Sweet Heart Boys

Sweet Heart Boys
27. Tiba di Kanada


__ADS_3

Akhirnya aku menginjakkan kaki di negeri terdingim di dunia, dan ini benar-benar dingon, dangat dingin!


padahal aku sudah memakai beberapa lapis baju yang tebal. Kami keluar dari bandara, Sebuah mobil telah menjemput kami dan membawa kami berhenti disebuah rumah besar seperti villa villa mewah yang ada di dalam film. "Kakak! " Mereka yang baru turun telah di sambut oleh seorang kakek tua yang tidak jauh berbeda dengan Maria usianya. Pria tua itu memelik Maria, mereka saling berpelukan. "Maher! "


"Ahahah. kau tetap selalu canyik, kaka! " Maria tergelak. "Aku sudah tua sama sepertimu, dik." Mereka tergelak.


Pria tua itu melirik ke arah lain, yaitu kepada Alvin. "Alvin, cucuku!" Pria itu beringsut memeluk Alvin. "Grandpa. apa kabar? "


"Selali baik, bagaimana denganmu? Aouh, apakah si cantik ini? " Dia menoleh kebelakang, Maria mengiyakannya. Maher kembali memeluk Alvim dan menepuk pundaknya. "Aku sehat. "


"baguslah! "


"Cantik." Syila pun membalas sapaanya. "Halo grandpa, saya Syila. " Maher langsung memeluk gadia itu. "Kau sangat cantik, aku Maher grandpa mu, adik dari nenekmu. " Setelah ritual berpelukan, Maher mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya. "Mari kita masuk! "


"Grandpa, apa mereka sudah datang?! " Suara seorang perempuan yang menggema, terlihat satu sosok gadis menuruni tangga dengan terburu-buru. "Jangan lari-lari! " titah Maher. Selena mwngabaikannya dan berlari kedalam pelukan alvin. "Kakak! " Alvin yang terkejut dengan sigap menangkap Selena yang nampak akan terjatuh oleh langkahnya, dia bawa gadis itu ke dalam dekapannya. "Kakak, you're home. "


Alvin menyimpulkan senyumnya. "Hm. Apa kabar? " Selena memeluk lagi Alvin. "I miss you so much! " Alvin terkekeh mengelus kepala Selena. "Dengan Grandma, tidak? " Selena yang mendengarnya langsung terbangun dan berhambur kefalam pelukan sang nenek. "Of course, sama grandma juga." Maria membalas pelukan itu. "Kamu semakin cantik. " Selena tersenyum manis. "Oiya, kenalkan yamg di sebrlah kami ini adalah adik Alvin, sepupumu juga namanya Syila. " Selena berdiri tegak menoleh ke arah gadis yang ada di depannya memperknalkan dirinya kepadanya. "Syila. " Syila membungkukkan sesikit badannya. "Ahh, Selena. " Selena menyodorkan tangan kanannya yang dibalas Syila.


"Selena biarkan mereka berisitirahat dulu! Mari aku antarkan kalian ke kamar kalian! " Titah Maher. "Selena akan antar kak Alvin ke kamarnya. " Maher mengiyakan, Selena menarik Alvin dan mwnghiraukan Syila yang berdiri mematung. Mereka naik ke atas dan langsung ke tempat yang mereka tuju. "Ck, ck, ck, dia itu masih saja terlalu mengagumi kakaknya! " Proted Maher. "Biarkan saja. Syila, ayo ikut nenek dan grandpa. "Syila menurut. Mereka pun menaiki sebuah lift dan sampai lah di lantai dua. "Ini kamarmu, cantik. " Ungkap Maher. "Istirahatlah, nanti kami akan menjemputmu lagi. "

__ADS_1


"Baik nenek, baik grandpa. " Syila pun masuk ke dalam sana, dia terperangah dengan luas kamar itu yang dua kali ukuran kamar dirumahnya. "Gede banget! "


Diluar kamar itu. "Kamarku masih seperti dulu bukan? " Tanya Maria. "Tentu! Mari aku antar. "


"Baiklah! " Maher mengantar Maria ke ujung koridor ada dua double doors yang saling berhadapam yang dilapisi emas dan sayunya oleh emas putih dan aksen berlian ditengahnya yang mempercantik dan terlihat begitu mewah. "Kamar kita masih berhadaoan, kak!"


