Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
64. Yang bener? Kuda putih!


__ADS_3

"Gimana kalian udah dapat anggota baru? " Tanya Renita. Ketiga gadis itu menggelengkan kepala mereka. "Susah banget! Padahal gue udah koar-koar tuh! " Celetuk Rana. "Elo maj koar koar nya ga jelas gitu!" sahut Clarisa.


"Ga jelas gimana ,vokabuleri gue udah bagus jelas kok! "


"Tau ah gelap! "


"Jadi, gimana? " Tanya Dzith. "Pulang sekolah nanti kita bakal coba lagi bagiin brosur. " Sahut Syila yang sudah mulai menyendok baksonya.


"Kalau gitu, saya akan gabung! " Tiba-tiba seorang pemuda nan gagah bermerbak wangi taman bunga dengan wajah paripurna bak dewa yunani yang menyatu dengan oppa oppa korea.


Semua mengerjapkan matanya kecuali Dzestha yang mengangkat kedua alis matanya. "Brosur ini biar saya yang bagikan, saya udah selesai makan kok. Biar kakak-kakak makan dulu aja! " Serunya. Dia mengambil lembaran-lrmbaran yang tertidur diatas meja itu.


"Elo.. kan? " Semua serentak menoleh ke arah Syila yangvsedang menunjuk pemuda itu. Wajahnya begitu keras berfikir untuk mengingat. "Elo yang waktu itu sama kak Haris kan? "


"EHH?! " Semua terkesiap dan para gadis berseru.


Pemuda itu tersenyum lebar. "Jadi bener ya, kakak yang waktu itu ketemuan sama abang sampai aku dianter setengah jalan aja." Jawabnya cuek. Melihat kebingungan Syila dan wajah penasaran yang lain lantas mengundang kekehan pemuda itu. "Hehehehe, sorry. Kalau gitu kenalin saya Haru adik dari Haris." Semua pasang mata itu membulat.


"Gilaaa adeknya lebih ganteng, jauh!! " Celetukan Rana mengundang tawa pemuda itu lagi. "Duh! " Tapi, gadis disisinya malah sewot dan menampar bibir ranum yang suka bicara seenaknya itu. "Suka banget ngegeplak orang! " Gerutu Rana. Clarisa hanya memutar bola matanya.


"Kalau gitu saya diterimakan jadi anggota? "


lTentu, tentu saja! Iyakan, bu ketu? "


"Ek hm. Beneran kamu mau ikut gabung? Disuruh Haris? " Tanya Syila, dan Haru menggeleng. "Ngak. "


"Terus kenapa mau masuk sini? " Syila menelisik pemuda itu. "Sepertinya kamu cocok dibidang olahraga. "

__ADS_1


Haru menyunggingkan kedua sisi bibirnya. "Bosen. "


"Eh?? "


"Pokoknya aku bener bener mau masuk klub minum teh biar bisa terus bersantai. Diterima? "


"Euhmm, iya boleh. "


"Kalau gitu saya pergi bagikan brosur dulu! "


"Tung-" Syila terlambat sampai sampai mereka semua terkesiap dengan kecepatan Haru yang bagaikan Minato Namikaze sang kilat kuning dan begitu lincah bagai belut kepanasan. "Hah. " Syila menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Dasar bocah. " Gumamnya sembari tersenyum kecil.


Sementara para seniornya sedang asyik makan di jam istirahat, Haru yang berada ditempat lain mengelilingi seisi sekolah dengan semangat yang mebara tapi bukannnya membagikan brosur tapi itubhanya sebagai simbol saja yang dia tenteng. Dia mengajaknya banyak orang yang dia temui. "Ayo dong masuk! Ayo gabung! " Namun ada juga yang menolak diantara yang ingin. Sampailah waktu pada jam berakhirnya sekolah. Syila yang mendapat telepon dari Clarisa juga Rana buru-buru menyusul mendatangi mereka yang terdengar begitu histeris, takut takut terjadi yang apa-apa dengan mereka dengan cepat Syila menemui mereka ke tempat biasa mereka berkumpul. Sebelumnya dia mengajak Rama, namun lelaki itu ada rapat OSIS.


Hanya 1 meter lagi jarak Syila dengan tempat itu, langkahnya melambat karena melihat banyaknya orang yang berkumpul disana. "Syilaa!! " Rana dan Clarisa berlari menghampiri Syila yang mematung. "Kalian? Ini? " Kefua gadis itu mengangguk.


