
Sepulang sekolah Syila menjenguk Renita yang sedang sakit setelah piket kelasnya. Di jalan dia mampir ke sebuah toko kue untuk membeli tiramisu kesukaan sahabtnya itu lalu dia juga singgah di toko buah untuk membeli buah-buahan. Syila membeli buah naga merah dan juga pepaya kesukaan Renita.
Ojek pesanan Syila telah tiba didepannya, mereka pun melaju sedang dan aman ke rumah Renita. Di depan pintu rumah itu terlihat wanita setengah baya berkuncir kuda dengan beberapa anak SMA. Itu adalah ibu Renita dan teman-teman sekelasnya yang mungkin baru selesai menjenguk gadis itu.
"Assalamualaikum. "
"Waalaikummussalam, eh Syila.. Ayo masuk! " Suruh Wena. "Iya, tan. Kalian udah mau pulang?" Tanya Renita kepada Syria dan kawan-kawannya. "Iya. Kamu baru pulang dari sekolah?" Tanya Syria. Syila mengangguk pelan. "Gue piket dulu terus balikin buku ke perpus." Syria manggut-manggut. "Kalau gitu kita duluan ya. Tante, kami pamit! "
"Iya, terimakasih ya semuanya!" Mereka pun pergi kecuali Adzestha. "Mau gue temenin?" Wena yang melihat itu menghentikan langkah masuknya setelah mengajak Syila untuk masuk, dia melirik sekali lalu meninggalkan mereka berdua sembari tersenyum simpul. "Lah, lho ga pulang sama dzith?" Lelaki itu menggeleng. "Gue gapapa sendiri, elo pulang aja pasti pengen istirahat kan?! "
"Di tolak nih! "
"Hah? "
Lelaki itu senyam senyum sendiri sambil menunduk membuat sang gadis yang ada dihadapannya itu mengangkat sebelah alisnya. Saat Adzestha akan bicara lagi, Adzhita datang menarik baju seragam miliknya. "Arhg!" Gadis berkacamata itu mencubit pinggang saudaranya. "Sakit onyon! " protes lelaki itu. "Gue nyari-nyari! Ayo pulang! "
"Atatatah, tuctunggu! " Adzhita tidak mendengar seruan lelaki itu, dia terus menarik kulit perut lelaki itu pergi dari tempat berdirinya Syila. Syila yang melihat itu hanya geleng geleng kepala.
***
"Assalamualaikum!"
"Waalaikummussalam, masuk! " Syila pun masuk ke sebuah kamar yang ditempati oleh seorang gadis. "Syila! " Renita bergelanyut manja. "Iwh, kaya ga ketemu seabad aja deh!"
"Gue atit, La! "
"Sakit hati lo?!"
"Ish, kok gitu! " Syila terkekeh renyah. "Lagian, orang sakit mana ada macam nih. "
"Jahat kali la kak ros! " Rengek Renita. Syila terkekeh renyah. "Sakit apa sih? Tumben banget, biasanya kan si paling sehat. "
"Ya kali gue kan manusia juga! Tapi amin deh kalau sehat terus! "
"Amiin! Nih, buat elo. " Syila menyodorkan dua kantung belanjaan kepada Renita, gadia itu langsung membukanya dan membuat matanya membesar. "Waaa, thank you my hiney boney sweetie uwu uwu cinta kasih! "
"Jijayy!" Syila mengedikkan bahunya, sedangkan Renita tekekeh renyah. "Cepet sembuh! " Seru syila. "Amiin.. "
"Elo kemarin hujan-hujanan ya sampe demam gitu? " Renita tak menjawab dan hanya tersenyum sungging. "Kayaknya elo lagi bete ya? "
"Ditanya malah balik nanya! "
"Ada apa sih? Gak mau cerita sama gue?"
__ADS_1
"Jawab dulu pertanyaan gue! "
"Gue kemarin lupa bawa payung, ya sih cerah tiba-tiba aja ujan! " Ujar Renita. Syila hanya manggut sekali lalu menggeleng sekali. "Udah gue jawab. Cepat cerita! "
"Elo udah kayak preman lagi malak aja deh! "
"Aku kan memalak hatimu beb.. "
"Berisik lu! " Renita terkekeh lagi, dia memang senang sekali menggoda sahabatnya yang kaku itu. Ya, dia hanya bisa begini jika bersama Syila.