"Ck. padahal aku ingin jauh darimu, dik! " Maher terkekeh begitupun Maria. "Sudahlah, sana istirahat! Aku akan memanggil kalian besok untuk sarapan, karena kaliam sudah melaksanakan makan malam di dalam lesawat bukan? " Maria mengiyakan. "Mungkin aku yang akan membangunkanmu besok! " Goda Maria. lAhahah, itu tidak mungkin! "


Disisi lain, tepatnya di ujung yang lain. "Kamar kakak masih sama, kita masih bersebelahan." Selena mendekap lengan kanan Alvin. Mereka duduk di sisi ranjang kamar itu. "Uhm. "


"Kenapa terus menjawab Seperti itu?! " Selena mendengus. Alvin tersenyum dan mengacak-ngacak rambut cokelat emas Selena. Membuat rambut gadis berwajah blasteran itu berantakan. "Kakak! Aku sudah merapikan ini selama 30 menit! " Alvin terkekeh. "Maaf. " Selena menghela nafas kesal. "Huaaa! Kakak ngantuk, sana kamu juga tidur gih! "


"Kakak mengusirku? " Alvin menggendikkan kedua bahunya. Selena mendemgus dan berdiri. "Ok, aku pergi!" Dengan kesal dia berjalan demgan. Alvin hanya tersenyum smirk dan geleng-geleng saja melihat kelakuan adik sepupunya itu. Alvin menjatuhkan dirinya ke kasur. Selena menghentikan langkahnya. "Kak, Uhm.. "


"Juga. "


***


Mentari pagi telah menyingsing dari ufuk barat ke ufuk timur, namun cuaca tetaplah terdingin membuatku malas untuk bergeral satu inci pun. Tetapi suara ketukan berhasil membuatnya yang malas itu terbangun. "Sayang! Sayang! " Ck! Syila mencebik, merinding dengan panggilan itu padahal dia sudah mulai terbiasa, tetapi entah mengapa itu masih membuatnya merinding tujuh turunan.

__ADS_1


Ckilt!


Syila memutar kenop pintunya. "Hmm?! " Dengan wajah bantal Syila menjawab asal. "Sayang, udah shalat subuh belum? Shalat dulu gih! "


"Hmmm. " Jawab lagi Syila asal membuat lelaki di depannya itu menyengir. "Gemesin deh! " Alvin mencubit lembut kedua pipi gadis itu. "Ish! " Geplak! Gadia itu memukul kedua tangan besar itu. "Galak bener sih sayangku ini. " Syila memutar bola mata malas. "Sana! Gue mau shubuhan! " Bduk! Syila segera menutup pintu kamarnya. "Cih, diusir! " Monolognya dalam lirih. "Awaw ya, ntar kakak bunyel-bunyel kamu lho syang! "


"BERISIK!!" Alvin mengelus kedua telinganya memejamkan kedua matanya setelah menerima serangan suara super ultrasonik itu. Badannya bergidik ketika dia membalikkan tubuhnya. Sepasang wanita dan pria tua tengah berdiri menatapnya. Yang satu dengan keheranan dan kekhawatiran, dan yang satu lagi dengan tatapan tajam khasnya sambil menyingkap kedua lengannya didada.


"Ada apa? Apa ada masalah? " Tanya Maher dengan gelagap. Maria yang berdiri disebelahnya dengan anggun menepuk bahu sang adik. "Tenang dik, tidak terjadi apa-apa hanya saja bocah ini memang biang masalah!" Kata-kata itu membuat Maher tertawa lepas. "Bawahaha, kukira apa! Alvin, kamu memang selalu usil pada adik-adikmu ya haha! "


"Hehe. " Alvin terkekeh. "Adududh! Nenek kenapa ngegepalk kepala alvin sih? "


"Kau apakan lagi adikmu Hah?!" Maher ikutan terkesiap bersama Alvin. "Sudahlah kakaku yang cantik, nanti darah tinggimu kumat! "


"Darah tinggiku memang sudah kumat! "


Tiba-tiba seseorang dengan suara lembut memecah kepanasan diantara mereka. "Good morcning, a-pa aku mengang_gang-gu? " Maria tersenyum dan mengelus wajah cantik bak boneka porselen itu. "Tidak, honey. Good morning. "


"Dia langsung tenang. " Dalam hati Alvin dan maher. Mereka menghela nafas lega. "Good morning grand pa, kakak! "

__ADS_1


"Morning, tumben kamu bangun sepagi ini? " Selena memajukan kedua bibir strawberry nya. "Kenapa harus buka kartuku?" Selena melirik Alvin. Mager yang mengerti langsung terkekeh dan mengelus kepala sang cucu. "Morning. " Sahut Alvin. Selena beringsut memegang kedua tangan lelaki itu bersamaan dengan kluarnya Syila dari kamar.


"Eh, selamat pagi! Kok pada ngumpul disini? "


__ADS_2