"Uhh;, kak Syila maksudnya. "


"Kenapa manggil gue ka-Ahh, ini kok bisa banyak orang gini? "


"Yakan mereka yang mau ikut gabung ke klub membaca dan minum teh."


"APAA??!! "


***


"Bagus sih bagus tapi mana cukup ini tempatnya! " Keluh syila setelah melihat sekitarnya dua puluh orang lebih yang bergabung. Rama tolong gue! Gerutu dalam hati. Haru hanya bisa menggaruk keningnya.

__ADS_1


"Apa kita adain kualifikasi aja? " Celetuk Clarisa. "Bener juga. "


"Tapi dimana? Meski bentukan rumah ya ruangannya tetep terbatas. Mau diluar? Suruh mereka berdiri terus? Duhh, si Rama kemana lagi?! " Syila yang bingunh tujuh langit kahyangan.


"Uhmm, permisi kalau boleh usul! " Semua melirik ke arah Haru. "Sebenernya.. " Bocah itu menyakui jaketnya dan mengeluarkan seserpih kunci berwarna bening keperakan dengan rona biru langit ditambah merah muda bagai aurora. "Bang Haris nitipin kunci, katanya kalau kalau negebeludak tempat itu dibuka aja! " Tempat itu? Tempat apa yang dia maksud? Fikiran ketiga gadis yang sudah jadi kakak kelas para siswa baru itu sefrekuensi. Negebeludak, apa jangan-jangan dia menuruti kata-kata terakhir sang kakak? Aduh dasar bocah! Emang ruangan apa? Mereka yang kalut dalam fikiran masing-masing namun sefrekuensi kembali tersadar secara bersamaan. "Pintu di sisi dapur?!" Diangguki oleh pemuda itu, mereka pun langsung membawanya kesana. Sebenarnya hanya Syila dan Haru, sedangkan Clarisa dan Rana mereka mengkondisikan anak-anak baru.


"Kualifikasi??!! "


"Iya, kalian bakal di panggil satu satu kedalam dan di interview karena seperti yang tadi sudah dikatakan sebelumnya karena perihal tempat yang harus disesuaikan dengan jumlah orang dan.."


"Padahal cuma tempat santai-santai ada kualifikasi segala! " Seru salah seorang murid baru yang memprotes.


"Kami juga punya misi dan visi yang hatus tercapai ke depannya. " Kata Clarisa.


"Kalau gue sih ga masalah asalkam bisa terus liat Haru, iya ga girls?! "


"Iya!! " Sekelompok yang bikin bertepuk jidat, para gadis penggila Haru. Namun dari banyaknya yang melakukam keributan dengan cara mereka masing-masing, ada segelintir orang yang hanya terdiam menyaksikan dengan serius maupun seperti menikmati pertikaian dengan santai.


Sementara itu, Syila sudah membawa Haru ke depan pintu yang berada disisi lorong horizontal yang memisahkan ruang utama dan dapur yang memang selalu terkunci. "Inikan? " Haru mengiyakan. Dia memutar kunci kedalam. lubang kunci itu, membuka pintu itu dan betapa terkejut dan juga kagumnya Syila saat melihat isi ruangan rahasia, bisa dibilang begitu karena selama ini terkunci. "I-ini? "


"Syil-la.." Begitupun Clarisa dan Rana yang sudah menyusul yang tadinya berniat untuk memberi informasi perihal pengkondisian peserta didepan. "Ini?!" Sebuah ruangan yang luas bagai aula dengan kaca kaca yang memperlihatkan betapa luasnya taman dibalik kaca kaca itu diluar ruangan luas yang menyerupai aula itu. Aula yang luas dengan disisi nya berada sekat tambahan yang dipakai sebagai ruang seni dan lainnya dengan perlengkapan yang lengkap bahkam ruangan itu bisa dijadikan ruang olahraga.


"Kenapa kita baru tahu ada yang seperti ini? " Celetuk Rana. "Ya, karena baru dibuka! " Sahut Clarisa.


"Selain itu, gimana pengkondisiannya? " Syila menyela duo ribut itu. "Euh iya, itu udah pada terkondisi kok."


"Sorry gue lama! " Rama yang baru datang dengan setumpuk kertas.

__ADS_1


__ADS_2