"Gue udah tahu siapa Alvin. " Seketika senyum Renita menghilang, dia sontak mengangkat wajahnya menatap sang sahabat lekat. "Gak usah liatin kaya gitu, geli gue!" Renita tersenyum masam. "Jadi elo udah tahu semua masa lalu itu?"
"Jadi elo udah tahu? " Renita mengangguk. "Seberapa jauh?"
"Soal kak Alvin dan elo sebenarnya bersaudara, ayah kalian sama tapi ibu kalian berbeda. Ibu elo dan ayah Alvin berpisah, lalu ibu Aliya nikah sama ayah Gian. Just that!" Syila manggut-manggut. "Dulu gue ga begitu faham, tapi sekarang gue tahu... mm, apa elo juga udah tahu.. "
"Tentang bokap gue yang meninggal? " Renita menangguk. "Ternyata elo lebih tau dari gue. " celetukan itu mengetuk hati Renita dan menusuknya. Dia tersenyum masam. "Sorry. "
"Why? Elo ga salah Re, gue tau elo hanya ga mau gue kenapa kenapa kaya yang kain dan keluarga gue yang nyuruh kan? " Renita tersenyum kecil. "Terus perasaan elo sekarang gimana? "
"Gue masih shock. Tapi, gue udah menerimanya. " Renita lantas mengenggam lembut kedua tangan sahabatnya. "Kenapa? " Syila mengerutkan dahinya. Renita menggeleng. "Gak apa-apa. "
"Oya, gue denger waktu itu elo juga ada ditempat kejadian waktu gue dan alvin kecelakaan. Elo gapapakan? " Renita tersenyum kecil menatap dalam sahabatnya. "Gue ngak terlalu ingat, tapi yang gue tau cuma kalian berdua yang dirawat dirumah sakit dan elo kena amnesia sebagian. Gue shock aja mungkin. "
"Ya, namanya juga anak kecil! kalausegede gini juga gue bakalqn shock liat elo.. " Renita mulai meneteskam air matanya. Syila membasuh pipi yang sudah basah itu, lalu nemeluknya. "Sorry, udah buat elo shock dan melupakan semuanya. " Renita membalas pelukan itu. "Gue gak mau itu sampai terjadi lagi sama elo. " Mereka saling melepas pelukannya dan mengelap air matanya. "terus elo sama alvin gimana?" Wajah Syila berubah jadi muram. "Kayaknya ini yang bikin dia bete." Gumam Renita lirih.
Terdengar helaan kasar dari mulut gadis itu. "Semenjak itu dia jadi dingin, bahkan ga jemput ga nyapa, ga.. " Syila yang tersadar dengan ocehannya menghentikan itu. Dia mengerjapkan kedua matanya. Renita menyikunya pelan. "Cieeee yang udah galau dicuekin kakaknya! " Goda Renita. "Apaan sih?! "
"Cieeee, gue telepon kak Alvin ah! Mau bilang kalau adeknya... " Dengan sigap Syila merebut ponsel Renita, tetapi gadia itu pun tidak mau kalah. "Renit! Jangan! matiin! "
"matiin? "
"Hah? Elo ini, itutuhh liat udah ke sambung tolol! "
(halo) Suara berat dari seberang telepon membuyarkan keduanya. Dengan cepat Syila merebut ponsel itu dan mematikan sambungannya.
Diseberang sana.. "Hal-Lah ditutup! Apaan sih nih anak? " Alvin menggaruk pelipisnya.
