dan syila langsung terlempar bersamaan dengan mobil itu.
"Alvin! /Syila! " Tubuh Renita memaku, lalu seseorang memeluknya menggendongnya dan memenenangkannya sedangkan Dean telah bersimpuh diantara kedua anaknya yang terkapar. Sedangkan, alya hanya duduk di pinggir jalan dengan tatapan kosong.
__ADS_1
***
dua brankar dibawa berjalan di lorong memasuki dua ruangan yang berbeda. "Tolong, Tolong kedua anak saya! " Teriak Dean. Alya terus duduk melamun di bangku berwarna putih itu. Maria datang dengan tergesa-gesa dan langsung menampar alya yang terkesiap memegang pipinya meringis sakit. "Kau mau membunuh cucuku! " Bentak Maria.
Dean memeluk ibunya dari belakang. "teanglah bu, tenanglah! "
"Bagaimana aku bisa tenang, kedua cucuku tidak sadarkan diri seperti itu! " Dean terkesiap. "I-ibu sudah ta.. u.. "
"Aku sudah mengetahuinya sebum dirimu! Aku sengaja menutupinya untuk menyembunyikannya dari kalian!"
"Ibu.. "
"Seharusnya kau tidak pernah menemui cucu perempuanku seharusnya kau tahu yang akan dilakukan istri gilamu ini! " Maria menunjuk tegas Alya yang masih sesegukan.
Dalam tangisnya tiba-tiba Alya berteriak histeris. "AAAA! AAA! "
"Alya?! " Dean berhambur memeluk istrinya. "Kau merasa bersalah sekarang? Huh, tidak mungkin! pasti kau akan mengumpat dan menyalahkan semuanya kepada orang lain. " Alya terus memegangi kepalanya tersirat semua kejadian yang membuat outranya terpelental didepannya.
Suara langkah kaki memenuhi lorong itu, Aliya dan Gian baru saja datang. "Putriku! dimana putriku?! " Aliya mencekal baju Deam dan menatap tajam juga nyonya besar Maria.
"Tenanglah, aliya. " Bisik Gian dengan lembut mengelus punghung istrinya agar tenang. Seorang dokter keluar dari salah sati ruangan. "Dokter bagaimana? " Semua berbarengan. "Putra anda baik-baik saja, operasinya berjalan lancar, dia hanya patah tulang rusuk dan kaki juga tangan untung saja cepat membawanya karena kali tidak akan mengalami gagal jantung. " Alya mendemgar itu kembali berteriak. "AAA! " Dean kembali memeluknya. "Lalu putri saya dok, bagaimana putri saya? " Tanya Aliya. "Untuk putri anda.. "
"Kenapa anda berhenti, dok? " Tanya Maria dan Dean. Satu dokter dari ruang bersebalahan itu keluar menyambungkan pembicaraan dokter Ashley yang terhenti. "Gian. " Ternyata itu Elsniey teman Gian. "Ne, putriki.. "
"Putri kalian harus segera mendapat transfusi darah karena kehilangan banyak darah. "
"Ambil darahku, aku ibunya! " Aliya menyela. Elsnie menatap nanar Aliya. "Dan.. dia mengalami geger otak, lalu kami juga membutuhkan transplasi jantung secepatnya karena mengalami kebocoran akibat benturan yang keras. l Aliya merosot ke bawah dipeluk oleh Gian . lYa tuhan! " Maria mulai menangis. Dean lalu membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya! "
Deg..