Syila memberikannya kasar sambil memajukan bibirnya. Renita menelan salivanya. "Maaf Syila.. Sorry! "
"Hmm. "
"Yah, beneran nih ngambek. Aha! " Tersirat ide gila dari otak Renita. "Syil, mau tau caranya biar alvin kembali semula? "
__ADS_1
"Gimana? " Renita tersenyum simpul. Dia membisikkan sebuah ide yang gila. "Beneran?" Renita menganguk. "Iya, nih kalau ga salah dilaci itu masih ada mainan gue itu! Sekalian kan, kapan lagi coba bisa godain dia?! " Renita mengedipkan sebelah matanya. "Iya juga. " Syila terseyum smirk. "Emang dia aja yang bisa usilin gue! "
"Serem. "
***
Esok paginyq Syila datang lebih awal ke sekolah dia melihat seseorang di depan ruangan itu. "kayaknya itu salah satu anggotanya deh. " Syila mendatangi lelaki i tu. "Pqgi. "
"Pagi? "
"Titip buat Alvin." Syila menyodorkan sekotak hadiah kepada lelaki itu. " Bilang aja kado dari adiknya. Nanti istirahat gue balik kesini bawa makan siang. " Syila pun segera pergi. "Tuctunggu! Yqh, dia udah pergi. Yaudahlah gue kasih alvin aja. "
Di ruang OSIS yang sama, Alvin kembali kesana karena sebentar lagi akan ada pemilihan ketua yang baru karena semester 2 akan segera tiba. "Ketua, nih ada kiriman. " Celetuk Rian. Alvin mengangkat sebrlah alisnya. "Dari siapa? " Dari adiknya sih, tapi gue usilin aja deh. Biar suprise hihi! Rian mengedikkan kedua bahunya. "Kagak tau! Nih buka aja! Oya, selamat ulang tahun ya bro! " Alvin mengerutkan dahinya membuat Rian jadi sedikit ragu. Alvin membuka kotak itu dan dia tiba-tiba berteriak panik diikuti Rian.
AAA!
"Waaaaa! kenape elu?! "
"U-ular! "
"Ular? yang bener lu? "."
"Liat aja sendiri! " Rian membuka kotak yang ditutup kembali Alvin, dia melihat mainan ular dari karet. "Yelah! inikan cuma mainan bro! "
"Tapi.. Arhg, siapa sih yang kirim beginian? Sialan dia! "
"Gue si sialan itu! " Alvin dan Rian sontak menoleh ke asal suara itu. "Syila?" Alvin mengerjapkan matanya. Syila masuk ke ruangan itu dan menghampiri Alvin berdiri dihadapannya memegang kedua tangannya. Alvin ternganga melihat perubahan wanita itu. "E-elo kenapa? "
"Happy birthday, kakak. "
"What??"
"HAP-PY-BIRTHDAY KAKAKku sayang.. " Alvin menahan senyumnya, dia berpura-pura marah. Twtapannya tajam. "Terus kadonya kaya gini? " Alvin mendegus kesal. Syila tersenyum smirk. "Balas dendam. " Alvin mengangkat sebelah alisnya. "Makanya jangan suka usil! Nih aku bawain bekel makan siang! " Syila menyodorkan sekotak makanan. "Tadi bawa dari rumah. " Seketika suara Syila melirih. Alvin menerima kotak makanan kecil itu. "Makasih, tapi.. " Syila mengangkat wajahnya. "Ulang tahun aku bukan hari ini, sayang. " Alvin tersenyum lebar. Bukan hanya Syila tapi juga Rian yang setia dibelakangnya pun ikut terkejut. Sepertinya bukan Alvin yang mendapatkan kejutan melainkan mereka. "Jadi elo ga ultah bro?" Rian menepuk pundak kawannya. Alvin menggeleng. Syila yang masih termangu langsung mundur dan berlari keluar dari ruangan itu. "Syila? Syila, mau kemana? Jangan lari! " Alvin mengejarnya. "Yaelah gue jadi nyamuk si kakak beradik itu! Eh, tapi emang iya mereka... Kok gue baru tahu! "
Syila berlari dengan wajah yang memerah, dibelakang Alvin masih mengejR dan memanggil manggil dirinya. Dia semakin mempercepat larinya dan berdembunyi diantara lorong hingga Alvin pergi. Dia keluar dan langsung berjalan tegas ke tempat Renita. "Renita! " Renita yang sedang didalam kelas bersama Syria terkejut mendengar teriakan namanya. "Syila? Ada apa? " Tanya Adzestha yang bari datang. "Suruh Renita temuin gue sekarang!"
"O-oke. " Lelaki itu masuk dan.. "Syila kan? "
lkok tau? "
"Karena gue ga budeg. " Renita pun keluar menghampiri sahabatnya. "Ada apa sih beb, teriak teriak gitu? "
"Sahabat sialan! "
__ADS_1